
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Banyak sekali perubahan yang terjadi setelah satu persatu masalah mereka selesaikan. Sejak kejadian penculikan itu, Aryn tidak bisa bebas keluar dari mansion seperti sebelumnya. Aryn tidak boleh keluar dari mansion kecuali untuk pergi ke kampus. Setiap hari Dave pergi ke kantor, dengan jam kerja yang ia kurangi. Sebenarnya Dave enggan meninggalkan Aryn ke kantor, tetapi perusahaannya tidak bisa ia tinggalkan terus-menerus. Aryn juga memaksanya untuk kembali bekerja.
Erick dan Katy setiap weekend selalu berkunjung ke mansion Dave, terkadang Aryn ingin mengajak Dave pergi ke mansion mertuanya. Tapi Erick dan Katy melarang, alasannya perut Aryn sudah semakin besar, mereka tidak ingin terjadi sesuatu kepada menantu dan calon cucu mereka. Ken dan Naina resmi menjadi pasangan suami istri bulan lalu. Angel dan Samuel menyambut kehadiran buah hati mereka di bulan yang sama dengan pernikahan Ken dan Naina. Hanya tinggal Zack dan Frans yang masih lajang. Sementara Reza, komunikasinya dengan Silvi terputus sejak Silvi menerima foto-foto kedekatan Reza dengan seorang wanita. Sejak saat itulah mereka benar-benar tidak saling berbalas pesan ataupun berbicara melalui telepon. Silvi mengganti nomor ponsel dan menghapus semua akun sosial medianya.
Sore ini, setelah mandi Aryn menatap pantulan tubuhnya di cermin. Ia mengelus perutnya yang membuncit di balik kaos yang ia gunakan. Kandungannya memasuki minggu ke 28. Aryn menjadi sering menatap tubuhnya yang semakin hari semakin bulat.
"Aku gemuk sekali..." Aryn berputar di depan cermin.
"Kamu tidak gemuk, sayang!"
Aryn melihat pantulan Dave yang sudah berada di dalam kamar. Dave sedang melepas sepatu dan jasnya. Dave berjalan menghampiri istrinya.
"Kamu mengatakannya hanya untuk membuatku senang kan?" ucap Aryn.
"Aku serius! Kamu tidak gemuk, kamu justru terlihat sangat sexy!" Dave memeluk istrinya dari belakang.
Dave mengecup bahu istrinya, ia membalik tubuh Aryn agar menghadap padanya. Dave memandangi tubuh Aryn dengan tatapan kagum. Tubuh Aryn yang pendek terlihat semakin imut dengan perutnya yang besar. Dave terkadang gemas saat melihat Aryn berjalan dengan perutnya yang besar.
"Apalagi saat kamu sedang berjalan, sangat imut dan sexy!" lanjut Dave.
Aryn memeluk Dave dengan erat. Suaminya itu selalu mempunyai cara untuk membuatnya merasa senang. Di usia kandungannya yang sudah memasuki minggu ke-28, Aryn sudah tidak mual lagi jika berdekatan dengan Dave. Tapi jika Dave menggunakan parfum selain parfum milik Aryn, Aryn akan merasa mual. Sementara Dave, ia semakin menggilai jeruk. Setiap sudut mansion sekarang menggunakan aroma jeruk untuk pengharum ruangan. Kemanapun ia pergi, buah jeruk akan selalu ada.
"Sayang," lirih Aryn.
"Iya sayang?" sahut Dave.
Aryn terdiam, ia mendadak ingin sesuatu. Tapi ia merasa takut untuk mengatakannya.
"Kenapa diam saja? Apakah kamu menginginkan sesuatu?" tanya Dave.
"Emm... Aku..." Aryn bingung harus bagaimana ia mengatakan keinginannya.
"Katakan saja sayang," Dave menangkup kedua pipi Aryn.
"Aku ingin makan mangga muda," jawab Aryn.
"Hanya mangga muda? Kenapa kamu tidak langsung mengatakannya tadi?" Dave tertawa kecil, ternyata istrinya hanya ingin makan mangga muda. Sebuah permintaan yang lazim diminta oleh wanita hamil.
"Itu masalahnya," lirih Aryn.
"Maksudnya?" tanya Dave penasaran.
"Aku ingin Zack dan Mei yang mengambilkannya dari pohon mangga Silvi untukku!" jawab Aryn.
"Zack dan Mei? Kenapa harus mereka?" Dave terlihat kesal.
"Aku tidak tahu? Baby kita sangat menginginkannya," Aryn mengelus perutnya.
