
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Aryn merasakan hawa mencengkam di sekitarnya. Suaminya itu terlihat sedang marah, sejak tadi dia tidak mengajaknya mengobrol. Tidak seperti biasanya. Aryn menyadari jika ia salah dalam masalah ini. Seharusnya ia tadi meminta izin dari Dave terlebih dahulu, tidak asal pergi saja. Apalagi ponselnya dalam mode silent.
"Sayang, kamu marah?" lirih Aryn.
"Hemm," sahut Dave. Tampak Dave sedang mengeluarkan kulit jeruk yang ia bawa tadi, ia menghirup aromanya dalam-dalam lalu memasukkannya lagi ke dalam saku. Sebenarnya bisa saja Dave membeli parfum jeruk, tapi ia lebih suka mencium aroma jeruk dari kulitnya. Terdengar aneh, tapi itu kebiasaannya akhir-akhir ini.
"Sayang, maafkan aku!" seru Aryn, ia memeluk erat lengan suaminya.
"Hemm," jawab Dave cuek.
Aryn memutar otaknya, Dave sangat marah saat ini. Bagaimana caranya agar Dave mau bicara kepadanya lagi?
"Sayang, jangan marah-marah nanti cepat tua!" rayu Aryn.
"Kamu mau meledekku? Tahun depan usiaku sudah kepala tiga," sahut Dave kesal.
"Tidak, sayang! Aku mana berani meledekmu," jawab Aryn.
"Hemm," sahut Dave lagi.
"Jangan marah ondel-ondelku," ucap Aryn yang mencubit kedua pipi Dave gemas.
"Hemm," jawab Dave.
Aduh salah lagi, batin Aryn. Dulu Dave memang sering marah kepadanya, kasar malah. Tapi setelah dia menyadari perasaannya, Dave jarang marah bahkan hampir tidak pernah. Ada rasa takut di dalam hati Aryn. Biasanya amarah Dave akan mereda jika Aryn panggil dengan panggilan ondel-ondel.
"Sayang, jangan mendiamkanku! Kamu boleh mengomel, membentak, ataupun memarahiku, tapi jangan pernah mendiamkanku seperti ini!" lirih Aryn dengan sendu.
Aryn menunduk lesu, ia tampak sedih. Dave sedikit melirik ke arahnya. Dave menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia tidak tega melihat istri kesayangannya sedih seperti ini. Tangan kekarnya meraih bahu milik istrinya yang mulai bergetar. Istrinya menangis.
"Jangan diulangi lagi ya? Aku sangat mengkhawatirkanmu dan baby kita!" ucap Dave lirih saat mencium pucuk kepala Aryn.
Aryn menyusup ke dalam dada bidang suaminya. Ia menangis sejadi-jadinya. Dave lagi-lagi menghela napasnya. Kesabarannya benar-benar diuji di masa kehamilan Aryn saat ini. Dengan sabar, ia menenangkan istrinya yang sekarang menjadi cengeng itu.
"Sudah, jangan nangis lagi kasihan baby kita nanti ikut sedih! Yang penting jangan seperti tadi lagi, aku hampir gila karena mengkhawatirkanmu!" ucap Dave dengan lembut. Aryn mengangguk, dengan cepat ia menghapus air matanya. Dave benar, kalau ia menangis ataupun sedih akan berpengaruh pada baby mereka.
Hening,
Aryn bersandar pada bahu Dave, dan memainkan perut kotak-kotak suaminya yang dibalut kaos santai. Dave hanya diam menerima perlakuan dari istrinya. Sementara Frans, ia hanya bisa menggigit jari saat tidak sengaja melihat pemandangan itu dari kaca spion.
"Sayang, kamu tidak lupa kan?" tanya Aryn memecah keheningan mobil.
"Tidak, sayang! Semuanya sudah siap dan menunggumu di mansion!" Dave mentoel hidung Aryn dengan gemas.
"Terima kasih," seru Aryn girang.
Aryn tersenyum lebar membayangkan memakan rambut peri di bawah pohon mangga Silvi nanti. Pasti rasanya enak sekali.
"Astaga!" seru Aryn membuat Dave terkejut.
"Ada apa?" tanya Dave sedikit panik.
"Dave, aku melupakan sesuatu!" seru Aryn.
