
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Jalanan cukup padat pagi ini. Reza lincah menyalip ke kanan dan ke kiri. Tujuannya hanya satu, membuntuti mobil Silvi. Mobilnya tepat berada di belakang mobil Silvi sekarang.
Di dalam mobilnya, Silvi tampak tersenyum puas. Ia melihat dengan jelas pantulan mobil milik Reza dari kaca spion.
"Sepertinya Tuan Reza mengikuti kita, nona!" Ucap Frans gelisah.
"Biarkan saja, tidak usah dipedulikan!" sahut Silvi singkat.
Frans mengusap wajahnya kasar dengan tangan kirinya. Mengapa ia harus terlibat dalam situasi yang sulit seperti ini? Frans merasa tidak enak hati dengan Reza karena ia sudah lancang mengantarkan Silvi. Walaupun Silvi yang memintanya sendiri tetap saja Frans merasa bersalah dan terlibat.
"Kak Frans," lirih Silvi.
"Iya, nona? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Frans.
"Ah tidak perlu memanggilku dengan sebutan nona, kaku banget! Panggil Silvi saja," sahut Silvi.
"Maaf nona, tapi tidak pantas kalau saya memanggil nona dengan nama saja," jawab Frans lirih.
"Okay terserah Kak Frans mau memanggilku apa!" sahut Silvi yang menampilkan senyumnya.
Manis,
Dalam sepersekian detik Frans terpana. Beruntung ia sadar kalau sedang menyetir.
"Emm, Kak Frans lahir di negara yang sama dengan Kak Aryn kan ya?" Silvi memulai obrolan lagi, terdengar sedikit canggung.
"Iya, nona" jawab Frans singkat.
"Kak Frans sudah punya...anu...emm..." tanya Silvi terdengar tidak jelas.
"Anu apa, nona?" tukas Frans.
"Itu...Kak Frans sudah punya pacar?" tanya Silvi.
Frans terdiam, pertanyaan dari Silvi cukup membuatnya terkejut sekaligus salah tingkah. Sudut matanya melirik kaca spion, melirik para pengawal yang duduk di jok belakangnya. Entah mereka mendengarnya atau tidak. Kalaupun mereka mendengarnya pasti mereka memilih untuk pura-pura tidak tahu.
"Kak?" seru Silvi membuyarkan pikiran Frans yang tidak tentu arahnya.
"Eh maaf nona," jawab Frans sekenanya.
"Bagaimana jawabannya? Kak Frans sudah punya pacar atau belum?" tanya Silvi.
"Belum, nona!" jawab Frans, ia mencoba untuk menjawab dengan setenang mungkin.
"Oh," sahut Silvi.
Silvi terdiam sejenak, ada sebuah ide terlintas di otaknya. Tiba-tiba ia tertawa lepas tanpa sebab. Lantas Frans langsung menepikan dan mengerem mobilnya. Frans terkejut sekaligus merinding, pasalnya Silvi tertawa seperti kuntilanak di film horor Indonesia yang ia tonton semalam. Seperti mobilnya yang berhenti setelah direm, tawa Silvi juga berhenti. Mobil Reza yang melaju di belakang mobil mereka juga ikut berhenti.
"Apakah nona baik-baik saja?" tanya Frans.
"Aku baik-baik saja, kenapa?" jawab Silvi singkat.
"Nona tadi tiba-tiba tertawa dengan keras mirip seperti kuntilanak, sebaiknya nona jangan melamun agar tidak diganggu kuntilanak," sahut Frans yang menampilkan deretan gigi putihnya.
"Kuntilanak? Semacam serangga kah?" tanya Silvi.
"Bukan, nona! Dia semacam hantu, makhluk tidak kasat mata khas dari negara saya!" jawab Frans yang melajukan mobilnya kembali.
"Enak saja kamu mengataiku mirip dengan hantu itu! Aku hanya sedang senang, lagipula mana mungkin hantu itu menggangguku! Apakah dia bisa memesan tiket untuk datang kemari?" ucap Silvi kesal.
"Hantu kan bisa datang ke mana saja nona," jawab Frans.
"Okay okay," sahut Silvi mengalah.
