Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
PULANG


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


..........................


Hari ini hari terakhir honey moon Dave dan Aryn. Dave sebenarnya ingin berliburan selama mungkin dengan Aryn, tapi urusan kantor membuatnya harus segera pulang. Ditambah rencana pernikahan Samuel dan Angel yang akan diadakan minggu depan mengharuskannya memastikan keamanan mansion dan keluarganya sampai acara selesai.


Dua jam lagi, tepatnya pukul 9 pagi jet milik Dave akan take off dari Velana airport. Kini mereka sedang mengudara. Frans sudah menyiapkan Sea Plane yang akan menghantarkan mereka sampai bandara. Aryn tidak melepaskan genggaman tangannya sedetikpun. Setelah empat puluh menit mengudara, akhirnya mereka tiba di bandara. Frans mengantarkan Dave dan Aryn sampai di depan tangga pesawat. Aryn bergegas masuk ke dalam pesawat, namun Dave menghentikan langkahnya di tengah tangga. Lalu Dave turun kembali menghampiri Frans.


"Aku membutuhkanmu, aku yakin kau pasti bisa dipercaya!" ucap Dave saat menepuk bahu Frans.


"Saya tidak mengerti, tuan!" jawab Frans kebingungan.


"Aryn akan segera memulai kuliahnya, aku tidak percaya kepada siapapun untuk menjaga istriku tapi aku yakin kau bisa dipercaya! Selama di negara ini kau mengurus semuanya dengan baik. So, kau beruntung karena mendapatkan pekerjaan baru yaitu menjadi asisten pribadi, sopir, penjaga, sekaligus teman untuk Aryn. Aku rasa Aryn tidak akan kesepian jika ada kau, ditambah lagi kalian berasal dari negara yang sama!" ucap Dave menjelaskan.


"Tapi tuan,.." jawab Frans yang langsung dipotong Dave.


"Jangan khawatir, untuk soal gaji aku akan membayar empat kali lipat dari gajimu sekarang!" sahut Dave.


"Bukan masalah gaji, tuan! Tapi saya berat meninggalkan calon pacar saya, sudah 3 tahun saya mengejarnya," jawab Frans malu-malu.


"Oh My God, masih calon pacar, bukan? Lagipula sudah 3 tahun kau mengejarnya tapi masih belum bisa mendapatkannya, kau bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik di sana! Antara cinta dan bodoh memang hanya beda tipis, jika kau sedang mencintai seseorang hal sebodoh apapun pasti akan kau lakukan. Tapi jangan pernah menjadi pelangi untuk orang yang buta warna! Kau masih muda, Frans! Ah, bicara apa aku ini," seru Dave menggebu-gebu.


Frans tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, Dave memberikan sebuah pelajaran cinta kepadanya. Benar, ia bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dan cantik di sana. Wanita yang ia kejar 3 tahun ini tidak menghargai perjuangan dan perasaannya.


"Ayo masuk! Kau pikir kau ini siapa? Jetku ini tidak sudi menunggu dirimu, aku akan menyuruh pilot meninggalkanmu!" seru Dave yang sudah sampai di pintu pesawat.


"Tunggu, tuan!" seru Frans yang berlarian menaiki anak tangga.


Baru sebentar aku melamun, sikap Tuan Dave yang baik dan peduli sudah lenyap begitu saja.


Frans memilih duduk di kursi yang berjarak agak jauh dengan kursi Dave dan Aryn. Ia hanya ingin melindungi kedua matanya.


"Apakah Frans akan mengantarkan kita sampai Amerika? Berat sekali pekerjaannya, sampai harus mengantar ke Amerika lalu pulang ke negaranya lagi. Pengawalmu kan sudah banyak sayang?" seru Aryn saat pesawat sudah mengudara.


Aryn paling anti berbicara saat pesawat akan take off, paling ia hanya sedikit berteriak dan menggenggam lengan Dave dengan erat. Kadang jika Dave bertanya ia hanya mengangguk atau menggelengkan kepalanya. Ia akan mulai bersikap seperti biasa saat pesawat sudah mengudara di atas awan.


"Dia tidak mengantar kita," jawab Dave singkat, ia mengantuk.


"Lalu apa yang dia lakukan di sini?" tanya Aryn lagi.


