
WARNING:
SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.
HAPPY READING 😘
.........................
Dave membuka pintu kamarnya dengan perlahan, lalu ia menguncinya. Ia berjalan perlahan meraih remot yang ada di nakas, untuk menyalakan dua lampu agar kamarnya tidak terlalu gelap. Ia berjalan mengendap-endap menuju kamar mandi. Badannya lengket sekali ditambah bekas cipratan darah tadi.
Empat puluh menit Dave baru menyelesaikan ritual mandinya. Ia bergegas naik ke ranjang ikut bergabung ke dalam selimut Aryn. Badannya terasa sangat lelah hari ini. Dave memposisikan badannya mengahadap Aryn. Ia menatap wajah Aryn lekat-lekat hingga ia ikut tertidur.
Bip bip... bip bip...bip bip
Alarm digital di nakas berbunyi menggetarkan meja. Aryn menggeliat perlahan, ia menggosok kedua matanya. Semalam ia baru bisa tidur pukul 12 malam. Kejadian di ruang bawah tanah selalu menghantuinya. Mayat tanpa kepala yang ia lihat kemarin membuatnya takut untuk sekedar ke kamar mandi sekalipun.
"Astaga!" pekik Aryn.
Aryn terkejut, saat menggeliat tangannya menyentuh wajah seseorang.
"Ada apa ada apa?" seru Dave.
Karena teriakan Aryn yang melengking Dave langsung terbangun. Ia langsung duduk dan menggosok-gosok kedua matanya.
"Dave?" Aryn memiringkan kepalanya untuk memastikan jika pria di sampingnya itu memang Dave.
Cup,
"Good morning!" seru Dave yang langsung kembali tidur lagi.
Aryn melongo dengan kedua tangannya langsung menutupi bibirnya. Dua kali ini ia mendapatkan ciuman mendadak dari Dave. Aryn merasa sangat kesal, tapi bagaimana lagi Dave melakukannya dengan tiba-tiba. Ia tidak bisa menolak ataupun menghindar.
Dengan usilnya Aryn menempelkan punggung tangannya pada dahi Dave.
"Hmm.. pantesan! Panas!" lirih Aryn.
"Apa maksudmu?" ucap Dave dengan kedua matanya yang masih tertutup.
"Apa yang kau lakukan barusan?" tanya Aryn malu-malu karena kepergok sedang menyentuh dahi Dave.
__ADS_1
"Morning kiss," jawab Dave yang membuat Aryn terkejut.
"Kenapa kau mencium tanpa persetujuanku? Kau tahu tidak jika kau sudah merampas ciuman pertama dan keduaku? Menyebalkan sekali!" protes Aryn yang tidak sadar ia keceplosan mengatakan tentang ciuman pertama.
"Really? Itu ciuman pertamamu? Tidak ada yang salah di saat seorang suami mencium istrinya sendiri!" jawab Dave dengan senyuman smirknya.
"Kau tentu sudah berkali-kali ciuman seperti itu bersama mantan terindah yang masih kau cintai itu, kan?" tanya Aryn yang terdengar seperti menyindir.
"Yeah!" jawab Dave pasrah, tidak ada yang salah dari ucapan Aryn. Bahkan dia sudah melakukannya berkali-kali dengan wanita menyukainya.
"Pasti kau masih membayangkan jika aku ini Elsa, makanya kau mau menciumku seperti tadi!" lirih Aryn.
Mendengar ucapan Aryn, Dave langsung terduduk. Ia menatap tajam Aryn hingga membuat Aryn ketakutan. Aryn sedikit demi sedikit menjauh dari hadapan Dave. Mayat tanpa kepala semalam selalu terngiang di kepalanya. Ia takut jika Dave juga akan memenggal kepalanya.
"Bisakah kau berhenti membicarakan tentang dia?" ucap Dave dengan suara berat khas orang bangun tidur.
"Tidak bisa," balas Aryn.
"Aryn!" teriak Dave.
"Apa salahku sekarang?" balas Aryn dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Emosi Dave memuncak, sejak tadi ia mencengkeram sprei. Walaupun ia tidak bisa untuk tidak membentak Aryn tapi setidaknya ia masih bisa menahan agar tangannya tidak berbuat kasar.
"Kau mau aku mendengarkan ucapan mu? Tapi kau sendiri lupa untuk menghargai istrimu! Kau sendiri juga harus belajar untuk tidak kasar kepadaku! Aku lelah mendengar semua teriakanmu, Dave! Selama ini aku sudah diam Dave, setidaknya sampai empat bulan lagi! Sesuai dengan isi surat perjanjian itu! Aku tahu kau tidak mencintaiku, Dave! Tapi kau tidak bisa bersikap seenaknya kepadaku ataupun menyakitiku! Sudah cukup hidupku menderita karena ibu dan saudara tiriku!" Seru Aryn dengan berlinang air mata.
