Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
PURA-PURA


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


..........................


Deg deg,


Jantungnya bergemuruh memenuhi rongga dada. Sedikit demi sedikit wajahnya semakin mendekati Silvi. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan jika akan sedekat ini dengan gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


Maafkan kakak, aku melakukan ini demi keselamatanmu! Aku tidak mungkin membiarkan para pelayan ataupun penjaga memberikan nafas buatan untukmu!


Reza membuka mulut Silvi, satu sentimeter lagi bibirnya akan sampai di tujuannya.


Aduh, bagaimana ini? Ini semua di luar ekspektasiku! Aku hanya ingin membuat Kak Reza cemas! Tapi kenapa aku malah akan beradegan hot dengannya!


Jantung Silvi berdetak tidak karuan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Silvi sengaja berakting layaknya orang yang tenggelam di kolam renang. Ia tadi hanya ingin mengetahui Reza benar-benar acuh kepadanya atau tidak.


Uhuk...uhuk....uhuk


Silvi berakting terbatuk-batuk seperti orang tenggelam yang baru sadar. Reza langsung melepaskan kedua tangannya yang memegangi wajah Silvi dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Kok kamu sudah sadar?" tanya Reza kebingungan dan masih mengangkat kedua tangannya ke atas.


Para penjaga membalikkan badannya, menatap Reza dan Silvi bergantian.


"Ini handuknya, tuan!" seru seorang pelayan yang berlarian mendekat.


"Berikan pada Silvi! Ngambil handuk saja lama sekali! Kedua kakimu masih lengkap, berjalanlah dengan cepat kalau perlu berlari! Percuma digaji mahal, kalau kerjanya seperti Gery!" seru Reza kesal.


"Gery?" gumam Silvi.


Pelayan itu hanya terdiam, lalu menatap bangunan yang super megah dan luas yang mereka sebut mansion itu. Semua pelayan di mansion ini pasti tahu jika Silvi hanya menggunakan barang miliknya sendiri. Jadi lumrah kalau mengambil handuk untuk Silvi membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Jarak dari area kolam renang sampai kamar Silvi itu tidak dekat. Pelayan itu memberikan handuk yang ia bawa kepada Silvi dengan wajah lesu. Sudah capek bolak-balik mengambil handuk masih saja mendapat omelan dari Reza. Disamakan dengan Gery pula.


"Kok kamu sudah sadar, Silvi?" Reza mengulangi pertanyaannya.


"Mata kakak sehat kan?" seru Silvi.


"Bukan itu maksudku, aku kan belum itu...nafas buatan!" jawab Reza sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Bug,


"Nih, nafas buatan!" seru Silvi setelah memberikan bogem mentah di perut Reza.


Reza mengelus perutnya sejenak, pukulan Silvi tentu tidak seberapa untuk Reza yang terbiasa berkelahi.


"Kacau ini kacau! Maaf kak, aku tidak sengaja memberikan pukulan tadi! Aku hanya tidak tahan jika berdekatan dengan kakak seperti tadi! Aku tidak ingin ciuman pertama kita berlangsung secara tidak romantis!" gumam Silvi.

__ADS_1


Sebelum masuk ke dalam lift, ia teringat sesuatu. Silvi menemui guru privat pesanan Dave yang masih setia menunggu di ruang tamu depan. Ia memberikan alasan jika ia baru saja tenggelam dan menyuruh guru itu pergi. Tidak lupa Silvi memberikan uang pelicin, agar guru itu memberikan laporan kepada Dave jika Silvi sudah belajar dengan baik. Baru kemudian, ia pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Sementara Reza, ia melihat seorang pelayan dengan sikap yang mencurigakan. Reza merasa ia tidak pernah melihat pelayan itu sebelumnya.


"Tuan," sapa Joe yang kebetulan sedang patroli.


"Tunggu, Joe! Kemarilah sebentar!" seru Reza.


Lalu Joe mendekat ke arah Reza dengan kaki yang sedikit pincang. Sekarang ia sudah tidak menggunakan tongkat lagi, kakinya membaik.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanya Joe.


"Sepertinya aku tidak pernah melihat pelayan itu sebelumnya," lirih Reza, bibirnya ia monyongkan ke arah pelayan yang terlihat sedang beberes di balik salah satu jendela lantai dua mansion.


"Dia pelayan baru, tuan! Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di mansion ini, dia diterima karena direkomendasikan oleh Ily!" jawab Joe.


"Dave benar-benar ceroboh, menerima pelayan baru begitu saja!" ucap Reza kesal.


"Dia hanya menggantikan pelayan yang sedang mengambil cuti, mungkin sekitar satu bulan tuan!" jawab Joe.


"Walaupun hanya sementara, tapi Dave tidak boleh sembarangan menerima pelayan. Pokoknya kau awasi dia!" perintah Reza.


"Baik, tuan!" jawab Joe.


Reza meninggalkan area kolam renang dengan perasaan kesal. Masalahnya dengan Silvi belum selesai membuat hatinya terbebani, sekarang bertambah lagi masalah baru yang membuat pikirannya terbebani.


................


