Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
MUJAHIR


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Keesokan harinya di mansion Dave,


Hari ini adalah hari pertama Aryn masuk kuliah. Ia bangun awal pagi ini, tapi ternyata semua keperluannya sudah disiapkan oleh Sonya atas perintah Dave. Dave benar-benar memberikan perhatian dan pengawasan ekstra pada Aryn yang sedang hamil baby mereka.


Setelah mandi dan bersiap-siap, sekarang Aryn dan Dave sudah siap menyantap sarapan di meja makan. Silvi juga sudah siap di kursinya, ia sudah berseragam rapih.


"Siapa yang membuat susu ini?" tanya Dave dengan lantang.


"Saya tuan," jawab Sonya. Beberapa hari ini Sonya yang mengurus keperluan Aryn. Sejak insiden kebakaran, posisinya bukan sebagai pelayan lagi, tapi sebagai asisten Aryn.


"Kenapa kau membuatnya?" tanya Dave lagi.


"Aku yang memintanya Dave," jawab Aryn dengan lembut.


"Diamlah, sayang!" ucap Dave pada Aryn.


"Tidak ada yang boleh membuatkan susu selain aku, kalian dengar itu!" seru Dave dengan lantang.


"Baik, tuan!" jawab Sonya dan pelayan lain dengan serempak.


"Aku buatkan dulu ya sayang, mau rasa apa?" Dave mengelus kepala Aryn. Kemarin ia sudah menyuruh Frans untuk membeli susu hamil semua rasa seperti cokelat, strawberry, jeruk, pisang, alpukat, dan masih banyak lagi.


"Aku mau rasa strawberry ekstra cinta!" sahut Aryn dengan antusias.


"Siap!" Dave mengelus perut Aryn sebentar lalu beranjak dari kursinya menuju dapur.


Aryn menatap punggung Dave yang menghilang di dapur. Kehamilannya ini membuat Dave semakin protektif dan memanjakannya.


"Kak Aryn benar-benar hebat bisa membuat Kak Dave si muka tembok toilet jadi bucin," ucap Silvi yang duduk di seberang Aryn.


Pipi Aryn merona saat mendengar perkataan dari Silvi. Lidahnya kelu, ia tidak bisa mengutarakan jika ia sangat bahagia dengan kebucinan Dave kepadanya. Suasana meja makan hening sejenak.


"Dari mana kamu belajar kata bucin?" sahut Aryn memecah keheningan.


"Dari Kak Aryn, Kak Aryn pernah mengatakannya dulu," jawab Silvi.


"Ohh..." Aryn manggut-manggut.


Kedua mata Aryn berbinar saat Dave datang membawakan segelas susu untuknya.


"Susu rasa strawberry ekstra cinta untuk istri dan baby tercinta," ucap Dave yang meletakkan susu itu di depan Aryn.


"Wow... Kak Dave hanya buat satu?" tanya Silvi.


"Kamu mau minum susu hamil?" tukas Dave.


"Tidak tidak! Bukan susu yang itu. Silvi kira Kak Dave akan membuatkan susu untukku juga gitu," sahut Silvi.


"Itu sudah dibuatkan Sonya," seru Dave menunjuk segelas susu dihadapan Silvi.


Silvi mengerucutkan bibirnya membuat Dave terkekeh. Sepertinya adiknya sedikit iri karena Dave memberikan semua perhatiannya kepada Aryn akhir-akhir ini. Sebelum Dave menikah dengan Aryn, semua perhatiannya hanya ditujukan pada Silvi wajar jika Silvi terkadang iri melihat Dave memanjakan Aryn.


"Mau kakak antar ke sekolah hari ini, kampus Aryn dan sekolahmu searah?" tanya Dave.


"Mauuu kakkk!" seru Silvi antusias.


Dave mengelus kepala adiknya itu dengan sayang. Aryn menatap pemandangan dihadapannya, kasih sayang kakak adik ini begitu besar dan kuat. Dave lalu duduk kembali ke kursinya.


"Sayang kamu kenapa?" Dave menangkup kedua pipi Aryn. Ada anak sungai mengalir di pipi milik istrinya.


"Memangnya aku kenapa?" Aryn justru bertanya balik.


"Kamu menangis," jawab Dave.


"Kak Aryn menangis? Ada apa kak? Apakah ada masalah dengan Kak Dave? Jangan menangis kak, akan Silvi hukum suami nakal Kak Aryn ini!" seru Silvi.


"Aku tidak apa-apa, entahlah... aku tadi hanya melihat kalian berdua dan terbawa suasana saja," jawab Aryn.

