Sahabat

Sahabat
Bab 79


__ADS_3

"Kak, aku mau buku ini," ucap Dira.


"Di rumah ada, nanti kamu ambil aja! sini bukunya aku kembalikan," ucap Arkan, mengambil buku yang di bawa Dira dan menaruh kembali di rak. Arkan mengambil buku lain dan memberikan pada Dira, agar Dira kembali membaca.


"Kenapa dikembalikan Dira mau beli," kata Dira, sembari menerima buku yang diberikan oleh Arkan.


"Sudah, kamu baca lagi aja," ucap Arkan, lalu tersenyum ke arah Dira.


Dira kembali ke bangku tempat duduk tadi, sambil menunggu Arkan yang dari tadi belum menemukan buku.


Lima menit kemudian Dira menuju ke tempat Arkan lagi, dia merengek seperti anak kecil minta jajan.


"Kak, sudah belum? ayo kita pulang!" ajak Dira.


"Sebentar lagi, satu buku lagi," kata Arkan, fokus dengan buku yang dia pilih.


"Kak," ucap Dira, dengan wajah muram nya.


Arkan justru tersenyum melihat Dira, semakin bersemangat untuk mengerjai Dira. Sebenarnya dia sudah dari tadi menemukan buku yang di carinya.


Bunda Sinta dan Mamah Meri yang menyarankan agar sering mengajak Dira jalan, tujuannya agar mereka lebih akrab lagi.


Besok adalah hari pertunangan mereka, kedua orang tua itu sangat sibuk mempersiapkan acara. Saat ini Papah Dira sedang di perjalanan menuju rumah, begitu juga dengan Ayah Arkan.


***


Dira pagi ini bangun lebih awal, dia sudah rapi hendak pergi ke kampus. Mamah Meri melarang Dira berangkat ke kampus, dengan alasan mempersiapkan acara nanti malam.


"Mah, ada jam Kak Arkan kalau terlambat nanti tugas tambah banyak," ucap Dira.


"Arkan masih berangkat ke kampus juga? harusnya kalian di rumah, untuk persiapan nanti malam," ucap Mamah Meri.


"Ya udah, Mah! Dira pamit berangkat dulu!" kata Dira, sembari mengambil tasnya.


Mamah Meri akhirnya mengizinkan Dira berangkat ke kampus. Baru juga keluar rumah Dira melihat Papahnya pulang dari luar kota, kemudian dia menyambut Papahnya.


"Papah!" teriak Dira, lalu berlari memeluk Papahnya seperti anak kecil.


"Anak Papah sudah mau berangkat, ini masih pagi," ucap Papah Dira.


"Papah, kenapa baru pulang?" tanya Dira.


"Kerjaan Papah banyak, Dira," jawab Papah Dira.


"Pa, Dira dijodohin sama Mamah," ucap Dira, mengadu ke Papahnya.


Papah Dira hanya tersenyum melihat putrinya, lalu mengajak putri kesayangannya itu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Mamah Meri sedang membuat minuman untuk suaminya, karena dia sudah tau kalau Papah Dira pulang. Vio yang sedang sarapan menghentikan makannya, saat mendengar suara Papahnya. Anak kecil itu menuju ke tempat Papah dan Kakaknya berada.


"Anak Papah semua, ya? Kok gak ada yang peluk Mamah," canda Mamah Meri.


"Tiap hari ketemu sama Mamah," ucap Vio.


"Vio juga gak pernah peluk Dira," sahut Dira.


Untuk menghindari perdebatan kedua anaknya, akhirnya Papah Dira memeluk kedua putrinya yang cantik-cantik.


Dira meminta Papahnya mengantarkannya ke kampus, dia takut terlambat. Arkan tidak menjemputnya karena ada perlu dengan keluarganya.


Sisil dan Keke melihat Dira di antar oleh Papahnya, mereka meledek Dira.


"Sil, Dira di antar om-om tuh!" ucap Keke, menunjuk ke arah Dira berada.


"Masa sih," kata Sisil, melihat ke arah yang ditunjukkan Keke.


"Papahnya mungkin," sahut teman yang lain.


"Masa Papahnya masih muda begitu, gak mungkin juga," kata Sisil.


Dira turun dari mobil Papahnya, lalu melambaikan tangan. Setelah mobil Papahnya jalan, Dira masuk ke dalam kampus.