Aryn menginjakkan kakinya menuruni anak tangga pesawat dengan antusias. Perjalanan yang sangat jauh tidak membuat semangatnya luntur. Selama 17 jam penerbangan ini ia lalui dengan berselfie ria di dalam Dassault Falcon 900LX milik Dave. Saat ini memang kedua kalinya ia terbang menggunakan pesawat ini, tapi ia tidak melewatkan satu momen pun untuk difoto. Karena dulu waktu ia dijemput Dave menggunakan pesawat jet ini, dia tidak memiliki ponsel. Jika sudah kehabisan gaya, baru ia akan makan, tidur, atau mengganggu Dave.


Dave berjalan perlahan di belakang Aryn. Ia terlihat lebih segar. Ia sempat tidur beberapa jam di pesawat dan di hotel saat transit. Selama perjalanan Dave hanya duduk di kursinya, kadang tidur, kadang membaca majalah, kadang juga membantu Aryn untuk memegangi ponselnya saat berselfie ria.


"Sebentar, Dave! Kita selfie dulu!" seru Aryn yang mengarahkan kamera ponselnya dan menggandeng lengan Dave.


"Sudah cukup, sayang! Malu," protes Dave.


Aryn mengerucutkan bibirnya lalu berjalan beriringan di samping Dave. Seorang pria berpakaian casual tampak menunggu kedatangan mereka dengan membawa papan besar bertulisan Mr. Dave. Wajahnya sampai tertutup dengan papan yang dibawanya itu.


"Siapa pria yang membawa papan bertuliskan namamu itu?" tanya Aryn.


"Orang suruhan Ken," jawab Dave singkat.


Mereka berdua menghampiri pria tersebut.


"Ehem," lirih Dave.


"Selamat pagi, Tuan Dave," sapa pria yang fasih berbahasa inggris itu.

__ADS_1


"Frans?" seru Dave terkejut.


Dave terkejut melihat Frans, supir sekaligus guide yang dulu mengantarnya menemui Aryn di rumah Uti.


"Saya kira tuan lupa dengan saya, jadi saya buatkan papan nama ini!" sahut Frans dengan senyuman khasnya.


"Terserah kau! Aku tidak mengira jika Ken sangat suka menggunakan jasamu!" ucap Dave.


"Saya sudah lama bekerja dengan Tuan Ken, setiap kali Tuan Ken bertugas di negara saya pasti menggunakan jasa saya!" jawab Frans.


"Di Maldives juga?" tanya Dave.


"Tidak, tuan! Kalau sekarang saya bertugas di sini, itu karena Tuan Ken memberikan tugas khusus dan bonus!" jawab Frans yang menampakkan deretan giginya.


Dave meresponnya dengan anggukan. Ken pasti sudah mempertimbangkan semua hal. Hingga ia mempekerjakan Frans.


"Selamat pagi, Nona Aryn!" sapa Frans ramah.


"Pagi! Kalau sama saya, pakai bahasa Indonesia saja! Nah, kalau sama bule itu baru pakai bahasa inggris! Kamu juga orang Indonesia kan?" ucap Aryn sambil melirik Dave.


"Baik, nona! Wah, senang sekali bisa bertemu dengan nona, saya memang asli Indonesia!" jawab Frans.


"Kalian berdua sedang membicarakan apa?" seru Dave kebingungan.


"Jangan beritahu pada bule ini!" ucap Aryn pada Frans.


"Aryn, jangan aneh-aneh! Siapa bule?" sahut Dave yang mulai kesal.


"Bule itu salah satu nama artis di Indonesia, sayang!" jawab Aryn terkekeh.


Dave mengangguk, ia lalu menggandeng tangan Aryn. Mereka berdua berjalan beriringan menuju mobil Range Rover putih dengan Frans mengekor di belakang. Mobil itu berjalan mulus keluar dari bandara.


"Tuan dan Nona Winata, sekarang saya akan mengantarkan kalian menuju villa," ucap Frans saat mobil mereka berhenti di pesisir. Di pesisir itu terdapat sebuah waterbase.



Sebuah pesawat kecil dan seorang pria terlihat menunggu kedatangan mereka. Pesawat itu terlihat sama dengan pesawat pada umumnya. Aryn mengamati pesawat itu dengan jeli. Dave akhirnya menjelaskan jika pesawat itu adalah sea plane alias pesawat amfibi, digunakan di lautan. Frans mengarahkan mereka untuk melewati jembatan kecil yang mengantarkan mereka menuju sea plane, lalu mereka bertiga menaiki sea plane tadi. Dave memakai kaca mata hitamnya, begitu juga dengan Aryn.


"Tuan dan nona, perjalanan kali ini akan memakan waktu yang cukup lama," ucap Frans yang sekarang duduk di kursi belakang Aryn dan Dave.


Aryn menggeser duduknya beberapa kali untuk mendapatkan spot selfie yang pas. Dave hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Aryn. Ia juga pasrah ketika dipaksa Aryn untuk berpose.


"Aku tidak sabar melihat villa yang kamu siapkan!" lirih Aryn melirik Dave.


................


Uwuuuu, kira-kira bagaimana kelanjutan kebersamaan Aryn dan Dave ya?

__ADS_1


Stay tuned!


__ADS_2