Hening,
"Kak Frans," Seru Silvi memecah keheningan. Silvi berpikir ia akan menjalankan idenya mulai dari sekarang.
"Iya nona?" jawab Frans yang menoleh sejenak pada Silvi.
"Mulai hari ini Kak Frans bisa tidak pura-pura menyukaiku dan mengejarku?" lirih Silvi.
__ADS_1
Silvi seperti mendapat keberanian yang ekstra untuk mengatakan hal itu pada Frans.
Ciiittt
Frans secara spontan langsung menginjak rem.
"Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Sejak tadi berhenti mendadak, apakah Silvi tidak takut terlambat? Awas saja kalau pengawal baru itu berani macam-macam!" keluh Reza.
Untung saja tadi Reza juga langsung mengerem mobilnya. Kalau tidak mobil Silvi pasti sudah ia tabrak sampai penyok.
Di dalam mobil Silvi, pengawal yang duduk di jok belakang sampai mengeluh karena kepala mereka terbentur. Kalau tangan Frans tidak menahan tubuhnya, mungkin sekarang Silvi juga merasakan sakit yang sama dengan mereka.
"Maaf nona," ucap Frans yang segera memindahkan tangannya dari depan Silvi.
"It's alright, Silvi tahu Kak Frans pasti terkejut mendengar perkataanku tadi. Bagaimana Kak Frans mau atau tidak? Kak Frans melakukannya hanya pura-pura saja, aku akan memberikan bonus untuk Kak Frans jika misinya selesai." ucap Silvi yang terdengar sedikit memohon.
Hening,
"Please, kak!" pinta Silvi.
Frans mengerinyitkan dahinya. Gajinya lebih dari cukup untuk hidup enak di negara ini, ia tidak butuh bonus yang dibicarakan Silvi. Tapi Frans tahu, Silvi pasti melakukannya demi mendapatkan hati Reza. Memang tidak ada yang mengatakan kepadanya jika Silvi menyukai Reza, tapi dari sikap yang dia tunjukkan Frans dapat mengetahuinya dengan mudah. Frans sendiri pernah merasakan bagaimana rasanya mengejar orang yang ia sayangi tapi tidak kunjung dibalas perasaannya. Walaupun Silvi masih di bawah umur untuk urusan cinta, tapi tidak ada salahnya ia menerima tawaran Silvi. Silvi adalah adik dari bosnya, sudah seharusnya ia menuruti keinginannya.
"Jika ada bonus, saya mau nona!" jawab Frans dengan mantab.
"Terima kasih, kak! Oh iya aturan mainnya kakak cukup berpura-pura menyukaiku saja, aku nanti juga akan begitu. Dimanapun dan kapanpun itu harus berakting, agar terlihat alami no setting setting!" seru Silvi antusias.
"Siap, nona!" jawab Frans, ia melajukan lagi mobilnya.
Security sekolah Silvi terlihat sudah akan menutup gerbang depan. Beruntung Silvi sudah sampai.
"Sebentar nona," seru Frans saat Silvi akan turun dari mobil.
Frans lalu turun dari mobil dan berlarian. Ia membukakan pintu untuk Silvi. Lantas Silvi tersenyum manis.
"Pak tunggu jangan ditutup dulu, Silvi baru sampai!" teriak Silvi pada seorang security.
Terlihat security itu mengacungkan jempolnya. Memang kalau punya banyak uang, semua bisa menjadi mudah. Apalagi kakaknya adalah salah satu donatur terbesar dari sekolah itu.
"Kak Frans aku masuk dulu, jangan lupa nanti jemput Silvi," ucap Silvi dengan manis.
"Siap, saya pasti menjemput nona tanpa nona memintanya," jawab Frans dengan senyum yang tidak kalah manis dengan senyuman Silvi.
Baru saja mobil Silvi yang dibawa Frans meninggalkan tempat itu, Reza turun dari mobilnya. Dengan kesal ia menendang ban mobilnya sendiri.
"Shit, sakit juga ternyata!" keluhnya.
