Sahabat

Sahabat
Bab 44


__ADS_3

Arkan saat ini bertemu dengan Dion di kantor, mereka membicarakan soal Riri yang dulu berkerja dengan Dion.


"Arkan, maaf aku baru bisa datang ke sini sekarang," ucap Dion.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin membahas soal Riri," kata Arkan.


"Wanita itu, untuk apa kamu bahas dia?" tanya Dion.


"Apa kamu sudah tau keadaan dia saat ini? sebenarnya aku tidak mau tau," kata Arkan.


"Iya, aku tau semua. Aku yang membuat dia berkerja di tempat seperti itu," ucap Dion, membuat Arkan kaget.


"Apa? maksud kamu?" kaget Arkan.


Dion menceritakan awal mula Riri berkerja di tempat seperti itu, sungguh perbuatan Dion sangat tidak bertanggung jawab. Dia yang memaksa Riri untuk melakukan hal buruk dan menggantinya dengan uang. Waktu itu Riri berfikir kalau masa depan dia sudah hancur, Dion juga memecat Riri karena takut akan ketahuan banyak orang. Kalau sampai ketahuan orang reputasi Dion akan hancur, sampai sekarang Riri masih meminta uang pada Dion.


"Aku tidak mungkin menikahi wanita itu, kamu tau kalau keluarga ku tidak akan pernah memberi restu," kata Dion.


"Lebih baik kamu bertanggung jawab, dari pada menyesal nantinya," kata Arkan.


"Hahaha... aku tidak akan pernah menyesal hanya karena wanita," ucap Dion.


"Dion, apa yang terjadi dengan kamu? kenapa kamu seperti ini?" tanya Arkan, heran melihat perubahan temannya.

__ADS_1


Dion kelihatan bingung dan tidak menjawab pertanyaan Arkan, dalam lubuk hatinya dia merasa sangat bersalah.


Arkan membujuk Dion agar mau menyadarkan Riri, Dion harus bertanggung jawab atas apa yang di alami oleh Riri.


"Aku akan mencoba membujuk dia, agar meninggalkan pekerjaannya. Tetapi aku tidak siap jika harus menikahinya," kata Dion.


"Sebagai laki-laki memang seharusnya kamu bertanggung jawab bukan lari dari masalah," ucap Arkan.


Setelah selesai bercakap-cakap mereka menuju ke ruang meeting, untuk membahas masalah pekerjaan.


Laura sudah menyiapkan keperluan meeting hari ini, walaupun dirinya masih kesal dengan Arkan.


"Laura, mana berkas kemarin yang ada di meja kamu?" tanya Arkan.


***


Dion setelah dari kantor Arkan, dia langsung pergi ke rumah Riri. Rasa bersalah yang ada dalam dirinya membuat dia terketuk hatinya, untuk meminta maaf dan akan mengembalikan kehidupan Riri seperti sebelumnya. Walaupun sudah terlambat dia berharap Riri masih bisa memaafkan kembali.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dia sampai di kediaman Riri.


Tok... tok... tok...


Riri membuka pintu ternyata Dion yang datang ke rumahnya.

__ADS_1


"Dion... " ucap Riri lirih.


"Aku...


"Pergi kamu dari sini!" usir Riri.


"Dengarkan penjelasan ku dulu Riri," ucap Dion.


"Aku tidak butuh penjelasan apapun, sekarang cepat pergi!" Riri bersikeras untuk mengusir Dion.


"Riri, tolong dengarkan aku dulu," ucap Dion dengan lembut.


Riri kemudian menutup pintu rumahnya, dia duduk di lantai sambil menangis mengingat kejadian masa lalunya dengan Dion.


Sementara Dion masih berusaha mengetuk pintu, setelah melihat sikap Riri, rasa bersalah yang menyelimutinya semakin bertambah.


Perlahan Dion melangkahkan kaki menuju mobilnya, karena sudah satu jam lebih Riri tidak membukakan pintu untuknya.


"Kenapa kamu muncul lagi, Dion. Aku sudah bersusah payah melupakan kamu," ucap Riri dalam hati.


Perjuangan Riri melupakan Dion sangat sulit, sehingga membuatnya menangis dan kembali bersedih saat mengingat Dion.


Dion memutuskan untuk pulang dan akan kembali ke tempat Riri lagi, dia berencana untuk mengajak Arkan.

__ADS_1


__ADS_2