
WARNING:
SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.
HAPPY READING 😘
......................
"Duduklah!" Dave menepuk-nepuk kursi di sebelahnya dengan menampilkan senyum manisnya.
Aryn membalas senyum Dave, lalu duduk di sebelahnya. Reza dan Silvi lagi-lagi melongo melihat Dave yang bersikap sangat manis kepada Aryn. Bahkan mereka berdua tidak berkedip sama sekali.
Dave memotong roti isi daging miliknya menjadi dua bagian. Lalu ia mengambil salah satu potongan roti itu dan menyuapkannya kepada Aryn.
"Cih... satu roti berdua! Nafsu makan gua benar-benar hilang!" batin Reza.
"Kak Dave, sehat?" tanya Silvi.
Silvi cukup heran melihat sikap Dave yang berubah 180 derajat. Biasanya wajah kakaknya itu sedatar tembok toilet, tapi pagi ini kulit buah naga Silvi di kebun malah kalah segar dengan wajah kakaknya. Caranya memperlakukan Aryn juga lebih manis sekarang. Apakah kepala kakaknya habis terbentur tembok toilet?
Dave yang sedang menyuapi Aryn langsung menoleh menatap Silvi.
"Sehat! Justru aku sangat sehat sekarang!" jawab Dave dengan senyum yang mengembang.
Silvi memasukkan roti ke dalam mulutnya, dengan tetap memperhatikan Dave dan Aryn. Walaupun mencurigakan, tapi ia tetap bersyukur jika pasangan suami istri di hadapannya ini menjadi pasangan sungguhan.
"Paling hanya sementara," sindir Reza.
Uhuk....uhuk...
"Pelan-pelan," ucap Dave yang dengan cekatan mengambilkan segelas air untuk Aryn.
"Jangan terlalu dipikirkan, wajar jika para jomblo iri melihat kedekatan kita!" balas Dave.
"Cih... sewot sekali!" tukas Reza.
"Kak Reza jomblo?" tanya Silvi dengan sorot mata yang berbinar.
"Jomblo tidak masalah, yang penting gebetan ada dimana-mana!" jawab Reza dengan mencebikkan bibirnya ke depan.
"Menikahlah dengan salah satu gebetan lo, biar bisa ngerasain kayak gini!" seru Dave yang sedang memegang tangan Aryn untuk menyuapkan roti ke mulutnya.
"Kampret lo Dave, bikin gua sakit hati aja! Dia pasti sengaja mau bikin gua cemburu!" batin Reza.
Reza beranjak dari kursinya. Ia tidak nafsu menyantap roti isi daging dihadapan pasangan yang sedang bermesraan, tapi ia tetap membawa piring berisi roti miliknya pergi. Dadanya terasa sangat sakit dan sesak melihat kemesraan Dave dan Aryn. Ia memang sudah berusaha mengubur perasaannya untuk Aryn dalam-dalam, tapi ternyata tidak semudah yang ia kira. Apalagi Dave adalah sahabat sekaligus atasannya, sudah pasti ia akan sering bertemu dengan Dave dan Aryn.
__ADS_1
"Mau kemana lo?" tanya Dave.
"Ke kamar!" jawab Reza dengan ketus.
"Lihatlah, sayang! Pria itu marah kepadaku, tapi tetap saja mengambil makanan dari meja makan ini. Perutnya yang melar itu tidak bisa menolak makanan!" ucap Dave dengan terkekeh.
Melihat Dave yang tertawa dengan lepas hari ini, Aryn terhipnotis untuk beberapa saat. Lalu ia juga ikut tertawa. Lain halnya dengan Silvi, ia terlihat sangat kesal saat Dave mengejek Reza. Ia juga menaruh curiga pada Reza, sejak tadi ia memperhatikan Reza. Raut wajah Reza terlihat berubah menjadi masam saat Dave dan Aryn bermesraan. Silvi bingung, apakah Reza hanya kesal karena statusnya yang jomblo atau jangan-jangan Reza menaruh hati untuk Aryn?
"Aku harus memastikannya!" lirih Silvi.
"Kau mau memastikan apa, Silvi?" tanya Dave yang mendengar ucapan Silvi.
"Eh... anu... ini aku mau memastikan apakah besok aku bisa membuat sarapan seenak buatan Kak Aryn atau tidak," jawab Silvi mengarang.
"Baguslah! Besok pagi kita akan sarapan dengan roti isi daging buatanmu!" seru Dave.
"Eh iya, kak!" jawab Silvi yang tersenyum kecut.
"Niat hati hanya mengarang alasan, tapi malah kena batunya!" batin Silvi.
Mereka bertiga sudah menghabiskan sarapannya. Silvi bergegas bersiap untuk masuk ke sekolah barunya. Dave kemarin menyuruh anak buahnya untuk mengurus pencabutan Silvi dari sekolah lamanya. Ia merasa tidak tega sekaligus tidak bisa berjauhan dengan adik perempuannya. Sebenarnya Silvi bersikeras untuk tetap bersekolah di kota itu, toh ia ditemani orang yang dibayar Dave. Tapi, Silvi juga mengerti keputusan kakaknya. Akhirnya ia mengalah dan menuruti keputusan kakaknya.
