Sahabat

Sahabat
Bab 38


__ADS_3

Sore ini Sisil dan temanya sedang berada di perjalanan menuju pantai tempat keluarga Dira liburan, tiba-tiba mobil yang mereka naikin mogok di jalan.


"Sial! kenapa macet begini," gerutu Sisil.


"Tau gitu pakai mobilku saja tadi," ucap Keke.


"Diam kalian, ayo bantu dorong!" kata Sisil, karena sudah terdengar klakson mobil dari belakangnya.


Keke memarahi sopir mobil yang ada di belakangnya, karena membunyikan klakson.


"Pak, lihat gak kalau mobil kita baru macet!" tegur Keke.


Sopir itu tidak menjawab ucapan Keke, dia turun dari mobilnya lalu membantu Sisil untuk meminggirkan mobil Sisil.


Sisil kemudian mencoba meminta tolong pada bengkel panggilan untuk memperbaiki mobilnya.


"Bagaimana ini sudah mulai gelap lagi," ucap Keke.


"Kamu tenang aja, jangan bikin gaduh," ucap teman lainya pada Keke.


Beberapa saat kemudian mobil Sisil sudah selesai untuk di perbaiki, mereka lalu meneruskan perjalanan menuju ke pantai.


****


Dira, Luna dan Nisa baru kembali ke vila, setelah bermain air di pantai dan melihat matahari terbenam.


"Kalian baru balik? cepat bersihkan tubuh kalian, yang lain sudah menunggu di taman," ucap mamah Meri.


"Ada apa di taman, mah?" tanya Dira.


"Kita akan bakar ikan lagi, ayo cepat!" kata mamah Meri.


"Asyik nih, tante Nisa yang bakar aja nanti," ucap Nisa.


"Jangan tante, nanti gosong," sahut Luna.


Mamah Meri hanya tersenyum dan menyuruh mereka bertiga untuk cepat-cepat mandi.


Setelah selesai mandi mereka pergi ke taman, terlihat Arkan dan Elang sedang membakar ikan.


"Kakak ganteng, Nisa bantuin ya," ucap Lisa.


"Boleh, ini kamu bakar dulu! aku ambil ikan di dalam bentar," pamit Elang.


"Siap! kakak ganteng," ucap Nisa dengan gaya centilnya.


"Nisa, awas gosong," ucap Arkan.


"Tenang pak, ikan bakar ala chef Nisa tidak akan gosong," kata Nisa.


"Aku bantu apa ini?" tanya Dira.


"Sini Dira, Luna, kita siapkan di meja," ucap bunda Sinta.

__ADS_1


Dira dan Luna meninggalkan Arkan dan Nisa yang sedang membakar ikan. Mereka membantu menyiapkan minuman dan camilan.


"Bau gosong," kata Elang yang baru datang dari mengambil ikan.


"Hehehe... maaf kakak ganteng, tadi Nisa lupa membalik ikannya," ucap Nisa.


"Tadi juga udah di ingetin, kan," kata Arkan. Baru juga di tinggal bentar udah gosong," Lanjutnya.


"Untung cuma satu yang gosong," ucap Nisa lagi.


"Yang gosong buat Nisa saja, Elang," kata Dira.


Acara bakar ikan berjalan dengan lancar tanpa ada kendala, ikan yang mereka bakar telah habis semua kecuali yang gosong.


"Nisa, tumben kamu gak nambah lagi ikannya?" tanya Arkan.


"Sudah habis tiga, pak," ucap Nisa.


"Kamu dari tadi panggil aku pak terus, ya? tugas kalian bertambah lagi!" ucap Arkan.


"Tuh tante, kak Arkan suka begitu," ucap Dira.


"Arkan, gak boleh kasih tugas banyak lagi ke mereka," ucap bunda Sinta.


"Bunda tidak tau, kalau mereka ini gak di kasih tugas gak bakal belajar," kata Arkan.


"Tante sangat setuju, Arkan," sahut mamah Meri.


"Biar kak Arkan yang mengerjakan sendiri," sahut Dira.


"Pak Arkan, contoh nih kakak ganteng," ucap Nisa. Dia baik banget tidak pernah kasih kita tugas," Lanjutnya.


