
WARNING:
SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.
HAPPY READING 😘
.............................
"Bagaimana bisa dia hamil, aku bahkan belum pernah menyentuhnya!" batin Dave.
Dave berjalan mendekati Aryn, ia duduk di tepi ranjang dengan tatapan matanya yang tidak berkedip menatap Aryn.
"Ken benar-benar membuatku dalam bahaya! Mana mungkin aku hamil?" batin Aryn.
Aryn menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap Dave.
"Kau bermain di belakangku ya?" tanya Dave menyelidik.
"Tidak, Dave! Aku tidak pernah berselingkuh," Aryn mencoba membela diri.
"Lalu anak siapa itu? Kau tahu sendiri kita belum pernah melakukannya," sahut Dave.
"Dengarkan aku dulu!" seru Aryn.
"Apa lagi yang harus aku dengarkan? Sudah jelas semuanya, kau muntah-muntah sejak pagi, kan? Kepalamu juga pusing! Semua tanda itu terjadi pada wanita hamil, Ken juga mengatakannya!" seru Dave, kedua matanya memerah menahan amarah.
"Tapi aku..." ucapan Aryn terpotong.
Tok...tok...tok
Ketukan pintu dari luar menghentikan perdebatan Dave dan Aryn. Aryn bergegas menutup tubuhnya dengan selimut lagi sementara Dave membukakan pintu. Paman Kevin beserta dua perawat wanita masuk ke dalam kamar Dave diikuti oleh Ken.
"Siapa yang sakit?" tanya Paman Kevin.
"Aryn, paman!" seru Dave dengan suara yang meninggi.
"Ada apa ini? Sepertinya Dave sedang marah besar!" batin Paman Kevin.
"Baiklah, aku akan memeriksanya dulu!" jawab Paman Kevin.
Paman Kevin mendekati ranjang Aryn diikuti dua perawat wanita yang membantunya. Ia meletakkan difragma stestoskop pada dada Aryn.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Paman Kevin.
"Sejak pagi tadi dia muntah-muntah, paman! Kepalanya juga pusing. Dia hamil, kan?" sahut Dave.
"Dave benar-benar menyebalkan!" batin Aryn.
"Bukankah itu kabar baik jika memang benar Aryn hamil? Itu artinya kau akan segera menjadi ayah, kenapa kau terlihat sangat marah?" seru Paman Kevin dengan senyum yang mengembang.
"Jelas saja aku marah, paman! Ah, sudahlah! Aku mau paman memastikannya sekarang juga!" seru Dave.
"Baiklah, untuk lebih pastinya kedua perawatku yang akan membantu Aryn!" ucap Paman Kevin sembari melirik dua perawat yang berdiri di belakangnya.
Salah satu perawat mengambil sebuah kardus kecil dan tabung bening kecil dari tas peralatan yang dibawanya. Perawat lainnya mengarahkan Aryn untuk masuk ke kamar mandi dan memintanya untuk menampung urine di tabung kecil yang sudah disiapkan. Aryn mengangguk paham.
__ADS_1
Paman Kevin terlihat tersenyum santai, sementara Dave sangat cemas dan tidak sabar untuk mengetahui kebenarannya.
"Hasilnya akan terlihat setelah lima menit," ucap perawat yang mencelupkan tespack ke dalam urine Aryn.
Aryn berjalan tertatih menuju ranjangnya dengan dibantu seorang perawat. Dave diam di tempatnya tidak membantu Aryn, ia sedang marah dan cemas. Paman Kevin yang melihat sikap Dave hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau tidak perlu khawatir, Dave! Hasilnya negatif!" seru Paman Kevin yang melihat alat itu.
Dave menghembuskan napasnya dengan kasar. Paman Kevin terkekeh melihat ekspresi lega yang ditunjukkan Dave. Sifat keponakannya itu memang belum juga berubah, selalu saja mendahulukan emosinya. Sebenarnya ia tahu jika Aryn tidak hamil, demi untuk meredam emosi keponakannya itu ia melakukan tes kehamilan pada Aryn.
"Aryn hanya kelelahan dan asam lambungnya naik, bukan hamil! Bagaimana bisa dia hamil jika kau belum menyentuhnya? Ini obatnya sudah kusiapkan, aku pamit dulu! Sudah, kau jangan marah-marah lagi kepadanya! Kau harus lebih memperhatikannya, jangan sampai dia telat makan!" ucap Paman Kevin dengan senyum yang mengembang.
Dave sama sekali tidak merasa malu saat pamannya menyinggung hal itu, berbeda dengan Aryn. Ia sudah menunduk malu sejak tadi. Paman Kevin meninggalkan kamar Dave diikuti oleh dua perawatnya. Ken mengantar mereka sampai di depan pintu utama mansion. Sementara Dave, ia duduk di tepi ranjang. Ia menarik napas dalam-dalam untuk meredam emosinya.
"Kenapa kau tidak bilang kepadaku jika kau hanya asam lambung?" seru Dave.
"Aku mencoba menjelaskannya kepadamu, tapi kau hanya marah dan tidak mau mendengarkanku!" jawab Aryn bersungut-sungut.
"Hemm," lirih Dave.
"Lagipula mana mungkin aku hamil, sementara kita belum pernah melakukannya! Kau hanya termakan ucapan Ken saja!" seru Aryn. Ups, Aryn terkejut karena ia mengatakan bahwa dia belum pernah 'melakukannya' dengan gamblang. Ia merasa sangat malu.
"Aku juga berpikir seperti dirimu! Tapi bisa saja kan kau selingkuh di belakangku!" lirih Dave.
