Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
PERNIKAHAN SAMUEL


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


..........................


"Sayang...." seru Dave, ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar bersiap memeluk Aryn.


Aryn mengerucutkan bibirnya sambil berusaha mencium aroma Dave, apakah benar sudah mandi. Saat Dave hanya tinggal berjarak 2 meter, Aryn mengangkat tangannya.


"Stop!" seru Aryn, ia menutup hidungnya.


"Kamu sudah mandi atau belum, kenapa masih sangat bau?" tanya Aryn.


"Sayang, aku sudah mandi dengan bersih tiga kali bilas! Aku bahkan sudah menyiram tubuhku dengan parfum!" protes Dave.


"Tapi kamu bau, Dave! Aku merasakan mual," rengek Aryn.


"Gua aja sampai mau muntah karena badan Dave super wangi, kenapa masih dibilang bau?" tanya Ken.


"Aku juga nggak tau, Dave itu bau sekali! Aku sudah lemas karena sarapanku keluar semua di wastafel! Kamu tidak boleh lebih dari 2 meter dekat denganku!" seru Aryn.


Dave mengusap rambutnya kasar, Aryn terlihat sangat cantik hari ini tapi dia tidak bisa memeluknya. Bahkan harus menjaga jarak sejauh 2 meter.


"Malang sekali nasib lo, Dave!" seru Samuel cekikikan.


Karena jam sudah menunjukkan pukul 8.50 pagi, semua orang harus segera berkumpul di halaman belakang. Karena acara akan dimulai pukul 9 pagi. Dave bergabung dengan rombongan pria, sementara Aryn bergabung dengan rombongan wanita.


Samuel melangkah pelan menuju tempat dilangsungkannya pernikahan didampingi oleh orang tuannya dan rombongan sahabatnya. Semua mata memandang rombongan pria yang terlihat tampan semuanya. Hanya saja wajah Dave terlihat masam, tentu karena insiden bau badan.


Kemudian Angel beserta rombongan wanita juga memasuki tempat pernikahan. Samuel tampak menitikkan air matanya menatap Angel yang tampil anggun dengan gaun pernikahan. Perut Angel yang sedikit buncit juga tidak luput dari pandangannya.


"Walaupun papa kecewa, kamu telah merusak kepercayaan papa, tapi papa juga bangga karena kamu menjadi laki-laki yang bertanggung jawab!" ucap Kris Alfonso, papa Samuel. Kris menepuk bahu Samuel beberapa kali.


Di belakang Samuel, Reza dan Frans sama-sama sedang melongo menatap Silvi yang berjalan beriringan dengan Aryn di belakang Angel.


"Baru sadar kalau Silvi itu cantik, ya walaupun Aryn masih lebih cantik sih!" gumam Reza yang langsung mengalihkan pandangannya pada Aryn.


Silvi melihat jelas Reza sedang menatap kakak iparnya. Lantas ia mempunyai ide cemerlang, ia mengedipkan matanya dengan manja dan tersenyum manis kepada Frans, hingga Frans memukul bahu Reza karena salah tingkah.


"Ngapain lo?" lirih Reza, ia tidak ingin menghancurkan pesta dengan teriakannya.


"Eh maaf, saya tidak sengaja! Abisnya itu Nona Silvi tersenyum kepada saya!" Frans keceplosan.


"Hah?" Reza terkejut.


Sadar sudah keceplosan, Frans langsung menutup kedua mulutnya. Ia bergegas mundur, bersembunyi di belakang tubuh Dave. Lalu Reza menatap Silvi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tapi Silvi membalasnya dengan tatapan juteknya.


Pernikahan berlangsung dengan khidmat hingga dipenghujung acara. Kini kedua mempelai akan melakukan prosesi pelemparan bunga. Ken, Zack, Reza, Silvi, Frans bahkan para pelayan dan penjaga turut bergabung untuk bersiap menangkap lemparan bunganya. Hanya Aryn dan Dave saja yang tidak ikut.


"Kak Aryn tidak ikut?" tanya Silvi.


"Dia sudah punya suami, jadi untuk apa ikut! Nanti kalau yang dapet bunga dia, bisa ribet urusannya masa menikah lagi!" seru Zack gemas membuat semua orang terkekeh.


