Sahabat

Sahabat
Bab 84


__ADS_3

"Kebetulan ketemu kalian, boleh gabung tidak?" tanya Leo yang tiba-tiba datang.


"Eh... Leo, kamu kemana saja? baru kelihatan," ucap Luna.


"Aku magang di perusahaan Pak Arkan, sudah satu minggu," jelas Leo.


"Dira, Pak Arkan curang, buktinya Leo bisa magang di sana," ucap Nisa.


"Emang bisa, tapi kita beda jurusan sama Leo," kata Dira.


"Setidaknya kita tidak di suruh membersihkan sampah," ucap Nisa.


"Membersihkan sampah? maksudnya?" tanya Leo.


"Tidak, kok! kita bercanda," ucap Luna.


Nisa hendak berbicara lagi, tetapi Dira menginjak kakinya. Membuat Nisa kesakitan dan tidak jadi bicara, karena kalau Leo bilang ke Arkan bisa ribut. Luna teringat kalau ketauan Sisil mereka bertemu Leo, juga akan menambah masalah.


Dira kemudian mengajak teman-temanya untuk kembali ke kantor, waktu istirahat juga sudah hampir habis.


"Dira!" teriak Leo.


Dira menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke arah Leo. "Ngapain Leo pakai manggil lagi," gerutu Dira.


"Dira, nanti pulang bareng aku ya," ucap Leo.


"Maaf Leo, aku nanti di jemput," tolak Dira.


"Nanti bareng aku sama Luna aja, Leo! kalau Dira tidak mau," sahut Nisa.


"Nisa!" teriak Luna.


"Apaan sih, Lun? kalau Leo mau antar kita lumayan irit ongkos," ucap Nisa asal.


"Ayolah Dira! sekali ini saja, biar aku tau rumah kamu," kata Leo.


"Minta di pecat, Leo!" kata Luna.


"Niat ku baik lho, cuma mau antar pulang Dira," kata Leo.


Dira meminta maaf lagi pada Leo, lalu mengajak temannya melanjutkan langkahnya menuju ke kantor. Sampai di kantor mereka di panggil oleh Sisil, dia hendak menyuruh mereka bertiga membersihkan toilet.


"Kamu keterlaluan, Sisil!" bentak Dira.


"Sama atasan harus sopan!" ucap Sisil sedikit keras.


"Kita kesini mau kerja sambil belajar, bukan bersih-bersih," sahut Luna.


"Gak mau? kalian pilih nilai jelek?" tanya Sisil.


"Ayo kita pulang saja!" ajak Dira, kemudian keluar dari ruangan Sisil.


Luna dan Nisa mengikuti Dira keluar, Dira hendak ke kantor Arkan. Dia mau protes karena dapat tempat magang yang tidak sesuai.

__ADS_1


Karyawan Arkan sudah tau Dira, maka dari itu mereka langsung menyuruh masuk. Saat berada di depan ruang kerja Arkan Dira bertemu dengan Laura.


"Kamu lagi! Pak Arkan lagi meeting," ucap Laura. Ketika melihat Dira hendak mengetuk pintu ruang kerja Arkan.


"Oke! kita tunggu," kata Dira lalu mengajak temannya untuk duduk di tempat yang telah di sediakan.


"Dira, itu siapa? tak kalah sinis sama Sisil sialan itu," kata Nisa.


"Namanya Laura, sekretaris Kak Arkan mungkin atau apalah. aku gak peduli dia siapa," ucap Dira.


Arkan baru saja keluar dari sebuah ruangan, sembari berbincang-bincang dengan seorang wanita. Wanita itu sangat cantik dan sangat serasi dengan Arkan.


"Dira, lihatlah!" kata Nisa menunjukkan di mana Arkan berada.


"Apa Nis... Dira melihat ke arah yang di tunjuk oleh Nisa. Dira langsung berdiri lalu pergi dari kantor Arkan.


"Dira!" teriak Arkan.


Dira tidak menghiraukan ucapan Arkan, dia malah mempercepat langkahnya.


"Pak, biar nanti kita yang kejar Dira," ucap Luna.


"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Arkan.


"Ceritanya panjang, tapi lebih baik Pak Arkan kejar Dira," jawab Nisa. Membuat Arkan mengernyitkan dahinya, karena memang dia tidak paham.


"Pak, kalau begitu kami pamit dulu! terimakasih atas kerjasamanya," ucap wanita cantik tadi, sembari menjabat tangan Arkan.


