Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
SARAPAN


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Keesokan harinya di mansion Dave,


Silvi baru saja selesai bersiap. Ponselnya berdering, kedua matanya langsung berbinar. Ia memasang bluetooth earphonesnya di telinga.


"Good morning," seru Silvi dengan ceria.


"Morning... By the way disini masih tengah malam hehehe!" sahut Reza.


Nampak di layar ponsel Silvi, Reza duduk bersandar di kepala ranjang dengan rambut yang berantakan. Kedua matanya masih tampak segar, seperti tidak mengantuk. Padahal di sana pasti masih tengah malam. Tidak ada angin tidak ada hujan, Reza menelpon Silvi sepagi ini. Silvi meletakkan ponselnya di meja. Ia bergegas memakai sepatunya.


"Diantar siapa?" tanya Reza.


"Biasa..." sahut Silvi.


"Jangan dekat-dekat ya! Jaga mata, bibir, tangan, kaki, dan hati! Ingat ada aku yang bekerja keras banting tulang banting harga demi masa depan kita!" ucap Reza.


"Banting harga? Kak Reza ada-ada aja ih!" sahut Silvi.


"Kamu ingat ini! Demi mendapatkan pasangan hidup yang bersedia menerima keadaanku seperti kamu ini, aku rela kerja banting tulang, banting harga. Bahkan jika perlu banting setir pun akan aku lakukan!" Reza tersenyum manis.


"Kak Reza habis makan apasih? Permen ya? Manis banget kata-katanya!" Silvi tersipu malu.


"Tadi sih aku makan salad dan telur mata kebo!" Reza terkekeh.


"Iiihhh..." Silvi terkekeh.


"Kak Reza nggak ngantuk?" tanya Silvi, sepatunya sudah terpasang rapi di kaki kirinya.


"Kamu itu seperti kafein untukku, candu dan membuat mataku semakin lebar untuk melihat senyuman manismu!" Reza terkekeh.


"Aku serius kak!" Silvi tersipu malu.


"Bagaimana gombalan onlineku? Aku baru saja menemukannya di blog terkenal!" Reza terkekeh.


"Iihh kukira karya sendiri, taunya cuma copy paste!" Silvi terkekeh.


Silvi menggendong tasnya, ia bersiap untuk turun dan sarapan. Tapi rasanya ia akan sarapan di sekolah saja. Jarang-jarang Reza menelponnya di pagi hari seperti ini. Akhirnya Silvi membawa ponselnya turun ke dapur. Sebelum ia sampai di meja makan, ia mengecek keadaan terlebih dahulu. Seperti dugaannya Dave dan Aryn sudah ada di meja makan. Walaupun Aryn sudah tidak masuk ke kampus karena perutnya besar, tapi mereka berdua selalu ada di meja makan lebih awal.


"Kak Reza jangan berisik ya, di meja makan ada Kak Dave," bisik Silvi.


Silvi menyembunyikan ponselnya di saku jaket yang ia pakai.


"Terus? Kamu kan pakai earphones," jawab Reza lemas.


"Oh iya, lupa hehehe," jawab Silvi.


Silvi mengatur napasnya, berusaha untuk bersikap biasa saja. Ia berjalan santai menuju meja makan.


"Selamat pagi!" sapanya pada Aryn dan Dave.


"Pagi, Silvi!" sahut Aryn.


"Ceria sekali kamu pagi ini? Mimpi apa semalam?" seru Dave.


"Ah masa? Biasa aja kok!" jawab Silvi.


"Silvi sarapan di sekolah saja ya kak, sudah terlambat ini!" sambung Silvi.

__ADS_1


"Jangan ngarang, ini masih pagi! Tukang kebun sekolahmu pasti belum selesai menyapu," sahut Dave.


"Benar itu, kamu minum susumu dulu!" perintah Aryn.


Kalau sudah Aryn yang memerintah, Silvi tidak akan berani menolak. Apalagi ada calon keponakannya di perut kakak iparnya itu. Silvi meminum susu yang telah disiapkan Ily. Sesekali ia mengecek ponselnya, apakah sambungan teleponnya terputus atau tidak. Ternyata Reza masih menunggunya.