"Barangmu ada yang tertinggal di kelas? Nanti akan aku suruh orang untuk mengambilnya," sahut Dave.
"Bukan," jawab Aryn.
"Lalu apa sayang?" tanya Dave.
"Aku belum membayar makananku tadi, kasihan Mei! Baru saja beberapa jam lalu menjadi sahabatku tapi sudah aku habiskan uang jajannya," jawab Aryn.
"Hanya itu? Besok aku ganti uang jajannya tiga kali lipat, sudah jangan dipikirkan sayang! Menurut artikel yang aku baca, wanita hamil tidak boleh banyak pikiran!" sahut Dave.
"Siap daddy!" seru Aryn.
Dave memeluk istrinya itu dengan erat. Walaupun ia sedang berpikir habis-habisan untuk menyelesaikan masalahnya satu per satu tapi semua masalahnya terasa langsung sirna saat ia memeluk istrinya. Sebesar apapun masalahnya sekarang, Dave akan menyembunyikannya dari Aryn. Ia tidak ingin kesehatan Aryn dan babynya terganggu.
__ADS_1
Jalanan tidak terlalu padat siang ini. Tidak terasa mobil mereka sudah memasuki area kebun, dan masuk ke dalam gerbang tinggi yang terbuka secara otomatis. Frans bergegas turun membukakan pintu untuk Dave. Lalu Dave berjalan memutar belakang mobil untuk membukakan pintu Aryn. Aryn terlihat sangat antusias.
Dave menggandeng tangan Aryn dengan erat, menuntunnya masuk ke dalam mansion. Tidak seperti biasanya, lampu sengaja dimatikan. Semua korden pun ditutup. Aryn semakin mengeratkan gandengannya, karena semuanya gelap dan tidak jelas. Jantungnya berdegup kencang.
Tak tak tak,
Dave mengetuk meja di sampingnya dengan keras. Semua lampu langsung menyala dengan terang, tapi korden tetap ditutup. Terlihat sebuah gerobak khas penjual rambut peri lengkap dengan rambut peri. Rambut peri itu dibungkus menggunakan plastik yang panjang dan digantung di semua sisi gerobak. Aryn menatapnya tidak percaya. Kemudian ia memeluk suaminya dengan erat.
"Terima kasih sayang," ucapnya.
"Berterimakasihlah pada orang yang telah membawa semua ini kemari khusus untukmu dan baby kita," jawab Dave.
"Siapa? Jadi bukan kamu yang menyiapkannya?" sahut Aryn.
"Nanti kamu tahu jawabannya, lihat dulu siapa yang membawanya!" jawab Dave.
Dari belakang gerobak itu, muncul seorang wanita paruh baya. Kedua tangannya ia rentangkan lebar-lebar. Aryn menatap Dave sekilas. Lalu ia berlari menghambur ke dalam pelukan wanita itu. Dia adalah Intan Permana, ibu kadung dari ayahnya. Aryn memanggilnya dengan sebutan Uti.
"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Uti.
"Sangat baik, Uti! Uti bagaimana kabarnya? Kapan Uti datang?" tanya Aryn.
"Kabar Uti sangat baik apalagi saat mendapat kabar jika ada cicit Uti di dalam perutmu!" jawab Uti terkekeh.
Dave tersenyum bahagia melihat istrinya bahagia bertemu dengan Utinya. Di masa kehamilannya Aryn membutuhkan semangat dan perhatian dari keluarganya. Dave sebenarnya sudah memberitahu kehamilan Aryn kepada mama dan papanya, tapi mereka seperti tidak peduli. Seharusnya Aryn dan babynya mendapat perhatian dari kedua orangtuanya. Kemudian Dave memutuskan untuk memboyong Uti Aryn untuk tinggal di mansionnya.
"Apakah Dave yang meminta Uti untuk membawa semua ini kemari?" tanya Aryn penasaran.
"Tidak sayang, orang suruhannya yang membelinya saat menjemputku. Setelah itu suamimu menelpon Uti, meminta Uti untuk menemanimu di sini! Gerobak itu dibuat di sini, rambut perinya juga! Mereka hanya membeli bahan dan membeli resep dari pedagang rambut peri depan sekolahmu dulu! Pelayan di mansion ini sangat pandai, aku sudah mencicipinya tadi, rasanya bisa sama persis!" jawab Uti.
