
Orang tua Dira akhirnya datang ke kampus, mereka kaget saat di beri tahu kalau anaknya suka berantem.
Beruntung yang datang ke kampus bukan papah Dira, Dira sangat lega.
"Ada apa dengan Dira?" tanya mamah Meri pada pak Arkan.
"Anak ibu habis berantem dengan anak saya!" sahut mamahnya Sisil. .
"Sejak kapan anak saya suka berantem?" tanya mamah Meri lagi.
"Sejak mau rebut tunangan saya tante!" sahut Sisil.
"Masa sih? Dira tidak pernah bercerita soal laki-laki!" jelas mamah Meri.
"Tante, Dira sering dekat dengan pak Arkan!" ucap Sisil menimpali.
"Arkan! kamu kan anaknya jeng Sinta bukan?" tanya mamah Meri.
"Iya tante!" jawab Arkan, dia hanya diam karena merasa tidak enak dan tidak pernah dekat dengan Dira.
"Coba panggil Dira! saya ingin tanya sama Dira!" kata mamah Meri, kurang yakin dengan jawaban Sisil.
Pak Arkan memanggil Dira untuk ke ruangannya, Dira sudah tahu kalau yang datang mamahnya jadi dia tetap bersikap tenang.
"Mamah! maafkan Dira ya!" ucap Dira, dia merasa bersalah karena sudah bikin malu.
"Iya, sekarang mamah mau tanya Dira?" sahut mamah nya.
"Sejak kapan kamu dekat dengan Arkan?" tanya mamah Dira, membuat Dira kaget.
"Mah! pak Arkan itu sering panggil Dira ke ruangannya buat kasih surat peringatan dan hukuman!" jelas Dira melirik ke arah pak Arkan.
"Kenapa bisa kamu berantem dengan teman kamu?" tanya mamah Meri lagi, kali ini Dira bener-bener di interogasi.
Dira menceritakan awal sampai akhir bagaimana dia bisa berantem dengan Sisil, tetapi Sisil mengelak dan tidak terima dengan penjelasan Dira.
Dira memanggil Luna karena dia yang tau bagaimana cerita sebenarnya, Luna menceritakan semua yang dia lihat dan sama seperti apa yang Dira katakan. Sisil tiba-tiba menjambak rambut Dira tetapi, Dira tidak membalas karena ada mamah Meri. Semua yang melihat kejadian itu menjadi yakin kalau Dira tidak bersalah.
Orang tua Sisil malu dengan kejadian tadi dan mengajak Sisil untuk pulang ke rumah.
Dira dan Luna kembali masuk ke dalam kelas, karena masih ada materi yang mereka pelajari.
Di dalam ruangan itu tinggal pak Arkan dan mamah Meri sedang berbincang-bincang.
Mereka sudah saling mengenal sebelum Arkan pergi ke luar negeri.
"Tante, maafkan Arkan ya?" ucap Arkan, karena tidak enak dengan mamah Meri yang sudah sering memberikan surat peringatan pada Dira.
"Tidak apa-apa, justru tante itu senang kalau Dira salah ada yang menegur!" jelas mamah Meri.
__ADS_1
"Arkan tidak bisa membela salah satu tante, harus adil!" ucap Arkan.
"Tante bisa mengerti kok! kapan kamu pulang Arkan?" tanya mamah Meri, karena sejak Arkan pulang baru ketemu sekarang.
"Sudah lama tante, tapi karena sibuk di kantor juga jadi jarang di rumah!" ucap Arkan.
"Kapan-kapan main ke rumah tante! masa tetangga tidak pernah main!" kata mamah Meri.
"Kalau ada waktu ya tante! akhir-akhir ini masih sibuk banyak kerjaan!" jelas Arkan, yang sebenarnya malu.
Mamah Meri pamit pulang karena sudah tidak ada lagi yang mereka bicarakan, Arkan juga akan pergi ke kantor karena tugas di kampus sudah selesai.
####
Dira hari ini sampai di rumah sudah malam, dia tadi berkerja dulu. Keesokan harinya mamah Meri membangunkan Dira, saat memegang tangan Dira ternyata badannya demam, mamah Meri sangat panik.
"Dira, badan kamu kok panas begini? mamah belikan obat dulu ya!" ucap mamah Meri, Dira terbangun mendengar suara mamahnya.