"Yang habis di antar om-om," ucap Keke, saat Dira lewat di depannya.


"Dira!" teriak Nisa, yang baru datang dan melihat Dira.


"Eh... Nisa! kamu baru datang?" tanya Dira, menoleh ke arah Nisa yang baru saja datang.


"Aku nungguin Luna, tapi dia gak datang-datang dari tadi," kata Nisa.


Karena diabaikan oleh Dira, Keke dan Sisil kesal lalu mereka mendekati Dira.


"Dira, hebat kamu bisa jalan sama om-om," kata Sisil.


"Emang kenapa? kamu ingin juga jalan sama om-om?" tanya Dira, sengaja mengiyakan perkataan Sisil.


"Ngapain sama om-om yang muda aja banyak," kata Sisil.


"Buktinya mana? Leo saja menghindari kamu," kata Dira.


Dengan keras Sisil menampar wajah Dira, kali ini Dira tidak membalas perbuatan Sisil. Dira mencoba mengalah dengan Sisil.


"Hentikan!" teriak Nisa, ketakutan melihat Dira di tampar dan di jambak oleh Sisil.


"Aku tidak apa-apa, Nisa," ucap Dira, sambil memegang pipinya yang merah bekas tamparan Sisil.

__ADS_1


Nisa memberanikan Diri mendorong Sisil hingga terjatuh, hal itu membuat Keke tidak terima. Keke ingin membalas dengan menampar Nisa, tetapi Dira menghalangi sehingga Dira yang terkena tamparan Keke hingga ujung bibirnya berdarah.


Nisa kemudian mengajak Dira ke ruang kesehatan untuk mengobati lukanya, sedangkan Keke membantu Sisil bangun dari jatuhnya. Saat berjalan menuju ke ruang kesehatan Arkan melihat Dira dan Nisa, dia lalu menuju ke arah mereka.


"Dira, kamu kenapa?" tanya Arkan.


"Itu Sisil, Pak," jawab Nisa.


"Kamu berantem lagi? mau jadi jagoan, iya?" tanya Arkan.


"Aduh! tanyanya nanti saja, Pak," ucap Nisa. Bantuin kenapa," Lanjutnya.


"Aku gak apa-apa, kalian jangan khawatir," kata Dira.


Arkan dan Nisa membawa Dira masuk ke ruang kesehatan, karena petugas kesehatan di kampus belum datang terpaksa Arkan yang mengobati luka Dira.


"Pelan-pelan, Kak! perih..." ucap Dira lirih.


"Tahan sebentar! lain kali makanya jangan berantem lagi," kata Arkan.


Dira menahan tangan Arkan yang sedang mengobati luka di bibirnya, karena tak kuat menahan rasa perih. Arkan menatap wajah cantik Dira, begitu juga dengan Dira yang menatap wajah tampan Arkan.


"Dira sama Pak Arkan malah mesra-mesra an," sahut Nisa, lalu menutup mulutnya.


"Nisa, coba perhatikan pipi Dira," kata Arkan.


"Kenapa, Pak?" tanya Nisa, lalu mendekati Dira.


"Sampai merah begitu, lihatlah!" tunjuk Arkan.


"Awas aja Sisil! kalau di luar kampus tadi sudah aku balas," kata Dira, langsung dapat tatapan dari Arkan.


"Harusnya tadi kamu jangan diam aja," kata Nisa.


Arkan lalu menyuruh Nisa untuk masuk kelas, dia akan segera mengajar. Dira hendak ikut dengan Nisa tetapi Arkan melarang dan menyuruh Dira untuk istirahat.


"Kak, nanti aku ketinggalan materi dong," kata Dira.


"Nanti pinjam buku teman kamu," ucap Arkan dengan entengnya.


"Kakak, lupa kalau Dira calon istri Kakak," kata Dira.


"Tugas tetap tugas," ucap Arkan, sambil tersenyum.


Arkan kemudian keluar dari ruang kesehatan dan menuju ke kelas, Dira mengikutinya dari belakang karena takut ketinggalan. Merasa ada yang mengikuti Arkan berhenti lalu menoleh ke belakang.


Arkan menegur Dira dan menyuruhnya untuk istirahat, karena nanti malam acara pertunangan mereka pasti akan melelahkan.

__ADS_1


__ADS_2