Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
GURU DAN MURID


__ADS_3

WARNING:


SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.


HAPPY READING 😘


..........................


Aryn melongo mendengar jawaban Dave. Apakah kepala Dave kemasukan air? Atau tadi tertimpa kelapa? Dave tiba-tiba menjadi lembut dan perhatian kepadanya. Tapi tetap saja Aryn merasa bingung dan kesal. Karena kadang-kadang Dave juga kasar.


Cup,


Dave langsung berjalan masuk ke dalam ruangan tadi meninggalkan Aryn yang masih melongo.


"Dave!" seru Aryn, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Raut wajah Dave munujukkan bahwa ia sedang malu sekarang. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bodoh! Bibir ini kenapa tidak bisa kukendalikan sih! Main nyosor aja, kalau begini jadi malu sendiri! Jantung ini juga, rasanya udah mau pindah ke perut!" gumam Dave memaki dirinya sendiri.


Ia masih bisa merasakan manisnya bibir Aryn. Dan kini ia terus menampilkan senyum di wajah kakunya. Hingga membuat Reza risih melihatnya.


"Lo sehat, Dave?" tanya Reza.


Reza menempelkan punggung tangannya pada dahi Dave lalu ia menempelkan punggung tangannya itu pada ketiak kanannya.


"Sama hangatnya! Tapi kok..." ucap Reza yang langsung dipotong Dave.


"Brengs*k lo!" ucap Dave saat menoyor kepala Reza.


"Salah sendiri lo senyum-senyum sendiri seperti itu! Siapa yang ada di depan tadi? Jangan-jangan setan ya, terus lo kesambet!" seru Reza.


"Sialan lo!" umpat Dave.


Belum sempat Aryn mengejar Dave, Ken dan beberapa anak buahnya keluar membawa kantong plastik yang berisi mayat. Aryn bergegas untuk berlari ke luar, ia hampir menabrak Samuel dan Zack yang akan masuk ke dalam.


"Maaf," seru Aryn.


Samuel dan Zack saling menatap, mereka berdua sangat terkejut. Aryn baru saja keluar dari ruang eksekusi milik Dave, Oh God! Samuel dan Zack berlarian masuk ke dalam ruangan itu. Untung saja saat mereka berdua masuk ruangan itu sudah bersih dari darah. Mayat si tikus dan si gajah pun sudah dibereskan.


"Dave!" seru Zack.


"Baru aja kita tabrakan sama Aryn, dia baru aja keluar dari sini bro!" seru Samuel.


"Udah tahu!" jawab Dave singkat.

__ADS_1


Reza terdiam, berarti Dave baru saja bertemu dengan Aryn di depan. Apa Dave yang senyum-senyum sendiri ada hubungannya dengan Aryn? Apa yang mereka lakukan tadi? Reza memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan obrolan mereka.


"Berarti dia tahu isi ruangan ini dong?" sahut Zack.


"Iya," jawab Dave.


"Lo gimana sih, Dave? Setelah ini lo bakalan lebih susah mikat hatinya, dia bakalan lebih takut dan benci sama lo!" protes Zack.


"Terus gua harus gimana? Dia udah terlanjur lihat!" seru Dave, ia mengelap tangannya yang berlumuran darah menggunakan sapu tangannya.


Samuel dan Zack menutup hidung sekaligus mengalihkan pandangan mereka. Mereka berusaha mati-matian menahan rasa gejolak di perut masing-masing. Apalagi setelah mereka sadar pakaian Dave maupun Reza berlumuran darah saat ini. Karena kasihan melihat Samuel dan Zack, Reza melepaskan kemeja yang ia pakai hingga menyisakan kaos putih tipis. Sementara Dave, ia cuek bebek.


"Aduh... Lo kejar dia sekarang!" seru Zack tanpa menoleh ke arah Dave.


"Ngapain?" tanya Dave.


Zack menepuk dahinya sendiri, tapi ia smaa sekali tidak melihat Dave.


"Lo jelasin ke dia lah!" seru Zack dengan kesal.


"Udah tadi," jawab Dave dengan enteng.


Zack menghela napas lega, ternyata muridnya yang satu ini tahu apa yang harus dilakukan.


"Awalnya dia takut sama gua tapi dia nggak nolak tuh pas gua ci..." Dave menghentikan ucapannya, hampir saja ia mengatakan tentang kejadian tadi.


Zack, Samuel, dan Dave serempak menatap Reza dengan tatapan tajam. Lalu Zack mengalihkan tatapannya pada Dave.


"Bukan apa-apa!" seru Dave berbohong.


