
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Hari kedua Aryn dirawat,
Aryn menyantap buah apel yang telah dipotongkan Dave untuknya. Kedua matanya fokus menonton drama korea di ponselnya. Sesekali ia tersenyum saat aktor drama tersebut bersikap manis kepada pasangannya.
"Apakah ada yang lucu?" Dave menatap Aryn yang sedang tersenyum lebar.
"Aktornya tampan sekali, sayang! Lihatlah!" Aryn menunjukkan ponselnya. Karena ia sedikit mendekati Dave, Aryn menutup hidungnya.
Dave mengerinyitkan dahinya. Di layar ponsel itu nampak seorang pria tinggi dan putih.
"Lebih tampan aku," seru Dave yang merapihkan rambutnya.
"Iya...iyaa"
Aryn kembali fokus pada layar ponselnya dengan tangan kanannya mengambil potongan apel di piring. Sejak kemarin Dave sama sekali tidak meninggalkan Aryn kecuali jika ia ingin pergi ke kamar mandi. Untuk semua keperluannya Ken selalu membantunya. Pagi tadi sebelum berangkat sekolah Silvi juga mampir untuk menjenguk Aryn sekaligus membawakan titipan mamanya dan Uti. Katy menitipkan buah-buahan. Sementara Uti menitipkan masakan yang ia masak sendiri dan jeruk kesukaan Dave. Kemarin Dave melarang orang tuanya ataupun Uti untuk mengirimkan makanan karena nanti sore Aryn sudah boleh pulang. Tapi sudah terlanjur dibuatkan, Dave dan Aryn memakannya.
Klek,
Aryn dan Dave menatap pintu yang dibuka dari luar. Dave langsung memijit kepalanya setelah tahu siapa yang datang.
"Aryn! Selamat pagi!" serunya.
"Selamat pagi!" sahut Aryn.
Kedua sahabat itu berpelukan, cium pipi kanan dan pipi kiri. Lalu mereka berpelukan lagi.
"Seperti tidak bertemu lima tahun saja, dasar wanita!" gumam Dave.
"Kamu tidak ke kampus, Mei?" tanya Aryn.
"Nanti siang, kamu rugi tidak masuk kelas hari ini! Hari ini kan ada kelasnya Zain!" seru Mei girang.
"Ah kamu benar!" keluh Aryn.
"Siapa Zain?" Dave menatap kedua sahabat yang tengah berbincang itu.
"Dosen baru di kampus, orangnya tampan dan masih muda!" seru Mei.
"Jauh lebih tampan aku, sayang kamu jangan macam-macam ya!" ucap Dave pada Aryn.
"Tidak sayang, hanya satu macam kok! Belajar!" Aryn tersenyum.
"Good," Dave mengacak rambut Aryn.
"Lagipula Zain itu kandidat calon suamiku, kau tidak perlu khawatir Dave!" sahut Mei.
"Kandidat? Apakah akan ada pemilihan umum presiden hati Mei nanti?" Aryn terkekeh.
"Tentu, pemilihan akan diadakan secara terbuka! Kalau semuanya layak, aku siap menjadi ibu negara dari ketiga presiden hatiku!" seloroh Mei.
"Dasar!" Aryn memukul bahu Mei karena gemas.
"Bagaimana film yang aku rekomendasikan semalam?" tanya Mei.
"Oh jadi kau yang memberikan film itu kepada Istriku? Kau mau tahu reaksinya kan? Sejak semalam dia menontonnya dan senyum-senyum sendiri di depan layar ponsel! Sepertinya mata kalian sudah buram, aktor seperti itu dibilang tampan!" seru Dave.
"Iiihh orang tua tidak pernah mengerti selera remaja!" seloroh Mei. Aryn langsung menyikut lengan Mei.
"Orang tua? Siapa yang kau sebut orang tua ha?" Dave menatap tajam pada Mei.
"Eh maksudku, kau dan Aryn kan akan segera menjadi mama dan papa, orang tua untuk anak kalian," lirih Mei.
"Bodoh kau Mei!" maki Mei pada dirinya sendiri.
"Sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengan Mei, sayang! Dia membawa pengaruh buruk, kamu jadi mengacuhkanku gara-gara film itu! Temanmu ini juga menyebutku tua!" ucap Dave pada Aryn.
"Tuan Dave yang terhormat, jangan mengajarkan ajaran sesat pada sahabatku! Kami hanya berbagi film saja, asal kau tahu istrimu ini sudah memaksaku untuk menonton film horor sampai akhir film!" seru Mei.