__ADS_1


Srrooottt,


Aryn mengeluarkan ingusnya dengan tisu. Dave hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Aryn. Biasanya untuk ketut saja Aryn menahannya saat di depan Dave dan mengeluarkannya di kamar mandi. Tapi sekarang Aryn justru mengelap ingus dihadapan cukup banyak orang, di depan makanan pula. Dave menyadari satu persatu poin kehamilan yang Dave baca dalam artikel muncul pada Aryn. Aryn menjadi lebih sensitif, mudah marah, mudah menangis, dan kadang menunjukkan rasa senang yang berlebihan untuk hal sepele.


Setelah mengelap ingus, Aryn segera membenahi maskernya sebelum bau badan Dave yang sudah mandi dan memakai parfum tercium oleh hidungnya.


"Kamu mau sarapan pakai apa sayang?" tanya Aryn.


"Sandwich itu dan jeruk saja," jawab Dave.


Aryn mengambil sepotong sandwich untuk Dave dan untuk dirinya. Ia juga ingin makan sandwich. Tidak lupa Aryn memindahkan piring berisi jeruk ke hadapan Dave. Kedua mata Dave terlihat berbinar menatap jeruk-jeruk itu.


"Sayang," lirih Dave.


"Iya?"


"Aku mau makan dari tanganmu," ucap Dave, terdengar manja tapi ekspresi wajahnya datar.


Uhuk...uhuk....


Silvi sampai tersedak saat mendengar kakaknya yang minta disuapi. Ia menatap kakaknya itu dengan teliti, apakah dia benar-benar Dave kakaknya atau bukan. Karena jika benar dia Dave, sudah pasti dia tidak manja seperti sekarang. Silvi memilih untuk diam dan membiarkan pasangan itu melakukan drama romantis di hadapannya.


"Kamu manja sekali, Dave!" Aryn menyuapi sedikit demi sedikit sandwich yang sudah dipotong. Tidak hanya memanjakannya tetapi sejak kemarin Dave sangat manja kepadanya. Semalam ia harus mengelus kepalanya sampai tertidur dipangkuannya. Pagi ini Dave merengek minta dimandikan, Aryn seperti mempunyai bayi besar. Ia tidak tahu berubahnya sikap Dave disebabkan karena kehamilannya atau tidak.


"Tidak masalah, manja sama istri sendiri! Kalau manja sama istri tetangga itu baru salah!" jawab Dave.


Aryn menyuapi Dave sampai sandwichnya habis. Aryn juga sudah memakan sandwich miliknya.


"Makan apapun kalau kamu yang menyuapinya rasanya menjadi sangat lezat!" ucap Dave.


Silvi menatap Dave dengan sinis. Bukan hanya manja, sekarang perkataan Dave terdengar lebay.


"Susunya diminum dulu, sayang!" perintah Dave.


Aryn mengangguk. Ia lalu meneguk habis susu rasa strawberry itu. Rasanya lebih enak dari susu vanilla tempo hari. Di samping gelasnya yang sudah kosong, masih ada segelas susu yang belum ia sentuh.


"Lalu ini susunya mau diapakan? Masa dibuang?" tanya Aryn.


"Kalau dibuang mujahir namanya," sahut Dave.


Aryn dan Silvi tertawa terpingkal-pingkal. Aryn bahkan sampai menangis karena terlalu lama tertawa. Dave yang sedang ditertawakan malah menatap kedua wanita dihadapannya itu dengan aneh.


"Kalian ini kenapa? Apanya yang lucu?" tanya Dave.


"Mubadzir kak bukan mujahir!" seru Silvi yang masih tertawa. Silvi mengetahuinya karena kata itu sering digunakan Aryn.


"Mujahir itu jenis ikan, Dave! Pagi-pagi sudah ngelawak aja!" imbuh Aryn yang memegangi perutnya.


"Oh..." Dave menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dimasukkan kulkas saja ya, nanti akan aku minum" Aryn menyerahkan susu itu kepada Sonya.


"Nanti kalau kamu tidak mau, serahkan serahkan saja padaku," bisik Dave di telinga Aryn.


Aryn hanya manggut-manggut. Suaminya sepertinya menyukai susu hamil miliknya. Rasa susunya memang enak, apalagi yang rasa strawberry ini. Wajar jika seorang Dave Winata mulai menyukainya.


Aryn sudah selelsai dengan sarapannya. Silvi juga sudah selesai, nampak ia sedang mengecek tasnya. Sementara Dave, ia sedang menyantap sepiring jeruk dihadapannya. Aryn dan Silvi lagi-lagi melongo melihat sikap Dave.


Dave juga tampak mengantongi beberapa kulit jeruk dalam saku celananya.


"Kak Dave jorok ih!" seru Silvi.


"Kamu mengatakannya karena kamu belum tahu bagaimana harumnya mereka," sahut Dave. Silvi menatap sinis kakaknya.


"Sudah-sudah, ayo kita berangkat Silvi!" ucap Aryn.


