
Elang saat ini menemui Nisa dan Luna di kantin kampus, dia bersedia untuk mengantar kedua gadis itu ke toko bahan kue. Tetapi Luna dan Nisa tidak mau, karena mereka mau menunggu Dira.
"Kakak ganteng, kita mau nunggu Dira saja," ucap Nisa kemudian menyantap semangkok mie instan rasa soto.
"Kalian ngarep gratisan dari Dira, kan? aku juga bisa beli buat kalian," kata Elang dengan kesal karena ajakannya di tolak oleh kedua gadis itu.
"Kita bertiga sudah janji, Elang! bukan karena gratisan, kamu main tuduh orang saja," kata Luna dengan kesal.
"Buktikan kalau ngomong, Kakak ganteng. Nanti bayarin makanan kita, ya," ucap Nisa modus malak keluar.
"Ogah!" kata Elang lalu pergi meninggalkan Nisa dan Luna padahal ia belum membayar kopinya yang dia pesan.
Luna akhirnya yang membayar kopi pesanan Elang, dia sadar kalau Elang sering dia repot kan.
"Nisa, ke rumah ku saja yuk!" ajak Luna saat mereka hendak pulang.
"Lain kali saja, Luna. Aku harus pergi ke rumah saudara ku," kata Nisa.
Mereka berdua akhirnya pulang sendiri-sendiri dengan tujuan yang berbeda.
Dira sangat bosan menunggu Arkan, dia kemudian menuju sebuah toko pakaian yang berada di dekat kantor Arkan. Dira membeli sebuah gaun yang sangat bagus, dia menginginkan gaun itu sejak lama.
Setelah selesai melakukan pembayaran Dira kembali ke kantor Arkan, dia masuk ke dalam ruang kerja Arkan yang saat itu Arkan sedang meeting.
Dira tiduran di sofa dalam ruangan itu, sembari bermain ponselnya.
"Lama sekali, Kak Arkan. Tau gini tadi pulang saja ke rumah," ucap Dira dalam hati. Dia sudah bosan bermain ponselnya, lalu melihat tas kertas yang berisi gaun tadi. Dira berinisiatif untuk mencoba gaun itu, dia tadi memang tidak mencoba karena buru-buru takut Arkan menunggunya lama.
Dira masuk ke dalam ruangan yang ada di ruang itu, ternyata sangat luas dan hanya berisi satu rak buku. Ia mencoba gaun itu di dalam ruangan lalu keluar dan memutar-mutar tubuhnya bak penari balet. Arkan yang baru masuk ke ruang kerjanya dan melihat pemandangan itu menggelengkan kepalanya.
Dira belum menyadari kalau Arkan sudah berada di dalam ruangan, saat membalikkan badannya Dira baru sadar ada Arkan sudah duduk di sofa dan memandang nya. Ia hampir terjatuh karena kaget dan kehilangan keseimbangan, untung saja Arkan dengan sigap menangkap tubuh Dira membuat mereka saling bertatapan.
Karena terpesona dengan wajah cantik Dira, Arkan tidak kuat menahan kewarasannya. Arkan lalu mencium bibir Dira dengan lembut, membuat Dira terpaku. Akalnya sudah hampir hilang, untung saja segera sadar dan melepaskan Dira.
"Kak, kenapa jatuhin Dira kelantai! sakit tau," ucap Dira dengan kesal.
"Maaf, sayang. Kalau aku gak jatuhin kamu bisa bahaya," ucap Arkan seraya menolong Dira dan mengajaknya duduk.
Dira tidak terima karena habis di cium lalu dijatuhkan begitu saja, ia protes dengan Arkan.
__ADS_1
"Kamu juga ngapain pakai baju seperti ini, pakai nari-nari segala," ucap Arkan.
"Dira nyobain baju ini, buat nanti ke pesta," kata Dira.
"Dengan pakaian seperti ini? tidak boleh! kamu tadi ganti baju di mana?" tanya Arkan.
"Di ruangan sebelah sana," ucapnya menunjuk ruangan yang pintunya terbuka.
"Kamu dapat baju ini dari mana?" tanya Arkan yang tidak di beri tahu kalau Dira tadi habis membelinya.