Nisa memang lucu, membuat semua tertawa. Elang bukan dosen mereka dan tidak akan memberikan tugas, ada-ada saja ya Nisa.


Setelah selesai mereka semua bersih-bersih dan membawa peralatan ke dalam vila.


"Dira, kita ke pantai yuk!" ajak Luna.


"Ini malam Luna, tidak mungkin kita bermain air dan pasir," ucap Nisa.


"Aku juga bingung mau ngapain," ucap Dira.


Mereka bertiga keluar dari dan akan jalan-jalan ke pinggir pantai, tetapi saat akan keluar vila mereka bertemu dengan bunda Sinta.


Bunda Sinta bertanya kepada mereka akan pergi kemana, kalau hanya bertiga bunda Sinta melarang. Kemudian Elang di suruh bunda Sinta untuk ikut mereka bertiga, akan aman jika ada laki-laki yang menemani mereka bertiga.


Elang dengan terpaksa menuruti apa kata bunda nya, dia jalan di belakang. Walaupun awalnya sedikit kesal, bagi Elang mereka bertiga kadang sangat menyebalkan.


"Kita mau kemana?" tanya Elang.


"Gak tau, kita cuma suntuk saja di vila," jawab Luna.


"Buat api unggun saja yuk!" ajak Elang.

__ADS_1


"Boleh juga El," sahut Dira.


"Aku tidak bawa makanan, gimana dong," ucap Nisa.


Kemudian mereka bersama-sama mencari ranting pohon dan membeli camilan dan minuman. Elang kemudian menyalahkan api itu, mereka duduk sambil bercerita dan menikmati camilan yang di beli.


"Untung saja masih ada yang jual makanan ringan," ucap Nisa, membuat mereka bertiga heran.


"Nisa, kenapa makanan melulu yang kamu pikir?" tanya Luna, kesal dengan Nisa karena dari tadi hanya makanan yang dia bingungkan.


"Kamu berteman dengan Nisa berapa lama, Luna?" tanya Elang.


"Kita berteman sejak sma, kamu juga tau kenapa tanya Elang," ucap Luna.


"Sudah tau punya teman tukang makan masih saja protes," ucap Elang.


"Kakak ganteng, memang keren selalu membantu Nisa di saat dalam kesempitan dan kesusahan karena mereka berdua," ucap Nisa menunjuk Dira dan Luna.


"Aku diam saja lho dari tadi," sahut Dira, yang dari tadi sibuk memainkan ponselnya.


Dira sedang bertukar pesan dengan Arkan saat ini, mereka membicarakan rencana besok. Arkan akan mengajak Dira untuk pergi ke suatu tempat, dia meminta Dira menemaninya. Awalnya Dira juga menolak karena tidak enak dengan yang lain, apalagi kalau Elang tau pasti tambah kesal dengan Dira.


"Dira, kamu juga ngapain dari tadi senyum-senyum sendiri?" tanya Elang.


"Karena mendengarkan kalian, lucu juga," bohong Dira.


"Kalian lihat, itu Sisil bukan?" ucap Luna, menunjukan di mana Sisil berada.


"Iya, kenapa bisa ada di sini?" tanya Nisa.


"Apa mungkin mereka mengikuti kita," tebak Elang.


"Dia tau rencana kita kalau akan liburan ke pantai, tapi biarkan saja," ucap Dira.


Elang berfikir kalau kakaknya yang memberitahu keberadaan mereka, dia ingin segera pulang dan menegur Arkan.


"Ayo kita ke vila saja!" ajak Arkan.


"Jangan dulu Elang, sayang apinya belum mati," ucap Dira.


"Dira, kalau Sisil tau kamu disini pasti akan cari masalah," sahut Nisa, mengingatkan Dira.


"Lebih baik kita balik ke vila," kata Luna.


"Kalian takut sama mereka?" tanya Dira.


"Tidak, aku hanya malas melerai kalian berdua," ucap Elang.


"Kakak ganteng, kok gitu! kan mereka selalu memulai duluan," kata Nisa.


"Tetap saja, perempuan itu tidak baik berantem. Apalagi yang di permasalahkan hal yang tidak jelas," kata Elang.


Dira kemudian berfikir ada benarnya kata Elang, selama ini Sisil kalau melihat dia pasti selalu mencari masalah.

__ADS_1


__ADS_2