"Zack adalah sahabatku sendiri, aku tidak keberatan menyuruhnya kemari! Tapi kalau Mei... Mendengar namanya saja aku sudah bisa membayangkan kerusuhan yang akan ia ciptakan nanti!" Dave memijit kedua pelipisnya.
"Ayolah, sayang! Aku sangat ingin mereka mengambilkan mangga untukku!" Aryn mencoba merayu suaminya.
"Mereka hanya akan membuat kerusuhan jika sedang bersama," keluh Dave.
"Justru karena itu mereka terlihat lucu dan serasi," sahut Aryn.
"Baiklah, demi baby kita aku akan mengundang mereka kemari besok pagi," Dave mencium pucuk kepala Aryn.
"Aku pengennya sekarang, Dave..." rengek Aryn.
"Sayang, Zack belum pulang dari kantor! Hari ini aku menyuruhnya lembur sampai malam," jawab Dave.
"Kamu suruh saja dia kemari, lemburnya diganti hari lain," ucap Aryn.
"Baiklah, apapun akan kulakukan untukmu!" jawab Dave.
Dave menelpon Zack, memintanya untuk datang ke mansion. Ia tidak memberitahukan alasannya agar Zack tidak menolak. Karena jika Zack tahu Mei juga datang, Zack pasti menolak. Sementara Aryn, ia mengirim pesan singkat untuk Mei.
Sembari menunggu Dave yang akan mandi, Aryn membaca buku-buku yang telah Dave beli tempo hari. Buku itu berisi panduan mempersiapkan persalinan dan cara mengurus bayi. Setiap hari Rabu dan Jum'at Dave juga mendatangkan trainer khusus untuk mengajari Aryn dan dirinya. Di dalam keluarganya tidak ada yang berpengalaman, karena mamanya dulu menggunakan jasa baby sister. Meskipun ada Uti yang berpengalaman dalam urusan seputar kehamilan dan mengurus bayi, Dave tidak ingin membebani Uti yang sudah tua untuk mengurus babynya kelak. Dave ingin Aryn dan dirinya sendiri yang mengurus buah cinta mereka.
Klek,
Dave menggibaskan rambutnya yang basah. Ia berjalan menuju walk-in closet dengan hanya menggunakan handuk saja. Itulah kebiasaannya. Aryn masih saja fokus dengan buku-bukunya.
Tok tok tok,
"Arynn!" terdengar suara seseorang berteriak dari luar kamarnya.
"Siapa sayang?" tanya Dave yang masih menggunakan handuk.
"Tidak tahu," jawab Aryn.
Aryn bergerak turun dari ranjang. Melihat Aryn kesusahan untuk turun dari ranjang Dave langsung membantunya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana? Biar aku saja yang mengeceknya!" Dave membantu Aryn untuk duduk di tepi ranjang.
"Arynnn! Aku datang!" terdengar lagi suara teriakan.
Dave menatap istrinya. Dave tahu suara itu. Suara yang selalu membuat kehebohan.
"Aku tahu, biar aku saja yang membuka pintunya!" Aryn tertawa kecil melihat ekspresi suaminya.
"Hati-hati," Dave membantu Aryn turun dari ranjang.
Dave bergegas masuk ke dalam walk-in closet lagi. Lebih baik dia memakai bajunya terlebih dahulu.
Klek,
Aryn membuka pintu kamarnya, tapi tidak ada siapapun di depan kamarnya. Di lorong pun tidak ada.
"Bukannya tadi suara Mei? Tapi kok tidak ada?" keluh Aryn.
Akhirnya Aryn masuk lagi ke dalam kamarnya. Ia mengomel, susah payah ia berjalan untuk membukakan pintu. Tapi tidak ada siapapun di luar. Aryn yakin orang itu adalah Mei.
"Kemana orangnya?" seru Dave yang baru keluar dari dalam walk-in closet miliknya.
"Aku yakin itu suara Mei, tapi saat aku buka pintunya tidak ada siapaun di luar sayang!" keluh Aryn.
"Aku juga tahu itu tadi suara Mei, siapa lagi yang berteriak-teriak di rumah orang selain sahabatmu itu?" sahut Dave.
"Tapi dia kemana? Tidak ada siapapun di luar!" ucap Aryn.
"Biarkan saja, mungkin dia turun lagi!" jawab Dave.
Dave merangkul pinggang Aryn, mereka turun bersama ke lantai satu. Sudah menjadi kebiasaan Dave ketika sedang berjalan bersama dengan Aryn. Ia pasti merangkul pinggangnya dengan posesif.
