Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
MAKAN MANGGA


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


"Kak Reza tidak pergi ke Paris lagi kan?" tanya Silvi saat berada di dalam mobil.


"Kalau aku tidak pergi ke Paris bagaimana aku bisa membuktikan kepada Dave bahwa aku pria yang pantas? Kalau aku tidak bisa membuktikannya kepada kakakmu, aku tidak bisa menikahimu, kalau aku tidak bisa menikahimu aku jadi galau. Kalau aku galau aku jadi tidak nafsu makan, tanpa dirimu dan makanan aku bisa mati, Silvi! Jadi intinya kalau aku tidak ke Paris aku akan mati," ucap Reza.


"Kalau begitu aku ikut ke Paris!" seru Silvi.


"Dave akan mengulitiku," sahut Reza terkekeh.


"Benar juga... Kalau aku ikut ke Paris sebenarnya kita bisa kawin lari, Kak! Tapi pasti Kak Dave akan menemukanku dengan mudah dan menghukum Kak Reza! Beruntung jika Kak Dave hanya memukul, kalau Kak Reza sampai gugur di medan perjuangan cinta, aku bisa jadi janda!" ucap Silvi. Mereka berdua tertawa bersama.


Sementara sopir Reza, ia sesekali melirik spion untuk mengintip bosnya.


"Mereka bedua benar-benar cocok," gumam sang sopir.


Mobil Reza berhenti di area sekolah Silvi. Silvi menolak untuk diantar ke mansion. Ia tidak ingin Reza babak belur lagi karena ulah kakaknya. Silvi bahkan menyuruh Reza untuk di dalam mobil saja. Agar pengawalnya tidak ada yang melihat. Beruntung mobil jemputan dan pengawalnya berada jauh dari mobil Reza. Reza sudah merencanakan semuanya sebelum menemui Silvi. Reza bercerita jika ia menyuruh anak buahnya untuk mengalihkan perhatian pengawal Silvi saat para siswa-siswi berhamburan keluar sekolah. Ia juga membayar beberapa siswi untuk mengatakan jika Silvi mengantar temannya ke minimarket dan tidak ingin pengawalan. Sebelumnya ia juga sudah menonaktifkan ponsel Silvi sekaligus membeli beberapa biskuit. Jadi Reza bisa membawa Silvi dengan aman.


"Aku akan berangkat besok pagi, jaga dirimu baik-baik. Rahasiakan pertemuan kita, aku tidak ingin Dave memarahimu." ucap Reza sebelum Silvi turun dari mobil.


"Besok pagi?" Silvi memeluk erat Reza.


"Aku harus segera kembali, aku akan membereskan wanita itu dulu!" sahut Reza.


"Oh iya, siapa nama wanita itu?" tanya Silvi.


"Tidak penting," Reza mengelus pucuk kepala Silvi.


"Katakan!" seru Silvi.


"Namanya Zara, jangan dibunuh ya!" jawab Reza.


"Kenapa emangnya?" tanya Silvi.


"Kasihan, dia itu masih muda dan cantik," lirih Reza.


Plak,


"Aauuww!" pekik Reza.


"Kamu ini kasar sekali! Pantas saja kamu tidak punya teman, kamu pasti selalu menampar mereka juga!" keluh Reza.


"Aku tidak suka kakak memuji wanita itu, aku lebih cantik dari dia! Aku juga lebih sexy!" seru Silvi.


Reza memandangi tubuh Silvi dan mengucapkan kata 'Sexy' berkali-kali. Ia berusaha mencocokkan ucapan Silvi dengan kebenaran yang ada di hadapannya.


"Ini yang kamu bilang sexy?" Reza tertawa kecil.


Silvi mengerti maksud Reza, ia cukup sadar bagaimana bentuk tubuhnya. Ukuran dadanya yang pas-pasan dan bokong yang datar.


"Silvi kan masih kecil, besok kalau udah besar ini juga ikut besar!" sahut Silvi menunjuk dada dan bokongnya.


"Benarkah? Besok akan aku buktikan" Reza tertawa kecil.


"Mau aku tampar lagi?" seru Silvi dengan kesal.


"Jangan jangan! Kamu ini galak sekali!"


Reza tertawa kecil. Tangannya mengelus kepala gadis itu. Ia mengambil kantong belanjaan yang berisi biskuit.


"Ambil ini dan pulanglah sebelum mereka curiga, nanti aku akan menelponmu!" Reza sudah menyalin nomor Silvi tadi.


"Baiklah," jawab Silvi.


Silvi berlarian menuju mobil yang menjemputnya. Di sana sudah ada Frans yang menunggu. Sementara pengawalnya berada tidak jauh dari mobil Di lihat dari wajah mereka, mereka tidak tahu apa yang dia lakukan dan dengan siapa dia bertemu tadi, syukurlah.


"Apakah nona baik-baik saja? Seharusnya nona mengizinkan pengawal untuk ikut, jadi kami bisa memberikan laporan pada bos," ucap Frans saat Silvi masuk ke dalam mobil.


