Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
JANGAN PAKAI SABUN


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Tangan Dave tidak pernah melepaskan tangan Aryn walaupun hanya satu detik saja. Sesekali ia juga mengecup lembut pucuk kepala istrinya yang tengah terlelap di bahunya. Aryn terlihat sangat lelap walaupun masih menggunakan masker yang berlapis-lapis. Padahal mereka baru sepuluh menit berada di dalam mobil.


Dave teringat ucapan Dokter Dessy saat mengantarnya keluar dari ruangan tadi. Wanita hamil akan mengalami perubahan hormonal dan emosional. Mungkin sering tidur adalah salah satunya. Karena tidak ingin melewatkan sedikitpun informasi mengenai kehamilan, Dave mencoba membuka artikel-artikel dengan ponselnya. Ia tampak sangat serius membaca satu per satu artikel mengenai kehamilan itu hingga tidak sadar kalau mereka telah tiba di mansion.


"Silahkan, tuan! Kita sudah sampai," ucap Frans ramah saat membuka pintu mobil untuk Dave.


Dave tidak menjawab. Ia bergegas membopong Aryn dan membawanya turun dari mobil. Tampak Reza dan Silvi yang sedang bertengkar tiba-tiba terdiam menatap Dave saat Dave sudah sampai di depan pintu lift.


"Kak Aryn kenapa?" tanya Silvi.


Pada waktu Dave dan Aryn pergi tadi Silvi dan Reza berada di kebun, jadi mereka tidak tahu kalau Dave dan Aryn baru pulang dari rumah sakit bertemu dokter kandungan.


"Dia baik-baik saja," jawab Dave.


"Lalu kenapa Kak Aryn pingsan?" tanya Silvi lagi.


"Dia tidur bukan pingsan," jawab Dave terkekeh.


Dave terkekeh sambil terus memandangi Aryn, memang kalau dilihat, Aryn seperti orang pingsan. Tidurnya sangat nyenyak, saat ia gendongpun Aryn tidak terbangun.


"Terus kalian dari mana?" tanya Silvi lagi.


"Dokter kandungan," jawab Dave dengan senyum yang mengembang.


"Dokter kandungan? OMG! Kak Aryn hamil? Benarkah kak?" sahut Silvi antusias.


"Iya," jawab Dave singkat.


"Terus, kembar atau enggak kak?" tanya Silvi.


"Sudah minggir tanganku pegal ini!" seru Dave kesal.


Dave bergegas masuk ke dalam lift meninggalkan Silvi yang tampak kesal. Bibir Silvi mengerucut karena kesal. Ia sangat penasaran dengan calon keponakannya. Berbeda dengan Silvi, Reza justru sangat murung.


"Akhirnya saat ini datang juga, aku benar-benar sudah tidak harapan lagi untuk bersamu," gumam Reza.


Dada Reza terasa sesak, telinganya terasa panas setelah mendengar kabar kehamilan Aryn. Sebenarnya ia sangat ingin untuk bisa melupakan Aryn dan menghapus nmaamnya dari hati dan pikirannya. Tapi sekeras apapun ia berusaha ia justru semakin memendam perasaan yang dalam untuk Aryn.


Di kamar Dave,


Dave merebahkan tubuh Aryn dengan hati-hati. Sekarang ada calon anaknya yang ada di dalam perut istrinya itu yang harus ia jaga. Ia tampak menghela napas, tubuh Aryn ternyata lebih berat dari bulan lalu. Dave melepas sepatu dan jam tangannya. Tak lupa ia melepaskan sepatu yang dikenakan Aryn, dengan hati-hati ia juga melepas masker yang digunakan Aryn. Lalu ia memberanikan diri ikut berbaring di samping istrinya. Beruntung Aryn tidak terusik, ternyata jika sedang tidur ia bisa berdekatan dengan istrinya. Dave mengelus lembut perut Aryn yang masih terlihat rata itu.


"Papa sangat bahagia atas kehadiranmu di tengah-tengah papa dan mama, baik-baik di dalam sini ya? Jangan membuat mamamu susah ya sayang, papa sangat menyayangimu!" lirih Dave saat mengelus perut Aryn.


Hening,


Dave kini membuka lagi ponselnya. Ia membuka beberapa artikel kehamilan yang sempat ia baca di mobil tadi. Di salah satu artikelnya, ia membaca salah satu hal yang dialami wanita hamil adalah mengidam. Artikel itu menyebutkan bahwa banyak orang yang mengatakan jika seorang wanita hamil mengidam atau menginginkan sesuatu tapi tidak dipenuhi, maka anaknya kelak akan ileran.


