
Acara makan malam berjalan dengan lancar, Dira tidak langsung pulang, dia membantu membereskan meja makan bersama mamah Meri dan bunda Sinta.
"Dira, kamu tidak capek apa? istirahat aja dulu," ucap bunda Sinta.
"Udah malem tante, mending selesaikan ini dulu baru Dira pulang terus istirahat," ucap Dira.
Sisil kebetulan belum pulang, dia masuk ke dapur dan melihat bunda Sinta dan Dira beres-beres sedangkan mamah Meri masih berbincang-bincang dengan temannya di depan.
"Sisil, kamu gak bantu kita?" tanya Dira.
"Tidak, aku lihat saja! kalau cuci piring tangan ku alergi sabun," ucap Sisil.
Bunda Sinta melirik ke arah Dira, dalam hatinya dia sangat bersyukur Arkan tidak jadi melanjutkan pertunangannya dengan Sisil.
"Manja benar ya, tangan kamu," ucap Dira.
"Lagian tante Sinta sudah kaya juga tidak pakai asisten rumah tangga, malah bikin repot sendiri," ucap Sisil.
"Eh... kamu tidak tau ya, mengurus rumah sendiri suatu kebahagiaan buat seorang istri," ucap bunda Sinta.
Sisil diam tidak menjawab ucapan bunda Sinta, bunda Sinta dan Dira juga melanjutkan beres-beresnya.
"Bun, besok Arkan jadi ikut ke pantai," ucap Arkan.
"Nah gitu dong, biar rame," ucap bunda Sinta.
"Kak Arkan, gak ke kantor?" tanya Dira.
"Besok hari minggu kantornya tutup dulu," jawab Arkan.
"Mau pada liburan ya," sahut Sisil.
"Kita mau liburan bareng keluarga Dira, Sisil," ucap bunda Sinta.
Sisil di panggil oleh orang tuanya untuk di ajak pulang, dia berpamitan pada semuanya kecuali Dira. Setelah Sisil pulang bunda Sinta bertanya pada Dira.
"Dira, kenapa Sisil sikapnya seperti itu sama kamu?" tanya bunda Sinta.
"Gak tau tante, yang penting Dira berusaha baik sama dia," ucap Dira.
"Bunda gak tau kalau di kampus mereka suka berantem," sahut Elang.
"Elang bohong, tante," kata Dira.
"Masa sih Elang, Dira suka berantem?" ucap bunda Sinta.
"Tanya saja sama kakak, yang sering hukum mereka berdua," ucap Elang lagi.
"Elang, jangan bilang gitu lagi. Aku kan membela diri," jelas Dira.
"Bener Arkan kamu suka hukum Dira?" tanya bunda Sinta.
__ADS_1
"Iya bun, Arkan udah kasih surat peringatan buat Dira," ucap Arkan.
"Di lihat dari sikap gak mungkin Dira mulai dulu, kenapa yang kamu kasih peringatan Dira? tidak adil kalau gitu," ucap bunda Sinta.
Dira tersenyum mendengar ucapan bunda Sinta, berasa ada yang belain. Setelah selesai membantu bunda Sinta, Dira dan keluarganya pamit untuk pulang.
***
Keesokan harinya Luna dan Nisa sudah berada di rumah Dira, mereka mempersiapkan barang yang akan di bawa. Tak lupa Nisa membawa bekal makanan yang lumayan banyak.
"Nisa, kamu bawa apa? kenapa seperti mau pindah rumah saja?" tanya Luna, yang hanya membawa tas gendong berisi beberapa baju. Sedangkan Nisa membawa satu koper pakaian dan tas jinjing yang berisi makanan.
"Kita mau ke pantai kan, Lun? pasti bawa ganti baju dong," ucap Nisa.
"Mah, kita naik mobil yang mana?" tanya Dira.
"Kalian nanti bareng Elang, tunggu dulu sebentar lagi datang!" kata mamah Meri, sedang sibuk memasukkan barang ke mobilnya.
"Asyik, kita bareng kakak ganteng," ucap Nisa.
"Apaan Nisa, aku bareng Dira saja," sahut Luna.
"Elang lama banget lagi," gerutu Dira.
