Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
OLEH-OLEH


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


.....................


Blam,


Pintu kamar tertutup dengan keras. Aryn berjalan menuju ranjangnya, ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras.


"Ada apa denganmu, Aryn? Kau tidak mencintainya Aryn, untuk apa kau merasa kesal karena dia membawa Angel ke mansion?" Aryn memaki dirinya sendiri.


Ia naik ke atas ranjang, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Hanya rambutnya saja yang terlihat sekarang.


Ceklek,


Aryn memejamkan kedua matanya saat mendengar suara pintu yang dibuka dari luar. Ia memegang selimutnya erat-erat.


"Aryn," lirih Dave yang meletakkan barang bawaannya di atas sofa.


"Sayang," lirih Dave lagi karena tidak kunjung dijawab oleh Aryn.


"Sayang..." panggil Dave dengan suara lebih keras.


Tapi nihil, Aryn tidak mau keluar dari selimutnya. Dave yakin Aryn belum tidur, ia masuk ke kamar ini dua menit setelah Aryn masuk. Dave akhirnya mendekati ranjang, ia menggelengkan kepalanya perlahan. Melihat sikap Aryn yang kekanak-kanakan seperti ini membuatnya semakin klepek-klepek.


Ia membuka salah satu paper bag yang ia bawa. Dave teringat blog yang pernah is baca, blog itu menuliskan jika wanita sedang marah manjakanlah perutnya dengan makanan kesukaannya. Paper bag itu terisi penuh oleh coklat, makanan ringan, dan beberapa minuman kemasan. Ia memang tidak tahu makanan kesukaan Aryn, tapi setidaknya ia tahu jika banyak wanita menyukai coklat dan makanan yang manis-manis.


Dave meletakkan satu bungkus coklat di dekat Aryn. Dan dalam sekejab Aryn mengambil coklat itu dari balik selimutnya.


"Kamu memang sedang marah denganku, tapi aku yakin kamu tidak akan pernah bisa marah dengan coklat dan makanan yang aku bawa ini hahahaha!" seru Dave, ia duduk di tepi ranjang.


Tidak berhenti di situ, Dave meletakkan dua mika puding rasa coklat ukuran kecil di dekat Aryn. Seperti dugaan Dave, Aryn menyambar puding itu dengan cepat.


"Keluarlah dari selimutmu, lihatlah oleh-oleh yang aku bawa!" seru Dave.


Tapi tetap tidak ada jawaban dari Aryn, selimutnya masih tertutup rapat.


Akhirnya Dave meletakkan lagi dua bungkus makanan ringan di dekat Aryn. Kurang dari lima detik Aryn sudah menyambar makanan itu layaknya hiu menyambar mangsanya.


Sekarang lihatlah apa yang akan aku lakukan!


Sebuah minuman kemasan dengan rasa strawberry Dave letakkan lagi didekat Aryn. Tapi kali ini Dave meraih tangan Aryn saat Aryn akan menyambar minuman kemasan itu.


"Kena kamu!" seru Dave kegirangan.

__ADS_1


Dengan cepat Dave menyingkap selimut Aryn dan tetap menggenggam tangan Aryn. Berkali-kali Aryn mencoba menahan selimutnya, tapi tenaga Dave lebih kuat dari Aryn. Selimut yang menjadi pertahanan terakhir Aryn sudah dilempar ke lantai oleh Dave.


Deg,


Kini kedua bola mata mereka bertemu pandang. Aryn terhipnotis oleh kedua bola mata coklat milik Dave. Jantungnya dag dig dug dor, tubuhnya panas dingin pasrah di bawah kungkungan Dave.


Ampun Dave! Jantungku rasanya sedang berdisko di rongga dadaku, siapapun tolong hentikan adegan ini!


Dave tersenyum bangga ketika melihat keringat dingin Aryn bercucuran dari dahinya.


Aku yakin saat ini jantungmu sedang berdisko ria bersama jantungku, Aryn! Aku tidak akan membiarkanmu lama-lama menyembunyikan perasaanmu itu! Aku takut perasaanmu kadaluwarsa hahaha! Akan aku pastikan tujuh hari lagi kamu akan menyatakan cintamu kepadaku!


"Dave lepaskan, tanganku kesemutan!" rengek Aryn.


"Akan aku lepaskan, tapi kamu harus berjanji!" jawab Dave.


"Berjanji apa?" tanya Aryn.


"Berjanjilah kamu tidak akan marah ataupun mengacuhkanku lagi! Duniaku menjadi hampa jika kamu mengacuhkanku! Dan kamu juga harus berjanji untuk mematuhi perintahku," ucap Dave dengan memejamkan matanya.


"Lebay!" seru Aryn.


"Sedikit lebay tidak masalah kalau lebaynya di depan istri sendiri, kan?" ucap Dave mengerlingkan kedua matanya.


