
"Syukurlah pak Dhimas tidak melihat kejadian yang sebenarnya tadi malam, kalau melihat Sisil dan teman-temannya bisa berurusan dengan pihak berwajib, salah aku juga kenapa tadi malam harus menghadang mereka!" ucap Dira dalam hati.
"Dira, kamu baik-baik saja kan?" tanya pak Arkan, membuat Dira bingung kenapa pak Arkan bisa bersama mamahnya, Elang dan tante Sinta.
"Seperti yang bapak lihat!" jawab Dira, melihat ke arah pak Arkan.
Pak Arkan tersenyum mendengar jawaban Dira.
"Kok gitu Dira jawabnya! tadi malam pak Arkan udah bantuin mamah lho, nyariin kamu!" tegur mamah Meri dengan lembut.
"Kok bisa mah?" tanya Dira.
Mamah Meri menceritakan semuanya pada Dira kenapa Arkan bisa bersama mereka.
"Jadi selama ini pak Arkan itu kakaknya Elang!" ucap Dira, kaget.
"Iya Dira, Arkan kakaknya Elang!" sahut tante Sinta.
"Elang, kenapa kamu tidak pernah cerita!" tegur Dira pada Elang.
"Kamu kan tidak pernah bertanya, Dira," ucap Elang dengan santai.
"Pak Arkan! kenapa juga tidak pernah cerita sama Dira, kan kalau Dira di hukum bisa bales dendam di rumah!" ucap Dira, sambil mengerucutkan bibirnya.
Mereka semua tertawa mendengar ucapan Dira, tetapi tidak dengan Elang, dia hanya diam sibuk memainkan ponselnya.
Mamah Meri mengucapkan terimakasih kepada semua yang sudah membantunya. Karena semuanya harus kembali beraktivitas mereka pulang.
"Arkan, kamu hari ini libur kan? temani Dira dulu ya?" ucap bunda Sinta.
"Tante minta tolong Arkan! kalau tidak ada kegiatan temani Dira dulu, tante harus urus keperluan Vio juga!" sahut mamah Meri.
"Iya! Arkan temani Dira dulu, bunda sama tante bisa pulang dengan Elang!" ucap Arkan.
Hening tidak ada percakapan setelah semua pergi, sekarang tinggal Dira dan Arkan yang berada di ruangan itu.
"Pak, tolong ambilkan minum, Dira haus!" ucap Dira, memberanikan diri minta tolong pada Arkan.
"Bisa tidak jangan panggil pak!" kata Arkan, sambil memberikan Dira segelas air putih.
"Bapak kan Dosen, Dira! nanti di kira gak sopan lagi!" ucap Dira, lalu meminum air yang di berikan Arkan.
"Ini di luar kampus Dira, kamu ngerti gak sih!" kata Arkan. -
__ADS_1
"Baik kak Arkan!" ucap Dira, meledek Arkan.
Suara ketukan pintu menghentikan percakapan mereka, pak Dhimas datang mengantarkan tas Dira yang masih tertinggal di loker ruang ganti tempat kerja.
"Dira, bagaimana sudah baikan belum?" tanya pak Dhimas, sambil menaruh tas di sofa.
"Agak mendingan pak!" ucap Dira, tersenyum ke arah pak Dhimas.
"Silahkan duduk pak!" kata Arkan.
"Apa aku kelihatan tua? kenapa kalian panggil aku pak?" tanya pak Dhimas.
"Kelihatan nya kalian seumuran," ucap Dira.
Dhimas dan Arkan akhirnya berkenalan, mereka saling bertukar cerita.
####
Suasana di kampus.
Luna dan Nisa merasa kesepian karena tidak ada Dira, mereka hanya berdua kemana-mana.
"Dira sudah ketemu belum ya Nis?" tanya Luna dengan wajah sedihnya.
"Kita masih ada kelas!" ucap Luna.
"Dira masih di rumah sakit!" ucap Elang yang tiba-tiba ada di belakang mereka.
"Di rumah sakit!!!" ucap Luna dan Nisa secara bersamaan.
"Kenapa bisa Elang?" tanya Luna.
"Kakak ganteng! kenapa baru kasih tau kita?" tanya Nisa.
Elang bingung harus menjawab yang mana dulu, dia menceritakan kejadian yang di alami Dira.
"Dira kan berangkat kerja tidak membawa kendaraan, kenapa bisa ada di parkiran mobil! ini ada yang tidak beres!" ucap Nisa, menebak-nebak.
"Kamu udah kaya peramal aja, Nisa!" ucap Elang, tersenyum melihat tingkah Nisa.
"Elang, kamu mau kan antar kita ke rumah sakit?" tanya Luna.
"Iya, nanti aku antar!" jawab Elang.
__ADS_1
"Sekarang Elang! aku mau lihat keadaan Dira!" ucap Luna lagi.
"Kita bolos lagi, Luna?" tanya Nisa, melirik ke arah Luna.
"Dira baik-baik saja kok! kalian jangan bolos!" kata Elang.
Luna dan Nisa terus memaksa Elang agar mengantarkan mereka ke rumah sakit sekarang juga, dengan terpaksa Elang juga ikut bolos.
Di rumah sakit mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Dira, saat Elang masih jalan di belakang mereka meninggalkan Elang, sehingga mereka berdua salah masuk ke kamar orang.
"Luna, kenapa orang yang sakit mukanya di tutup semua?" tanya Nisa.
"Coba tanya sama yang jaga!" jawab Luna, sambil memainkan telepon genggamnya.
"Tidak ada, saat kita masuk sepi begini! Dira yang mana ya!" ucap Nisa.
"Nisa, kita harus keluar dari ruangan ini!" ucap Luna, lalu berlari sambil menarik tangan Nisa.
"Luna... jangan tarik-tarik!" protes Nisa.
"Kita tadi ada di ruangan mayat!" kata Luna.
"Pantesan mereka gak ada yang gerak!" ucap Nisa.
Elang kehilangan jejak mereka, hingga harus mencari keluar masuk ruangan. Dia duduk di ruang tunggu untuk menunggu Luna dan Nisa.
"Kakak ganteng kemana saja?" tanya Nisa, mengagetkan Elang.
"Kalian main pergi saja!" ucap Elang kesal.
"Maaf Elang, aku kira kamu juga bareng tadi!" sahut Luna.
"Udah tidak usah debat! ayo keruangan Dira!" ajak Elang, karena kesal Elang terlebih dahulu jalan.
Luna dan Nisa mengikuti Elang dari belakang, akhirnya nyampai juga mereka di ruangan Dira. Secara bergantian mereka memeluk Dira dan bertanya keadaan Dira.
Seperti biasanya kalau sudah bertemu, keadaan berubah drastis yang tadinya terang menjadi ramai seperti pasar, padahal mereka hanya bertiga.
Elang hanya diam melihat ketiga sahabat yang baru saja bertemu itu, dia memilih diam karena ngomong pun percuma pasti mereka cuekin.
Di dalam ruangan Dira di rawat masih ada pak Arkan dan pak Dhimas, baru pertama kali ini mereka melihat keakraban Dira bersama teman-temannya.
Lanjut besok lagi ya🤗
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