
Pagi ini Dira sudah siap-siap untuk pergi dengan Akan, mereka juga sudah izin dengan orang tua masing-masing.
"Kak, kita mau kemana sebenarnya?" tanya Dira.
"Ke tempat teman ku, rumahnya dekat dengan pantai," jawab Arkan.
"Teman kakak cewek apa cowok?" tanya Dira lagi.
"Cewek, makanya aku ajak kamu," kata Arkan. Mereka berdua hanya berjalan kaki karena dekat dengan pantai.
"Kenapa malah ajak Dira, kak? nanti ganggu lagi," kata Dira.
"Itu rumahnya, ayo!" ajak Arkan.
Mereka memasuki halaman rumah khas pedesaan, rumah itu terbuat dari kayu tetapi sangat rapi di lihat dari luar.
Rumah Riri teman Arkan yang tinggal di dekat pantai, Riri dulu pernah berkerja di kantor teman Arkan. Karena ada kesalahan paham Riri di pecat.
Dia mengenal Arkan saat Arkan masih berkerja dengan temannya.
Tok... tok... tok...
Karena terdengar ketukan pintu, Riri membuka pintu dan ternyata Arkan yang datang.
"Arkan, akhirnya kamu sampai sini juga. Ayo silahkan masuk," ucap Riri.
"Kebetulan aku main ke pantai, kenalkan ini teman ku," ucap Arkan.
Kemudian Riri berkenalan dengan Dira, mereka saling berjabat tangan dan menyebut nama masing-masing.
"Riri, senang berkenalan dengan kamu," ucap Dira.
Riri hanya tersenyum, di lihat dari raut wajahnya Riri seperti kurang suka dengan Dira.
"Sudah aku tebak Riri tidak suka, kalau aku membawa teman cewek," ucap Arkan dalam hati.
"Arkan, kamu masih ingat saja rumah aku," ucap Riri.
"Tentu saja," ucap Arkan.
"Riri, tinggal di sini sendiri ya?" tanya Dira.
"Iya, aku kerja di cafe kalau malam," jawabnya.
Arkan terkejut mendengar jawaban Riri, dulu Riri tidak seperti ini. Bahkan kerja malam, membuat Arkan tidak bersimpati lagi padanya.
"Riri, maksudnya kamu kerja malam gimana?" tanya Arkan. Di cafe dekat pantai adanya hiburan malam," Lanjutnya.
"Terpaksa, aku kerja di tempat haram itu," kata Riri.
"Lebih baik kamu berhenti dan cari pekerjaan yang layak," kata Arkan.
"Aku tidak bisa, kerja di sana lebih enak," kata Riri.
__ADS_1
Sebenarnya keluarga Riri juga tinggal di kota semua, hanya Riri yang menempati rumah itu dengan alasan pekerjaan.
Dulu Arkan pernah di ajak oleh temannya mengantarkan Riri ke rumah ini.
Arkan berencana menemui temannya setelah pulang dari liburan, dia hanya menyayangkan Riri saat ini. Dulu dia adalah gadis yang polos dan nurut, baik ke semua orang.
Setelah selesai mengobrol Arkan mengajak Dira untuk kembali ke vila.
Di perjalanan Dira masih memikirkan tentang Riri, yang kelihatannya tidak menyukainya. Lalu Dira bertanya dengan Arkan.
"Kak, teman kamu tadi aneh," ucap Dira.
"Aku kira hanya perasaan ku saja," kata Arkan.
"Riri kelihatan tidak suka dengan aku, kak," ucap Dira.
"Jangan di ambil hati, aku sengaja mengajak kamu karena sikap dia sudah berubah," kata Arkan. Dia dulu sangat ramah bahkan selalu menolong orang ketika ada yang dia bisa bantu, semenjak tinggal di sini dia berubah," kata Arkan.
"Kakak akrab dengan dia? kenapa bisa tau semua?" tanya Dira.
"Dion yang kasih tau semua, rencana aku akan menemui Dion," kata Arkan.
Akhirnya mereka sampai juga di vila, tampak sepi tidak ada orang sama sekali.
"Kak, yang lain pada kemana?" tanya Dira.
"Coba saja kamu telepon," kata Arkan.
Dira mencoba menghubungi Luna, menanyakan keberadaan mereka. Luna menjawab kalau mereka sedang berbelanja oleh-oleh untuk di bawa pulang.