Ting,
Pintu lift terbuka di lantai satu. Aryn mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sahabatnya. Tapi hanya ada Silvi di lantai satu, ia sedang menikmati cemilan sorenya di meja makan. Tapi Silvi memakannya sambil menatap layar iPad di hadapannya. Akhir-akhir ini Silvi terlihat menyibukkan diri. Melukis, berkebun, traveling, dan kadang menonton film berbahasa Spanyol di iPadnya seperti sekarang.
"Apa kamu melihat Mei, Silvi?" Aryn duduk di sebelah Silvi dengan dibantu Dave.
"Tidak, kak! Memangnya dia datang?" tanya Silvi.
"Kakak iparmu ini mengidam mangga muda yang harus dipetik Zack dan Mei!" sahut Dave.
"Apakah tidak ada hal lain yang kakak inginkan? Minggu kemarin kakak juga ngidam disuapi dua orang konyol itu juga kan?" seru Silvi.
Silvi teringat minggu lalu, kakak iparnya merengek minta disuapi oleh Zack dan Mei. Sekarang kakak iparnya menginginkan mangga muda yang harus dipetik Zack dan Mei. Silvi tidak habis pikir, calon keponakannya sangat menyukai Zack dan Mei. Bisa jadi minggu depan Aryn ngidam untuk melihat Zack dan Mei menikah.
Aryn, Dave, dan Silvi menoleh ke arahnya. Mei berlarian dari arah halaman belakang.
"Enak ya? Berasa rumah sendiri!" Silvi menyindir.
"Tentu! Sejak pertama kali aku datang kemari, bukankah Aryn selalu mengatakan jika aku harus menganggap rumah ini seperti rumahku sendiri?" sahut Mei.
"Yeah... Kau memang selalu pandai menjawab kak!" seru Silvi.
"Kau juga pandai meledekku," sahut Mei.
"Untuk apa aku meledekmu, kak?" Silvi tertawa kecil.
"Sudah sudah! Katakan padaku, Mei! Dari mana saja kamu? Kamu yang berteriak di depan kamarku kan?" ucap Aryn.
"Oh iya, maaf! Kamu terlalu lama membuka pintunya! Tiba-tiba saja aku ingat jika ada bunga mawar di halaman belakang, jadi aku pergi ke sana untuk mengambilnya! Aku akan memberikannya pada jodohku!" Mei menunjukkan setangkai bunga mawar yang baru ia petik.
"Bagaimana kau bisa tahu jika Kak Zack juga akan kemari, kak?" seru Silvi.
"Zack? Jangan salah paham dulu! Jodoh yang aku maksud itu adalah Frans, pengawal Aryn itu!" jawab Mei cengar-cengir.
"APA?" seru Aryn, Silvi, dan Dave serempak.
"Apa ada yang aneh?" tanya Mei kebingungan.
"Tentu ada yang aneh, kaulah yang aneh itu! Berbulan-bulan kamu mengejar Zack, kenapa mendadak kamu menyebut Frans itu jodohmu?" tanya Aryn.
"Aku capek! Perjuanganku tidak pernah dihargai, daripada aku bertahan tapi tidak dihargai, lebih baik aku mencari yang baru! Ganti jodoh!" jawab Mei membuat semua orang geleng-geleng kepala.
Tidak ada yang menyadari Zack sudah sampai di mansion. Zack sengaja bersembunyi di balik alamari saat mereka sedang mengobrol.
"Kenapa aku tidak rela jika Mei mundur?" gumam Zack.
Zack merasa ada yang berbeda dalam dirinya. Ia merasa tidak rela Mei berpindah ke pria lain. Ia sudah terbiasa dikejar Mei, diberikan surprise tidak jelas, kado berisi coklat bahkan mendapat setangkai mawar setiap hari. Selama ini ia diam-diam mengumpulkan semua bunga mawar yang diberikan Mei, Zack menyimpannya rapi di dalam kamarnya.
Silvi beranjak dari kursinya, cemilannya sudah habis. Ia akan pergi ke kamarnya. Tapi saat melewati sebuah almari yang berisikan aneka patung, Silvi melihat Zack sedang bersembunyi di sana. Silvi tersenyum smrik.
"Pasti Kak Zack mendengar semuanya," gumamnya.
"Kenapa Kak Zack di sini?" seru Silvi dengan suara yang keras.
Zack memutar bola matanya malas. Silvi selalu mengacaukan apa yang ia lakukan. Sekarang semua orang tengah memandanginya. Terpaksa ia keluar dari persembunyiannya.
__ADS_1
"Apa dia mendengar semuanya ya? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Mei.
"Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Dave.
"Ada cicak di sini, jadi aku berusaha menangkapnya!" sahut Zack.
"Cicak? Selama aku tinggal di sini aku tidak pernah melihat cicak," seru Aryn.
