Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
BERDUA DI DALAM AIR


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


..........................


"Honey moon ini akan menjadi momen terindah untuk kita, dan kita akan selalu mengingatnya!" jawab Dave setengah berbisik.


Hidung mancungnya menyentuh daun telinga Aryn, jantung Aryn berdisko di dalam rongga dadanya.


Kemesraan mereka tertunda karena pilot memberikan arahan keselamatan. Pilot juga menunjukkan letak pintu darurat. Sea Plane ini sekilas sama dengan pesawat pada umumnya. Hanya saja di bagian bawah sea plane terdapat float atau semacam badan perahu yang digunakan untuk mengambang di air. Tapi di bawahnya juga terdapat roda. So, Sea Plane ini bisa take off dari darat dan landing di air, ataupun sebaliknya.


Ukuran Sea Plane ini kecil, hanya muat untuk 8 orang saja. Tapi sekarang Sea Plane ini hanya berisikan Dave, Aryn, Frans plus pilot. Alasannya tentu karena Dave menyewanya. Dave dan Aryn tidak pergi berduaan di sini, rombongan lenong mereka senantiasa mengikuti. Enam orang pengawal selalu mengamankan perjalanan mereka, mereka terpisah dengan Dave dan Aryn kecuali saat dalam jet pribadi Dave tadi. Sekarang rombongan pengawal Dave mengikuti mereka dari belakang dengan Sea plane yang berbeda. Dave tidak nyaman jika kemesraannya terusik. Sebenarnya Dave tidak tahu jika Ken menyiapkan pengamanan yang ekstra. Ken mengerahkan anak buahnya untuk berjaga-jaga di sekitar Dave tanpa sepegetahuan Dave.


Tidak ada pembatas antara pilot dan penumpang, jadi mereka bisa melihat aktivitas pilot secara langsung dengan leluasa. Aryn menggenggam erat tangan Dave saat Sea plane take off dari waterbase. Sea Plane terbang rendah, pandangan yang disuguhkan sungguh memanjakan mata. Aryn yang awalnya ketakutan, kini berselfie ria dengan berlatarkan pemandangan laut dari balik jendela.


"Kamu suka?" tanya Dave.


"Aku sangat sangat sangat suka, Dave!" seru Aryn langsung memeluk erat suaminya.


"Apa kamu bahagia bersamaku?" tanya Dave lagi.


"Sangat sangat sangat bahagia," Aryn menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Dave.


Aryn semakin mengeratkan pelukannya karena ada guncangan-guncangan. Tapi selang beberapa menit, Sea Plane mereka terbang dengan mulus lagi. Empat puluh menit sudah pesawat itu terbang rendah di atas hamparan laut biru dan pulau beserta hotel-hotel. Sekarang pilot bersiap mendaratkan Sea Plane-nya di waterbase dekat dengan vila tujuan mereka.


"Mari tuan dan nona, kita sudah sampai!" ucap Frans yang sudah turun lebih dahulu.


Dave bergegas keluar dari Sea Plane, lalu ia berbalik dan mengulurkan tangannya kepada Aryn. Aryn pun menyambut uluran tangan Dave dengan malu-malu. Mereka tidak hanya berdua sekarang, ada Frans di dekat mereka. Bahkan keenam pengawal mereka juga sudah sampai.


"Wow, kita akan menginap di sini Dave?" seru Aryn.


Ia menatap takjub bangunan di hadapannya. Sebuah vila mewah berwarna putih terlihat sangat indah di tengah lautan yang biru berkilauan. Aryn melepas kacamata hitamnya, berkali-kali menanyakan pertanyaan yang sama, apakah mereka akan menginap di sana?


"Apakah kamu tidak ingin masuk ke dalam?" tanya Dave, ia melepaskan kacamata hitamnya. Tangannya mengacak pelan rambut Aryn, Aryn masih terpaku di tempatnya.


"Kalau kamu hanya ingin melihatnya dari luar, kemarin seharusnya aku tidak perlu menyewanya dengan harga mahal, cukup aku sewakan kapal di depan sini saja agar kamu puas melihatnya!" ejek Dave.


