Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
MERAH? MENSTRUASI?


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


"Lapar...." lirih Aryn.


Dave menaikkan alisnya. Ia baru saja selesai membersihkan badannya setelah melakukan tugasnya menjenguk si jagoan.


"Istri dan babyku ini mau makan apa?" tanya Dave.


"Ayam goreng!' sahut Aryn.


"Siap, istriku!" Dave mengenakan bajunya lalu keluar kamar.


Dave berjalan santai menuju dapur, para pengawal dan pelayan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat. Sedikit berbeda hari ini, Dave membalasnya dengan senyuman.


"Tuan kenapa?" bisik salah satu penjaga.


"Entahlah pertama kalinya aku melihat beliau tersenyum, apakah beliau?" balas penjaga lain.


"Hus!! Tidak mungkin kalau tuan kesurupan, selama aku bekerja di sini aman-aman saja kok!"


"Siapa tahu... Jarang sekali beliau tersenyum, tampan sekali kalau tuan tersenyum," bisik penjaga itu.


"Iya, benar"


Ily dan Sonya terkejut saat melihat Dave memasuki dapur. Keadaan dapur masih sangat kacau sekarang. Semangka ada di mana-mana. Bahkan juga di lantai, hingga membuat lantai itu licin. Dave yang tidak memperhatikan kondisi lantai terpeleset karena jus semangka itu.


Bug,


"Tuan, awas!" teriak Ily dan Sonya bersamaan saat Dave terpeleset.


"Shit! Sudah jatuh baru kalian teriak! Dasar!" umpat Dave.


"Siapa yang membuat dapur ini penuh dengan semangka?" seru Dave penuh dengan amarah.


Dave perlahan bangkit dengan memegangi bokongnya. Kedua matanya menatap tajam Ily dan Sonya. Suasana yang awalnya damai karena Dave tersenyum lenyap begitu saja. Dave kembali seperti dulu, wajahnya datar dengan lirikan tajamnya. Ily dan Sonya tidak berani menatap tuan mereka itu. Mereka tahu Dave sedang marah.


"Jawab!" teriak Dave.


"Anu tuan..." bibir Sonya bergetar, ia takut melihat tatapan Dave yang tajam.


"Tunjukkan ponselmu, kamu kan memotretnya tadi," bisik Ily di dekat Sonya.


"Bukannya jawab malah bisik-bisik, sudah bosan kerja di sini?" seru Dave.


"Ini, tuan!" Sonya menyerahkan ponselnya.


Dave merampas ponsel Sonya. Ia melihat gambar di ponsel itu. Ada banyak gambar, dari Mei dan Zack yang bertengkar dengan keadaan wajah mereka merah semua. Sampai adegan Zack membungkam mulut Mei. Dave mengerinyitkan dahinya. Lalu membanting ponsel Sonya dengan keras ke dinding dapur.


Pyar...


Ponsel Sonya menghantam dinding dengan sangat keras. Ponsel itu hancur terbagi menjadi beberapa bagian. Tamat sudah ponsel milik Sonya. Sonya berlari menghampiri ponselnya, menatap sisa-sisa rangkaian ponselnya.


"Ponselku..." lirihnya.


Dave meninggalkan dapur dengan kesal. Begitu Dave keluar dari dapur, Ily menghampiri Sonya.


"Tinggal puing-puingnya saja ya?" seru Ily yang berjalan mendekat.


"Iya nih... Parah banget si bos huaaa!" Sonya menangis.


"Biasanya setelah membanting, si bos langsung mengganti," ucap Ily.


"Tadi bos tidak bilang apapun, berarti tidak diganti dong?" Sonya menangis lagi.


"Uang kamu kan banyak," jawab Ily.


"Banyak dari mana? Itu tabungan," seru Sonya.

__ADS_1


"Ada apa ini?" Frans tiba-tiba muncul di dapur.


Sonya dan Ily menoleh ke arah Frans. Frans melihat kondisi dapur yang sangat parah. Ditambah teriakan Dave dan suara benda jatuh membuatnya datang ke dapur untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi.