"Okay okay, terserah kalian! Asal jangan menonton terlalu banyak! Dari artikel kehamilan yang ditulis orang asal negara kelahiran Aryn yang aku baca waktu itu, ada beberapa mitos yang mengatakan jika sang ibu sering melihat seseorang dan berpikir babynya seperti orang itu maka bisa jadi babynya mirip! Aku tidak ingin babyku mirip dengan aktor itu karena Istriku sering menontonnya!" seru Dave membuat Mei dan Aryn tertawa bersama.
"Aku tidak akan terlalu sering menontonnya, sayang!" Aryn terkekeh.
"Bagaimana kalau kita nonton film ini saja Aryn! Suamimu tidak suka kamu menonton film yang kuberi kan, kita tonton saja film yang kemarin!" Mei mengeluarkan ponselnya.
"Apakah tidak ada aktor yang seperti di film tadi?" tanya Dave.
"Tidak ada," sahut Aryn terkekeh. Ia tahu Mei sedang mengerjai suaminya. Aryn ikuti saja permainannya.
Mei memutar film itu. Ia tidak memberitahu Dave jika itu film horor yang diberi Aryn kemarin. Di lima menit pertama, Dave tidak komplain sama sekali. Tapi di menit ke tujuh Dave menutup kedua mata Aryn.
"Kau ini ingin membuat anakku mirip dengan makhluk hitam itu?" seru Dave.
Aryn dan Mei tertawa dengan keras.
"Cepat matikan!" seru Dave.
"Jangan memikirkan makhluk itu sayang, pikirkan aku saja! Bayangkan selalu wajah tampanku ini," Dave menangkup pipi Aryn.
"Iya sayang" Aryn masih menertawakan tingkah Dave yang menurutnya sangat menggemaskan. Ia tidak menyangka Dave sangat memperhatikan kehamilannya sampai mencari artikel-artikel kehamilan seperti itu.
__ADS_1
"Itu kan hanya mitos, belum tentu benar dan terjadi!" seloroh Mei.
"Tapi mungkin bisa terjadi! Sudah lebih baik kau berangkat ke kampus atau cari kandidat calon suami sana!" seru Dave.
"Aryn... Dave mengusirku! Kelasku masih dimulai siang nanti!" Mei memasang wajah melasnya.
"Dave... Please!" Aryn menampilkan puppy eyesnya pada Dave.
"Okay okay," Dave pasrah.
Dave berpindah ke sofa. Ia memilih untuk mengupas buah jeruk kesukaannya daripada terlibat di antara Aryn dan sahabatnya yang sedikit tidak waras. Mei berpindah ke kursi yang tadi ditempati Dave.
"Oh iya Aryn! Ada kabar gembira," seru Mei memulai obrolan lagi.
"Apa? Katakan!" sahut Aryn.
"Ternyata apartemenku satu gedung dengan pria tampan kemarin, yang mengantarku ke rumah sakit ini,"
"Zack?" Aryn mencoba mengingat.
"Oh namanya Zack... Sepertinya dia memang jodohku, Aryn! Baru kemarin aku mengakuinya sebagai jodoh, semalam aku langsung dipertemukan kembali bahkan satu gedung apartemen! Tapi kenapa aku baru tahu sekarang ya, kalau dia tinggal di sana?" ucap Mei.
"Zack mempunyai banyak apartemen, pekerjaannya banyak! Wanitanya juga banyak, jangan pikir gadis sepertimu bisa memikatnya " celetuk Dave.
"Aryn... Dave mengejekku!" ucap Mei.
"Dave...." Aryn mengedipkan sebelah matanya. Dave lalu tersenyum sinis pada Mei.
"Setahuku semua kekasihnya sudah meninggalkannya," ucap Aryn.
"Benarkah? Aku akan mendapatkannya! Mulai hari ini dia adalah kandidat calon suami terkuat baru kemudian Zain yang ada di posisi kedua!" Mei bersemangat.
"Setuju! Aku selalu mendukungmu!" Aryn terkekeh.
"Dia bekerja dimana?" tanya Mei.
"Orang tuanya sebenarnya punya perusahaan sendiri, tapi dia bekerja dengan Dave!" jawab Aryn.
"Bisakah aku tahu alamat kantornya?"
