
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
"Libur... Libur... Akhirnya libur!" sorak Silvi di dalam kamar.
Kedua tangannya melempar berkas laporan nilainya ke udara. Setelah satu bulan lamanya ia berkutat dengan latihan soal ujian, akhirnya dapat ia tuntaskan juga. Kertas-kertas itu melayang di sampai langit-langit kamarnya. Salah satu kertasnya jatuh tepat di wajah Dave yang akan masuk ke kamar Silvi. Dave mengambil kertas yang menempel di wajahnya itu lalu melihatnya dengan teliti.
"Apa ini Silvi? Nilaimu turun semua!" seru Dave.
"Mana?" sahut Silvi.
"Lihatlah! Dulu nilai di bagian ini kamu dapat A, kenapa sekarang malah jadi A- ? Ini pasti gara-gara PS5 yang kamu beli itu?" hardik Dave.
"Apa masalahnya? Masih sama-sama A kak! Jangan salahkan PS5-ku! Seharusnya kakak memberikanku hadiah!" ucap Silvi.
"Baiklah, tapi harus belajar lebih semangat lagi! Jangan membuat seorang Dave Winata malu karena adiknya mendapat nilai jelek di sekolah! Uangnya kakak transfer, kamu pilih sendiri hadiah yang kamu inginkan!" Dave mengacak rambut Silvi.
"Siap grak!" sahut Silvi.
Silvi menunggu sampai Dave keluar dari kamarnya. Lantas ia menyalakan laptopnya, menyambungkannya ke saluran internet mansion. Lalu menunggu seseorang menjawab panggilan video yang ia lakukan.
"Kemana ini orangnya?" keluh Silvi.
Sembari menunggu panggilannya dijawab, Silvi berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka sebentar. Agar wajahnya terlihat sedikit segar. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia dikejutkan dengan suara yang keluar dari laptopnya.
"Panggilan kepada Saudari Silvi Winata... Maksud saya Silvi Albert, dimohon untuk segera menampakkan diri! Dikarenakan Saudara Reza Albert sudah tidak sabar untuk bertatap muka dan menyalurkan rasa rindu melalu sinyal-sinyal cinta !"
Silvi berjalan perlahan mendekati laptop. Terlihat sosok tampan yang ia rindukan belakangan hari ini, siapa lagi kalau bukan Reza.
"Di awal sudah romantis menyebutkan nama belakangnya di namaku, tapi kenapa menyuruhku untuk menampakkan diri? Dikira aku hantu?" Silvi mendumel.
Ia sedikit mengurangi durasi ngobrol online dengannya karena belajar untuk ujian. Ada ide jahil terlintas di otaknya. Silvi mengambil ponselnya dan mencari video yang diambil beberapa hari lalu saat keluarga dan teman kakaknya berkumpul.
"Hey kau berani sekali mengganggu adikku!"
Reza yang berada di sambungan panggilan dengan Silvi terkejut. Wajahnya terlihat sedikit takut.
"Sorry, kak! Saya temannya Silvi, saya hanya ingin membahas soal ujian tadi saja!"
Silvi menahan tawanya karena sekarang Reza memakai sebuah topi dan mengaku sebagai temannya Silvi. Mana ada yang percaya? Dave tidak mungkin lupa wajah Reza.
"Siapa yang menanyakannya?"
"Eh... Saya hanya mengatakannya sekaligus ingin meminta izin juga! Saya berjanji nanti kalau Silvi mengajak saya bermain PS5-nya saya akan menolak!"
"Penakut!" ledek Silvi, ia muncul di depan laptopnya sambil menunjukkan rekaman video yang ada di ponselnya. Silvi hanya memutar video di saat Dave, Mei, dan Zack beradu mulut.
"Lagi-lagi kamu mengerjaiku, ya? Awas kamu nanti aku balas!" Reza tersenyum smrik menggoda.
"Aku tidak takut!" Silvi tertawa puas, ia berhasil menakuti Reza dengan suara kakaknya.
"Kenapa Kak Reza langsung ciut nyalinya saat dengar suara Kak Dave?" lanjut Silvi.
"Jangankan aku, coba kamu putar suara Dave di dekat kebunmu!" sahut Reza.
"Kenapa kak?"
"Pasti kelelawar dan tikus-tikusnya langsung kabur hahaha!" sahut Reza.