"Ini semua ulah Tuan Zack dan Mei, tapi ponselku yang kena imbasnya!" keluh Sonya.


"Perkara ponsel saja nangis, nanti biar Abang Frans yang ganti!" Frans menepuk dadanya.


"Idih sok kaya!" sindir Sonya. Mulutnya berlawanan dengan hatinya. Mulutnya memang menghina Frans, tapi dalam hatinya ia memuji ketampanan Frans. Karena saat ini Frans turut berjongkok di hadapannya yang sedang meratapi nasib ponselnya.


 


Dubrak,


Dave menendang pintu utama mansion dengan sangat keras. Ia merasa kesal karena sudah menyusuri setiap tempat di dalam mansion tapi belum juga menemukan Mei dan Zack.


"Kalau ketemu nanti awas kalian!" seru Dave penuh amarah.


"Maaf tuan, tadi saya lihat Tuan Zack berlari menuju kebun, mungkin mereka ada di sana!" Joe melapor.


"Kembali ke tugasmu! Akan aku urus sendiri para pembuat masalah ini!" ucap Dave.


Joe mengangguk lalu kembali menuju ruang keamanan, tempat ia bertugas mengawasi keamanan mansion. Sementara Dave, ia berjalan dengan cepat menuju kebun. Kedua tangannya mengepal. Mulutnya tidak berhenti melontarkan umpatan. Gara-gara Zack dan Mei, dapurnya kacau dan ia terpeleset. Sebenarnya itu bukan masalah yang besar. Hanya saja Dave memikirkan bagaimana kalau yang masuk le dapur tadi Aryn, pasti istri dan babynya celaka.


"Apa-apaan ini?" Dave kesal.


Nampak Zack berlarian mengejar Mei di kebun. Zack terlihat payah sekali karena Mei selalu berhasil menghindarinya. Mei menertawai Zack yang terengah-engah karena mengejarnya. Mei memang mantan atlet lari.


"Hey kalian!" teriak Dave.


Zack dan Mei menoleh bersamaan. Muka keduanya terlihat merah karena jus semangka dengan bintik-bintik hitam dari biji semangkanya. Mereka terkejut ternyata Dave yang memanggil mereka. Mereka menatap celana cream Dave yang basah.


"Sepertinya kita mendapat masalah besar! Celana Dave basah!" ucap Zack pada Mei.


"Kenapa kita yang mendapat masalah? Yang mengompol kan dia!" jawab Mei.


"Kamu bilang celananya basah bukan?" ucap Mei.


"Dasar bodoh, bukan mengompol! Lihatlah, celananya berwarna kemerahan!" Zack mendorong pelan kepala Mei.


"Maksudmu Dave menstruasi?" pekik Mei.


"Sia-sia sudah uang orangtuamu, putrinya ini sudah dimasukkan ke universitas terkenal tapi tetap bodoh!" ucap Zack.


"Tujuan belajar itu supaya pintar! Wajar saja kalau aku bodoh! Sekarang katakan jangan bertele-tele! Maksudnya apa?" sahut Mei.


"Kamulah yang membuat obrolan ini menjadi tidak berguna! Celana Dave itu merah karena jus semangka. Bisa jadi ia tadi datang ke dapur dan terpeleset! Setelah ini kita pasti tinggal nama saja!" keluh Zack.


"Aduh, aku belum siap masuk surga!" sahut Mei.


"Ngimpi! Penjaga neraka udah nungguin!" ledek Zack.


"Aku ajak kamu nanti!" Mei menjulurkan lidahnya.


"Hey kalian! Kemari! Kalau dipanggil itu datang, malah asik bertengkar!" Dave marah-marah.


"Lihatlah dia marah-marah terus, bisa jadi dia memang sedang menstruasi bukan terkena jus semangka!" lirih Mei di dekat Zack.


"Diam!" sahut Zack.