Dave menggigit jarinya, Aryn tadi sempat menginginkan rambut peri. Dan ia tidak bisa mendapatkannya, apakah kelak anaknya akan ileran. Tidak tidak! Dave tidak akan tega jika kelak anaknya ileran. Ia harus bisa mendapatkan rambut peri itu. Segera ia mengambil ponselnya. Sialnya Dave baru ingat jika Ken sedang memeriksa suntikan yang ditemukan Mira tadi bersama Zack. Akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan singkat untuk Frans.

__ADS_1


Baru saja ia meletakkan kembali ponselnya di nakas, Aryn tiba-tiba terduduk. Wajahnya pucat dengan kedua matanya yang tampak basah.


"Ada apa sayang?" tanya Dave panik.


Tidak ada jawaban dari Aryn. Aryn hanya terdiam dengan air mata yang mengalir di pipinya.


"Apakah kamu sakit?" tanya Dave lagi yang mengguncangkan bahu Aryn.


"Aku bermimpi bertemu dengan ayah, Dave! Aku merindukannya," lirih Aryn.


Mendengar jawaban Aryn, Dave paham. Ia langsung menarik Aryn ke dalam pelukannya. Ia usap lembut pucuk kepala Aryn untuk menenangkannya.


"Apakah aku boleh mengunjungi makam ayah? Aku sangat merindukannya," lirih Aryn.


"Sayang.... aku takut kesehatanmu dan anak kita terganggu, menurut artikel yang aku baca tadi, di usia kehamilan yang masih muda tidak boleh melakukan perjalanan jarak jauh terlebih dahulu. Tapi kalau kamu sangat menginginkannya, aku akan menanyakannya pada Dokter Dessy bila perlu aku akan mengajaknya untuk mendampingimu selama perjalanan," jawab Dave dengan lemah lembut.


Aryn terdiam, ia menunduk menatap perutnya yang masih rata. Ucapan Dave benar, perjalanan jauh tidak bagus untuk anak mereka. Bagaimana bisa ia mengabaikan keselamatan anak yang baru tiga minggu tumbuh dalam rahimnya.


"Tidak usah, Dave! Kita akan ke sana setelah anak kita lahir, aku tidak ingin membahayakannya," sahut Aryn.


"Keputusan yang tepat! Kamu tidak merasa mual sayang?" tanya Dave.


"Tidak," jawab Aryn singkat, wajahnya terlihat sudah tidak sedih lagi.


"Sungguh?" tanya Dave.


"Aku bahkan ingin berlama-lama mencium bau tubuhmu Dave!" jawab Aryn yang sudah menelusupkan kepalanya ke dada Dave.


"Padahal kamu sedang tidak memakai masker, apakah sekarang sudah tidak mual lagi jika bersamaku?" sahut Dave membuat Aryn langsung melepaskan pelukannya.


"Aku melepasnya saat kamu tidur tadi, aku tidak tega melihat nafasmu sesak karena masker itu! Kenapa bertanya seperti itu? Apakah kamu tidak senang?" jawab Dave sedikit kecewa.


"Bukan begitu, aku hanya ingin memastikan apakah aku benar-benar sudah tidak mual lagi jika berdekatan denganmu? Humm... sepertinya aku memang sudah sembuh. Tidak perlu menunggu sampai trimester pertama selesai. Bau badanmu sekarang sangat harum, aku sangat suka menciumnya" ucap Aryn yang menelusupkan kepalanya lagi ke dada Dave.


Dave bingung ia harus bersyukur atau kesal. Ia senang Aryn sudah tidak mual lagi. Tapi ia sedikit kesal mendengar Aryn mengatakan jika bau badannya sekarang harum. Padahal seluruh badannya terasa lengket karena keringat. Aryn sedang memuji atau meledeknya.


"Sayang, kamu meledekku ya? Terakhir kali aku mandi itu pagi tadi sebelum acara. Setelah itu aku berlarian karena kebakaran, ditambah lagi berkeliling kota mencari pesananmu! Jelas bau badanku sekarang tidak enak, masam!" keluh Dave.


"Tidak sayang, ini sangat harum!" elak Aryn, membuat Dave membelalakan matanya.