Mereka berjalan beriringan keluar dari mansion dengan Dave yang mengekor di belakang mereka. Dave ingin mengantarkan mereka hari ini. Di samping mobil Aryn, Frans menunduk memberikan hormat pada Dave dan Aryn.


"Ehem," Silvi mengedipkan sebelah matanya pada Frans.


"Selamat pagi, Nona Silvi!" seru Frans.

__ADS_1


Dave lantas menoleh pada Silvi. Ia melihat Silvi senyum-senyum sendiri di sampingnya.


"Pagi, kak! Apakah Kak Frans sudah sarapan?" tanya Silvi membuat Dave dan Aryn saling menatap.


"Sudah. Kamu sudah?" Frans bertanya balik.


"Iya kak, sudah!" Silvi menampilkan senyum termanisnya.


Apa yang terjadi pada Silvi, kenapa sangat akrab dengan Frans, batin Dave. Dave menatap tajam Frans hingga membuat Frans menunduk takut.


"Good morning!" seru Reza yang berdiri di belakang mereka.


Reza sudah datang sejak tadi. Ia bahkan mendengar semua percakapan manis Silvi dan Frans.


"Lo ngapain kesini?" seru Dave.


"Gua ada janji mau mengantar Silvi ke sekolah hari ini," seru Reza.


"Mana ada? Silvi tidak ada janji apapun dengan kakak, jangan mengarang deh! Silvi mau diantar Kak Frans hari ini!" sahut Silvi.


"Ops... diantar Kak Dave maksudnya, sekalian berangkat bareng Kak Aryn!" lanjut Silvi.


"Kamu harus berangkat sama kakak!" seru Reza yang menggapai tangan Silvi, ia sedikit menariknya.


"Maaf, tuan! Saya tidak bermaksud lancang, tadi anda sudah menyakiti Nona Silvi! Nona Silvi berhak berangkat bersama siapapun yang dia pilih!" Frans menarik tangan Silvi menjauh dari Reza.


Reza mengepalkan kedua tangannya, bisa-bisanya Silvi lebih memilih Frans si sopir Aryn. Pagi ini Reza sengaja datang lagi ke mansion Dave untuk bisa mengantar Silvi ke sekolah. Ia tidak rela melihat Silvi semakin dekat dengan Frans.


"Nona tidak apa-apa? Apakah sakit?" tanya Frans.


"Aku tidak apa-apa kak," jawab Silvi yang tersenyum manis.


"Tumben kamu tidak mau berangkat bareng Reza? Apa kalian bertengkar lagi?" tanya Dave.


"Tidak, kak! Aku mau berangkat diantar Kak Frans saja!" Silvi berjalan masuk ke dalam mobil disusul oleh Aryn. Frnas dengan sigap membukakan pintu untuk mereka. Silvi memilih untuk duduk di sebelah Frans yang mengemudi.


Reza menggertakan giginya, kedua matanya memerah.


"Dave kasih tahu Silvi agar berangkat sama gua!" seru Reza.


"Lebih baik adik gua bersama Frans daripada sama playboy culun macam lo," sahut Dave ketus.


"Shit!" umpat Reza.


Mobil Aryn melaju perlahan meninggalkan halaman mansion, disusul mobil yang berisi pengawal Aryn dan Silvi.


"Arrgghh,, sakit!" pekik Reza yang menendang pot bunga besar.


Drrtt...drrtt...


Lantas Reza mengambil ponselnya yang berada di dalam saku.


"Siapa lagi yang menelpon, tidak tahu apa kakiku sakit mencium pot bunga?" umpat Reza.


Seketika wajahnya menjadi pucat saat melihat nama penelponnya. Ternyata maminya yang menelpon.


"Kamu itu darimana saja, sejak kemarin mami telpon semua nomormu selalu tidak diangkat! Mau Mami kutuk jadi batu?"


Reza langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. Telinganya terasa berdengung setelah mendengar omelan cempreng dari maminya.


"Mi jangan marah-marah sekarang! Hatiku dan kakiku sedang sakit sekarang! Aku tidak mengangkat telepon mami karena pekerjaanku menunpuk!" jawab Reza.


"Sampai kapan kamu akan berkerja untuk perusahaan Dave? Mami dan papi sudah tua, sudah saatnya kamu menggantikan kami! Mami mau kamu pulang sekarang, biar mami cek kakimu yang sakit!"


"Tapi mi..."


Tut,


Sambungan telepon sudah diputuskan secara sepihak oleh mami Reza. Reza mengelap wajahnya dengan kasar. Masalah bertambah lagi. Maminya mulai mengungkit masalah perusahaan. Reza memang selalu menolak untuk memimpin perusahaan milik orang tuanya. Reza hanya ingin berusaha dari nol.


Sekarang ia harus pulang ke mansion orang tuanya yang ada di luar kota.

__ADS_1


...............


Stay tuned ya!


__ADS_2