
Keesokan harinya mereka berangkat ke pantai untuk merayakan keberhasilan mereka, telah lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan.
Keke yang masih tidak rela kalau Sisil bareng dengan Dira dan sahabatnya mengikuti mereka ke pantai.
Arkan berangkat dengan Dira, mereka hanya berdua. Elang membawa Nisa dan Luna, sedangkan Leo bersama Sisil. Setelah sampai mereka menuju ke vila milik keluarga Arkan.
"Luna, Nisa, Sisil kamar kita sebelah sini saja," ucap Dira.
"Dira, kamu tidur di atas! kamar yang bawah buat kita semua," sahut Elang.
Dira menurut saja, lalu naik membawa barang-barangnya di bantu Arkan.
Sore hari mereka semua berjalan-jalan di pinggir pantai, mereka hendak melihat sunset.
"Akhirnya kita bisa berlibur lagi ke tempat ini," ucap Nisa.Seperti biasa di tangan Nisa tidak pernah kosong, selalu membawa makanan.
"Besok belum tentu bisa kita berkumpul seperti ini, pasti sibuk dengan kegiatan masing-masing," kata Luna.
"Apalagi aku yang sudah menikah," sahut Dira.
"Sebentar lagi aku juga sibuk, jagain keponakan," kata Elang sembari melirik Dira.
"Apa, Elang main lirik aja," kata Dira.
"Dira, aku minta maaf! dulu pernah suka sama kamu," ucap Leo.
"Pantes aja Sisil marah waktu itu, ayo ngaku," kata Luna.
Mereka kemudian tertawa saat mengingat kejadian itu, Sisil menjadi malu sendiri. "Luna, tau aja kalau aku kesel," ucapnya.
"Aku berani bilang karena Kak Arkan gak ada," ucap Leo.
Arkan kebetulan tidak bisa mengikuti mereka untuk jalan-jalan, karena masih ada pekerjaan yang dia kerjakan lewat laptopnya. Saat ini dia berada di vila sendiri, sesekali dia mengirimkan pesan pada Dira.
"Leo semua cewek dideketin," sahut Sisil.
"Semuanya aku anggap teman, Sisil! tanya saja sama mereka, pernah tidak aku bilang suka," jelas Leo.
Nisa melemparkan makanan yang hendak dia makan ke arah Leo, dia menjadi kesal dengan Leo. Nisa mengira kalau Leo suka dengannya, makanya dia kesal.
Karena keasikan mereka sampai tidak memperhatikan kalau Keke berada di dekat mereka, Keke sengaja mendekati mereka agar bisa mengawasi Sisil, dia masih tidak terima Sisil baikan dengan Dira dan teman-temannya.
***
Mamah Meri saat ini berada di rumah Bunda Sinta, mereka berencana untuk mengecek rumah Arkan. Kebetulan saat akan pergi Arkan dan Dira menitipkan kunci rumah ke bunda Sinta.
"Jeng, akhirnya kamu datang juga! aku sudah tidak sabar, ayo kita berangkat," ucap Bunda Sinta.
"Di mobil ada Vio, sekalian antar les," ucap Mamah Meri.
__ADS_1
"Iya gak papa, jeng," kata Bunda Sinta.
Kemudian mereka berangkat menuju ke tempat les Vio lebih dulu, kemudian hendak pergi ke rumah Arkan.
"Mamah sama Tante, mau kemana? kelihatannya seneng banget," ucap Vio.
"Vio, Tante sama Mamah ada urusan sebentar," jawab Bunda Sinta.
Vio sudah curiga kalau kedua orang tua itu sedang merencanakan sesuatu, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Setelah sampai di tempat les, Vio segera turun dari mobil.
"Mah, jangan telat nanti jemputnya," ucap Vio.
Mamah Meri menganggukkan kepalanya lalu melambaikan tangan, kemudian melakukan kendaraannya menuju ke rumah Arkan.
"Ayo jeng, kita cepat masuk," ajak Bunda Sinta.
Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah, lalu menuju ke kamar Arkan dan Dira.
"Jeng, mereka tidur satu kamar tidak kira-kira? kenapa masih rapi begini," ucap Mamah Meri.
"Mungkin saja sudah dibereskan," jawab Bunda Sinta sembari membuka almari yang dia siapkan.
