
"Dira tampak biasa saja dengan Pak Arkan, kamu jangan khawatir," ucap Luna.
"Tetap saja aku khawatir mereka ada sesuatu," kata Elang.
"Elang, bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka," kata Luna, memberikan ide ke Elang.
"Aku tidak salah dengar, Luna? kamu sama saja kaya Bunda," kata Elang, lalu pergi meninggalkan rumah Luna.
Bahkan saat Luna memanggilnya dia tidak menghiraukan sama sekali.
***
Sore ini Arkan datang ke rumah Dira, dia menanyakan apakah ada waktu.
"Dira, hari minggu kamu ada acara tidak?" tanya Arkan.
"Tidak, Kak. Ada apa?" ucap Dira.
"Aku mau minta tolong, temani aku ke rumah Riri," kata Arkan.
"Gimana ya, Kak? soalnya Dira...
"Dira, kamu temani Arkan, kasihan dia kalau jauh," sahut Mamah Meri, yang tiba-tiba datang memotong ucapan Dira.
__ADS_1
"Mah, Dira ada janji dengan Luna dan Nisa," kata Dira.
"Ajak saja mereka, Dira. Aku tidak keberatan," ucap Arkan.
"Kakak mau datang ke tempat cewek, kenapa minta di temani?" tanya Dira penasaran. Memangnya tidak ada teman cowok yang bisa di ajak?" Lanjutnya.
"Ada, namanya Dion. Dia sebenarnya yang minta di temani, kalau ada cewek aman Dira," kata Arkan.
"Tapi, kalau mereka ikut bisa tidak," kata Dira.
Arkan terus meminta tolong agar Dira mau menemaninya, Dira mau ikut asal kedua sahabatnya itu juga diperbolehkan ikut dan ternyata Arkan tidak keberatan.
Dengan senang hati Arkan akan mengajak Dira dan temanya, tak lupa Arkan juga berterimakasih kepada mamah Meri karena telah memberikan izin.
Arkan kemudian berpamitan untuk pulang, sampai di rumah dia melihat Elang yang tampak murung.
"Bukan urusan Kakak," jawab Elang.
"Elang, aku tanya baik-baik, kamu jawab begitu," omel Arkan.
"Kalian ribut, ya? anak Bunda tidak boleh berantem," sahut Bunda Sinta.
"Tenang saja Bunda, kita tidak berantem," kata Elang.
__ADS_1
"Bunda, hari minggu Arkan minta izin mau ke kampung dekat pantai boleh, tidak?" tanya Arkan.
"Sama siapa, Arkan?" tanya Bunda Sinta.
Arkan kemudian menjelaskan kalau dia akan pergi dengan Dira dan temanya, untuk membuat Riri sadar.
"Apa tidak terlalu beresiko Arkan? nanti kalau kamu yang di tuduh telah membuat Riri seperti itu bagaimana?" tanya Bunda Sinta lagi.
"Arkan tidak berani Bunda, kalau ke rumah Riri sendiri," kata Arkan.
"Kakak, kalau sudah punya keinginan pasti kudu di penuhi tidak memikirkan orang lain," ucap Elang.
"Sebenarnya tujuan kakak kamu bagus Elang, hanya saja terlalu beresiko," ucap Bunda Sinta.
Karena sudah berjanji dengan Dion, Arkan tetap akan melanjutkan niatnya itu. Walaupun tidak mudah untuk menyadarkan orang yang sudah lama terlibat dalam kemaksiatan.
Keesokan harinya di kampus Dira memberitahu pada Luna dan Nisa. Kalau Nisa mau saja di ajak untuk ke kampung, berbeda dengan Luna yang membutuhkan pertimbangan karena khawatir kalau ibunya berada di rumah sendiri.
"Bagaimana Luna, kamu mau ikut tidak?" tanya Nisa.
"Aku belum bisa menentukan, nanti kalau ibu di rumah sendiri gimana," ucap Luna.
"Cuma sehari Luna, tidak lama," bujuk Nisa.
__ADS_1
"Kalau kalian tidak ikut aku akan bilang kak Arkan," ucap Dira.
Dira mengerti dengan keadaan Luna, justru bagi Dira bisa dijadikan alasan untuk menolak ajakan Arkan. Selain tempatnya jauh mungkin tidak enak dengan Arkan.