"Kita jalan ke pantai saja, yuk!" ajak Arkan.
"Boleh kak, ayo!" sahut Dira.
Arkan dan Dira berjalan menyusuri bibir pantai, mereka berjalan beriringan selayaknya sepasang kekasih.
Tak sengaja mereka bertemu dengan Sisil dan temanya, Sisil terlihat geram melihat Dira berjalan dengan Arkan.
"Sisil, lihat itu," ucap Keke, menunjukkan keberadaan Arkan dan Dira.
"Dira sama Arkan, mereka sedekat itu? berdua lagi," kata Sisil.
"Samperin yuk Sil!" ajak Keke.
Mereka kemudian datang ke tempat Arkan dan Dira, Sisil pura-pura menabrakkan diri ke Arkan.
"Maaf tidak sengaja," ucap Arkan, karena saat berjalan dia asyik bercerita dengan Dira.
"Sisil, kamu gak papa kan?" tanya Dira, membantu Sisil bangun.
"Apaan sih, kamu pegang -pegang aku!" bentak Sisil pada Dira.
"Sudah Dira, biarkan saja. Ayo kita lanjut jalan!" ajak Arkan.
"Ok, kak," ucap Dira sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kalian sudah nabrak Sisil enak aja mau pergi begitu saja!" teriak Keke.
"Niat kita sudah baik lho, mau nolong juga malah di bentak," kata Arkan.
"Harusnya kamu kak, yang nolong aku. Bukan dia," ucap Sisil menunjuk Dira.
"Sekarang aku tanya, apa ada yang luka?" tanya Arkan.
"Tidak," ucap Sisil.
Arkan kemudian menggandeng tangan Dira, lalu mengajaknya jalan. Sisil masih menatap kepergian mereka, Dira menengok ke belakang sambil menjulurkan lidah seperti anak kecil, membuat Sisil dan Keke kesal dengan Dira.
"Awas kamu, Dira!" ucapnya.
"Bagaimana kalau kita kerjain mereka," kata Keke.
"Tidak usah konyol, ide kamu mana ada yang mulus," kata Sisil.
"Ayo kita ke hotel saja!" ajak Sisil, teman-temannya mengikuti Sisil pergi ke hotel yang mereka tempati.
***
"Luna, kamu belanja apa?" tanya mamah Meri, melihat belanjaan Luna hanya sedikit.
"Makanan kesukaan ibu, tante," jawab Luna.
"Kenapa sedikit sekali, Luna?" tanya Nisa.
"Tidak apa-apa, ini sudah cukup buat ibu," jawab Luna.
Mamah Meri dan bunda Sinta merasa kasihan dengan Luna, mereka membeli oleh-oleh banyak dan sepulang dari liburan akan datang ke rumah Luna.
Saat di tempat baju hanya Luna yang tidak membeli baju, karena uang yang pas dan juga Luna memikirkan kebutuhan buat di rumah.
"Kasihan sekali Luna, dia tidak membeli baju, jeng," ucap bunda Sinta berbisik pada mamah Meri.
"Nanti kita belikan dan kita antar ke rumahnya, karena kalau dibelikan pasti Luna menolak," ucap Mamah Meri.
"Bunda, tante, kenapa kalian lama sekali?" tanya Elang, yang sudah tidak sabar menunggu berbelanja.
"Sabar Elang, kita cari kain pantai dulu," kata bunda Sinta.
"Bunda, jangan beli baju terus," kata Elang.
"Kalian ke vila dulu saja, biar kita nanti nyusul," kata mamah Meri.
"Nyesel aku tidak mengajak Vio," kata Elang, karena Vio akan rewel ketika di ajak ke toko pakaian.
"Jangan dong Elang, untung saja Vio masih betah di tempat neneknya," ucap mamah Meri.
Elang pasti akan kalah ketika berhadapan dengan kedua ibu-ibu itu, karena permintaan yang kadang tidak masuk akal dan mereka sangat betah jika berbelanja.
Tidak hanya sekali ini Elang menjadi korban mereka saat berbelanja, kadang Elang mengajak Vio ketika di minta untuk menjemput mereka berbelanja.
Vio tidak akan betah dan marah-marah, sedangkan bundanya ketika berbelanja belum selesai sudah minta di jemput.
__ADS_1