
Akhirnya ujian yang telah mereka laksanakan sudah selesai, tinggal menunggu hasilnya. Saat inilah yang di tunggu oleh Bunda Sinta dan Mamah Meri, yaitu melanjutkan rencananya kembali.
"Dira, pernikahan kita tinggal tiga hari, apa kamu sudah siap?" tanya Arkan manik matanya menatap Dira.
"Siap, Kak. Tapi kita setelah menikah tinggal di rumah Dira ya," ucap Dira karena takut dengan bayangan sendiri.
"Kenapa? kita sudah punya rumah, gak bisa gitu dong," kata Arkan tidak setuju dengan ide Dira.
Arkan sengaja menyiapkan rumah, agar Dira cepat menyesuaikan diri. Usianya yang terbilang masih muda pasti akan cepat berubah pikiran.
"Takut, Kak. Kita hanya tinggal berdua," alasan Dira tidak masuk akal, padahal dia berani di rumah sendiri.
"Harusnya senang, kita bisa berduaan," kata Arkan.
Dira melotot ke arah Arkan, membuat Arkan tersenyum.
"Kita berangkat sekarang saja, Kak!" ajak Dira, mereka hendak menjemput Luna dan Nisa lalu pergi ke rumah Arkan.
Arkan lalu menuruti permintaan calon istrinya itu, kebetulan akhir-akhir ini dia mengutamakan keperluan Dira.
***
__ADS_1
"Gara-gara Kakak ini semua, jadi melihat Laura terus," gerutu Elang yang saat ini sedang berada di kantor mengantikan Arkan untuk sementara waktu.
"Kakak kamu kemana?" tanya Aldi kebetulan berada di ruang kerja Arkan bersama Elang.
"Nganterin calon istrinya," jawab Elang kesal.
"Aldi, balik ke ruang kerja kamu!" kata Laura yang kebetulan datang membawa tumpukan berkas.
"Sebentar lagi, Bu. ada perlu dengan Elang sebentar saja," kata Aldi dengan sopan.
Elang hanya diam dan pura-pura fokus dengan berkas di meja, dia tidak melihat ke arah Laura ataupun Aldi. Karena ada Elang, Laura tidak protes ketika di panggil dengan sebutan Ibu.
Laura hanya menaruh berkas di meja, lalu kembali ke tempat kerjanya.
"Aku gak lihat apa-apa, Aldi. Laura aja dilihat bikin sakit mata," kata Elang.
Aldi tertawa lalu keluar dari ruangan itu, untuk kembali berkerja lagi.
***
Dira, Luna dan Nisa sedang memasak di rumah Arkan, mereka memasak ayam bakar saat ini. Luna yang paling banyak berperan, karena Dira dan Nisa masih belum bisa di andalkan.
__ADS_1
Selesai memasak mereka berkumpul di ruang televisi, sembari memakan camilan yang di beli oleh Arkan di mini market dekat rumah.
"Rencana kalian apa setelah lulus?" tanya Dira ingin tau rencana kedua sahabatnya.
"Aku mau melamar kerja di perusahaan, Dira. Tapi, gak tau di mana," ucap Luna yang paling bersemangat untuk memperbaiki keadaan ekonominya.
Nisa tidak menjawab, dia sibuk memakan camilan dan bercerita dengan Arkan soal film yang mereka tonton di televisi.
"Aku juga mau kerja lagi...
Arkan tersedak saat mendengar ucapan Dira, dia ternyata mendengarkan percakapan Dira dan Luna. Dira segera memberikan minuman pada Arkan. "Pelan-pelan, Kak! balapan makan kok sama Nisa, jelas kalah," ucapnya.
"Kak Arkan, ini aku habisin yang bikin tersedak," kata Nisa dengan mulut penuh makanan.
"Tadi kamu bilang mau kerja? kerja dimana?" tanya Arkan.
"Kerja di kantor Kak Dhimas, dia sudah menyiapkan semua untuk Dira," jelas Dira.
Dira berkata jujur pada Arkan, mereka kemaren saling bertukar kabar. Kemudian Dhimas tanya soal kuliah Dira, lalu mengatakan kalau menyiapkan pekerjaan untuk Dira nanti jika ingin kembali berkerja.
"Boleh kerja! nanti aku di rumah," ucap Arkan, dia cemburu kalau Dira dekat-dekat dengan Dhimas.
__ADS_1
"Itu artinya kamu gak boleh kerja, Dira," sahut Luna.
Untuk memecahkan suasana Dira mengajak mereka untuk makan, karena dari tadi belum ada yang makan. Arkan saat berada di ruang makan, ia masih diam.