"Ke Amerika, sayang! Kamu mau aku daftarkan ke universitas, bukan? Inilah salah satu syaratnya!" seru Dave gemas.


"Salah satu syarat? Bukankah syaratnya aku mau mengandung saja?" tanya Aryn.


"Syarat keduanya, kamu harus mau dijaga oleh pengawal dan Frans saat pergi ke kampus dan selama di kampus!" jawab Dave yang mencubit kedua pipi Aryn.

__ADS_1


"Oh My God, pengawal masih ditambah Frans? Dave aku ini hanya akan pergi ke kampus, di kampus nanti aku belajar bukan perang! Kenapa harus bawa prajurit?" rengek Aryn.


"Kamu tinggal pilih, pergi ke kampus dengan prajurit atau pergi ke kampus denganku, aku dengan senang hati akan menemanimu bahkan aku akan duduk di sebelah bangkumu! Dengan begitu waktu untuk bermesraan kita bertamabah!" ucap Dave dengan senyum smirknya.


"Kalau kamu yang menemani, bukannya belajar tentang mata kuliah tapi malah belajar tentang gaya baru!" seru Aryn sambil mencebikkan bibirnya.


"Kamu pintar sekali, sayang!" seru Dave.


"Aku setuju, tapi pengawal harus jaga jarak denganku dan Frans!" Aryn mencoba bernegoisasi dengan keputusan Dave.


"Jangan samakan aku dengan pedagang, tidak ada tawar-menawar Aryn! Keputusanku tidak bisa dirubah!" sahut Dave tegas.


"Please, Dave!" ucap Aryn dengan menunjukkan puppy eyesnya.


Dave tidak merespon Aryn.


"Please, honey!" rayu Aryn dengan manis, tapi masih tetap tidak ada respon dari Dave.


"Please, my sweetheart!" rayu Aryn dengan sedikit memonyongkan bibirnya.


Dave hanya melirik sebentar, tetapi tidak merespon ataupun bereaksi.


"Please, ondel-ondel tampan tercintaku!" rayu Aryn sambil menangkup kedua pipi Dave dengan tangan mungilnya.


"Okay, pengawal akan mengawasi dari jauh! Hanya Frans yang akan berada didekatmu! Tapi jangan selingkuh dengannya!" jawab Dave.


Aryn benar-benar tidak menyangka jika Dave akan lukuh dengan panggilan ondel-ondel yang ia berikan tempo hari. Ia tidak bisa membayangkan kemarahan Dave saat ia tahu apa itu ondel-ondel. Di kursi penumpang yang agak jauh di belakang, Frans berusaha menahan tawanya.


"Saya belum menikah, tuan! Punya pacar saja belum pernah! Saya tidak akan macam-macam, hanya satu macam saja yaitu menjaga Nona Aryn!" jawab Frans sekenanya.


"Good," sahut Dave.


Di mansion Dave,


Silvi mondar-mandir di dalam kamarnya, sejak sore tadi ia tidak bisa berhenti untuk memikirkan Reza. Ia selalu memikirkan apakah Reza sudah tahu yang sebenarnya mengenai perasaannya.


Sekarang sudah waktunya makan malam, Silvi bergegas keluar dari kamar. Ia akan mencari tahu saat di meja makan nanti. Tapi baru saja menutup pintu, ia melihat seorang wanita muda berseragam pelayan sedang berbicara di telepon. Yang menarik perhatian Silvi adalah perlayan itu berbicara dengan sembunyi-sembunyi di belakang tiang yang besar dan tinggi. Tempat itu tentu luput dari pantauan CCTV.


"Ada udang di balik bakwan nih, saatnya detektif Silvi beraksi!" lirih Silvi sambil bergaya.


Silvi bergegas bersembunyi di samping meja. Silvi tadi sempat mendengar wanita itu berkata"Baik, bos!". Dave sedang berada di dalam pesawat sekarang, wanita itu tidak mungkin ditelpon Dave. Itu artinya ia mempunyai bos lain, bisa jadi tugas yang lain juga.


"Baaaaaaaa!" seseorang mengejutkannya dari belakang hingga membuat terlonjak kaget.


"Serius banget, lagi ngintipin apa sih?" lanjut Reza.


Siapa lagi kalau bukan Reza pelakunya. Wanita yang diintip Silvi sekarang sudah menghilang dari tempat tadi.