Aryn mengerucutkan bibirnya, "Ayo masuk!" ajaknya.


Dave menggandeng mesra tangan Aryn, membimbing masuk ke dalam vila. Keenam pengawalnya mengambil posisi masing-masing. Sementara Frans mengekor di belakang pasutri itu.


"Nah tuan dan nona, ini adalah lantai atas vila yang terdiri dari dapur, ruang tamu, ruang makan, dan tiga kamar tidur!" Frans menjelaskan sembari menunjukkan masing-masing ruangan.

__ADS_1


"Lantai atas?" tanya Aryn.


"Benar, sayang! Ini adalah lantai atas, di atas air! Karena di bawah lantai ini masih ada ruangan, ruangan itu adalah kamar kita yang berada di bawah air!" jawab Dave sambil mentoel hidung Aryn.


"Di bawah air? Sungguh? Aku ingin melihatnya!" seru Aryn kegirangan.


Frans membimbing pasutri itu menuruni akan tangga, hingga sampailah mereka di sebuah kamar. Kamar itu dilindungi oleh dinding kaca bening. Segerombolan ikan terlihat jelas sedang melintas di atas mereka. Kamar di bawah air ini membawa sang penghuni kamar seakan hidup di dalam air.



"Indah sekali, sayang!" seru Aryn, ia memeluk erat Dave.


"Apapun akan aku lakukan untukmu, sayang!" jawab Dave yang membalas pelukan Aryn.


"Tugas saya hari ini sudah selesai, saya permisi tuan! Jika anda membutuhkan sesuatu anda bisa memanggil saya kapanpun itu," ucap Frans.


Setelah Frans keluar dari kamar mereka, Aryn langsung berlarian menghampiri dinding kaca yang membatasi kamar mereka dengan lautan. Ia mengambil ponselnya, berpose beberapa kali dan mengambil video singkat. Ia bahkan mengajak gerombolan ikan yang lewat untuk berselfie. Tapi sesaat kemudian Aryn berjalan menjauh.


"Ada apa sayang?" tanya Dave lembut, ia memeluk mesra Aryn dari belakang.


"Bagaimana jika ada hiu di sini, Dave? Jika nanti kita berdua sedang tidur terus tiba-tiba hiu itu menyerang kita, aku takut!" lirih Aryn.


"Kamu itu lucu sekali! Kita berada di kedalaman 16 kaki, dinding ini adalah dinding akrilik, tebalnya saja tujuh inci. Kita aman di sini sayang, jangan takut! Aku tidak mungkin memilih tempat yang berbahaya untuk istri kecilku ini!" jawab Dave berusaha menenangkan.


Dave mengeratkan pelukannya, bibirnya mulai menciumi leher Aryn.


"Sebentar, sayang! Kaca ini transparan, kita bisa melihat gerombolan ikan berenang di terumbu karang! Tapi bagaimana jika ada seseorang yang menyelam di daerah ini dan mengintip kita saat sedang berpelukan seperti ini?" seru Aryn yang langsung melepas pelukan Dave, Dave hanya menggelengkan kepalanya memandangi istrinya yang terus saja melontarkan pertanyaan konyol.


"Ini adalah private area, sayang! Tidak akan ada yang mengintip kita kecuali ikan-ikan ini," jawab Dave dengan sabar.


Dave mulai melancarkan aksinya. Dikecupnya kening, kedua mata, pipi kanan dan kiri, hidung, dan juga bibir Aryn dengan lembut. Aryn yang sudah paham tindakan Dave langsung membalas ci***n Dave. Mereka saling mencurahkan cinta dan kasih sayang satu sama lain. Dave menggendong Aryn tanpa melepaskan bibirnya, ia merebahkan Aryn di ranjang berukuran king size itu. Sore di Maldives ini menjadi sore yang panjang untuk pasutri itu.


.................


Sudah dua kali Reza keluar masuk kamar Silvi, tapi ia belum juga melihat batang hidung si penghuni kamar. Guru privat pesanan Dave juga sudah disuruh pergi oleh Silvi. Lantas kemana perginya adik kecil Reza itu?