Dave menghitung mundur dari 3...2... dan 1, Samuel dan Angel melemparkan bunga ke belakang meraka.


Hap,

__ADS_1


Silvi berhasil mendapatkan bunga itu, namun ternyata tangan kekar seorang pria juga berhasil menangkap bunga itu. Silvi refleks menoleh ke arah pria itu, ternyata...


"Kak Frans?" seru Silvi kegirangan.


"Eh... bunganya untuk Nona Silvi saja!" serunya.


"Kak Frans kan juga berhasil menangkap bunga ini!" seru Silvi girang.


"Kata orang, jika seseorang berhasil menangkap bunga itu makan orang itu akan segera menyusul menikah!" seru Samuel dari pelaminan.


"Karena Silvi menangkapnya bersama Kak Frans, ini artinya Silvi akan segera menyusul menikah dengan Kak Frans?" seru Silvi sambil berjingkrak-jingkrak menggandeng Frans. Frans hanya pasrah diajak berjingkrak-jingkrak, tapi pipinya terlihat memerah.


"Tidak bisa!" seru Reza membuat semua orang menatapnya.


"Eh, maksudku umur Silvi kan masih 15 tahun! Menikah tidak sesederhana itu, semuanya harus dipikirkan matang-matang!" lanjut Reza.


"Gua sebagai kakak kandungnya saja diam saja, kenapa lo protes?" seru Dave ketus.


"Lulus sekolah saja belum!" jawab Reza.


"Kalau jodoh pasti dipertemukan kapanpun itu," tukas Dave.


Reza terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Sementara Silvi, ia tertawa puas melihat wajah Reza yang ditekuk.


"Sekali dayung, dua pulau terlampaui!" gumam Silvi.


"Sekarang waktunya pesta!" seru Samuel mengalihkan perhatian semua orang. Ia tidak ingin terjadi perdebatan di hari bahagianya.


Musik diputar, semua orang berjoget mencoba mengikuti irama. Berkat usulan dari Aryn, musik dangdut bisa diputar. Dari semua orang yang sedang berjoget dangdut, hanya Dave yang terlihat kaku seperti tidak niat untuk berjoget tapi sebenarnya Dave memang tidak bisa menari ataupun berjoget hehehe.


"Tarik sis!" Teriak Aryn.


"Semongkoooo!" jawab semua orang.


Frans tidak bisa menahan tawanya. Semua orang bule disekelilingnya ini sedang berjoget dangdut dan meneriakkan kata-kata yang Aryn ajarkan kemarin sore. Kata 'semongko' yang mereka ucapkan terdengar lucu. Frans sempat merekamnya dengan ponsel. Di sisi lain, ia merasa kagum sekaligus bangga kepada Aryn. Bosnya itu memperkenalkan budaya dari tanah kelahirannya kepada semua penghuni mansion. Dan sekarang dengan kedua matanya, Frans menyaksikan betapa mereka menikmati alunan musik dangdut yang diputar.


Di sela-sela pesta Dave terlihat mendekati Aryn secara diam-diam dari belakang.


Hap,


Dave memeluk Aryn dari belakang dengan sangat erat. Ia sangat merindukan istrinya.


"Dave lepaskan, kamu bau!" seru Aryn yang sedang berusaha menahan rasa mualnya.


"Tahan nafas sebentar sayang, aku benar-benar rindu!" ucap Dave di telinga Aryn.


Aryn benar-benar menahan nafasnya. Ia tidak tega jika harus mengusir Dave lagi. Biarlah Dave melepas rindunya sebentar. Tapi ternyata Dave tidak kunjung melepaskan pelukannya.


"Dave aku tidak bisa menahan nafas terlalu lama, cepat menjauh!" seru Aryn.


"Baiklah, sayang!" jawab Dave.


"Sana bergabung dengan teman-temanmu!" perintah Aryn.


"Tidak mau, aku ingin disini bersamamu saja!" jawab Dave.

__ADS_1


"Ya sudah! Ayo duduk di sana, aku lelah!" ucap Aryn saat menunjuk kursi.