"Tidak usah mah! Dira mau mandi berangkat ke kampus!" kata Dira, tetapi saat dia akan bangun kepalanya terasa pusing, Dira mengurungkan niatnya.
"Kenapa Dira?" tanya Mamah Meri dengan wajah cemas nya.
"Kepala Dira sakit banget mah!" ucap Dira, sembari memejamkan matanya.
"Kamu tidur lagi dulu ya Dira, mamah mau beli obat sebentar!" pamit mamah Meri, lalu meninggalkan kamar Dira.
Mamah Meri segera pergi membeli obat ke apotek untuk Dira.
####
Mereka masuk ke kelas terlebih dahulu karena dosen sudah datang.
Hari ini adalah kelas pak Arkan, setiap mahasiswa yang tidak ada dalam kelasnya selalu dia tanyakan, seperti saat ini.
"Luna, Dira kemana?" tanya pak Arkan, melihat sekeliling mencari keberadaan Dira.
"Dira tidak masuk kelihatannya pak," ucap Luna.
"Ya sudah! ayo kita lanjutkan materi kita hari ini!" kata pak Arkan, menuju ke tempat duduknya.
Dua jam kemudian.
"Nisa, coba kamu telepon Dira!" ucap Luna, menyuruh Nisa menghubungi Dira lewat telepon genggamnya.
"Sudah Luna, tidak ada jawaban," kata Nisa.
"Sebenarnya Dira kemana ya?" ucap Luna, yang begitu khawatir dengan Dira.
"Mungkin dia sedang pergi dengan keluarga juga bisa kan Lun," kata Nisa asal nebak.
__ADS_1
"Kita tanya Elang! ayo Nisa kita cari Elang!" ajak Luna, mereka melihat Elang sedang duduk bersama teman-teman nya di pinggir lapangan kampus.
"Kakak ganteng!" sapa Nisa pada Elang.
"Siapa ini yang di panggil itu cewek?" tanya salah satu teman Elang.
Elang hanya tersenyum dan langsung berdiri dari duduknya, dia terus menghampiri Luna dan Nisa.
"Ada apa kalian mencari ku?" tanya Elang.
"Kita mau menanyakan Dira!" kata Luna.
"Dira kenapa?" tanya Elang lagi.
"Dira hilang sejak pagi tadi, kakak ganteng!" jawab Nisa asal-asalan.
"Serius?" tanya Elang, kaget dengan apa yang di bilang Nisa.
"Nisa jangan ngawur kalau ngomong!" ucap Luna, kesal dengan Nisa.
"Yang benar gimana?" tanya Elang, bingung dengan Luna dan Nisa.
"Dira hari ini tidak masuk kuliah! kamu tau tidak dia kemana?" tanya Luna pada Elang.
"Nanti ya? aku cari ke rumahnya!" jawab Elang.
"Kita barengan aja ke rumah Dira!" ajak Nisa.
"Boleh tapi, ibuku gimana? aku belum pamit sama ibu!" ucap Luna.
"Aku saja yang ke rumah Dira! kalian pulang saja, nanti aku kabari!" ucap Elang.
"Kakak ganteng, makan dulu yuk!" Nisa mengajak Elang makan.
"Lain kali ya Nisa? aku mau ke rumah Dira sekarang!" ucap Elang, menolak ajakan Nisa.
"Nisa! kamu makan terus yang di pikirin!" sewot Luna, melirik ke arah Nisa.
"Kalau tidak makan mana bisa berfikir Luna! makan itu penting!" kata Nisa, membela diri.
"Dengarkan itu Luna!" ucap Elang, meledek Luna.
Luna dan Nisa akhirnya berdebat soal makan, lalu Elang berpamitan untuk pergi ke rumah Dira.
"Gara-gara kamu Luna, kakak ganteng jadi pergi kan!" ucap Nisa, menyalahkan Luna.
"Elang sudah pulang! ayo kita pulang!" ajak Luna.
"Kita makan dulu Luna!" ucap Nisa, mengajak Luna untuk makan.
__ADS_1
Luna kesal dengan Nisa karena hanya makan terus yang di pikirkan, dia akhirnya pergi meninggalkan Nisa.