"Aryn! Jaga ucapanmu!" seru Dave yang sudah mengangkat tangan kanannya ke udara.
"Kau mau menamparku? Tampar, Dave! Sempurnalah kau menjadi suami yang kejam!" balas Aryn.
Hari ini semua ketakutan Aryn pada Dave seperti hilang begitu saja. Ia seperti mendapatkan kekuatan untuk mengatakan semua isi hatinya pada Dave.
Dave mengurungkan niatnya untuk memukul Aryn, ia menjatuhkan pukulannya pada kasur di bawahnya. Ia bangkit dari ranjang, dan mengambil sesuatu di laci nakas bagian bawah.
"Kau tidak bisa meninggalkan ku, Aryn!" seru Dave yang sedang merobek-robek surat perjanjiannya dengan Aryn, lalu ia menghamburkannya ke ke arah ranjang.
Aryn sangat terkejut saat Dave merobek surat perjanjian mereka. Apakah ini artinya Dave mulai mencintainya?
"Sekarang surat perjanjian kita sudah tidak ada lagi! Artinya kau tidak bisa meninggalkanku, Aryn! Kau harus mendengarkan ucapanku!" seru Dave yang sekarang sudah berdiri di hadapan Aryn.
"Pernikahan ini akan sia-sia jika tidak ada cinta, mengertilah Dave!" balas Aryn.
__ADS_1
"Kau yang harus mengerti! Aku sudah membuka hatiku untukmu, tapi kau selalu mengacuhkanku! Cobalah beri kesempatan untukku, aku tidak akan kasar ataupun menyakitimu lagi!" ucap Dave.
"Aku tidak akan pernah membuka hatiku selama kau masih mengingat dan mencintai mantanmu!" jawab Aryn dengan sendu.
Dave tidak mendengarkan ucapan Aryn. Sekarang waktunya ia naik level seperti ucapan Zack semalam. Ia mengambil dasi berwarna merah di lemarinya. Rupanya dasi merah pemberian Elsa itu masih ia simpan.
"Ikut aku!" seru Dave.
Dave menggenggam tangan Aryn dengan erat. Ia menariknya menuju lift. Aryn hanya pasrah mengikuti kemana Dave akan membawanya. Aryn berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Dave dan menanyakan kemana mereka akan pergi. Tapi Dave sama sekali tidak melepas genggaman tangannya maupun menjawab pertanyaannya.
Ting,
Pintu lift terbuka lebar, Dave bergegas menarik Aryn untuk mengikutinya menuju gudang. Aryn heran, mengapa Dave mengajaknya ke gudang.
"Apakah dia akan memenggal kepalaku disini?" gumam Aryn saat mereka sudah berada di dalam gudang.
Dave melepaskan genggaman tangan Aryn, ia mengambil lima buah kardus besar. Lalu ia buka kardus itu satu persatu. Satu buah kardus berisi penuh foto Dave dengan perempuan, mungkin itu Elsa. Empat kardus lainnya berisi semua barang-barang Elsa.
"Kau lihat? Ini semua barang-barang yang berhubungan dengan Elsa! Aku sudah membuang semua di gudang ini sejak lama, hanya dasi merah ini yang belum ku buang! Selama itu juga aku berusaha mati-matian melupakan Elsa!" seru Dave.
Aryn terdiam dan perlahan ia melihat satu persatu isi kardus-kardus itu. Ia tidak menyangka ternyata sudah sejak lama Dave menyingkirkan barang-barang Elsa.
"Apakah kau tahu? Elsa itu cinta pertamaku, kata orang cinta pertama itu susah dilupakan! Tapi lihatlah aku, aku sudah bisa melupakannya walaupun sesekali masih terbayang kenangan lama! Sekarang kau juga harus ikut berjuang, Aryn! Lupakan semua sikapku yang menyakitimu, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi!" Ucap Dave dengan sendu.
Ucapan Dave kali ini menyentuh hatinya. Lidah Aryn kelu, ia tidak sanggup menjawab Dave.
"Hey kau kemarilah!" Dave memanggil penjaga yang berjaga tidak jauh dari gudang.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanya penjaga itu.
"Ajak temanmu untuk membawa lima kardus ini ke halaman belakang sekarang juga!" perintah Dave.
"Baik, tuan!" jawab penjaga itu.
Tidak berapa lama kemudian, tiga orang penjaga masuk ke dalam gudang dan mengangkat semua kardus itu. Sementara Dave menarik tangan Aryn lagi untuk mengikutinya.
"Sebenarnya apa yang akan dia lakukan?" gumam Aryn yang kesal karena tangannya ditarik Dave.
..................
Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All!
__ADS_1