Tanpa membuang waktu, Reza segera menuju kandang peliharaan Silvi. Bisa saja Silvi tengah bercengkerama dengan hewan-hewannya. Tapi sayang, Reza masih belum menemukan Silvi. Hanya saja kandnag milik Mira kosong.


"Sepertinya Silvi sedang bermain dengan Mira! Kalau Silvi sedang bermain dengan Mira, pasti mereka sekarang ada di kebun. Silvi selalu mengajak Mira bermain di kebun!" gumam Reza yang berusaha menganalisa petunjuk yang ia dapatkan.


Di kebun jeruk,


Silvi tengah memunguti buah jeruk matang yang jatuh berserakan. Pohon-pohon jeruknya berbuah lebat musim ini. Meskipun ia sudah menyuruh semua penghuni mansion untuk mengambil buah jeruknya, tapi masih saja banyak buah yang jatuh di tanah.

__ADS_1



"Kumpulkan di sini, Mira!" perintahnya pada Mira.


"Guk guk!" jawab Mira.


Mira, anjing pelacak kesayangannya itu membantunya untuk mengumpulkan jeruk-jeruk yang berserakan. Mereka berdua mengumpulkan jeruk-jeruk itu di dalam sebuah keranjang buah besar. Entah akan ia apakan jeruk-jeruk ini.


"Mau kamu apakan jeruk-jeruk itu?" seru Reza, ia berdiri tepat di belakang Silvi.


"Bukan urusan kakak!" jawab Silvi judes.


"Kamu yang nyuruh guru privat itu pulang? Kenapa kamu lebih suka menghabiskan waktu di kebun yang banyak nyamuk ini daripada belajar di dalam ruangan yang nyaman?" tanya Reza yang membantu untuk memunguti jeruk.


"Bukan urusan kakak!" jawab Silvi judes lagi.


Silvi mendudukan bokongnya di tanah. Ia mengupas salah satu jeruk. Lalu ia memberikannya sedikit demi sedikit kepada Mira. Ternyata Mira juga mau memakannya.


"Apakah Mira sudah suka jeruk sekarang?" tanya Reza.


Reza ingat betul, setiap kali Silvi membawa Mira ke kebun jeruk ini, Silvi selalu mencoba menyuapi jeruk pada Mira. Alasannya karena Silvi menyukai jeruk, jadi Mira juga harus mencobanya. Silvi melakukannya sambil mengatakan betapa manisnya jeruk itu. Pernah suatu waktu, Mira memakan jeruk pemberian Silvi, sepertinya Mira sedikit melupakan jati dirinya sebagai anjing pelacak sangar. Sejak hari itu, Mira mau memakan jeruk walaupun terkadang hanya sedikit. Sebagai upah, Silvi akan memberikan daging dan tulang setelah Mira memakan jeruknya.


"Kakak bisa lihat sendiri kan? Kenapa masih bertanya?" hardik Silvi.


Reza melangkah pergi meninggalkan Silvi.


"Cuek banget, giliran dicuekin heboh sendiri!" lirih Reza, ia tidak tahu jika Silvi masih bisa mendengarnya.


Silvi melihat Reza yang berjalan menjauh dengan perasaan kesal.


Kenapa kakak tidak peka juga huhuhu! Kalau kakak tidak mau berbagi cerita tentang perasaan kakak untuk Kak Aryn, setidaknya rayu Silvi dong! Biar nggak lama-lama cuek ke kakak!


"Cepat masuk ke mansion, tidak aman jika kamu berada di sini sendirian! Oh iya, jangan pura-pura tenggelam lagi!" seru Reza yang sudah agak jauh dari Silvi.


"Shit! Kak Reza tahu kalau aku tadi hanya pura-pura!" lirih Silvi.


Mira mengelus kepala Silvi, " Guk, guk guk guk!" ucapnya.


"Iya, Mira! Silvi sabar kok!" jawab Silvi.


..............


Hayo, semakin seru kan kisah mereka? So, stay tuned ya!

__ADS_1


__ADS_2