"Jangan-jangan kamu sudah tidak mual karena bau badanku yang masam seperti ini?" seru Dave.


"Entah," jawab Aryn.


"Untuk bisa bersamamu seperti ini apakah aku harus melewatkan jadwal mandiku?" keluh Dave.


"Aku tidak tahu," jawab Aryn.


Dave lalu mengusap perut Aryn, "Kamu sungguh tidak adil, baby!" ucapnya. Aryn hanya terkekeh melihat tingkah Dave yang seperti anak kecil.


"Kamu ini lucu sekali," ucap Aryn yang mentoel hidung Dave.


"Aku mandi ya sayang?" sahut Dave mengalihkan pembicaraan, ia merasa tidak nyaman karena badannya yang lengket.

__ADS_1


"Tidak boleh, kalau kamu mandi pasti aku akan mual jika mencium badanmu!" jawab Aryn.


"Tapi aku merasa tidak nyaman, sayang! Biasanya aku mandi berkali-kali dalam sehari, kamu tahu itu!" protes Dave.


"Baiklah, kamu boleh mandi tapi jangan pakai sabun!" seru Aryn.


"Bagaimana bisa mandi tanpa sabun?" tukas Dave.


"Bisa sayang! Jadi hanya gunakan air saja untuk membersihkan tubuhmu yang katanya lengket itu," jawab Aryn enteng.


"Baiklah," jawab Dave singkat. Ia tidak ingin berdebat hanya karena sabun. Ia kan bisa menggunakannya sedikit tanpa sepegetahuan Aryn hehehe.


Dave bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Aryn, ia menyibukkan dirinya dengan membaca beberapa novel online melalui ponselnya. Karena ia dilarang keras untuk bermain sosial media, jadi ia mensiasati kebosanannya dengan mendownload novel online.


Tiga puluh menit kemudian, Aryn sangat asik dengan novelnya hingga tidak menyadari Dave sudah selesai mandi dan sekarang sudah berdiri di samping ranjang.


"Ehem,"


Aryn langsung menoleh. Sudah berkali-kali ia melihat tubuh milik Dave, tapi selalu saja ia terpesona saat melihatnya. Terutama perut kotak-kotak milik suaminya. Terlihat menggoda seperti roti sobek rasa cokelat.


"Ehem," lirih Dave lagi membuat Aryn tersadar dari lamunannya.


"Coba mendekatlah!" perintah Dave.


Jantung Aryn berdebar tidak karuan, ia turun dari ranjang dan mendekati Dave. Tiba-tiba Dave menarik Aryn ke dalam pelukannya.


"Kamu tidak mual, bukan?" tanya Dave.


Aryn tidak menjawab pertanyaan Dave. Ia berkaria menuju kamar mandi. Dan itu cukup menjadi jawaban yang sangat jelas untuk pertanyaan Dave. Aryn mengeluarkan smeua isi perutnya di kamar mandi.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" seru Dave dari luar kamar mandi.


Walaupun kamar mandinya tidak ditutup, ia tidak berani masuk. Dave bingung harus melakukan apa, kalau ia mendekati Aryn tentu Aryn akan marah karena bau badannya. Tapi kalau ia tidak mendekati Aryn, Aryn juga akan marah karena ia tidka peduli.


"Kamu tunggu di luar saja!" seru Aryn.


Akhirnya Dave menunggu di samping pintu.


"Kalau sebelum tidur kamu tidak usah mandi saja, Dave!" ucap Aryn.


"Baiklah baiklah! Apapun akan aku lakukan untukmu sayang!" jawab Dave.


"Apakah sekarang kamu menginginkan sesuatu sayang? Di artikel yang aku baca tadi katanya wanita hamil akan mengidam," ucap Dave mencoba mengalihkan perhatian, agar Aryn tidak terlalu kesal.


"Aku ingin makan rambut peri di bawah pohon mangga Silvi," lirih Aryn membuat Dave menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Kalau sekarang aku belum bisa memenuhinya, tapi lusa setelah pulang dari kampus kamu akan mendapatkannya, apakah dia bisa menunggu?" jawab Dave sambil mengusap perut Aryn.


"Tidak apa-apa, daddy! Aku akan menunggu," jawab Aryn yang menirukan suara anak kecil.


"Pintar anak daddy," ucap Dave terkekeh.


.............

__ADS_1


Stay tuned ya!


__ADS_2