Dave berusaha menyembunyikan kebohongannya dengan melepaskan kemejanya yang penuh dengan darah, menyisakan sebuah kaos hitam polos. Ia buang kemejanya sembarang arah.


"Gua pikir-pikir sudah waktunya lo naik ke level selanjutnya!" seru Zack.


"Level?" sahut Samuel dan Reza serempak.


"Ini urusan guru dengan murid!" Ucap Zack menatap tajam Samuel dan Reza.


"Guru dan murid?" sahut Samuel dan Reza serempak.


Dave menghembuskan napasnya dengan kasar, harga dirinya sebagai pria most wanted di negeri ini amblas seketika.


"Iya, guru dan murid dalam projek memikat hati istri!" jawab Zack dengan lirih.


Samuel dan Reza saling memandang, lalu tertawa bersama dengan keras.


"Whuahahaha... Pria most wanted dan sering bergonta-ganti wanita di negeri ini sampai berguru untuk memikat hati istrinya? Astaga Dave! Apakah keahlian lo memikat wanita sudah menurun? Apakah jiwa fakeboy mu luntur?" ucap Samuel mencibir Dave.

__ADS_1


"Gua kan gonta-ganti wanita karena mereka yang terpikat, nggak kayak lo yang harus memikat untuk mendapat wanita! So, gua nggak tahu cara jitu memikat hati para wanita!" jawab Dave.


"Sialan lo!" seru Samuel.


"Rasain lo, Sam!" Zack terkekeh.


Samuel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Seharusnya lo itu berbagi ilmu sama gua, kayak Zack!" seru Dave.


"Lo belajar sama Zack aja! Dia lebih pro!" seru Samuel.


Zack tersenyum berbangga diri sambil menepuk dadanya sendiri.


"Mulai hari ini lo harus lebih perhatian sama istri lo!" seru Zack yang menepuk bahu Dave.


"Contohnya?" tanya Dave.


"Dimulai dari hal-hal kecil dulu Dave, ucapin selamat pagi dan berikan morning kiss! Sering-seringlah menelpon dari kantor walaupun hanya sekedar menanyakan apakah dia sudah makan atau belum! Wanita akan luluh dengan perhatian yang kita berikan, percayalah!" ucap Zack sambil menatap lurus ke depan.


"Yang jadi masalah, sekarang dia itu benci sama gua! Selalu menghindar, tidak pernah mengobrol! Mungkin karena baginya pernikahan ini hanya kontrak dan akan berakhir, ditambah lagi masalah Elsa dan sikap kasarku!" sahut Dave dengan nada sendu.


"Gua pengen tahu, Dave! Sejauh ini apakah lo udah bisa lupain Elsa? Jawab jujur, Dave!" tanya Samuel.


"Jujur, gua udah mulai lupa! Tapi ya begitulah, yang namanya first love, ada aja barang yang masih bikin gua inget dia!" jawab Dave.


"Bukannya lo udah buang ya, Dave?" tanya Reza.


"Iya, bener! Gua udah buang barang dan foto Elsa, tapi masih ada beberapa barang di kamar gua yang lupa dibuang!" Dave menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lo harus buang semua Dave! Kemarin lo buang di mana?" tanya Zack.


"Gudang," jawab Dave singkat.


"Oke, gua paham! Mulai hari ini lo lakuin seperti saran gua tadi, berikan perhatian kepadanya untuk hal kecil sekalipun! Terus besok lo bakar semua barang Elsa di hadapan Aryn! Lo harus buat Aryn yakin kalau lo sedang berusaha melupakan Elsa itu! Dan inget, Dave! Buang jauh-jauh sikap kasar lo! Setelah itu gua yakin Aryn bakalan luluh!" seru Zack bersemangat.


"Thanks, bro! Lo emang ahlinya semua ahli percintaan!" seru Dave.


"Dia spesialis perselingkuhan juga, Dave! Gua sedang berguru dengan dia!" sahut Samuel terkekeh.


"Enak aja, lo! Beresin dulu jal*ng itu!" Dave menoyor kepala Samuel.


"Dijamin bakalan beres, Dave! Tunggu tanggal mainnya aja!" jawab Samuel dengan enteng.


Pukul 2 pagi mereka baru meninggalkan ruang bawah tanah itu. Dave bergegas menuju kamarnya. Samuel dan Zack pulang menggunakan mobil Zack, keadaan Samuel yang babak belur tidak memungkinkan untuk menyetir sendiri. Reza menginap di mansion Dave, karena jika ia pulang maminya akan memberikan 1000 pertanyaan. Sementara Ken, ia harus mengurus kedua mayat tadi terlebih dahulu baru bisa pulang.


......................

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All!


__ADS_2