"Di toko dengan kantor," jawab Dira.
Arkan menepuk jidatnya, kemudian mengambil ponselnya lalu menyuruh Dira melihat.
"Buat apa, Kak?" tanya Dira.
"Lihat saja!" ucap Arkan memalingkan mukanya.
"Hampir gila aku menghadapi Dira hari ini, untung saja bisa menahannya kalau tidak pasti sudah aku terkam," ucap Arkan dalam hati.
"Kakak!" teriak Dira. Hapus, kak!" Lanjutnya.
"Kak, hapus dulu," kata Dira.
"Gak mau! ayo kita pulang!" ajak Arkan kemudian menutup pintu yang Dira gunakan untuk berganti baju.
Arkan mengajak Dira pulang ke rumahnya terlebih dahulu, dia sudah mulai melengkapi isi rumahnya.
"Kenapa kesini, Kak?" tanya Dira engan keluar dari mobil.
"Aku harus cek isi rumah dulu, ayo kita turun!" ajak Arkan.
"Tapi, hapus dulu rekaman cctv yang ada di ponsel Kakak," kata Dira.
"Nanti aku hapus kalau sudah melihatnya," ucap Arkan.
Dira memukul lengan Arkan, karena Arkan tidak mau menghapus rekaman cctv yang ada di ponselnya.
Mereka lalu masuk dan mengecek semua isi rumah, yang ternyata sesuai dengan pesanan Arkan. Di lantai dua adalah ruang khusus kamar tidurnya nanti, luas dan di lengkapi dengan tempat tidur yang sangat besar.
__ADS_1
"Kak, kenapa kamarnya pindah di atas? di bawah sepertinya lebih enak ada kolam renangnya," ucap Dira.
"Nanti bisa tidur pindah-pindah," kata Arkan.
Dira kemudian mengajak Arkan pulang, karena dia sudah sangat lelah ingin istirahat. Mereka sampai rumah sudah petang.
Saat hendak turun dari mobil, Arkan mencekal tangan Dira.
"Kenapa, Kak?" tanya Dira keheranan seraya menatap Arkan.
"Ruangan yang kamu gunakan untuk ganti baju tadi
tempat menyimpan berkas penting, jadi ada cctv yang terhubung dengan ponsel ku," terang Arkan.
"Dira asal masuk saja tadi, Kak. gak berfikir tempat apa," kata Dira.
"Ya sudah, sana masuk rumah!" kata Arkan.
Arkan kemudian pulang ke rumah setelah Dira masuk kedalam rumahnya, dia nasih teringat dengan apa yang dilakukannya tadi di kantor.
Sampai di rumah Arkan langsung masuk ke dalam kamar, dia membuka ponselnya tadi dan melihat rekaman cctv yang memperlihatkan Dira sedang berganti baju. Matanya terbelalak melihat tubuh Dira yang masih tertutup baju dalam. Arkan lalu menghapus rekaman cctv itu.
***
Pagi hari Dira tidak mau berangkat ke kampus lagi, dia masih ingin berada di rumah.
"Dira, ke kampus dulu! sebentar lagi ujian," ucap Mamah Meri dengan lembut.
"Gak mau, Mah! Dira sebentar lagi juga menikah," kata Dira.
"Mamah akan meminta Arkan besok menikahi kamu sekarang juga, kalau tidak mau ke kampus," ucap Mamah Meri.
"Itu lebih bagus, Mah," kata Dira.
Mamah Meri tidak mau memaksa Dira lagi, dia merasa bersalah sudah memutus semangat anaknya demi keegoisannya.
Arkan yang baru datang langsung ikut untuk sarapan pagi, dia datang ke sana karena Mamah Meri yang memintanya.
Kali ini Arkan tidak akan mengajak Dira ke kantor, karena berdua dengan Dira bisa membuatnya hilang akal.
__ADS_1
Mamah Meri berpamitan pergi lebih dulu, karena harus mengantar Vio ke sekolah lalu berangkat ke butik. Dia sangat sibuk kalau sudah sampai di butik, kebetulan banyak pesanan gaun pesta.