Reza berjalan masuk ke dalam mobil dengan hanya bertumpu pada kaki kirinya karena kaki kanannya masih sakit setelah mendang ban tadi. Hari ini sepertinya hari yang sangat sakit untuk Reza. Sakit hati setelah mendengar kabar Aryn hamil belum juga sembuh masih harus merasakan sakit hati ditolak Silvi untuk mengantar ke sekolah. Apalagi saat melihat Silvi dan Frans yang sangat akrab tadi, dadanya sangat sesak, belum lagi sakit kakinya karena menendang ban.
"Arrgghh... " teriak Reza di dalam mobilnya.
------------------
Di mansion,
Dave turun ke lantai pertama bersama dengan Aryn yang selalu menggunakan masker saat bersama Dave. Kecuali jika Dave sudah berkeringat atau tidak mandi. Setelah membuatkan susu untuk Aryn, ya walaupun ia yang harus menghabiskannya, rencananya Dave akan memotong buah-buahan segar untuk camilan Aryn. Dave bersikeras agar Aryn beristirahat di kamar saja, tapi bukan Aryn namanya jika tidak membangkang. Aryn memaksa untuk ikut turun, bahkan ia sempat memohon untuk turun dengan tangga. Tapi Dave tidak mengizinkannya, usia kandungan Aryn masih sangat muda dan rawan. Kamar mereka juga berada di lantai tiga. Ia tidak boleh melakukan aktivitas fisik yang membuatnya kelelahan.
"Pagi, bos!" sapa Ken saat melihat Dave keluar dari lift.
"Pagi, ada apa?" tanya Dave ketus.
Ken melengos, tentu ia datang untuk bekerja. Seharusnya mereka sudah berangkat ke kantor sekarang.
"Apakah bos tidak ke kantor hari ini?" Ken justru bertanya balik.
"Tidak," jawab Dave singkat.
"Ada banyak berkas yang harus bos koreksi dan tanda tangani," lirih Ken takut-takut.
"Aku bosnya bukan? Kau handle semua urusan kantor tiga bulan kedepan, untuk berkas-berkas itu tinggal kau bawa kemari saja! Aku tidak ingin meninggalkan Aryn di trimester pertama kehamilannya," jawab Dave dengan tegas.
Aryn sampai melongo saat mendengar perkataan Dave tadi. Aryn menjadi semakin cinta pada suaminya. Tapi sepertinya terlalu berlebihan jika Dave sampai tidak pergi ke kantor selama tiga bulan. Sementara Ken perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Ia merasa sangat bahagia karena Dave akan segera menjadi ayah, tapi ia juga merasa kesal karena harus menghandle urusan kantor.
"Tiga bulan? Kenapa tidak sembilan bukan sekalian, benar-benar keterlaluan! Bagaimana aku bisa mendekati Naina kalau waktuku untuk bekerja semua? Semoga Reza atau Zack bisa membantu," batin Ken.
Akhir-akhir ini Ken semakin akrab dengan Naina. Sudah tidak bertengkar jika bertemu. Hal itu bisa terjadi setelah Ken mengajak Naina untuk gencatan senjata dan berteman.
__ADS_1
"Tiga bulan itu lama sayang, perusahaan juga membutuhkanmu," sahut Aryn.
"Kamu dan baby kita lebih membutuhkanku," sahut Dave.
"Tapi kamu mempunyai perusahaan yang harus kamu kelola, jangan lupakan tangung jawabmu sebagai pemimpin di sana," lirih Aryn, tangannya menggenggam tangan Dave.
"Aku akan datang ke kantor seminggu dua kali untuk mengecek! Sudah tidak ada bantahan lagi," seru Dave dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Ken sedikit merasa lega. Walaupun sama saja ia yang harus menghandle kantor, tapi paling tidak ia mempunyai waktu untuk membicarakan dengan detail tentang informasi yang ia peroleh dari barang yang ditemukan Mira. Ken tidak bisa membicarakannya di mansion karena dilarang oleh Dave.Sebenarnya Ken sudah mengirimkan hasilnya ke email Dave sejak ia mendapatkan informasi itu. Tapi mereka perlu membicarakannya lebih detail secara langsung.
"Kalau begitu saya ke kantor sekarang bos, berkas yang harus ditandatangani hari ini akan saya bawa kemari di jam makan siang," ucap Ken.
Ken ingin menolak keputusan Dave, tapi ia hanya pegawainya dan Dave bosnya. Suka tidak suka ia harus mematuhi perintahnya.