"Nanti aku adukan baru tahu rasa kamu, kak!" Silvi ikut tertawa.
Kedua pasangan itu tertawa bersama. Hubungan online itu terlihat sempurna. Mereka selalu mempunyai cara untuk menghabiskan waktu bersama, meskipun perbedaan waktu sedikit menghambat mereka. Misalnya saja Silvi rela menahan kantuk demi untuk mengobrol online dengan Reza selepas Reza pulang dari kantor. Di saat Reza pulang dari kantor tentu di negara tempat tinggal Silvi sudah larut malam, karena Reza sering kali melembur. Begitu juga sebaliknya, terkadang Reza menyempatkan untuk menelpon Silvi di saat ia masih di kantor agar bisa mengobrol online dengan Silvi selepas Silvi pulang dari sekolah.
Seperti saat ini, Reza mengobrol online dengan Silvi sambil bekerja. Sesekali Reza terlihat sedang mengobrol dengan seseorang di ruangannya.
__ADS_1
"Kamu sudah berapa kali menggunakan PS barumu?" tanya Reza setelah ia selesai mengobrol dengan karyawannya.
"Belum ada 5 kak! Tidak ada lawan main sehebat kakak di sini!" jawab Silvi dengan sendu.
"Cobalah main dengan Sonya, dia lumayan!" seru Reza.
"Iihh males main sama penggoda!" sahut Silvi.
"Kamu masih saja cemburu dengan Sonya," Reza tertawa kecil.
"Cemburu tandanya cinta kak, kalau aku tidak cemburu Kak Reza harus waspada!" ancam Silvi.
"Iya, aku paham!" sahut Reza.
"Oh iya, apakah wanita itu masih menggoda kakak di sana?" tanya Silvi.
"Siapa?" tanya Reza.
"Itu yang suka pamer dada! Yang dadanya segede melon!" ucap Silvi kesal.
"Oh, Zara..." jawab Reza.
"Tidak peduli siapaun namanya, awas saja kalau dekat-dekat!" hardik Silvi.
"Tidak akan dekat-dekat, sudah sejak hari itu aku menyuruhnya untuk berhenti berharap denganku! Lagipula aku tidak pernah tertarik, kamu tahu betul aku tidak suka melon!" Reza tertawa kecil.
Silvi mengangguk, ia percaya. Karena menurut laporan Doni, Reza sudah menyuruh wanita itu untuk tidak mengganggunya lagi.
"Jangankan kakak, aku sebagai sesama wanita juga tidak suka ataupun iri! Bajunya ketat sekali, aku suka ngeri melihatnya walupun hanya fotonya! Apa dia tidak takut meletus!" Silvi terkekeh.
"Yup!" jawab Reza. Mereka berdua tertawa bersama.
"Kak Reza sudah makan?" tanya Silvi.
"Belum, lihatlah berkas ini segunung!" jawab Reza.
"Kalau gitu buka mulutnya aaa..." Silvi menyuapkan sesendok makanan, ia mengarahkannya ke kamera laptop.
"Aaaa... Nyamm!" Reza menyambutnya dengan membuka mulut lebar-lebar, lalu melahap biskuit di mejanya.
Ia membayangkan sedang mengunyah makanan yang disuapi Silvi. Biasanya mereka makan bersama, tapi Reza masih banyak pekerjaan siang ini.
"Enak kan masakan Ily," ucap Silvi.
"Iya enak sekali!" jawab Reza.
Reza menampilkan senyum yang dipaksakan. Ia merasa sedih di saat seperti ini. Cinta mereka terhalang restu Dave ditambah jarak yang jauh. Setiap hari hanya bisa makan bersama secara online, main game secara online, dan suap-suapan online seperti sekarang.
"Liburan nanti aku ingin berlibur ke Paris," ucap Silvi dengan mulut yang penuh makanan.
"Dave tidak akan mengizinkan," sahut Reza.
"Kalau papa dan mama mengizinkanku, Kak Dave bisa berbuat apa? Apalagi Kak Aryn dan Uti juga pasti mendukungku, Kak Reza tahu tidak Uti membantuku agar bisa bertemu dengan kakak di bandara?" sahut Silvi.
"Sungguh? Kalau begitu pendukung Kita banyak!" seru Reza.
"Nah... Lalu untuk apa aku takut dengan Kak Dave?" Silvi tertawa kecil.