Dave mengangguk, ia berjalan lebih dulu menuju kursi itu. Aryn baru menyusul ketika Dave sudah agak jauh darinya. Saat sampai pun Aryn bergegas menggeser kursinya.


"Aku lapar," ucap Aryn sambil menunjukkan deretan giginya.


"Sebentar aku ambilkan," jawab Dave.


Dave berlarian mengambilkan makanan untuk Aryn. Dengan cepat ia kembali ke tempat Aryn duduk, ia membawa sebuah nampan.


"Silahkan istriku!" ucap Dave menyodorkan nampannya.


Aryn tampak berusaha menahan rasa mualnya saat Dave datang mendekatinya. Demi menjaga perasaan Dave, ia memilih untuk menahan mual daripada mengusir Dave lagi. Saat melihat isi nampan Dave, Aryn mengerinyitkan dahinya, ia melihat satu piring makanan yang sudah pasti untuknya. Tapi bukan itu yang membuatnya heran, tapi di nampan yang di bawa Dave terdapat banyak sekali jeruk. Setahu Aryn, Dave tidak suka jeruk. Ia juga sedang tidak ingin makan jeruk, jadi untuk apa jeruk sebanyak ini. Bahkan Dave juga membawa dua kotak sari jeruk instan.


"Semua jeruk ini untuk siapa?" tanya Aryn.


"Untukku! Kamu mau?" tanya Dave.


"Aku tidak mau. Tapi Dave, bukankah kamu tidak suka jeruk?" jawab Aryn.


"Oh iya, benar aku tidak suka jeruk! Tapi saat melihatnya tadi aku sangat ingin memakannya! Pasti rasanya sangat segar makan buah jeruk di acara pernikahan seperti ini," ucap Dave yang sudah sibuk mengupas jeruk.


"Apa hubungannya acara pernikahan dengan buah jeruk?" tanya Aryn kebingungan.


Dave tidak menjawab pertanyaan Aryn. Ia sedang melahap cepat jeruk-jeruk itu. Karena penasaran, Aryn berjalan mendekati Dave. Tidak lupa ia menutup hidungnya agar tidak merasa mual.


"Tidak panas," lirih Aryn setelah menempelkan punggung tangannya pada dahi Dave.


"Aku sehat, sayang!" seru Dave.


Aryn kembali ke kursinya. Ia menyantap makannannya tapi kedua matanya tetap memperhatikan suaminya yang sedang makan jeruk dengan lahap.


"Jangan-jangan kamu kerasukan hantu jeruk?" seru Aryn.


"Hah?" jawab Dave melongo.


"Habisnya kamu makan jeruk seperti orang yang sedang kerasukan saja, aku takut saat sedang melamun tadi hantu yang tinggal di pohon jeruk Silvi masuk ke tubuhmu! Sampai kamu jadi gila jeruk seperti ini," ucap Aryn.


"Aku ini sehat-sehat saja, sayang! Jangan aneh-aneh!" seru Dave, ia kembali menyantap jeruk itu.


 


Di tengah-tengah tempat dilangsungkannya pesta, Reza melihat pelayan yang ia incar meninggalkan pesta. Dengan sigap ia mengikuti pelayan itu dari kejauhan.


"Apa yang akan dia lakukan?" gumam Reza.


Pelayan itu kini sedang menuju area paviliun, tempat dimana para pelayan tinggal. Lima belas menit lamanya Reza berdiam diri di sela-sela tanaman hias menunggui pelayan itu keluar dari paviliun.


Tiba-tiba terdengar riuh suara orang dari halaman. Reza bergegas keluar dari area paviliun. Betapa terkejutnya ia saat melihat api membakar meja, kursi, bahkan dekorasi pesta. Para pelayan dan penjaga sibuk mengambil selang air untuk mematikan api. Terlihat Dave dan yang lainnya berdiri di pinggir halaman dengan wajah yang panik.


"Shit!" umpat Reza.


Reza tidak menghampiri teman-temannya, ia justru berlarian menuju ruang keamanan.


..................


Apa yang terjadi?

__ADS_1


Stay tuned ya! Episode selanjutnya akan lebih seru!


__ADS_2