"Benarkah Uti? Rasanya sama persis dengan rambut peri yang dijual di depan sekolah Aryn dulu?" tanya Aryn dengan antusias.
"Benar, sayang!" jawab Uti.
Aryn langsung berjalan cepat menghampiri gerobak rambut peri itu. Ia mengambil satu bungkus rambut peri. Aryn melahap rambut peri itu. Kedua mata Aryn melotot, rasanya memang sama persis.
"Katanya pengen makan rambut peri di bawah pohon mangga Silvi?" tanya Dave, ia mengelus pucuk kepala Aryn.
"Aku hanya mencicipinya sedikit Dave," Aryn meringis, menampilkan deretan giginya.
"Senang sekali, terima kasih daddy!" Aryn memeluk erat suaminya.
Aryn merasa sangat bahagia hari ini. Ia bisa bertemu dengan Uti yang ia rindukan bertepatan di hari pertamanya masuk kuliah. Aryn merasa menjadi wanita yang paling dicintai suaminya hari ini. Suaminya telah memberikan kejutan di luar dugaannya.
"Pelukannya disambung nanti lagi, ayo makan siang dulu!" seru Uti.
Dave menggaruk lehernya yang tidak gatal. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan Uti, karena Uti menggunakan bahasa dari negaranya. Aryn terkekeh melihat suaminya. Aryn pun menerjemahkan ucapan Utinya kepada Dave.
"Tangkap!" seru Dave saat melempar kunci mobil Aryn kepada Frans.
Hap,
"Sesuai ucapanku tadi, mobil ini milikmu sekarang! Jangan lupa jemput Silvi, mulai sekarang aku juga mempercayakan Silvi padamu!" seru Dave.
"Terima kasih, tuan!" seru Frans senang. Siapa juga yang tidak senang mendapatkan mobil mewah.
Aryn tidak protes ataupun bertanya pada Dave. Ia tahu Dave pasti sudah memikirkan keputusannya. Lagipula, masih ada banyak mobil di dlam garasi. Lalu mereka berjalan bersama menuju meja makan untuk menyantap makan siang yang dibuat Uti. Uti memang sangat suka memasak.
Di sekolah Silvi,
Jadwal pulang sekolah Silvi masih sekitar dua puluh menit lagi, tapi Reza sudah stand by di depan gerbang sekolah Silvi. Setelah menyelesaikan urusannya dengan maminya, ia memutuskan untuk menjemput Silvi. Ia bersandar di samping badan mobil sportnya dengan memakai kacamata hitamnya. Tatapan Reza lurus menatap tajam arah kelas Silvi. Kali ini ia harus menang dari sopir itu. 10 menit kemudian mobil Aryn yang dikemudikan Frans berhenti tepat di samping mobil Reza. Dave mengizinkan Frans untuk menggantikan sopir Silvi yang sebelumnya. Jadi Frans akan mengantar jemput Aryn maupun Silvi setiap hari.
Frans turun dari mobil dengan gaya coolnya. Walaupun ia hanya seorang sopir sekaligus pengawal, tapi penampilannya tidak kalah keren dengan Reza. Frans kini juga bersandar di badan Range Rover 3.0 LWB yang kini menjadi miliknya.
"Selamat siang, Tuan Reza!" sapa Frans ramah.
"Beraninya lo pakai mobil milik istri bos lo! Kalau mau saingan sama gua, modal lah!" seru Reza kesal.
"Tuan Dave memberikan mobil Nona Aryn kepada saya, beliau juga memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengantar jemput Nona Silvi!" jawab Frans dengan sombong.
__ADS_1
"Atas dasar apa Dave memberikan mobil ini? Ini bukan mobil murah, tidak mungkin dia memberikannya cuma-cuma!" seru Reza.
"Saya membantu Tuan Dave untuk memberikan kejutan pada Nona Aryn," jawab Frans.
"Cih, lo jangan merasa bisa menyaingi gua hanya karena Dave percaya sama lo, dan inget mobil ini nggak ada apa-apanya dibanding mobil gua!" seru Reza sombong, ia menunjuk-nunjuk Ferarri GTC4Lusso miliknya.
Di saat mereka berdua berdebat sengit, semua siswa dan siswi di sekolah Silvi berhamburan keluar. Sudah waktunya pulang sekolah.