Ternyata dugaannya salah, Dave tidak menghiraukan ucapannya. Ia tidak menyangka jika Dave benar-benar tidak mempunyai rasa malu.
"Yang namanya selingkuh itu ya di belakang, bagaimana aku bisa selingkuh? Aku tidak pernah keluar dari mansion ini, punya ponsel pun tidak! Dengan siapa aku akan selingkuh? Sopirmu?" sahut Aryn yang kesal.
Dave terdiam seribu bahasa. Perkataan Aryn membuatnya tersadar, selama ini Aryn hanya terkurung di dalam mansion ini. Ia tidak pernah mengajaknya untuk sekedar melihat dunia luar, bahkan memberinya ponsel pun tidak.
"Ada apa lagi?" jawab Aryn sewot.
"Kau pasti sangat membeciku bukan? Aku sudah banyak menyakitimu, aku juga yang mengurungmu di sini! Aku tidak tahu jika asam lambungmu yang naik, bukan hamil! Aku hanya busa menyalahkanmu, tapi percayalah aku tidak mau kehilanganmu!" lirih Dave.
Aryn menunduk lemas, "Aku tidak pernah membencimu! Kau lah yang menyelamatkanku dari kekejaman ibu tiriku, bagaimana bisa aku membencimu?"
"Sungguh?" tanya Dave dengan bersemangat.
"Hemm," Aryn mengangguk pelan.
"Lihatlah aku punya sebuah kejutan kecil untukmu!" seru Dave yang menyerahkan paper bag kepada Aryn.
"Apa ini?" tanya Aryn.
"Buka saja!" sahut Dave.
Aryn membuka paper bag itu dengan bersemangat. Kedua bola matanya berkaca-kaca saat ia menemukan dusbox ponsel dalam paper bag itu.
"Ponsel ini bagus sekali, pasti mahal?" tanya Aryn.
"Harga bukan masalah untukku, aku membelikannya agar aku bisa menelponmu sewaktu-waktu! Jika kau tidak suka aku akan menyuruh Ken untuk membelikan model lain untukmu!" jawab Dave.
"Tidak usah, Dave! Aku sangat suka! Jangan menghambur-hamburkan uang! Terima kasih banyak!" ucap Aryn yang tanpa sadar memeluk Dave dengan erat.
Dave membalas pelukan hangat Aryn dengan erat. Ia tersenyum smirk, sekilas ada ide brilian yang melintas di otaknya.
"Aryn," lirih Dave yang mengusap lembut kepala Aryn.
__ADS_1
"Oh maaf," Aryn langsung melepaskan pelukannya.
Dave menghembuskan napasnya dengan kasar, maksudnya bukan itu.
"Aku sudah memberimu hadiah bukan? Lalu apa hadiahmu untukku?" ucap Dave.
"Hadiah? Aku belum menyiapkan apapun, aku tidak punya uang!" jawab Aryn.
"Kau bisa memberikanku hadiah yang lain!" sahut Dave dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Apa?" tanya Aryn.
Dave mendekatkan tubuhnya pada tubuh Aryn, jaraknya mereka hanya tersisa lima sentimeter sekarang. Bahkan Aryn bisa merasakan deru napas Dave di wajahnya.
"Seorang anak perempuan yang mirip denganmu!" lirih Dave, seketika Aryn merinding. Aroma mint napas Dave tercium di hidungnya.
"Aku... aku belum siap!" jawab Aryn gugup.
"Baiklah, aku akan menunggu sampai kita berdua sama-sama siap! Kau masih bisa memberiku hadiah pengganti!" ucap Dave dengan senyum seringai.
"Apa?" tanya Aryn.
Dave menunjuk bibirnya dengan telunjuknya, ia semakin mendekatkan wajahnya. Aryn bergerak sedikit saja pasti bibirnya menyentuh wajah Dave.
"Aku...aku tidak bisa!" seru Aryn.
"Kenapa? Jika kau tidak memberikan hadiah penggantinya, maka aku akan meminta hadiah utamanya sekarang!" ancam Dave.
"Kau sungguh menyebalkan, Dave! Cepat tutup matamu dulu!" seru Aryn.
Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Dave menurut untuk menutup matanya.
Cup,
Dengan cepat, Aryn mencium pipi kanan Dave.
"Bukan yang itu, tapi ini!" ucap Dave yang menunjuk bibirnya.
"Kau ini! Tetap tutup matamu!" jawab Aryn.
Aryn mendekatkan wajahnya, ia juga ikut menutup matanya.
Cup,
Bibirnya mendarat sekilas pada sasarannya. Tapi saat ia hendak menjauhkan wajahnya, Dave menahan tengkuknya, kedua matanya melotot. Tenaga Dave lebih besar, hingga membuat Aryn harus mengikuti permainan Dave. Dave bahkan menggigit bibir bawah Aryn karena Aryn tidak membalasnya. Akhirnya membalas ****** Dave walaupun sedikit kaku. Dave baru melepaskan Aryn saat napasnya tersengal.
"Napas, Aryn!" seru Dave.
Aryn langsung ngos-ngosan, ia mengatur napasnya dengan perlahan. Dave terkekeh melihat tingkah Aryn.
"Setelah projek memikat hati istriku ini berhasil, aku akan menjalankan projek selanjutnya! Projek tunggal putri hahaha!" seru Dave yang berjalan masuk ke kamar mandi menyisakan Aryn yang mati-matian menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti tomat.
....................
Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All ❤️
IG: Sekararum142
__ADS_1