"Dave itu keras kepala dan suka gengsi! Walaupun dalam hatinya ia tidak pernah keberatan dengan hubungan kita, tapi pasti ia gengsi untuk mengakui! Pasti dia tidak akan tinggal diam jika kamu memaksa pergi ke Paris!" ucap Reza.
"Akan aku pikirkan nanti... Aku rindu kamu, kak!" Silvi terlihat sedih.
"Percayalah waktu akan terus berjalan tanpa kita sadari, dan saat waktunya tiba aku akan membawa rombongan Albert untuk melamarmu!" Reza tersenyum.
"Tapi aku sudah tidak sabar, kak! Melihat perut Kak Aryn yang semakin besar, aku jadi ingin cepat hamil!" seru Silvi.
__ADS_1
"Sabar dulu! Sekolah dulu yang benar! Kalau ada waktu yang tepat, kakak usahakan untuk pulang walaupun sebentar! Pikiranmu itu isinya hanya ingin hamil saja!" sahut Reza.
"Kalau Kak Reza belum siap menikahiku, hamili saja aku dulu kak! Nanti pasti kita juga menikah!" seloroh Silvi.
"Kalau aku di sana sudah aku cubit bibirmu!" Reza kesal.
"Cubit atau cium?" Silvi memonyongkan bibirnya.
"Jangan menggodaku!" Reza tertawa kecil.
Silvi dan Reza tertawa bersama.
"LDR itu berat ya kak? Kira-kira hubungan ini berhasil atau tidak?" ucap Silvi dengan sendu.
"Cukup badanmu saja yang berat, jangan hubungan jarak jauh ini!" ucap Reza terkekeh.
Silvi mengerucutkan bibirnya. Reza berlebihan sekali mengatakan badannya berat.
"LDR itu memang berat. Jarak yang jauh, zona waktu yang berbeda, belum lagi masalah jaringan internet. Hanya dua hal selain cinta yang membuat hubungan seperti ini berhasil," ucap Reza.
"Apa itu kak?" tanya Silvi.
"Rasa percaya dan uang. Dengan rasa percaya yang dimiliki untuk pasangan, mau sebesar apapun masalah yang datang tidak akan menggoyahkan komitmen yang dibangun. Dan dengan adanya uang, tiket pesawat dapat dengan mudah dibeli demi bertemu pasangan yang dirindukan hehehe!" jawab Reza.
"Benar itu!" seru Silvi.
"Kita punya cinta, percaya, dan uang. Lalu kenapa kamu masih khawatir dengan hubungan ini?" tanya Reza mengedipkan sebelah matanya membuat Silvi tersipu malu.
"Tapi aku rindu..." keluh Silvi.
"Jangan rindu, rindu itu berat. Ditabung saja!" Reza terkekeh.
"Ditabung? Nanti kalau sudah penuh kita nikah ya kak?" seru Silvi bersemangat.
"Isi otakmu itu hanya menikah dan hamil saja, apa tidak ada lainnya?" Reza terkekeh.
"Aku sudah kebelet kawin kak!" ucap Silvi.
"Huss...Yang bener itu menikah, kawin itu untuk hewan!" seru Reza.
"Apapun itu namanya, aku kepengen kak!" sahut Silvi.
"Belajar dulu yang bener!" seru Reza.
"Siap calon suami!" seru Silvi.
Di sela-sela obrolan mereka, seorang karyawan terlihat menyerahkan ampop coklat yang besar. Laptop Reza diletakkan agak jauh oleh karena itu Silvi dapat melihat isi amplop itu saat Reza membukanya. Ternyata isinya uang cash.
"Beruntungnya aku, mempunyai calon suami yang good looking sekaligus good rekening!" ucap Silvi membuat Reza tertawa.
Ngobrol online mereka terpaksa diakhiri karena Reza mempunyai jadwal meeting sebentar lagi. Obrolan online mereka diakhiri dengan tos online dan saling memberikan semangat untuk ber-LDR.
"Semangat pejuang LDR!" seru Reza.
"Semangat!" sahut Silvi.
Tut,
Silvi tersenyum bahagia. Obrolan online yang membuatnya terus menampilkan senyum yang lebar.
..................
Penggemar Reza dan Silvi mana suaranya? Mereka masih LDR nih!
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar ya! Love you All!
__ADS_1