Aryn mengambil ponsel Mei. Lalu ia mengetikkan nama perusahaan Dave di laman pencarian. Muncullah semua artikel yang membahas tentang perusahaan itu. Aryn membuka salah satu artikel itu dan memperhatikannya pada Mei. Mei tidak terlalu mengikuti berita, jadi ia tidak tahu perusahaan Dave. Selama ini ia hanya mendengarnya dari desas-desus para mahasiswi di kampus. Mei tidak peduli seberapa kaya sahabatnya, ia bersahabat dengan Aryn tanpa memandang itu semua.
"Suami lo bener-bener tajir ya?" ucap Mei spontan.
"Baru tahu?" celetuk Dave.
Mei tidak menghiraukan ucapan Dave. Ia langsung mengambil tasnya yang ia letakkan di nakas Aryn tadi.
"Aku pergi dulu ya, nanti sepulang dari kampus aku ke sini lagi! Sekalian memberikan materi hari ini kepadamu!"
"Aku mau menembak Zack! Aku pergi dulu... sampai jumpa nanti!" seru Mei yang berjalan meninggalkan ruang rawat Aryn.
"Jangan ditembak, kasihan anak orang!" seru Aryn terkekeh. Ia tahu maksud Mei, bukan menembak dengan pistol tapi menembak untuk menjadikan Zack kekasihnya. Ia hanya menggoda sahabatnya itu.
"Jangan pura-pura tidak tahu, Aryn!" Mei tertawa kecil.
Blam,
Mei menutup pintu ruang rawat Aryn, ia sudah pergi.
"Akhirnya dia pergi juga," ucap Dave.
"Dave... " Aryn melotot.
"Sahabatmu itu membuatku pusing," sahut Dave.
"Sudahlah Dave, dia itu sahabatku satu-satunya!" Aryn tersenyum.
"Aku juga sahabatmu, sayang! Aku adalah ayah, ibu, saudara, suami, sekaligus sahabat untukmu," Dave mencium bibir Aryn sekilas, lalu menjauh lagi, ia takut Aryn akan mual.
"Suamiku ini manis sekali..." Aryn mentoel hidung Dave.
Mei mengendarai mobilnya menuju kantor Dave. Suami sahabatnya itu mengambilkan mobilnya kemarin yang ia tinggal di pinggir jalan saat diculik. Beruntung mobilnya tidak diambil orang sebelum orang suruhan Dave yang mengambilnya.
"Aku beli bunga dulu ah, agar acara penembakanku syahdu!" gumam Mei saat melihat toko bunga di pinggir jalan.
Mei turun dari mobilnya, ia memutuskan untuk membeli bunga mawar merah. Tapi hanya satu tangkai saja. Alasannya Mei ingin menjadikan Zack satu-satunya, kalau nanti diterima. Setelah membayarnya ia bergegas menancap gas menuju kantor Dave. Sepanjang perjalanan ia bersenandung ria.
Mobil Mei berhenti di basement kantor Dave. Ia memoles bibirnya sebentar dengan lipstick warna natural baru ia turun dari mobil. Mei menyembunyikan mawar yang ia beli tadi di belakang bajunya. Lebih tepatnya ia memasukkannya ke dalam baju bagian belakangnya.
"Permisi, dimana ruangan Zack?" tanya Mei pada resepsionis kantor itu.
"Apakah nona sudah membuat janji?" tanya wanita itu.
"Sudah, aku calon istrinya!" jawab Mei.
"Ruangan Tuan Zack ada di lantai 14, nona! Ruangan yang paling ujung," ucap wanita itu.
"Terima kasih, jangan beritahu Zack ya! Saya akan memberikan kejutan," sahut Mei.
"Baik, nona!"
__ADS_1
Mei berjalan menuju lift. Sesekali ia menjerit karena duri mawar mengenai kulitnya. Hal itu membuat petugas resepsionis keheranan.
"Huft...Aku datang jodohku..." Mei menghela napas saat ia tiba di depan ruangan Zack.
Tok tok tok,
"Masuk!" terdengar suara seksi dari dalam.
"Aku semakin tidak sabar," gumam Mei.
Mei membuka pintu itu, dan menutupnya kembali saat ia sudah ada di dalam. Terlihat pria pujaannya sedang sibuk dengan laptop di hadapannya.
"Katakan!" seru Zack, ia mengira yang datang adalah salah satu staf yang akan memberinya laporan keuangan.
"Rupanya kamu sudah tidak sabar," Mei bersemangat.
"Iya," jawab Zack spontan.
Zack terdiam, ia seperti mengenal suara itu. Suara itu bukan suara staf. Tapi,
"Kau! Kenapa kau kemari?" seru Zack.
