Sahabat

Sahabat
Bab 115


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba, keluarga Dira dan Arkan sangat berbahagia. Mereka berkumpul di sebuah hotel untuk melangsungkan pernikahan Arkan dan Dira. Semua sahabat dan teman-temannya di undang, Sisil juga hadir dalam acara ini. Luna datang bersama ibunya, begitu juga dengan Nisa.


"Mah, aku gak bisa nahan! boleh ambil tidak?" tanya Nisa saat melihat hidangan yang berjejer di meja.


"Jangan bikin malu Mamah! ayo beri ucapan dulu ke Dira," kata Mamah Nisa sembari menarik tangan Nisa, yang hampir mengambil makanan di meja.


"Mamah, lepasin Nisa! Nisa juga bisa jalan sendiri," kata Nisa berusaha melepaskan tangannya.


Luna yang berjalan sambil menggandeng tangan Ibunya, ia takut Ibunya terjatuh karena masih membutuhkan pendampingan saat berada di luar rumah.


"Pelan-pelan, Bu! Ayo kita menemui Dira," ucap Luna seraya menggandeng tangan Ibunya.


"Kapan Ibu bisa melihat kamu seperti ini, Luna?" tanya Ibunya menghentikan langkah, matanya berkaca-kaca.


"Ibu, Luna pernah bilang belum saatnya. Luna juga harus berkerja untuk membahagiakan Ibu," kata Luna sambil tersenyum.


Sisil datang bersama orang tuanya juga, Ayah Arkan yang mengundang keluarga Sisil. Walaupun pernah berbuat jahat tetapi mereka tidak memutuskan silahturahmi.


"Lihat! harusnya kamu yang berada di sebelah Arkan saat ini," kata Mamah Sisil. Dia menyesal tidak bisa memiliki menantu seperti Arkan, andai saja Sisil tidak jahat pasti Arkan mau dengan Sisil.

__ADS_1


"Namanya juga gak jodoh, Sisil bisa kok dapetin yang lebih dari Kak Arkan," ucapnya penuh dengan percaya diri.


"Kalian jangan ribut! memalukan saja!" bentak Papah Sisil.


Sisil dan Mamahnya terdiam saat di bentak oleh Papahnya, kemudian mereka juga turut memberikan ucapan pada Arkan dan Dira.


Elang yang duduk bersama Aldi, Hana dan Leo sedang menikmati hidangan yang tersedia.


"Kapan aku nikah, pacar saja tidak punya," ucap Hana sembari melihat pengantin sedang menyambut para tamu.


"Besok kamu siap tidak aku lamar?" tanya Aldi, melihat Hana dengan rasa iba.


Biasanya Aldi kalau bicara banyak bercanda, tapi di lihat dari raut wajahnya seakan apa yang dikatakan serius.


"Ogah! punya suami kaya Aldi lirik sana sini," kata Hana.


"Belum juga ngelamar sudah di tolak," ucap Aldi sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Elang yang tadinya tertawa terhenti saat Laura duduk bergabung bersama mereka, Laura datang bersama kekasihnya.

__ADS_1


"Aku ke sana dulu," kata Elang saat melihat Luna dan Ibunya.


Kepergian Elang membuat Aldi dan Hana keheranan mereka mengira kalau ada Laura, yang membuat Elang pergi.


"Kenapa itu anak? langsung main pergi aja," kata Aldi.


"Tuh, liat! kata Hana. Menyuruh Aldi melihat Laura yang ada di sebelahnya. Mata Aldi tertuju pada gaun yang digunakan oleh Laura, membuat kekasih Laura melotot ke arah Aldi.


"Eh, ada Ibu Laura," sapa Aldi sambil tersenyum.


"Pacar saya masih muda, jangan panggil Ibu," sahut pacar Laura.


"Maksudnya, kita panggil Ibu karena Ibu Laura atasan kita di kantor," jelas Hana sembari senyum.


"Benar kata mereka, sayang?" tanya pacar Laura.


Sebelum menjawab pertanyaan kekasihnya, Laura menatap Aldi dan Hana. "Benar-benar kurang ajar mereka! awas saja besok!" ucapnya dalam hati.


Laura hanya bisa mengiyakan ucapan kekasihnya itu, dia tidak mau ada keributan.

__ADS_1


__ADS_2