Sahabat

Sahabat
Bab 118


__ADS_3

Hari ini Arkan dan Dira sudah menempati rumah barunya, mereka di antar oleh kedua keluarga. Cici tidak ketinggalan, kucing itu di bawa oleh Dira.


"Dira, kenapa cici di bawa? rumah jadi sepi dong," ucap Mamah Meri.


"Ada Vio, Mah! dia lebih berisik dari cici," kata Dira.


"Kakak, jahat! Vio disamakan sama kucing jelek," sahut Vio.


"Udah jangan berebut kucing, nanti Papah yang bawa kucingnya," kata Papah Dira.


Dira memeluk erat kucing kesayangannya itu, jangan sampai di bawa oleh Papahnya ataupun Mamahnya.


"Om, buat Elang aja! boleh gak?" sahut Elang.


"Pulang aja yuk! jangan ganggu pengantin baru kalian semua," kata Bunda Sinta.


"Nginep sini juga boleh," kata Arkan.


"Ayah pamit dulu, kalian jaga diri baik-baik! Arkan, jangan bikin Dira nangis," kata Ayah Arkan sembari menepuk pundak Arkan.


Kedua keluarga itu akhirnya pulang, yang tersisa hanya Dira dan Arkan. Di tengah perjalanan Vio mengajak jalan-jalan ke mall, dan berfoto bersama. Foto mereka kirim ke Dira dan Arkan.


"Kak, lihat!" ucap Dira sembari memberikan ponselnya ke Arkan.


"Curang mereka, kita gak di ajak. Jangan sedih sayang, besok kita jalan berdua," ucap Arkan sembari mengusap kepala Dira dengan lembut.


Dira tersenyum ke arah suaminya, begitu juga dengan Arkan.


"Kak, besok Dira mau ke kampus. Soalnya seminggu lagi sudah wisuda," kata Dira.


"Gak boleh, sayang! aku masih cuti, apa kata teman nanti," ucap Arkan.


Dira akhirnya mengalah, ia mulai nurut dengan suaminya dari hal yang kecil. Biar terbiasa, kata Mamah Meri dan Bunda Sinta seorang istri harus patuh pada suaminya.


"Terus, kapan Dira bisa selesaikan semua urusan kuliah?" tanya Dira.


"Kamu tenang saja, nanti aku yang atur semua," kata Arkan.


Dira mengharuskan minggu depan dirinya ikut wisuda, dia tidak mau sampai harus mengulang lagi. Ia juga tidak mau menunda mempunyai momongan, agar Bunda Sinta dan Mamah Meri bahagia.


Suara ketukan pintu menghentikan percakapan mereka, ternyata yang datang adalah Nisa dan Luna.


"Luna, Nisa! kalian datang," kata Dira saat membuka pintu lalu mereka bertiga berpelukan.


"Masuk dulu, nanti pelukan lagi," kata Arkan yang ternyata mengikuti Dira membuka pintu.

__ADS_1


Mereka kemudian masuk ke dalam rumah dan duduk bersama di ruang keluarga.


"Kak Arkan, gimana kabarnya?" tanya Nisa.


"Nisa, kita kemarin baru saja bertemu! kenapa tanya kabar?" kata Arkan.


"Dira, aku haus," kata Luna sembari melirik ke arah Nisa.


"Aku buatin minum dulu kalau gitu," ucap Dira lalu masuk ke dapur.


Luna dan Nisa kemudian ikut ke dapur, mereka membawa kue dan camilan ke ruang keluarga. Nisa membawa buah-buahan, dia mengambil sendiri dari dalam kulkas.


"Kak Arkan, silahkan di minum," kata Dira seraya menaruh minuman di meja.


"Dira, kenapa kamu manggil suami kamu kakak?" tanya Luna heran setelah mendengar Dira memanggil Arkan dengan sebutan Kakak.


"Hehehe... aku bingung mau panggil apa, lagian juga sudah terbiasa," terang Dira.


Arkan yang melihat Luna menegur Dira membuatnya tersenyum, dia memaklumi mungkin istrinya belum terbiasa.


"Tinggal panggil sayang apa susahnya Dira," kata Luna.


"Aku jadi pingin nikah biar di panggil sayang, tapi sama siapa," sahut Nisa sembari memegang kue hendak di makan.


"Luna, rencana kamu setelah lulus mau kemana?" tanya Arkan.