"Wah pas banget, lagi sarapan!" seru Mei yang baru saja sampai.


"Dia lagi..." keluh Silvi.


"Ayo duduk dulu, sarapan bareng kita!" seru Aryn.


"Tidak usah disuruh nanti juga pasti ngambil nasi sendiri!" seru Dave menyindir.


"Benar itu!" Silvi menambahi.


"Kakak adik sama saja, selalu saja menyindirku!" Mei terkekeh.


"Sudah sudah, jangan ribut!" Aryn menengahi.


"Kenapa dia kesini, kak?" tanya Silvi pada Aryn.


"Dave memberikan hukuman untuk Zack dan Mei karena mengacaukan dapur, pantat kakakmu lebam gara-gara itu!" jawab Aryn terkekeh.


Ia teringat semalam ia harus mengelus pantat Dave karena suaminya itu merengek seperti anak kecil.


"Hukuman apa?" tanya Silvi.


"Membeli semua perlengkapan bayi plus menatanya di kamar bayi!" seru Dave penuh kebencian.


"Bagus kan hukumannya? Siapa tahu setelah ini mereka akan belanja untuk keperluan baby mereka sendiri," sahut Aryn.


"Seperti apa nanti baby mereka? Pasti super rusuh melebihi kedua orang tuanya!" Dave terkekeh.


Deg,


Mei menghentikan gerakan tangannya yang menyendok makanan. Jantungnya berdegup dengan kencang. Perkataan Zack baru saja membuat jantungnya hampir berhenti berdetak. Secara tidak langsung Zack ingin mempunyai baby dengannya. Apakah Zack menyukainya?


"Jangan mimpi lo!" sahut Dave.


"Silvi pamit dulu ya! Silahkan dilanjut lagi jika mau berdebat," Silvi menyambar roti lalu berlarian meninggalkan meja makan.


"Buru-buru sekali dia, sepertinya ada yang dia sembunyikan," ucap Dave.


"Silvi akan segera menghadapi ujian, Dave! Kelasnya pasti semakin padat," sahut Aryn, tangannya mengelus bahu Dave.


"Yeah," jawab Dave singkat.


"Harimau jantan ini kalau sudah dielus sama pawangnya langsung jadi kucing rumahan!" Zack terkekeh. Ia meletakkan bokongnya di kursi sebelah Mei.


"Bilang saja kau iri!" Dave mencibir.


"Aku tidak akan menjadi suami takut istri sepertimu! Mei yang akan patuh padaku!" Zack tertawa.


"Lihat saja nanti setelah menikah! Kau akan lebih parah dariku!" sahut Dave.


"Tidak akan," Zack menyombongkan diri.


Aryn hanya terkekeh mendengar obrolan kedua pria tampan itu. Ia mengakui bahwa Dave sekarang sangat menurut padanya. Di saat semua orang tertawa, Mei masih terdiam. Kedua pipinya merah seperti kepiting rebus. Ia bahkan menundukkan wajahnya.


"Ternyata dia bisa diam juga," seru Dave membuat Zack dan Aryn menoleh pada Mei.

__ADS_1


"Eh kamu kenapa, Mei?" tanya Aryn.


"Tidak apa-apa kok," jawab Mei lirih.


"Apakah makanannya terlalu pedas? Wajahmu sampai merah semua begitu, aku ambilin minum ya," Aryn menuangkan air mineral ke dalam gelas.


"Dia tidak kepedasan, sayang!" sahut Uti.


Seperti biasa Uti datang paling terakhir di meja makan. Setiap pagi Uti berjalan berkeliling manison untuk menjaga tubuhnya tetap bugar meskipun sudah berumur. Tadi Aryn dan Dave juga berjalan-jalan, tapi mereka pulang duluan. Perut Aryn yang besar membuat Dave tidak tega melihatnya berjalan. Saat Dave bekerja, Aryn akan berjalan berkeliling halaman belakang ditemani Sonya atau Uti. Aryn memimpikan untuk melakukan persalinan normal. Meskipun Dave menentangnya tapi Aryn tetap bertekad untuk persalinan normal.


"Tidak kepedasan bagaimana Uti? Wajahnya merah semua gitu!" Aryn menimpali.