"Berjanjilah dulu!" rengek Dave.


"Iya iya, aku janji!" sahut Aryn kesal.


Akhirnya Dave melepaskan tangan Aryn, lalu Aryn mendorong tubuh Dave agar dia minggir dari tubuhnya. Dave beranjak dari ranjang, berjalan santai mengambil tiga paper bag.


"Aku bawakan oleh-oleh khusus untukmu!" ucap Dave saat memberikan paper bag itu kepada Aryn.


"Seharusnya ada empat paper bag, tapi aku terpaksa membuka satu paper bag yang berisi coklat tadi untuk menjinakkanmu," lanjut Dave.


Aryn membuka satu per satu paper bag itu dengan antusias. Tapi lagi-lagi Dave membuatnya naik darah. Ia menatap tajam Dave yang sedang cengar-cengir di depannya.


"Apa ini Dave?" tanya Aryn kesal.


"Baju untukmu," jawab Dave.


"Baju model apa ini? Baju kurang bahan seperti ini kenapa dibeli?" ucap Aryn kesal.


"Kamu akan terlihat cantik dengan baju itu, sekarang cobalah baju itu aku ingin melihatnya!" perintah Dave.


"Aku tidak mau!" tolak Aryn.

__ADS_1


"Aryn.... ini perintah, kamu sudah berjanji kepadaku tadi! Aku memerintah kamu untuk memakai baju itu, kenapa menolak?" ucap Dave.


"Emm...aku... aku takut masuk angin," jawab Aryn salah tingkah.


Dasar dodol! Jelas-jelas baju ini kurang bahan, selain takut masuk angin tentu aku juga malu memakainya dihadapanmu!


"Hahaha...kalau kamu masuk angin nanti aku yang akan merawatmu, sudah cepat pakai!" seru Dave yang mendorong Aryn agar masuk ke dalam kamar mandi.


..........


Di kamarnya, Silvi sibuk membuka semua barang pemberian kakaknya. Ken yang mengantarkan barang-barang itu ke kamarnya. Ia mencoba sebuah sweater kuning bergambar kucing di depannya.


Tok...tok...tok


"Silvi... main yuk!" seru Reza memanggil Silvi.


Reza belum pulang ke rumahnya, padahal hari ini adalah jadwalnya untuk menginap di rumah maminya. Tapi ia memilih untuk di mansion Dave lebih lama lagi. Karena kedatangan Samuel dan Angel yang membawa kabar gembira untuk mereka semua. Ia nanti akan menelpon maminya kalau ia akan pulang besok siang.


Mendengar teriakan Reza di luar, Silvi bergegas membuka pintu kamarnya.


"Main apa lagi sih, kak? Belum kapok tadi main ular tangga terus ularnya datang beneran?" sahut Silvi bersungut-sungut.


"Angel maksudmu? Kamu ini ada-ada saja? Kita main game aja yuk!" seru Reza yang sudah menyelinap masuk ke kamar Silvi.


"BTW, adik kakak yang satu ini cantik banget! Sweater baru ya?" tanya Reza.


"Iya, dapet oleh-oleh!" jawab Silvi.


Reza memang sangat akrab dengan Silvi. Karena ia sering menghabiskan waktu untuk sekedar bermain game bersama. Kebetulan Silvi juga menyukai game yang sering mainkan. Hebatnya lagi, Silvi juga menyukai film-film yang ia sukai. Jadi jika Reza datang ke mansion pasti tujuannya selain memberikan laporan perusahaan kepada Dave, ia akan bertemu dengan Silvi.


"Game yang mana, kak?" tanya Silvi sambil membuka rak di bawah TV nya.


Silvi memang menyukai game ataupun film favorite Reza. Bukan karena kebetulan, tapi Silvi memutuskan untuk menyukai apapun yang Reza sukai. Setiap waktu yang ia habiskan bersama Reza walaupun hanya untuk bermain game bagi Silvi adalah suatu kebahagiaan yang besar. Ia belum berani menyatakan perasaannya. Kalaupun ia berani pasti Reza akan menanggapinya dengan bercanda. Yeah, tentu karena usia mereka yang terpaut 12 tahun dan Reza pernah mengatakan jika Silvi sudah seperti adiknya sendiri.


"Kita nonton film aja deh! Kakak punya rekomendasi film asyik nih, The Skeleton Key!" seru Reza yang mulai mengotak-atik smart TV di kamar Silvi.


"Pasti tentang misteri-misteri lagi!" protes Silvi.


"Kalau nggak ada misterinya nggak greget!" sahut Reza.


"Ampun bang jago!" seru Silvi yang menyatukan kedua tangannya di dada membuat Reza mengacak rambutnya dengan gemas.


................


Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All...

__ADS_1


__ADS_2