"Kerja, Kak! Luna punya Ibu yang harus Luna bahagiakan. Kalau untuk menikah belum ada jodohnya," jelas Nisa.


"Luna, kamu bisa kerja di tempat Kak Dhimas. Gajinya di sana juga lumayan, apalagi kalau bisa kerja di cabang yang ada di luar kota," sahut Dira.


"Sayang, kamu kok tau? sedekat apa kamu sama Dhimas?" tanya Arkan yang sebenarnya cemburu ketika Dira menceritakan tentang Dhimas.


"Kak Dhimas cerita sama kita bertiga waktu magang, lumayan lho kita dapat gaji waktu magang," kata Nisa.


"Tuh! Nisa udah jelasin," jawab Dira.


Karena mereka sudah selesai bertukar cerita, Luna dan Nisa berpamitan untuk pulang. Mereka tidak mau ketinggalan angkot juga, kalau naik taksi mahal.


Setelah Luna dan Nisa pulang, Dira masuk ke dalam kamar. Ia merebahkan tubuhnya karena lelah, Arkan kemudian duduk di tepi ranjang dekat Dira berbaring.


"Sayang, boleh tanya sesuatu tidak?" tanya Arkan dengan lembut.


"Tidak! bayar kalau tanya," ucap Dira bercanda.


Arkan mencubit gemas pipi Dira, lalu mengambil dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu.

__ADS_1


"Satu, dua, tiga, empat, lima, kurang Kak," ucapnya sembari menatap wajah Arkan.


"Baru sehari jadi istri udah matre, gimana kalau sebulan," kata Arkan membuka dompetnya lagi yang ternyata tidak ada uang cash.


"Habis ya, Kak?" tanya Dira menengok dompet Arkan yang kosong.


Arkan kemudian memberikan dompetnya pada Dira, tetapi Dira mengembalikan uang yang tadi diberikan oleh Arkan ke dalam dompet lalu menaruhnya di meja.


"Kakak, mau tanya apa?"


"Apa kamu bahagia menikah dengan ku?" tanya Arkan.


"Kakak, kita jalani dulu! kalau saat ini Dira sangat bahagia," ucapnya kemudian memeluk suaminya itu.


"Sekarang berani main peluk," kata Arkan menggoda istrinya.


"Udah halal, Kak," sahut Dira mempererat pelukannya.


"Tadi Bunda sama Mamah pesan, baju tidur kamu di sebelah sana," kata Arkan menunjukkan almari yang letaknya paling ujung.


Dira kemudian melepas pelukannya, ia menuju ke almari itu. Dira penasaran apa rencana Bunda dan Mamahnya, setelah itu ia membuka almari.


"Kakak, lihat! kenapa bajunya seperti ini semua, Dira gak mau pakai," ucapnya mengerucutkan bibir.


"Kenapa? tinggal pakai aja, masa kamu tidak menghargai pemberian Bunda sama Mamah," kata Arkan padahal dia juga ingin Dira mengenakannya.


"Malu di lihat, Kakak," ucap Dira sembari melihat baju itu.


"Aku sudah melihat semua, waktu kita tidur di hotel," kata Arkan lalu menatap nakal istrinya.


"Kak, Dira sudah bilang jangan melihat! kenapa kakak lihat," protes Dira.


"Gak sengaja, sayang! selimut yang kamu pakai kebuka, kebetulan aku terbangun," jelas Arkan sembari memeluk Dira dari belakang.


Dira kemudian menutup lemari itu, dan meminta Arkan melepaskan pelukannya. Kemudian Dira beranjak ke tempat tidur lalu menutup tubuhnya dengan selimut.


Arkan kemudian keluar dari kamar, ia hendak melanjutkan pekerjaannya. Di ruang kerja ia tersenyum, teringat posisi Dira saat tidur di hotel. Kebetulan waktu itu ia tidak bisa tidur, hanya memperhatikan Dira yang tertidur pulas.


Dira membuka selimutnya, ternyata suaminya tidak berada disebelahnya kemudian Dira mencari Arkan ke ruang kerjanya.


"Kak, kenapa ninggalin Dira sendiri?" tanya Dira.


"Ada kerjaan sebentar, sayang. Kamu kalau ngantuk tidur aja dulu," ucapnya tetap fokus dengan berkas yang ia pegang.


Dira kemudian merebahkan tubuhnya di sofa, tak terasa ia mulai mengantuk dan ketiduran.

__ADS_1


__ADS_2