"Selesai belum berantemnya?" seru Silvi.
"Belum!" seru Frans dan Reza serempak.
"Ya sudah, lanjutkan!" sahut Silvi.
Frans dan Reza terdiam, mereka baru sadar dengan siapa mereka bicara tadi. Mereka pun menoleh secara bersamaan, "Silvi!" seru mereka kompak.
"Sudah belum berantemnya, Silvi laper mau cepet-cepet pulang!" seru Silvi.
"Ayo kita pulang!" seru Frans dan Reza serempak.
"Lo kenapa sih ngikutin gua terus! Bersaing secara sehat dong!" seru Reza kesal.
"Tuan Reza yang ngikutin saya!" protes Frans.
Perdebatan kedua pria tampan itu rupanya menarik perhatian teman-teman sekolah Silvi, terutama para ABG genit. Mereka terpesona dengan ketampanan Frans dan Reza. Tapi ternyata musuh Silvi juga menonton. Salah satunya ternyata yang bertengkar dengan Silvi pagi tadi.
"Cantik sih, tapi seleranya om om!" ledek gadis itu.
"Diam kau!" seru Silvi penuh amarah.
"Kenapa lo marah? Kenyataannya seperti itu kok!" sahut gadis itu.
"Kau tidak ingat ucapanku pagi tadi?" tanya Silvi.
Gadis itu langsung terdiam, wajahnya terlihat pucat. Sepertinya gadis itu ingat apa ancaman Silvi pagi tadi.
"Bella! Lo kenapa" seru teman dari gadis itu.
"Tidak apa-apa kok, sopir gua udah jemput! Gua duluan ya!" seru gadis yang bernama Bella itu dengan terburu-buru.
"Namanya Bella," batin Silvi.
Bella berlarian menuju mobil yang tidak jauh dari lokasi Silvi tadi. Dia sempat menoleh, Silvi menunjukkan sebuah ranting kayu yang cukup besar yang ia genggam. Lalu 'klek', ranting itu ia patahkan dnegan mudah walaupun hanya menggunakan tangan kirinya. Silvi juga menampakkan senyum seringainya.
Bruk,
Bella jatuh tersungkur di parit depan sekolahnya. Beruntung parit itu ditutup dengan beton, jadi Bella tidak sampai jatuh masuk ke dalam parit. Dia buru-buru merapihkan seragamnya, lalu segera masuk ke dalam mobilnya. Teman-teman satu geng Bella melongo melihat kejadian aneh di hadapannya. Bella yang biasanya sombong dan menindas siswi lain terlihat takut pada Silvi.
"Bubar!" seru Silvi.
Semua siswi pun meninggalkan tempat itu. Tersisa Silvi dan kedua om om yang tengah berebut untuk mengantarnya pulang.
"Ayo pulang! Kali ini kamu tidak boleh menolakku," Reza langsung menggandeng tangan Silvi.
"Kenapa tidak boleh? Aku maunya pulang dengan Kak Frans!" protes Silvi.
"Pokoknya tidak boleh, Silvi!" seru Reza.
"Kenapa tidak boleh? Aku hanya sekedar adik kan untuk kakak?" protes Silvi.
Deg,
Reza terdiam membisu. Lidahnya kelu, lututnya terasa lemas. Kenapa dadanya terasa sesak saat Silvi menyebut dirinya hanya adik baginya? Ia menghadapi dilema yang besar tentang perasaannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Rasa sesak yang ia rasakan sama saat ia mendengar kabar kehamilan Aryn. Lalu sebenarnya nama siapa yang mengisi hatinya?
Silvi menggibaskan tangannya. Ia meraih tangan Frans lalu mengajaknya untuk pergi dari sana. Frans sempat melempar senyum mengejek untuk Reza. Tapi Reza tidak membalasnya. Saat mobil Frans meninggalkan tempat itu, Reza baru tersadar dari lamunannya.
"Tunggu, Silvi!" teriaknya.
Reza mengepalkan tangan kanannya, lalu melayangkan sebuah tinju penuh amarah pada sebuah pohon di dekatnya.
"Shit! Ini lebih sakit dari menendang ban dan pot!" umpatnya.
__ADS_1
...........
Stay tuned!