"Kak aku ambil tas dulu!" seru Silvi yang sudah berlarian menuju lift.
"Jangan lama-lama kalau tidak mau kutinggal!" sahut Dave.
Sebuah mobil Hummer H3 terparkir indah tidak jauh dari pintu utama mansion lengkap dengan sopir yang siap siaga di samping pintu. Di belakang mobil itu ada mobil lainnya yang berwarna putih, sepertinya berisi anak buah Dave.
"Ehem," lirih Dave.
Aryn langsung menoleh, terlihat Dave sedang merapihkan dasinya.
"Ehem ehem.." lirih Dave memberi kode lagi kepada Aryn.
Lagi-lagi Aryn tidak mengerti kode dari Dave, Aryn justru hanya tersenyum kepada Dave.
"Ehem ehem ehem.." Dave mengeraskan kodenya.
Dave terus memberi kode dengan tangannya yang menunjuk dasi dan sebelah matanya yang berkedip. Melihat semua kode Dave, Aryn mendekati Dave. Ia paham maksud Dave yang menginginkannya merapihkan dasi miliknya.
Aryn sampai berjinjit untuk merapihkan dasi Dave, karena badan Dave jauh lebih tinggi dari Aryn.
"Cebol!" ledek Dave yang sedang merendahkan tubuhnya agar Aryn tidak berjinjit.
"Kalau aku cebol lalu kau apa? Tiang listrik? Atau sutet?" balas Aryn.
"Kau terlihat sangat menggemaskan saat sedang marah hahaha!" seru Dave yang terkekeh.
__ADS_1
"Dave!" Aryn mencebikkan bibirnya ke depan.
"Apa sayang?" jawab Dave yang masih terkekeh.
"Kau ini masih saja menyebalkan!" protes Aryn.
"Tidak masalah jika aku menyebalkan, yang penting aku tampan, kan?" ucap Dave yang mengangkat dagunya sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak hanya menyebalkan, tingkat kepercayaan dirimu masih terlalu tinggi!" balas Aryn.
Cup,
"Aku suka saat kau sedang berbicara!" lirih Dave setelah mencium bibir Aryn sekilas.
Ini bukan ciuman pertamanya dengan Dave, tapi ia masih saja terkejut dan gerogi. Ia masih melongo, hingga bibirnya terbuka sedikit.
"Tutuplah mukutmu! Aku takut jika mulutmu kemasukan lalat hijau, atau kau ingin aku yang menutupnya?" Dave menggoda Aryn.
"Eh... iya!" jawab Aryn.
"Apakah aku bisa menjeda adegan romantis kalian sebentar? Sekarang aku harus segera berangkat ke sekolah, hari ini adalah hari pertamaku sekolah kota ini! Aku tidak ingin terlambat di hari pertamaku sekolah hanya karena adegan ini!" seru Silvi yang masih menutupi kedua matanya dengan tangannya.
Aryn membalikkan tubuhnya menghadap pintu utama. Rasanya ia ingin menutupi wajahnya dengan kantong plastik sekarang juga. Tidak hanya Silvi yang melihatnya dengan Dave. Tapi Ken dan Reza juga sudah berdiri mematung tidak jauh dari Silvi sekarang. Sama halnya dengan Silvi, Ken juga tidak ingin melihat adegan romantis bosnya. Ken menghadapkan tubuhnya ke tembok dan menutupi kedua telinganya dengan tangannya. Sementara Reza, ia menatap Dave dan Aryn dengan tatapan kekesalan. Ada semburat kecemburuan si sorot kedua mata Reza.
"Kalian ini mengganggu saja!" keluh Dave.
"Kenapa kakak malah menyalahkan kami? Seharusnya aku yang marah kepada kakak, Karena kakak mata suciku ini ternodai!" protes Silvi.
"Bukannya kau suka membaca novel romantis, kau pasti berkali-kali membaca adegan-adegan seperti tadi!" ledek Dave.
"Kakak!" teriak Silvi.
"Alright! Tidak ada ledekan lagi! Kita akan berangkat sekarang, Silvi cepat masuk ke dalam mobil!" sahut Dave tanpa ada rasa malu di wajahnya.
Berbeda dengan Dave, Aryn terus saja bersembunyi di belakang tubuh Dave. Ia ingin melakukan operasi plastik untuk mengganti mukanya, ia sangat malu sekarang. Wajahnya semakin memerah saat Dave menariknya untuk menyingkir dari punggung Dave.
"Aku berangkat dulu," ucap Dave dengan lirih saat mencium kening Aryn.
"Kakak!" teriak Silvi yang terdengar sangat mengerikan. Baru dua langkah Silvi berjalan, kedua mata sucinya hatus ternodai lagi dengan adegan kakaknya.
Mendengar teriakan Silvi, Aryn langsung mencium punggung tangan Dave dan berlari masuk ke dalam. Ia benar-benar merasa sangat malu sekarang.
"Oh God! Lo bener-bener sialan Dave!" batin Reza.
..............
Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All ❤️
__ADS_1