Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
KEBENARAN


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


..........................


"Tutup semua pintu!" teriak Dave menggema di seluruh penjuru mansion, ia berlarian menuju ruang keamanan.


Frans mengarahkan Aryn, Angel, dan Silvi untuk masuk ke dalam mansion. Tapi Silvi diam-diam pergi menyusul Reza. Sementara Ken, Zack, dan Samuel bergegas untuk menyisir semua sudut mansion.


"Sebenarnya apa yang terjadi kak?" seru Silvi saat sampai di ruang keamanan.


"Sebentar, aku sedang mengeceknya!" jawab Reza singkat.


Reza terlihat sibuk mengotak-atik komputer di hadapannya. Joe sang kepala keamanan juga terlihat sibuk di komputer sebelah Reza. Sejak tadi Joe tidak pernah mengalihkan perhatiannya dari layar monitor, tidak Ada hal yang mencurigakan. Oleh karena itu, ia mencoba membuka semua kamera rahasia yang dipasang. Sementara Reza, ia mengecek semua sistem keamanan.


"Silvi, kamu ngapain di sini? Cepat bergabung dengan Aryn!" seru Dave yang baru masuk ke dalam ruangan keamanan tapi tidak dihiraukan oleh Silvi.


"Gajimu kurang? Apa yang kau kerjakan sejak tadi? Bagaimana bisa ada insiden kebakaran?" seru Dave pada Joe.


"Maaf, tuan! Sejak tadi Saya tidak pernah meninggalkan monitor ini!" jawab Joe takut-takut.


"Cek kamera rahasia! Bodoh! Kalau monitor CCTV terlihat aman, bagaimana bisa terjadi kebakaran? Kau pikir api itu bisa nyala sendiri?" seru Dave dengan penuh amarah.


"Sepertinya rekaman kamera rahasia hari ini hanya diputar ulang terus menerus," jawab Joe lirih, ia belum siap jika harus cacat lagi.


"Mana mungkin! Tidak ada gunanya aku membayar mahal gajimu! Dasar bodoh!" teriak Dave, ia sudah mengangkat tangannya ke udara.


"Tunggu, Dave! Lo harus tahu siapa orang ini sebenarnya! Lihatlah sistem keamanan mansion lo bobol! Semua rekaman CCTV tentu sudah diatur oleh pelakunya, benar apa yang dikatakan Joe! Lihatlah kalian pasti tidak sadar kalau rekaman ini hanya diulang terus!" seru Reza.


"Sial! Seharusnya sejak awal gua bunuh pelayan itu, percuma gua beri dia umur panjang sampai hari ini!" umpat Dave.


"No... ini bukan ulah pelayan itu! Gua selalu mengawasinya, hanya saja tadi dia masuk ke dalam paviliun selama 15 menit!" seru Reza.


"Gua sengaja mengikuti kemana ia pergi saat pesta tadi. Dia masuk ke dalam paviliun, cukup lama sekitar 15 menit. Waktunya tidak cukup untuk meretas sistem keamanan canggih ini. Kebakaran ini sudah direncanakan, entah kapan dan siapa yang merencanakan insiden ini. Kebakaran ini menunjukkan adanya musuh lain yang berbaur dengan kita di mansion ini" Reza menjelaskan analisisnya.


"Musuh lain? Orang dalam? Bagaimana mungkin?" seru Silvi.


"Tentu saja hal itu mungkin terjadi!" jawab Reza.


"Kita akan mendapatkan jawabannya sebentar lagi!" sahut Dave.


Tiba-tiba dua orang penjaga masuk ke dalam ruang keamanan dengan menyeret pelayan yang dicurigai. Pelayan itu terlihat biasa saja, tidak ada sedikitpun ketakutan di wajahnya.


"Apakah kau sadar dengan siapa kau berhadapan saat ini?" seru Dave.


"Ya! Siapa yang tidak kenal dengan Dave Winata," jawab pelayan itu.

__ADS_1


"Aku tahu kau adalah orang yang cerdas, aku bisa melihatnya melalui gerak-gerikmu! Jadi, kau seharusnya bisa memilih pilihan yang tepat, bukan?" ucap Dave dengan lirih, terdengar menyeramkan.


"Apa yang ingin kau ketahui?" tanya pelayan itu.


"Untuk siapa kau melakukan semua ini? Kebakaran itu salah satu rencanamu bukan?" tanya Dave.


"Aku tidak pernah melakukan hal sekotor itu! Ada orang yang harus kulindungi di sini!" jawab pelayan itu.


Sontak saja Dave, Reza, Silvi, maupun Joe terkejut dan saling menatap. Mereka sulit mencerna ucapan pelayan yang selama ini menjadi tersangka utama justru mengaku sedang melindungi seseorang.


"Melindungi seseorang? Jangan menipu! Lo kira gua nggak tahu kalau lo sudah meretas sistem dan menyembunyikan penyadap suara di beberapa ruangan?" seru Reza.


"Pantas saja tidak ada rekaman yang masuk, kau tahu tentang penyadap suara yang pastinya sudah kau singkirkan! Satu diantara kau pindahkan bukan? Hanya ada suara angin disana!" keluh pelayan itu.


"Jangan membuang waktu! Katakan yang sebenarnya!" perintah Dave.


"Yang pasti aku bukan orang jahat!" jawab pelayan itu.


"Kau ingin cepat mati rupanya?" seru Dave.


"Kalau aku mati, kau akan menyesal jika hal buruk terjadi pada Aryn!" seru pelayan itu.