"Maaf menunggu lama, aku mengantar temanku ke minimarket tadi! Dia membeli keperluan wanita, mana mungkin aku membiarkan mereka ikut! Oh iya...Nih aku beli biskuit untuk kalian!" jawab Silvi.


"Baik, nona! Terima kasih," Frans menancap gas menuju mansion.


Di dalam mobilnya Silvi menyalakan kembali ponselnya. Ia menunggu beberapa saat sampai ponselnya menyala dengan sempurna.


"Aku tidak percaya dengan ucapan manisnu, kak! Aku harus melihatnya sendiri!" gumam Silvi saat mengirimkan pesan singkat kepada Doni untuk terus memata-matai Reza.


 ----------------------


Di mansion,


Zack mengejar Mei yang lagi-lagi meninggalkannya. Setelah berhasil mendapatkan mangga muda untuk Aryn, Mei langsung masuk ke mansion tanpa menunggu Zack yang membereskan ranting yang mereka patahkan.

__ADS_1


"Mei, tunggu!" seru Zack di ambang pintu utama mansion.


Mei mengacuhkannya, ia bertanya kepada pelayan dimana Aryn berada. Pelayan mengatakan Aryn dan Dave sedang duduk di tepi kolam renang. Mei pun berjalan menuju kolam renang dengan membawa mangganya. Tidak lupa ia mampir ke dapur untuk mengambil pisau dan piring. Zack selalu mengekor di belakangnya.


"Berhentilah mengikutiku!" Mei berhenti mendadak.


Bug,


"Aauuwww!" pekik Mei. Zack menabrak tubuhnya sampai terdorong ke depan.


"Sorry... Lain kali bilang dulu kalau mau berhenti," Zack terkekeh.


"Au ah!" ucap Mei yang meninggalkan Zack dengan cemberut.


"Ditinggal lagi!" keluh Zack.


"Kamu ini bicara seolah tidak tahu mansion ini saja, aku tinggal sekalipun kamu tidak akan tersesat!" sahut Mei.


Mei menghembuskan napas lega saat melihat Aryn dan Dave sedang duduk di pinggir kolam. Mei menghampiri mereka.


"Ini mangga mudanya, cantik!" ucap Mei menyodorkan tiga buah mangga muda.


"Wah...Thank you! Tapi ini benar-benar kalian berdua yang metik kan?" tanya Aryn.


"Kamu bisa cek sidik jarinya," Mei cemberut.


"Aku percaya," jawab Aryn.


Aryn mengambil tiga mangga muda itu dari tangan Mei. Kedua matanya berbinar menatap mangga itu. Air liurnya bahkan hampir menetes.


"Ternyata kalian bisa diandalkan juga, tapi tumben Mei sok-sokan jual mahal dengan Zack!" seloroh Dave.


"Sudah kubilang, aku ganti jodoh!" sahut Mei.


"Hilang beneran nanti nyesel," celetuk Zack.


"Nah lo!" Dave meledek.


"Dikira kandidatnya cuma satu," seloroh Mei.


"Bau-bau buaya betina," sahut Zack.


"Cocok dong! Yang satu buaya jantan dan yang satunya buaya betina!" seru Aryn terkekeh.


"Bertengkarnya ditunda dulu, kupas dan potong mangganya dulu!" Aryn memerintah.


"Mei aja tuh!" seru Zack.


"Enak aja! Aku sudah susah payah metiknya, kamulah yang motong!" bantah Mei.


"Susah payah? Ini nih pundak rasanya mau copot! Kau berat sekali! Aku yang sudah bersusah payah ngambil mangganya!" Zack menepuk kedua bahunya.


"Maksudmu aku gemuk?" Mei berkacak pinggang.


"Iya seperti itu!" sahut Zack.


"APA??" pekik Mei. Nyali Zack menciut melihat Mei yang berubah menjadi galak.


"Sudahlah Mei, kalau aku lihat beberapa bulan ini kamu bertambah gemuk kok, itu kenyataannya. Jangan diributkan lagi! Kamu sendiri yang ikut-ikutan gila makan sepertiku!" Aryn mencoba menenangkan Mei.


"For real? Aku bertambah gemuk?" tanya Mei.


Aryn, Zack, dan Dave mengangguk serempak. Mei yang dulu terlihat kurus memang sekarang sudah lebih berisi.


"Syukurlah! Aku senang sekali! Akhirnya aku bertambah gemuk!!" Mei kegirangan.


"Benar-benar wanita yang unik," celetuk Zack.


"Aryn saja selalu takut menjadi gemuk, eh wanita yang satu ini malah heboh!" imbuh Dave.


"Kalian berdua ini selalu saja mengomentari hidupku! Asal kalian tahu, aku berusaha keras untuk menaikkan berat badanku! Ternyata berhasil juga, senangnya..." sahut Mei.


"Sudah cepat lakukan apa yang diperintah Aryn! Jangan banyak bicara!" seru Dave.