Saat membuka almari Bunda Sinta melihat bajunya masih tertata rapi, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada apa, Jeng?" tanya Mamah Meri.
"Mungkin Dira tidak mau menggunakan, Jeng. Di rumah saja pasti pakai baju yang tertutup," kata Mamah Meri yang tau betul sifat anaknya.
"Ayo kita pulang, Jeng! nanti aku suruh Arkan biar tidur di rumah," kata Bunda Sinta.
Mamah Meri menyetujui ide dari Bunda Sinta, kemudian mereka menjemput Vio lalu belanja terlebih dahulu baru pulang ke rumah.
***
Di pantai Dira, Luna, Nisa dan Sisil sedang bermain pasir seperti anak kecil, sedang Elang dan Leo menunggu mereka sambil mengobrol.
"Sisil, kamu dari tadi gak banyak bicara kenapa?" tanya Nisa.
"Aku merasa malu sama kalian, ternyata kalian baik dan peduli satu sama lain," ucap Sisil sembari tersenyum.
"Dari dulu kita juga begini," sahut Luna.
Mereka bertiga lalu memeluk Sisil, mereka menerima Sisil dengan baik. Mereka juga sudah memaafkan kesalahan Sisil.
"Sisil, kita sekarang temenan," ucap Dira.
"Jangan sedih lagi, kalau ada masalah bilang saja! kita siap membantu," kata Luna.
"Yah... makanan ku ke bawa ombak," ucap Nisa hendak mengejar makanan itu.
__ADS_1
Luna menarik Nisa dan mengajaknya menepi, lalu memarahinya.
"Beli lagi aja nanti! kamu tau bahaya tidak, Nisa!" ucap Luna.
"Tapi, itu makanan yang ada di warung tetangga," kata Nisa masih menatap kepergian satu kantong makanan ringan itu.
"Nanti aku beliin, jangan di kejar," sahut Dira.
"Gimana kalau kita beli sekarang, sepertinya sebelah sana ada," ajak Sisil sembari menunjukan tempat itu.
Nisa menolak untuk membeli lagi, dia malah mengajak untuk menunggu makanannya menepi.
Leo tersenyum melihat kelakuan Nisa, sedangkan Elang sudah tidak kaget lagi dengan mereka bertiga. Menurutnya hanya Luna yang sedikit tidak seperti anak kecil.
Arkan mengirimkan pesan kalau dia tidak jadi menyusul karena Laura mengirimkan kerjaan lagi, dan harus diselesaikan.
"Ayo kita balik ke vila!" ajak Elang.
"Kebetulan Kak Arkan juga sudah mengirim pesan," ucap Dira.
"Tidak mau! aku nunggu makanan ku menepi dulu," tolak Nisa.
Leo dengan gemas menarik Nisa, dan membujuknya untuk kembali ke vila. Tetapi saat mereka hendak berjalan ke arah Vila, Keke mendatangi mereka.
"Sisil, urusan kita belum selesai," ucap Keke.
"Urusan apa? Kalau mau berteman minta maaf ke mereka, Keke! aku sadar dulu salah," ucap Sisil.
Keke tidak terima dengan ucapan Sisil, dia mau Sisil tetap jahat. Elang dan Leo kemudian yang mengusir Keke, karena dia juga kesal.
"Itu akibatnya kamu berteman dengan mereka! sudah aku bilang dari dulu," kata Leo sembari menatap Sisil.
"Iya Leo, aku yang salah," kata Sisil.
Dira kemudian mengajak mereka semua untuk berfoto sebagai kenang-kenangan, tetapi dia bingung siapa yang harus mengambil gambar.
Ternyata Arkan menyusul mereka, lalu Dira memintanya untuk mengambilkan gambar.
"Kak, tolong ambilkan gambar kita," ucap Dira.
"Tapi gak gratis," ucap Arkan.
"Nanti kalau Dira kasih duitnya, kalau sampai di vila," kata Dira.
Arkan kemudian menuruti permintaan istrinya itu untuk mengambil gambar bersama teman-temannya, mereka juga saling bergantian berfoto.
Sampai di sini perjalanan kisah mereka, untuk kedepannya mereka akan melanjutkan kehidupan masing-masing dan jarang bertemu. Semoga saja silaturahmi masih terjalin dengan indah, masih di beri kesempatan untuk saling bertukar cerita.
Selesai🥰🥰
__ADS_1