Sahabat

Sahabat
BONUS


__ADS_3

Sampai di rumah Dira langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia sangat kelelahan. Kemarin saat berada di pantai ia bermain air, Arkan yang tau kalau istrinya kecapean membuat makanan sendiri. Baru kali ini dia memasak sendiri, tetapi dia hanya memasak mie instan. Setelah makan ia membawanya ke kamar, untuk di berikan pada istrinya.


"Sayang, ayo kita makan dulu," ajaknya menaruh semangkok mie di meja.


"Kakak, masak kok gak bilang-bilang? Dira juga bisa siapin," ucapnya lalu bangun dari tidurnya dan duduk di sebelah suaminya.


"Ayo makan! jangan di lihat," kata Arkan.


"Mienya kok cuma satu mangkok, Kak," protes Dira yang melihat satu mangkok mie saja.


"Kita makan bareng, sayang," ucap Arkan lalu mengambil mie dan menyuapkan ke mulut Dira. Dira membuka mulutnya dengan malu-malu, baru kali ini dia mendapat perlakuan yang menurutnya romantis. Walaupun mereka makan hanya di rumah, dan tidak ada yang melihat.


"Makasih, Kak," ucap Dira setelah selesai makan, kemudian dia membawa mangkok tadi untuk di cuci. Jantung Dira serasa mau copot saat di suapi oleh suaminya sendiri, dia sangat beruntung mendapatkan suami yang pengertian.


"Sayang, besok Bunda meminta kita untuk tidur di rumahnya," kata Arkan yang saat ini sudah merebahkan diri di tempat tidur.


"Ada acara apa, Kak?" tangannya yang sebenarnya malu.

__ADS_1


Arkan juga belum mengetahui, tetapi menurutnya pasti Bundanya merencanakan sesuatu. Dira juga nurut dengan Arkan, dia ingin menjadi istri terbaik buat suaminya itu.


*


*


Sisil pulang diantar oleh Leo ke rumahnya, dia meminta Leo untuk mampir terlebih dahulu. Sisil sangat berterima kasih pada Leo, karena sudah banyak membantunya.


Kalau bukan karena Leo yang selalu menyadarkan, mungkin saat ini Sisil masih jahat. Dia sebenarnya iri dengan Dira waktu itu, di tambah Keke yang selalu menjadi kompor meleduk.


"Hanya sebentar, Leo. masa kamu juga tidak mau," kata Sisil yang terus memaksa Leo.


Karena Sisil terus memaksa akhirnya Leo memenuhi permintaan Sisil, dia masuk ke dalam rumah Sisil. Sisil memanggil asisten rumah tangganya dan meminta untuk di buatkan minuman.


"Sisil, kamu tidak bisa bikin minuman sendiri ya?" tanya Leo.


"Biasanya juga gitu, Leo," jawab Sisil dengan santai.

__ADS_1


"Lain kali bikin sendiri, walaupun ada pembantu. Jangan apa-apa nyuruh," kata Leo.


Leo tidak suka dengan perlakuan Sisil pada pembantunya, walaupun hanya sekedar membuatkan minuman. Leo lebih suka dengan wanita yang mandiri. Sisil mengiyakan ucapan Leo, mulai sekarang dia juga akan mulai berubah.


*


*


Di dalam mobil Luna dan Nisa berebut untuk diantarkan pulang lebih dulu, mereka berdua pulang bersama Elang. Elang yang mendengar mereka berebut menghentikan mobilnya di tepi jalan, kemudian menatap ke arah Luna dan Nisa secara bergantian.


"Bagaimana kalau kalian jadi istri ku, pasti seru," kata Elang.


"Elang!" teriak Luna dan Nisa.


"Makanya jangan seperti anak kecil, sama-sama di antar sampai rumah masih saja ribut," kata Elang.


Elang kemudian melajukan mobilnya lagi, dia mengantarkan Luna lebih dulu karena rumahnya paling dekat. Nisa mengerucutkan bibirnya karena Luna di antar pulang lebih dulu, Luna menjulurkan lidah ke arah Nisa. Elang hanya tersenyum melihat ke dua orang itu, yang berebut hanya karena hal sepele.

__ADS_1


__ADS_2