Untuk menuju ke pantai mereka membutuhkan waktu sekitar tiga jam, jadi mereka berangkat pagi agar puas main di pantai.
Elang datang bersama keluarganya, Arkan juga ikut bersama Elang.
"Boleh jeng," ucap bunda Sinta, lalu mengajak suaminya untuk pindah ke mobil mamah Meri.
Kemudian Dira dan teman-temannya masuk ke dalam mobil Elang.
"Kakak ganteng, nanti kalau jalan pelan-pelan ya," ucap Nisa.
"Nisa, kalau pelan kapan kita sampai?" tanya Arkan.
"Asal jalan pasti sampai pak," jawab Nisa.
Elang mulai menjalankan mobilnya mengikuti mobil mamah Meri yang jalan lebih dulu.
"Dira, kok kamu tidak membawa apa-apa?" tanya Luna.
"Barang-barang ku ada di mobil mamah," ucap Dira.
"Kamu kaya gak tau Dira saja, dasar anak mamah," ledek Elang.
"Elang, dari tadi malam kamu kenapa? ngatain aku terus," ucap Dira.
"Sudah kalian jangan ribut lagi," ucap Arkan. Tiap ketemu pasti ribut," Lanjutnya.
Elang dan Dira diam setelah Arkan berbicara, sedangkan Luna dan Nisa saling bertatapan.
__ADS_1
"Aku ngantuk sekali," ucap Nisa, mencairkan suasana.
"Makan dulu, kamu tadi bawa apa?" tanya Dira.
Nisa mengeluarkan bekal dari rumah, ada camilan roti dan nasi.
"Kalian mau tidak?" tanya Nisa.
"Tidak Nisa, kita sudah sarapan kue tadi sebelum berangkat," ucap Arkan.
"Kenapa tidak bagi buat kita, pak?" tanya Nisa.
"Tadi bunda bawa banyak, tapi gak tau di taruh mana," ucap Arkan.
Nisa kemudian melanjutkan makannya, tak lama kemudian belum juga ada lima menit dia sudah tertidur dengan pulas.
"Nisa cepat sekali tidur," ucap Luna.
"Pantes gak ada suaranya," kata Dira.
"Sebenarnya ini masih jauh tidak El?" tanya Arkan.
"Gak tau kak, Elang sudah lupa," jawab Elang.
Mereka sudah menempuh perjalanan sekitar satu jam, beruntung mereka tidak terkena macet. Biasanya jalan menuju tempat wisata sangat padat di waktu liburan.
Arkan memang belum pernah ke pantai, karena saat pulang dari luar negeri hanya sibuk dengan pekerjaan hingga lupa dengan dirinya sendiri.
Demi mendapatkan pekerjaan di kotanya dia fokus berkerja, lain dengan Elang dulu dia pernah di ajak oleh orang tuanya berlibur ke pantai.
"Luna, ibu di rumah sama siapa? kita akan menginap di vila milik tante Sinta," ucap Dira.
"Ada tanteku di rumah Dira, kemarin dia datang," ucap Luna.
"Syukurlah kalau ibu ada temannya, semoga saja tante kamu jagain ibu," ucap Dira.
"Ini yang datang tante yang baik Dira, kalau tante yang dulu kamu ketemu mana mau ke rumah," jelas Luna.
"Aku kira tante yang dulu pernah marah-marah itu," ucap Dira.
"Di setiap ibu sakit aku tidak pernah memberitahu saudaranya, itu alasannya pasti ada yang marah-marah," kata Luna.
"Yang sabar Luna, tidak semua saudara mau membantu saat kita kesusahan," sahut Arkan.
"Kalau ibu tidak sakit pasti kita ajak liburan," ucap Dira.
"Ibu gak bakal mau Dira, dulu waktu masih kecil ibu pernah tinggal di dekat pantai," kata Luna.
"Pasti seru tiap hari bisa main di pantai," ucap Elang.
Luna menceritakan tentang ibunya dulu, ibunya dari kecil sudah hidup dengan susah. Sekarang saatnya Luna yang harus bisa membuat ibunya bahagia itu salah satu impian Luna. Makanya dia sangat rajin belajar demi meraih cita-cita, beruntung Luna anak yang pandai.
__ADS_1