"Tunggu!" seru Dave menghentikan langkah Ken.
"Iya bos?" sahut Ken.
"Aryn akan kuliah setelah tiga bulan, trimester pertama pasti berat jika harus dilalui dengan memikirkan kuliah," seru Dave.
"Tapi Dave, aku tidak apa-apa" lirih Aryn kecewa.
"Aku tahu kamu sangat bersemangat untuk meneruskan pendidikanmu, tapi sekarang di perut kamu ada baby kita! Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu atau baby kita, dan ini adalah kehamilan pertamamu. Kita harus berhati-hati di trimester pertama. Ingin berdekatan denganku saja harus memakai masker. Kalau kamu membantah, kamu akan kuliah setelah melahirkan saja bagaimana? Pelajaran kuliah pasti akan membuatmu stress," ucap Dave dengan penuh kasih sayang. Sangat berbeda saat ia berbicara dengan orang lain.
"Tapi Dave, aku sangat ingin! Baby kuat kan ya?" ucap Aryn.
"Iya daddy, baby kuat!" jawab Aryn dengan suara seperti anak kecil.
Dave menggelengkan kepalanya pelan, ia menjadi tidak tega jika harus mengesampingkan keinginan Aryn. Dave juga tahu Aryn adalah wanita yang mandiri dan bisa menjaga dirinya.
"Sayang mengertilah," sahut Dave dengan lembut.
"Aku pasti akan menjaga diriku dan baby dengan baik. Kamu kan membayar Frans dan masih banyak orang untuk menjagaku, lagipula kamu cukup berpengaruh di kampus!" rayu Aryn.
Dave menghembuskan napasnya dengan kasar, "Baiklah, tapi aku akan berkonsultasi dulu dengan Dokter Dessy," jawabnya.
"Terima kasih, ondel-ondelku!" seru Aryn yang langsung memeluk erat Dave.
"Kenapa masih disitu? Pergilah!" seru Dave pada Ken.
Ken mendengus pelan, ia salah lagi. Jelas-jelas Dave yang menahannya saat ia akan pergi ke kantor. Ken keluar dari mansion dengan terus mengomel di dalam hatinya.
Sekarang Dave mengajak Aryn untuk ke dapur. Lagi-lagi ia mengusir pelayan yang sedang bekerja di dapur. Ia mengambil apron dan memakainya dengan cepat.
"Tunggu, sayang!" seru Aryn.
"Ada apa?" tanya Dave lirih.
"Kamu pakai apron milikku saja, ada di laci itu," seru Aryn.
Dave bergegas membuka laci yang dimaksud Aryn. Ia mengambil sebuah apron pink yang bergambar hello kity.
"Yang ini sayang?" tanya Dave.
"Iya benar, kamu pakai itu saja! kamu pasti akan bertambah tampan dan gagah!" jawab Aryn.
Gagah dari mananya, batin Dave. Apron yang ia pegang saat ini seharusnya digunakan oleh kaum wanita saja.
"Aku ingin melihatmu memasak dengan memakai apron itu, Dave! Kamu tidak sayang denganku dan baby kita?" rengek Aryn.
"Okay okay! Aku akan memakainya," sahut Dave dengan nada pasrah.
Demi istri tercinta dan calon babynya apapun akan dia lakukan.
"Bagaimana? Senang sekarang?" tanya Dave. Ia berpose di depan Aryn dengan memamerkan apron hello kity itu.
"Super cute! Aku dan baby sangat senang," jawab Aryn antusias.
"Jangan sering-sering minta yang aneh-aneh ya, baby? Kasihan daddymu," gumam Dave saat mengelus perut Aryn.
Cup cup,
Dave memberikan ciuman penuh kasih sayang untuk babynya yang ada di dalam perut Aryn dan pucuk kepala Aryn. Lalu ia mengambil semangka, apel, dan beberapa buah segar lainnya untuk dipotong-potong. Aryn menyaksikan aksi Dave dengan antusias, sesekali ia bersorak memberikan semangat.
................
__ADS_1
こんばんわ、
Jangan lupa like, vote dan tinggalkan komentar sesuka kalian! And stay tuned! Karena kisah mereka akan semakin seru!