"Wajahnya merah gara-gara Zack, sayang!" ucap Dave.


"Benar, kan?" tanya Dave pada Mei.


Zack menatap Mei yang duduk di sebelahnya. Tatapannya nampak begitu dalam. Gadis di sebelahnya itu akhir-akhir ini membuat jantungnya berdegup kencang tanpa alasan. Cukup hanya dengan berdekatan seperti ini jantungnya sudah memberikan reaksi di luar dugaan. Tapi ego Zack membuatnya hanya menganggap perasaannya tidak benar.


"Eh... tidak... tidak benar!" jawab Mei.


Deg,


Giliran Zack yang terdiam. Ia merasa kecewa dengan jawaban Mei. Mei tidak mengakui perasaannya. Apakah benar Mei sudah memutuskan untuk berpaling darinya? Kalau ia lihat dari tingkah Mei setiap harinya, sepertinya Mei masih menyukainya. Lihat saja Mei menjadi cuek dan tidak mempedulikan keberadaannya.


"Kalian ini kalau saling suka bilang saja, tidak usah gengsi-gengsinan!" ucap Uti.


"Biarkan saja Uti, nanti bucin sendiri!" sahut Dave terkekeh.


Mereka menikmati sarapan masing-masing. Dave dan Aryn tampak semakin mesra, saling menyuapi dan bercanda. Uti sesekali menggoda keduanya. Zack dan Mei hanya diam, walaupun duduk bersebelahan tidak ada yang berani memulai obrolan. Zack gengsi, dan Mei masih merasa canggung setelah kejadian tadi.


Mei terlihat berbeda hari ini. Tiba-tiba saja sendoknya terjatuh dari genggamannya. Semua orang melihat sejenak, tapi kemudian kembali fokus pada makanan masing-masing. Mei menunduk untuk mengambil sendoknya yang jatuh ke lantai. Secara refleks Zack menggunakan tangannya untuk menutup pinggiran meja. Tentu agar Mei tidak terluka.


"Pegang sendok saja bisa jatuh, dasar ceroboh!" ucap Zack. Tangannya masih memegangi pinggiran meja.


"Biarin!" sahut Mei singkat.


Kedua pipi Mei menjadi merah lagi saat melihat tangan Zack yang memegangi pinggiran meja. Kedua pipinya menjadi lebih merah dari tadi. Ia menundukkan wajahnya.


"Mampus! Mati gaya kan gua!" gumam Mei.


"Kenapa lagi itu pipi?" Zack terkekeh.


Dave, Aryn, dan Uti menoleh, memperhatikan keduanya. Lalu mereka tertawa bersama. Apalagi Dave, ia tertawa paling keras. Mei yang biasanya rusuh saat ini tertunduk malu dengan kedua pipi yang merah. Terlihat sangat lucu.


Mereka masih duduk di meja makan saat sarapan telah selesai. Dave berjongkok di depan Aryn karena Aryn sedang memakaikan jas dan dasinya. Sebenarnya Dave bisa memakainya sendiri, tapi ia lebih suka jika dipasangkan istrinya. Saat Aryn memakaikan dasi, Dave mengobrol ringan dengan babynya.


"Baik-baik di dalam sini ya, jagoan! Jangan merepotkan mommy dan Uti! Jagoan harus bisa menjaga mommy, love you!" ucap Dave.


"Love you too, daddy!" sahut Aryn menirukan suara anak kecil.


"Kenapa kalian masih di sini? Kurang sarapannya?" seru Dave melihat ke arah Zack dan Mei.


"Kalau dengan Aryn saja lembut begitu, sekali-kali berbicaralah lembut kepadaku juga!" sahut Zack.


"Cepat kau lakukan saja hukumanmu, atau mau aku tambah?" seru Dave.


"Okay okay!" sahut Zack.


"Ayo Mei!" Zack menggandeng tangan Mei, membawanya keluar dari mansion.


.................

__ADS_1


Maaf telat up lagi, doakan saja semua urusan author bisa selesai segera! Agar bisa eutin lagi updatenya ya! Aamiin!


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian! Terima kasih author ucapkan untuk readers yang setia mampir!


__ADS_2