
Dira pulang dari kampus bertemu dengan Elin di jalan, saat ini Dira sedang berjalan kaki.
"Dira!" teriak Elin, memanggil Dira.
"Elin, kebetulan kita ketemu. Kamu dari mana?" tanya Dira.
"Aku mau ke kantor temanku Dira, tidak jauh dari sini," jawab Elin.
"Sejak kapan kamu mau berteman dengan orang yang berkerja di kantor?" tanya Dira, penasaran karena setau Dira, Elin tidak pernah mau berteman dengan orang kaya.
"Ternyata orang kaya tidak semua jahat Dira, sekarang aku sadar setelah bertemu dengan Dion. Dia laki-laki yang baik dan juga perhatian, tetapi dia jarang ada waktu buat aku," jelas Elin.
"Kamu yakin? biasanya orang yang perhatian selalu ada waktu buat kita," ucap Dira.
Elin berfikir kalau ucapan Dira ada benarnya, setiap kali bertemu Elin yang harus datang ke kantor lebih dulu.
Orang yang di kenal Elin adalah Dion, teman Arkan juga. Tetapi Dira belum tau karena memang belum pernah bertemu dengan Dion.
"Dira, aku duluan! soalnya sebentar lagi temanku keluar kantor," pamit Elin dan meninggalkan Dira yang masih mematunh di tempat.
"Elin kenapa jadi seperti ini, aku n
jadi penasaran dengan Elin," ucap Dira dalam hati.
Dira kemudian melanjutkan jalan kakinya menuju rumah, setelah sampai di jalan depan kompleks rumah Dira bertemu dengan Arkan yang baru saja pulang.
__ADS_1
"Dira, ayo naik!" ajak Arkan, meminta Dira naik ke dalam mobilnya.
"Sudah dekat, Kak. Aku jalan kaki saja," tolak Dira.
"Kenapa kamu selalu menolak?" tanya Arkan, tidak terima dengan penolakan Dira.
Dira kemudian masuk ke dalam mobil Arkan, walaupun sebenarnya dia tidak enak dengan Arkan.
"Bagaimana teman kamu, bisa ikut tidak?" tanya Arkan.
"Kalau Nisa mau saja, tetapi Luna masih bingung nanti Ibunya di rumah sendiri," jawab Dira.
"Berati yang ikut Nisa saja?" tanya Arkan lagi.
Arkan kemudian protes dengan Dira, dia mau Dira tetap menemaninya karena sudah janji dengan Dion.
"Tidak bisa begitu, kamu harus temani aku," ucap Arkan.
"Kak, jangan maksa gitu dong! Dira kalau tidak ada teman cewek berasa gimana gitu," ucap Dira.
"Alasan saja kamu! pokoknya kamu harus temani aku!" paksa Arkan.
Dira diam tidak membantah ucapan Arkan.
"Kak Arkan!" teriak Dira dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Ada apa teriak-teriak?" tanya Arkan. Jebol ini telinga," Lanjutnya.
"Kak, ini sudah lewat rumah Dira," ucap Dira, mengerucutkan bibirnya.
Arkan tetap melajukan kendaraannya menuju ke rumahnya, setelah sampai dia mengajak Dira untuk masuk ke dalam rumah.
"Ayo masuk!" ajak Arkan.
"Tidak, aku tunggu disini. Anterin aku pulang," ucap Dira.
Elang yang melihat Arkan pulang dengan Dira kelihatan tidak suka, ingin rasanya dia menegur tetapi niatnya di urungkan dan memilih untuk masuk ke dalam kamar.
Bunda Sinta yang kebetulan saat itu sedang di rumah menyuruh Dira untuk masuk, tetapi Dira menolak karena malu dan merasa tidak enak.
Dira duduk di kursi teras rumah Arkan di temani oleh Bunda Sinta.
"Kak Arkan lama sekali, tante," ucap Dira.
"Mungkin dia baru ganti baju," kata Bunda Sinta.
"Dira, Arkan bilang mau ajak kamu ke kampung yang dekat pantai. Kamu temani Arkan, ya?" ucap Bunda Sinta.
"Tapi, Dira tidak enak," ucap Dira.
Bunda Sinta kemudian menjelaskan alasan Arkan pergi ke kampung itu, akhirnya Dira mau mengerti dan bersedia menemani.
__ADS_1