"Jangan marah-marah, nanti awet tua loh!" seloroh Mei.
"Sial sekali aku hari ini," keluh Zack.
"Aku kesini karena aku ingin.... Sebentar ya," ucap Mei.
Zack memutar bola matanya dengan malas. Terlihat Mei sedang merogoh sesuatu di bajunya. Zack membelalakan kedua boka matanya. Apakah gadis ini akan nekat?
"Hey! Apa yang kau lakukan? Aku tahu kau tergila-gila kepadaku, tapi tidak begini caranya! Jangan buka bajumu!" seru Zack.
"Enak aja! Asal kamu tahu aku ini masih ting-ting, dijamin masih ting-ting! Tidak mungkin aku menjatuhkan harga diriku! Aku hanya akan mengambil sesuatu dari sini!" protes Mei.
"Sesuatu apa? Bramu?" tanya Zack tersenyum sinis.
"Sabar ya, nanti kalau sudah menikah aku janji akan memberikan semuanya untukmu," Mei mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar!" protes Zack.
Mei kembali merogoh bajunya. Susah payah ia mengeluarkan bunga tadi. Durinya yang tajam bersentuhan dengan kulitnya.
"Auw auw auw..." pekiknya.
"Dasar gadis aneh!" Zack keheranan.
"Taadaaaaaa...." Mei berhasil mengeluarkan bunga itu, ia memberikan bunga itu dengan ekspresi meringis karena punggungnya perih.
"Apa ini?" seru Zack.
"Jadi maksud kedatanganku kesini, aku ingin memberikan bunga ini sebagai tanda rasa cintaku. Love in first sight. Maukah kamu menjadi kekasihku lalu menikah denganku?" Mei menampilkan senyum termanisnya.
Bukannya menjawab Zack justru menempelkan punggung tangannya di kening Mei. Lalu ia menempelkannya di ketiaknya.
"Sama kok suhunya, berarti masih waras!" lirih Zack yang masih didengar Mei.
"Cepat jawab, jodohku!" seru Mei.
"Jawabannya adalah tidak, dan akan selalu tidak!" Zack tersenyum smrik.
Mei menunduk, ia tidak menyangka patah hati sesakit ini. Punggungnya sakit, sekarang ditolak pula. Apa hadiahnya kurang bagus ya? Tadi seharusnya aku membeli bunga kamboja.
"Sini!" seru Zack menepuk sofa di sebelahnya.
"Aku?" tanya Mei.
"Memangnya siapa lagi?" sahut Zack.
Mei berjalan gontai menuju sofa itu. Ia duduk dengan lemas. Apa yang akan dilakukan Zack?
Zack mengambil kotak obat-obatan. Ia mengeluarkan salep dari dalam kotak itu. Ia memaksa Mei yang lemas untuk memunggunginya. Lalu Zack menyingkap baju yang digunakan Mei.
"Apa yang kamu lakukan?" pekik Mei.
"Lukanya akan infeksi kalau tidak diobati," lirih Zack. Hati Mei tersentuh, ia membiarkan Zack mengobati lukanya.
"Sudah selesai! Dasar gadis aneh, menyimpan bunga kok di dalam baju!" Zack terkekeh.
"Agar kamu tidak melihatnya," sahut Mei.
"Sudah pergi sana!" Zack mengusir Mei.
"Baru saja kamu mengobati lukaku, masa kamu mau membuat luka baru dengan mengusirku?" ucap Mei dengan nada yang dibuat sedih.
"Pekerjaanku banyak, jangan menggangguku! Lebih baik kau pulang, pikirkan strategi lain untuk bisa membuatku tertarik padamu!" seru Zack yang mendorong Mei keluar ruangannya.
Blam,
"Dasar gadis aneh! Tapi lumayan juga,....Arrgghh! Tidak...tidak...Naina lebih baik daripada gadis tidak waras itu!" Zack bermonolog dengan dirinya sendiri.
Sementara di luar ruangannya, Mei berdiri mematung. Tangannya menyuntuh punggungnya. Lalu mengingat ucapan Zack barusan.
"Dia menyuruhku mencari strategi lain untuk membuatnya tertarik? Aaaaaaa.... Aku tidak jadi melengserkan posisimu sebagai kandidat calon suamiku, Zack!" Mei melompat-lompat kegirangan. Ia berlarian keluar kantor layaknya anak kecil yang baru saja mendapat permen.
__ADS_1
................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian! Love you all!