Mei dan Zack mengupas ketiga mangga muda itu dan memotongnya menjadi kecil-kecil sesuai permintaan Aryn.


"Buang kulitnya di sini!" Mei menunjuk tempat sampah yang sudah ia siapkan. Ia kesal karena Zack melempar kulit mangga ke wajahnya.


"Sorry...abisnya mirip sih!" celetuk Zack.


Mei geram, ia mengambil tempat sampah itu dan mengeluarkan isi tempat sampah itu tepat di atas Zack. Alhasil semua kulit mangganya jatuh di kepala dan tubuh Zack. Dave dan Aryn hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan keduanya.


"Kau!" Zack marah.

__ADS_1


"Oops! Sorry, aku sengaja!" Mei menjulurkan lidahnya.


Zack tidak tinggal diam, dia menghampiri Mei. Tapi Mei sudah berlari menjauh, gadis itu masih saja menjulurkan lidahnya meledek Zack.


"Dasar gadis aneh! Kemari kau!" seru Zack.


"Heh kembali kalian, malah kejar-kejaran! Bosan hidup?" seru Dave.


Zack dan Mei menghentikan aksinya, keduanya menunduk. Kembali meneruskan tugas mereka. Dave langsung mengambil alih mangga yang sudah dipotong.


"Kamu mau ngapain, sayang?" tanya Aryn.


"Sudah tentu menyuapimu!" jawab Dave.


"Aku ingin mereka berdua yang menyuapiku," tukas Aryn.


"Sayang, ini baby kita! Aku yang susah payah membuatnya! Harusnya aku yang menyuapimu bukan kedua orang itu!" protes Dave.


"Tapi aku ingin Zack dan Mei yang menyuapiku!" sahut Aryn.


"Suamimu itu aku, bukan Zack! Kalau Mei tidak apa," Dave terlihat sangat kesal.


"Pokoknya aku mau mereka berdua yang menyuapiku," sahut Aryn.


"Baiklah..." Dave mengalah.


Zack dan Mei duduk di sebelah kanan dan kiri Aryn. Mereka secara bergantian menyuapi Aryn. Tapi baru tiga potong, Aryn sudah tidak mau memakan mangga itu lagi.


"Kenapa?" tanya Dave.


"Aku hanya ingin mencicipinya saja, sekarang aku mau mereka berdua yang makan!" Aryn tersenyum lebar.


"APA?" seru Zack dan Mei serempak.


"Keponakanku... Kenapa kamu selalu menyuruhku untuk berduaan dengan dia? Please, biar dia saja ya yang memakannya!" Mei berbicara di depan perut Aryn.


"Tidak tidak... Dengarkan unclemu ini, uncle punya asam lambung! Kamu tidak kasihan dengan uncle?" Zack turur berbicara di depan perut Aryn.


"Sejak kapan kau punya asam lambung?" celetuk Dave.


"Dave diamlah!" protes Zack.


"Pokoknya yang harus memakan mangga ini uncle dan aunty!" Aryn tertawa kecil.


Zack dan Mei saling menatap, masing-masing dari mereka terlihat enggan memakan mangga muda itu.


"Ayo cepat makan! Kalian tidak dengar apa yang diinginkan babyku?" Dave berkacak pinggang.


"Boleh tidak mangganya disimpan dulu?" sahut Mei.


"Jangan banyak alasan!" sahut Dave.


"Kalau mangga ini boleh disimpan dulu, aku akan tetap memakannya suatu hari nanti saat mangga-mangga ini menjadi tua!" seloroh Mei.


"Kau ini bicara apa? Sudah ayo makan saja!" Zack menyodorkan sepotong mangga di depan mulut Mei.


Deg,


Jantung Mei berdetak tidak karuan saat melihat Zack menyodorkan sepotong mangga untuknya.


"Kalaupun mangganya asam pasti akan menjadi manis karena kamu pegang," gumam Mei.


Tidak mendapat jawaban dari Mei, Zack langsung menjejalkan sepotong mangga tadi ke dalam mulut Mei. Jarinya menyentuh bibir Mei.


Deg,


Jantung Zack berdetak kencang seperti genderang mau perang. Jarinya baru saja menyentuh bibir Mei yang lembut dan pink itu. Zack bergegas menjauhkan jarinya, menutupi rasa geroginya. Tapi belum sempat Zack menarik jarinya, Mei mengigit jarinya.


Aauuwww


Zack berteriak sambil memegangi jarinya.


"Rasakan itu! Beraninya menyentuh bibir perawanku!" seru Mei.


"Siapa suruh kau melamun?" sahut Zack.


"Astaga bibirnya lembut sekali, apalagi dia bilang bibirnya perawan berarti belum pernah berciuman?......Arghh tidak tidak! Sadar Zack!!" gumam Zack.


Aryn dan Dave yang menyaksikan keduanya tersenyum sendiri. Mereka itu lucu dan saling meledek. Tapi kalau sudah saling menatap atau bersentuhan pasti keduanya langsung malu-malu kucing.


.................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian!

__ADS_1


__ADS_2