"Jangan-jangan kamu menstruasi juga?" lirih Mei, ia berjalan di belakang Zack.


"Kalau kamu bicara terus aku bungkam dengan pembalut, mau?" Zack mengancam.


"Okay okay!" Mei langsung membungkam mulutnya sendiri dengan tangannya.


Mei mengekor di belakang Zack yang akan menghampiri Dave.


"Kalian ini sudah keriput masih saja bertingkah seperti anak kecil! Kalau saja Aryn yang terpeleset karena jus semangka itu, kalian mau aku ambil jantung kalian?" seru Dave.

__ADS_1


"Keriput?" seru Mei dan Zack serempak.


"Mei sumber masalahnya? Dia yang menumpahkan jusnya!" Zack membela diri.


"Aku tidak sengaja, tutup blendernya lupa!" Mei juga membela diri.


"Sama saja kamu penyebabnya!" seru Zack.


"Aki tidak sengaja!" tukas Mei.


"Sama aja!" seru Zack.


"Beda!" sahut Mei.


"Sama!" seru Zack.


"Beda!" sahut Mei.


"Sama!" seru Zack lagi.


"Beda!" sahut Mei dengan berapi-api.


"Beda!" seru Zack yang tersenyum smrik.


"Sama!" sahut Mei.


"Tuh kan! Kamu sendiri yang bilang! Ini semua kamu penyebabnya!" Seru Zack.


"Kamu curang!" protes Mei.


"DIAM!" teriak Dave.


Zack dan Mei langsung terdiam seribu bahasa. Tatapan tajam Dave membuat keduanya menundukkan kepala mereka. Mei yang biasanya berani melawan Dave, kini nyalinya menciut. Dave mengeluarkan ekspresi lamanya. Dingin, datar, dengan tatapan membunuh.


"Sebagai hukuman, kalian akan aku beri tugas membeli semua perlengkapan babyku!" seru Dave.


Ide itu baru terpikirkan oleh Dave. Aryn dan Dave sengaja belum membeli perlengkapan bayi karena mereka ingin membelinya saat sudah mendekati hari persalinan. Membeli perlengkapan bayi itu pasti sangat repot, tugas ini cocok untuk si duo rusuh, Mei dan Zack.


"APA???" seru Zack dan Mei serempak.


"Tidak ada bantahan, beli warna netral saja! Dan susun kamar babynya juga! Pastikan semua barangnya nanti berkualitas tinggi! Waktu kalian hanya 3×24 jam!" seru Dave, ia meninggalkan kebun tanpa mendengarkan jawaban dari Zack maupun Mei.


"Huft...3×24 jam... Kukira waktunya satu malam seperti tokoh-tokoh dalam dongeng!" ucap Mei dengan lega.


"Kamu pikir ini mudah? Perlengkapan bayi itu banyak!" seru Zack.


"Serahkan kepada yang berpengalaman!" Mei menepuk dadanya, sombong.


"Oh... kamu sudah punya baby?" tanya Zack.


"Heh sembarangan! Aku ini masih ting ting, dijamin masih ting ting tau! Aku dulu pernah membantu saudaraku berbelanja perlengkapan bayi!" protes Mei.


"Ohhh..." Zack mengangguk. Ada senyum tipis penuh arti di bibirnya.


"Tapi itu artinya selama 3×24 jam aku akan bertugas bersamamu? iihhh..." Mei menatap Zack dengan ekspresi yang dibuat seperti jijik.


"Awas jatuh cinta lagi," Zack mengedipkan sebelah matanya.


Mei menatap Zack sinis lalu melenggang meninggalkan kebun.


"Huh.. Hampir saja aku pingsan karena kedipannya," gumam Mei.


...............


Haii!!!


Maafkan author yang baru mengapload episode baru, urusan author baru selesai. Terima kasih author ucapkan untuk readers yang masih setia menunggu kelanjutan novel ini! Sebenarnya author juga sedang proses membuat karya baru! Doakan saja ya!!!


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian! Love you all!

__ADS_1


__ADS_2