Dave tertegun, mendengar nama istrinya disebut membuat Dave langsung menatap pelayan itu.


Pelayan itu tersenyum tipis, ia mengalihkan pandangannya dari Dave. Mungkin dengan mengatakan kebenaran yang ia pendam adalah jalan satu-satunya agar ia bisa melaksanakan amanat yang diberikan almarhum ayahnya. Setelah ini ia tidak perlu lagi bersembunyi.


"Aku Sonya, putri dari Rendra, tangan kanan almarhum ayah Nona Aryn! Aku datang kemari setelah menerima amanat dari ayahku di nafas terakhirnya! Untuk melindungi Nona Aryn!" jawab Sonya.


"Kau bisa saja sedang berbohong! Tunjukkan buktinya kalau kau benar putrinya Rendra!" seru Dave, ia tahu siapa itu Rendra. Karena dulu ia pernah mencari semua informasi mengenai keluarga Aryn.


Sonya mengeluarkan ponselnya, ia menunjukkan foto seorang lelaki agak tua yang duduk berdampingan dengan ayah Aryn. Ia juga menunjukkan file identitas ayahnya fotonya yang duduk bersama ayahnya.


Dave mengangguk, mulai ada kepercayaan dalam dirinya pada Sonya.


"Ada pesan dari ayah saya yang ingin saya sampaikan!" seru Sonya memecah keheningan.


"Katakan!" sahut Dave.


"Ayah mengatakan jika Susi merencanakan hal besar untuk menghancurkan Nona Aryn!" lirih Sonya.


"Susi? Ibu tirinya Aryn, bukan? Dia tidak akan mempunyai keberanian untuk sekedar menatap Aryn, karena dia akan langsung berhadapan denganku!" seru Dave.


"Sepertinya Tuan Dave belum mengenal siapa Susi itu," lirih Sonya yang terdengar mengejek.


Dave menggertakan giginya, ia tersinggung dengan perkataan Sonya. Tapi Reza mencegah Dave yang akan melayangkan tangannya.

__ADS_1


"Jangan dipukul dulu! Kita pasti sangat membutuhkan jasanya, dia bukan wanita kaleng-kaleng! Buktinya dia bisa meretas sistem keamanan lo yang katanya canggih ini! " seru Reza.


"Kalau lo emang bertugas melindungi Aryn, apa alasan lo memasang penyadap suara itu? Lalu kenapa di tengah-tengah pesta tadi lo tiba-tiba pergi ke pavilion?" tanya Reza pada Sonya.


"Aku memasang penyadap di berbagai tempat sejak pertama aku bekerja di sini! Dari alat itu aku bisa mendapat informasi jika ada mata dan telinga musuh di mansion ini, entah siapa yang mengirim dia! Yang pasti aku hanya ingin menyelidikinya! Kalau masalah aku yang tiba-tiba pergi dari pesta itu karena aku sempat mencium bau bensin, aku pergi ke paviliun karena aku melihat seseorang yang mencurigakan berlari ke sana! " jawab Sonya.


"Menarik," lirih Reza tersenyum.


Silvi tidak sengaja melihat Reza yang senyum-senyum sendiri saat memandangi Sonya yang sedang berbicara.


"Sepertinya aku kedatangan saingan!" gumam Silvi.


Wajar jika Silvi merasa tersaingi. Sonya adalah wanita yang cantik, walaupun penampilan maupun cara berbicaranya sedikit tomboy. Tubuhnya tinggi, kulitnya sawo matang khas orang asia.


"Ehem," Silvi pura-pura terbatuk.


Alhasil Reza terbuyar dari angan-angannya.


"Eh.. apakah orang itu yang melakukan semua ini?" tanya Reza.


"Ya, aku melihatnya membuang botol berbau bensin di tempat sampah," jawab Sonya.


"Sepertinya gua terlalu fokus mengawasi gerak-gerik lo, sampai-sampai gua tidak melihat orang itu!" sahut Reza.


"Aku mengandalkanmu! Semua perkataanmu benar!" seru Dave, ia bergegas meninggalkan ruangan itu. Dave cukup yakin pada Sonya. Seorang penjaga datang membisikkan laporan kepadanya. Entah apa yang dibisikkan penjaga itu hingga membuat Dave berlari tunggang langgang.


"Di kasus seperti ini Mira bisa sangat membantu. Ayo Silvi, kita arahkan Mira ke halaman belakang," seru Reza bersemangat.


"Kita?" tanya Silvi yang langsung diangguki Reza dengan mantab.


"Aku sudah melepaskan dia di halaman belakang sejak tadi, tinggal menunggu hasilnya! Makanya jangan fokus mengawasinya saja!" seru Silvi ketus, ia langsung keluar dari ruangan itu.


"Tunggu!" seru Reza, namun tidak digubris oleh Silvi.


"Apa yang terjadi padanya? Kadang-kadang sikapnya manis dan menggemaskan, tapi kadang-kadang marah tanpa sebab!" gumam Reza.


"Ayo Sonya! Kita cek keadaan di sana! Benar atau tidaknya perkataanmu akan terbukti di sana!" ajak Reza pada Sonya.


Tanpa menjawab, Sonya berdiri dan langsung keluar dari ruang keamanan meninggalkan Reza.


"Wanita ini jutek abis, tapi masih jutekan Silvi sih," gumam Reza.


..........


Maaf ya author baru bisa up sekarang, tetap stay tuned ya!

__ADS_1


__ADS_2