Dira saat ini sedang berada di angkot, dia ingin pulang ke rumahnya. Setelah sampai di jalan menuju rumah dia bertemu dengan Bunda Sinta yang baru saja dari beli sayuran.


"Dira, kok kamu naik angkot?" tanya Bunda Sinta.


"Gak apa-apa, Tante," jawab Dira.


"Arkan mana? kok tidak antar kamu pulang?" tanya Bunda Sinta.


"Ada di kantornya, Tante," jawab Dira lagi.


Tak terasa mereka berjalan sampai juga di depan rumah Dira. Tak lupa Dira menyuruh calon mertuanya mampir ke rumah, Bunda Sinta tidak mau mampir karena harus segera memasak.


Dira hendak masuk dalam rumahnya, saat akan membuka pintu Arkan datang.


"Dira, tunggu!" kata Arkan.


"Iya, ada apa Kak?" tanya Dira.


"Kenapa tadi di kantor, kamu langsung pergi?" tanya Arkan.


"Oh... itu! Kakak lagi sibuk jadi dari pada ganggu, Dira lebih baik pulang," jelas Dira.


Mereka berdua masih berbicara di depan pintu, karena mendengar suara Dira dan Arkan tiba-tiba Vio keluar dari dalam rumah.


"Kak Arkan, masuk Kak!" ucap Vio, saat membuka pintu dan melihat Arkan.

__ADS_1


"Kakak hanya sebentar, Vio. Ini juga mau balik ke kantor," tolak Arkan.


"Ya udah, Vio kedalam dulu," ucap Vio.


Arkan hanya mengangguk, lalu dia kembali memberi pertanyaan pada Dira.


"Dira, kenapa kamu jam segini sudah pulang? bukannya jam lima," kata Arkan.


"Dira gak mau magang lagi di tempat itu! Dira mau minta pindah," ucap Dira.


"Gak bisa gitu dong! semua harus ada alasannya," kata Arkan.


"Sekarang Dira tanya, apa kalau pertama kali magang harus cabut rumput di bawah terik matahari?" ucap Dira yang lagi kesal.


"Semua tergantung yang punya kantor, Dira," kata Arkan.


"Udahlah, Kak! Dira gak sanggup magang di tempat Sisil, apalagi pasti kita ribut. Dia selalu cari masalah terus," jelas Dira.


Arkan tidak berani memaksakan Dira lagi, karena dia sendiri yang meminta untuk menghindari Sisil. Tapi sialnya Dira malah harus magang di tempat Sisil.


Arkan lalu mengajak Dira untuk ke rumahnya, dia tidak jadi balik ke kantor. Tetapi Dira menolak karena capek dan mau istirahat.


"Lebih baik Kakak balik ke kantor, kasihan kalau ada yang nungguin Kakak," kata Dira.


"Gak ada yang nungguin," ucap Arkan.


Untung saja Elang datang ke rumah Dira, dia datang mengejek Dira. Kebetulan pas lewat melihat ada mobil Kakaknya, jadi dia belok ke rumah Dira.


"Elang!" kaget Arkan.


"Tumben Kak, gak pulang ke rumah dulu?" tanya Elang.


"Calon Kakak ipar kamu, gak mau magang lagi," jawab Arkan.


"Dira, jangan kaya anak kecil! magang aja gak mau," ucap Elang.


Dira masih diam tidak menanggapi ucapan Elang, ia masih kesal melihat pemandangan di kantor tadi.


"Pulang yuk, Kak! Dira aja diam," kata Elang.


"Elang, jangan nambah bikin kesal kamu! gak Kakak gak adik sama saja," ucap Dira, mengerucutkan bibirnya.


"Habis kamu diam aja," kata Elang. Berlalu pergi dari rumah Dira.


Setelah Elang pergi, Dira menyuruh Arkan untuk masuk ke dalam rumah. Mereka berbincang-bincang di ruang tamu.


"Kak, kenapa Leo boleh magang di tempat Kakak?" tanya Dira.


"Itu semua sudah keputusan dari kampus, bukan aku yang menentukan," jawab Arkan.


"Dira tau sekarang, kenapa Kakak tidak meminta Dira magang di tempat Kakak. Karena wanita tadi, kan?" ucap Dira.


Arkan tersenyum mendengar ucapan Dira, ternyata Dira pergi karena cemburu.

__ADS_1


__ADS_2