"Kenapa jadi membahas cicak sih! Ada apa aku diundang kemari?" jawab Zack.
"Aku ingin kau dan Mei memetikkan buah mangga untukku!" Aryn tersenyum menampakkan deretan giginya.
"APA?" seru Zack dan Mei serempak.
"Aku tidak mau!" sahut Mei membuat Zack langsung menoleh.
"Eh... kau pikir aku mau? Aku tidak sudi!" seru Zack.
"Tapi kalau aku boleh memetiknya dengan Frans, aku mau kok!" Mei cengar-cengir.
"Apakah dia benar-benar tidak mengejarku lagi?" gumam Zack.
"Cepat ambilkan buah mangga itu, jangan protes! Ini demi babyku!" Dave mendorong Zack dan Mei keluar dari mansion.
Blam,
"Kalian harus memetik buah mangga dulu, jangan kembali jika kalian belum memetiknya! Memetiknya harus bersama-sama, ingat itu! Kalau tidak, kepala kalian akan aku gantung di pohon mangga itu!" teriak Dave dari dalam.
Mei berjalan menuju kebun mangga meninggalkan Zack. Pertama kalinya ia menampilkan wajah juteknya di hadapan Zack.
"Woy, tunggu!" Zack berlari menyusul Mei.
Mei hanya menoleh, ia tidak menghiraukan Zack sedikitpun. Dari lantai 3, tepatnya di jendela besar yang menghadap kebun, Silvi tertawa kecil melihat kelakuan Mei yang menjadi sok jual mahal pada Zack.
Mei berhenti di bawah pohon mangga yang buahnya masih muda. Ukuran buah mangga di kebun ini tergolong besar, Silvi memesan sendiri bibit buahnya dari perkebunan terkenal. Pohonnya tidak terlalu tinggi dan bercabang banyak.
Mei kebingungan bagaimana caranya mengambil mangga itu. Buah mangga itu berada di ranting yang paling tinggi. Pohon ini adalah pohon pertama dan satu-satunya yang berbuah. Pohon lainnya masih berwujud bunga. Tidak ada tangga atau tongkat yang bisa digunakan untuk mengambil buah mangga itu.
"Bagaimana mengambilnya?" keluh Mei.
"Kita harus naik ke atas pohon," sahut Zack yang sudah berdiri di belakangnya.
"Kita? Kamu aja yang naik, aku ogah!" seru Mei.
"Haizzz... Gaya-gayaan menolak!" Zack memutar bola matanya malas.
"Naik!" Zack menepuk bahunya.
"Iihh..." Mei berkacak pinggang.
"Aryn ingin makan mangga yang kita petik bersama, cepatlah jangan memperpanjang urusan ini!" Zack merendahkan tubuhnya agar Mei bisa naik ke bahunya.
Mei akhirnya naik ke bahu Zack. Kaki kanannya menginjak bahu kanan Zack, dan kaki kirinya menginjak bahu kiri Zack. Zack perlahan berdiri. Mei menyeimbangkan tubuhnya dengan berpegangan pada ranting pohon.
"Ke kanan sedikit!" perintah Mei.
Zack menuruti Mei, ia bergeser sedikit ke kanan.
"Geser ke kiri!" perintah Mei. Zack bergeser lagi ke kiri.
"Ke kanan sedikit lagi!" seru Mei.
"Kau mengerjaiku ya? Tadi ke kanan, lalu ke kiri, kenapa ke kanan lagi? Kau mau memetik mangga atau berdansa?" Zack kesal.
"Sudah, aku sudah dapat mangganya!" ucap Mei. Ia tertawa kecil karena berhasil mengerjai Zack.
Zack menurunkan Mei dengan perlahan. Zack memegang erat tangan Mei agar tidak terjatuh. Mata mereka sempat bertemu, tapi Mei langsung mengalihkan pandangannya.
"Apakah Aryn akan puas? Mangga ini harus kita petik bersama," ucap Zack.
"Aku tahu itu, makanya aku petik buah mangga ini dengan rantingnya sekaligus! Kita tinggal memetiknya bersama!" seru Mei menunjukkan buah mangga yang masih melekat di ranting yang ia ambil tadi.
"Kau tidak terlalu bodoh ternyata," seru Zack.
"Aku ini pintar," sahut Mei bersungut-sungut.
Mereka memetik buah mangga itu bersama, Zack menatap kedua mata Mei saat tangannya menyentuh tangan Mei.
Deg,
"*Jangan sampai Zack mendengar jantungku bergemuruh!" gumam Mei.
"Kenapa jantungku berdetak kencang sekali?" gumam Zack*.
................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian! Love you all!
__ADS_1