
WARNING:
SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.
HAPPY READING 😘
.............................
"Kakak!" teriak Silvi yang terdengar sangat mengerikan. Baru dua langkah Silvi berjalan, kedua mata sucinya hatus ternodai lagi dengan adegan kakaknya.
Mendengar teriakan Silvi, Aryn langsung mencium punggung tangan Dave dan berlari masuk ke dalam. Ia benar-benar merasa sangat malu sekarang.
"Oh God! Lo bener-bener sialan Dave!" batin Reza.
Reza bergegas menuju garasi, ia sudah tidak tahan berada di mansion milik Dave ini. Pagi ini ia mendapatkan syok terapi dari kedekatan Dave dan Aryn. Reza tersenyum getir saat membayangkan kejadian di meja makan tadi. Sejak melihat Aryn untuk yang pertama kalinya, ia tidak pernah lagi menambah koleksi gebetannya. Bahkan ia mangacuhkan gebetannya. Tapi setelah kejadian di meja makan dan di depan pintu tadi, ia benar-benar kehilangan harapan untuk mendapatkan Aryn.
"Dave benar-benar menyebalkan! Mau aku taruh mana wajahku ini! Dia bahkan tidak punya malu menciumku di tempat terbuka, semua orang pasti melihatnya tadi. Sebenarnya ada baiknya juga jika ia bersikap seperti tadi. Dia sangat manis sekarang, tapi kenapa dia tidak punya sedikitpun rasa malu? Yang ada malah malu-maluin!" gerutu Aryn di dalam kamar.
Aryn tidak keluar dari kamar sampai tengah hari. Ia bahkan tidak turun untuk makan siang.
Ily mengetuk pintu untuk mengantarkan nampan berisi makan siang Aryn. Karena sejak tadi ia Aryn belum makan dan tidak membuka pintu saat pelayan datang memanggil untuk makan siang. Pelayan mengatakan jika Aryn hanya menjawab jika ia ingin tidur. Untuk itu, Ily memutuskan untuk mengantarkan makan siang Aryn ke kamarnya. Jika sampai Aryn tidak memakan makan dengan teratur, ia juga yang terkena imbasnya.
"Aku tidak lapar, Ily! Nanti aku akan mengambil sendiri, siapkan saja di meja makan!" seru Aryn dari dalam kamar.
"Tapi nona...." ucapan Ily terpotong oleh ucapan Aryn.
"Sudah, aku ingin tidur sekarang!" seru Aryn.
"Baik, nona!" jawab Ily dengan pasrah.
Ily merasa serba salah. Jika ia tidak membujuk Aryn untuk makan, Dave pasti akan marah besar kepadanya. Tapi jika ia terus memaksa Aryn untuk makan, Arynlah yang akan marah besar kepadanya. Akhirnya ia memilih untuk kembali ke dapur. Rencananya sepuluh menit lagi akan mencoba mengantarkan makan siang lagi ke kamar Aryn.
Ily sampai di dapur tepat saat telepon yang menggantung di dinding dapur berbunyi.
"Hallo, ada yang bisa saya bantu?" seru Ily dengan ramah.
"Apakah Nona Aryn sudah makan?"
"Belum tuan,"
"Kau sama sekali tidak becus bekerja, apa susahnya memasak makanan enak untuknya?"
__ADS_1
"Maaf, tuan! Tapi saya sudah memasak banyak sekali makanan enak untuk Nona Aryn, tapi sejak pagi Nona Aryn tidak keluar dari kamar!"
"Baiklah!"
Tut,
Telepon dimatikan Dave dari seberang dengan sepihak. Ily melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan takut yang menghantui.
Sementara di sebuah gedung pencakar langit yang menjadi kantor Win's Company, Dave gelisah di kursinya. Setelah menelpon kepala pelayan, pikirannya sudah tidak fokus lagi pada meeting yang sedang berlangsung. Melihat bosnya melamun, Ken menyenggol kaki Dave. Walaupun sedang mempunyai beban pikiran tapi sebagai pemimpin perusahaan Dave harus tetap bersikap professional, tidak mencampur urusan pribadi dengan urusan perusahaan.
Meeting baru selesai satu jam kemudian. Dave yang cemas dengan keadaan Aryn bergegas menelpon lagi kepala pelayannya untuk menanyakan apakah Aryn sudah mau keluar kamar dan makan. Tapi ternyata kepala pelayannya mengatakan jika Aryn masih tidak mau keluar kamar ataupun makan.
"Kau ini benar-benar membuatku kesal! Disuruh makan tepat waktu saja susah sekali! Rasanya aku ingin menghukummu, Aryn! Arrgghh... Aku sudah berjanji untuk tidak kasar lagi kepadamu, aku ingin kau membuka hatiku untukku! Tapi kau selalu menguji kesabaranku!" ucap Dave bermonolog di ruangannya.
"Ken!" seru Dave.