__ADS_1


"Dia langsung pergi! Kalau tadi ia tahu jika Silvi sedang mengintipnya, ia pasti akan lebih hati-hati setelah ini! Sekarang akan menjadi lebih sulit membaca pergerakan musuh," gumam Reza dalam hatinya.


"Kabur, kan!" seru Silvi kesal kepada Reza.


"Kalau kebanyakan ngintip, nanti matanya bengkak loh!" sahut Reza.


"Dia tadi itu sedang bertelponan dengan bosnya, karena aku curiga jadi aku mengintip!" balas Silvi.


"Jangan suka berpikiran negatif kepada orang lain, mungkin dia mengambil kerja sampingan selain kerja di sini." ucap Reza santai.


"Kerja sampingan? Aku rasa gaji yang diberikan Kak Dave itu lebih besar berkali-kali lipat dari pelayan di tempat lain." protes Silvi.


"Sudahlah, mungkin kebutuhannya sedang banyak! Jangan terlalu ikut campur, mereka juga punya privasi," tukas Reza yang sudah berjalan meninggalkan Silvi.


"Tunggu, kak!" seru Silvi.


Silvi yakin pasti Reza juga curiga dengan pelayan itu. Lagipula pelayan itu sepertinya pelayan baru karena ia baru melihatnya sekarang. Untuk alasan keamanan segenap penghuni mansion, Silvi merendahkan egonya untuk menghampiri Reza. Karena hanya Reza yang memiliki jiwa detektif seperti dirinya. Ia akan melupakan masalah perasaannya untuk sejenak. Berada jauh-jauh dari Reza juga tidak enak.


"Apa? Masa baru ditinggal lima langkah saja sudah rindu?" ucap Reza dengan ekspresi yang datar tapi mampu membuat Silvi terbang melayang.


Tahan Silvi, kamu tidak boleh baper! Dia hanya bercanda,


"Kakak juga curiga dengan pelayan itu kan?" tanya Silvi setengah berbisik.


Kedua kakinya sebenarnya gemetaran karena ucapan Reza tadi, tapi ia berusaha untuk bersikap biasa saja di depan Reza.


"Jangan membahas hal yang tidak penting, sebaiknya kita segera turun!" jawab Reza berbohong.


"Aku tahu kakak sedang berbohong! Lihatlah tangan kakak! Jika kakak berbohong pasti salah satu tangan kakak memilin celana!" sahut Silvi yang menunjuk tangan kanan Reza.


"Adik kecilku ini tahu segalanya tentangku sampai hal terkecil pun ia tahu, apakah benar dia mencintaiku? Sebesar itukah perasaannya?" gumam Reza.


Reza teringat ucapan Samuel, Zack, dan Ken. Mereka selalu mengatakan jika Silvi menyukainya bahkan mencintainya. Gadis kecil itu bahkan pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menghadang peluru dari Dave. Hingga timah panas menembus lengan mungilnya. Sementara pria yang dia cintai hanya menganggapnya sebagai adik, pria itu bahkan mencintai kakak iparnya. Usianya memang baru 15 tahun, tapi perjuangan dan pengorbanannya tidak main-main. Tapi mau bagaimana lagi, cinta tidak dapat dipaksakan. Hatinya masih dan selalu dipenuhi oleh Aryn.


"Malah jadi patung!" seru Silvi yang memukul pelan bahu Reza.


"Ayo turun!" seru Reza, tangan kanannya menggenggam erat tangan Silvi dan memaksanya untuk mengikutinya.


Deg,


Mulut bisa saja berbohong, tapi hati tidak bisa. Dada Silvi bergemuruh karena jantung dan paru-parunya berkerja tidak beraturan setelah digandeng Reza. Ingin rasanya ia menghentikan waktu. Tapi kemudian ia tersadar, ia sudah berniat untuk menjauhi Reza.


"Lepaskan kak! Aku bisa jalan sendiri!" seru Silvi yang menggibaskan tangannya.


"Kalau dia menyukaiku, kenapa dia tidak mau tangannya aku pegang? Aku jadi ragu...." batin Reza.


..................

__ADS_1


Duh, bagaimana kelanjutan hubungan Reza dan Silvi ya? Apakah akan kandas sebelum bersatu?


Stay tuned!


__ADS_2