"Ada apa, bos?" tanya Ken yang baru masuk ke dalam ruangan Dave.
"Belikan sebuah ponsel keluaran terbaru sekarang!" perintah Dave.
"Siap!" jawab Ken, ia langsung balik kanan menjalankan tugasnya.
Dave memerintahkan Ken untuk membelikan ponsel untuk Aryn. Ia menyesal karena tidak memberikan ponsel pada Aryn kemarin-kemarin. Jadi ia tidak bisa leluasa berbicara dengan Aryn saat ia sedang bekerja di kantor.
"Sial! Bagaimana aku bisa lupa? Bodoh bodoh!" umpat Dave.
"Kenapa jam segini dia masih tidur?" gumam Dave.
Lima belas menit berlalu, Aryn masih dalam posisi yang sama. Dave merasa ada yang aneh dengan Aryn. Tiba-tiba Aryn menyibak selimutnya dan berlarian ke kamar mandi. Dave dapat melihat dengan jelas Aryn menutupi mulutnya dengan tangan kirinya, seperti sedang mual. Sementara tangan kirinya memegangi perut.
"Apakah dia sedang sakit?" gumam Dave.
Dave meletakkan ponselnya di meja. Ia semakin cemas dan kesal setelah melihat rekaman CCTV tadi. Beruntung Ken segera sampai di kantor. Akhirnya Dave memutuskan untuk pulang ke mansion, ia akan memastikan kondisi Aryn sekaligus membawakan ponsel baru untuk istrinya itu. Dave yang sejak pagi terlihat bahagia Dan berseri-seri seketika menjadi uring-uringan karena melihat Aryn sakit dari CCTV.
"Baru kali ini Dave uring-uringan karena urusan wanita!" batin Ken.
Dave langsung turun saat mobilnya berhenti tepat di depan pintu utama mansion. Ken bergegas membawa tas dan paper bag berisi ponsel untuk Aryn. Ken mengekor di belakang Dave, tapi saat mereka sampai di depan kamar, Ken menunggu di sofa dekat pintu menunggu Dave yang masuk ke dalam.
Ceklek,
Dave membuka pintu kamarnya dengan perlahan, lalu menutupnya lagi. Ia teringat jika Ken menunggu di luar, jadi ia menutup pintunya agar Ken tidak menguping pembicaraan dengan Aryn.
"Aryn," lirih Dave memanggil Aryn yang berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
Aryn mengerjapkan matanya perlahan. Ternyata Dave yang masuk ke kamarnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Dave.
"Tidak terjadi apa-apa!" jawab Aryn dengan lemah.
"Jangan berbohong! Kata orang, seorang istri tidak boleh menyembunyikan apapun dari suaminya!" sahut Dave.
"Kenapa kau tidak keluar dari kamar? Dan kenapa kau tidak makan?" tanya Dave.
"Huft... Pertama, aku sangat malu Karena kejadian tadi pagi Dave. Aku sangat malu! Kedua, sejak tadi aku muntah, kepalaku pusing, dan perutku terasa tidak nyaman! Karena itu aku tidak keluar dari kamar ini, sejak pagi aku hanya berbaring di ranjang ini," jawab Aryn.
Untuk alasan yang kedua Dave sudah mengetahuinya melalui CCTV yang terhubung dengan ponselnya, ia hanya ingin Aryn berkata jujur kepadanya. Tapi untuk alasan yang pertama Dave tidak menyangkanya.
"Ken!" teriak Dave yang sudah membuka pintu kamarnya.
"Ini bos!" ucap Ken sambil menyerahkan paper bag berisi ponsel keluaran terbaru.
"Bukan ini maksudku!" seru Dave.
"Lalu?" tanya Ken.
"Cepat panggilkan Paman Kevin!" ucap Dave.
"Nona Aryn sakit, bos?" tanya Ken.
"Sejak pagi dia muntah, kepalanya pusing, perutnya juga tidak nyaman! Sudah cepat kau panggil Paman!" seru Dave.
"Sebentar, bos! Bos tadi bilang jika nona muntah dan pusing? Apakah nona hamil?" sahut Ken.
"APA?" seru Dave dan Aryn serempak.
"Jangan mengada-ngada! Cepat kau panggil Paman Kevin jika kau masih mau menikah!" seru Dave.
"Ba... baik bos!" jawab Ken.
"Tunggu!" seru Dave.
"Aduh... apakah aku salah lagi?" batin Ken.
"Berikan paper bag itu!" seru Dave.
Ken menghembuskan napasnya dengan lega, ternyata Dave hanya meminta paper bag yang ia bawa. Setelah Ken keluar dan menutup pintunya lagi. Dave menatap tajam Aryn.
__ADS_1
"Bagaimana bisa dia hamil, aku bahkan belum pernah menyentuhnya!" batin Dave.
Dave berjalan mendekati Aryn, ia duduk di tepi ranjang dengan tatapan matanya yang tidak berkedip menatap Aryn.