Sahabat

Sahabat
Bab 33


__ADS_3

Halo semua 🤗


Jumpa lagi dengan "Sahabat"


Maaf baru bisa update lagi, terimakasih sudah setia menunggu 🤗🤗


Kita lanjut lagi ya❤❤❤


Happy Reading 📖


Pulang dari kampus Elang langsung pulang ke rumah, masuk ke dalam kamar lalu menaruh tas di kursi belajarnya kemudian merebahkan badannya di atas tempat tidur.


Tak lama kemudian Akan juga pulang, dia langsung mencari bundanya.


"Bun, nanti sore bunda sibuk tidak?" tanyanya, tiba-tiba biasanya jarang Arkan bertanya pada bundanya.


"Tidak Arkan, ada apa?" tanya bunda Sinta.


"Arkan tanya aja kok, bun," ucapnya, lalu masuk ke dalam kamarnya.


Bunda Sinta memanggil anak-anaknya untuk makan siang bersama, setelah selesai makan mereka berkumpul di ruang tengah.


"Elang, tadi Dira kesini balikin buku," ucap bunda Sinta, menyerahkan buku itu ke Elang.


"Milik kakak buku ini, bun," ucap Elang.


"Kok dikembalikan, emang sudah selesai mengerjakan tugas?" tanya Arkan.


"Mungkin sudah, kak," ucap Elang, padahal dia yang meminta buku itu pada Dira.


Arkan lalu pamit untuk pergi ke kantor, karena ada sesuatu yang harus diselesaikan secara mendadak.


Elang masih berada di rumah dengan bundanya, dia mengajak Elang untuk membuat kue, karena tidak ada aktivitas lain Elang mau juga membantu bunda membuat kue.


"Bun, masa Elang ikut masak," protes Elang.


"Udah gak papa, lagian itu di tv juga banyak chef terkenal cowok semua," ucap bunda Sinta.


Elang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bukan hanya membuat kue kadang bundanya juga menyuruh Elang membeli bahan kue, kalau ada yang salah bundanya pasti ngomel. Tapi bagi Elang bundanya adalah wanita yang paling dia sayangi, apapun dilakukan jika hal itu menyangkut bundanya.


Tetapi Elang bukan anak yang manja lho, dia sangat mandiri tidak tergantung oleh kakaknya atau siapa aja.


"Bunda, telurnya sudah Elang masukan semua," ucapnya, memperlihatkan adonan kue yang sudah dia campur sementara bundanya menyiapkan bahan lain.


"Halus juga campuran kamu El, beneran bisa jadi chef kamu," kata bunda Sinta.


"Jangan mimpi bunda, El ingin berkerja di perusahaan milik sendiri nanti," ucap Elang.


"Misal kamu punya bakat bikin kue, kamu bisa usaha buka toko kue," kata bunda Sinta.

__ADS_1


"Sekalian nanti Elang pakai daster bunda, ya," ucap Elang dengan kesal, dia tidak mau menjadi chef.


Kali ini bunda Sinta hanya menunjukkan bahan dan cara membuat, Elang yang membuat kue. Tetapi setelah matang hasil buatan Elang tak kalah dengan buatan bundanya.



Bolu Macan Moist.


Kue buatan Elang sudah jadi, siap untuk menemani teh hangat di sore hari bersama keluarga tercinta.


"Elang, rasanya udah pas," ucap bunda Sinta, selesai mencicipi kue buatan Elang.


"Kok jadi Elang yang bikin, bunda sih," protes Elang.


"Besok bunda ada kumpulan lagi dengan teman satu kompleks, bagaimana kalau ada resep baru kamu coba bikin?" tanya bunda Sinta.


"Elang besok kuliah ada tugas, pulang sore," alasan Elang, agar tidak di suruh membuat kue.


Bunda Sinta terus memaksa Elang, dia melihat kalau Elang ada bakat membuat kue. Baru juga di ajarin satu kali dia sudah bisa membuat. Tak sabar bunda Sinta membagi kue buatan Elang ke tetangga, dia mempromosikan kue buatan anak gantengnya.


"Bunda, jangan bilang Dira. Nanti Elang bisa diledekin satu kampus," ucap Elang saat bundanya mau mengantar kue ke rumah Dira.


"Ini bakat kenapa mesti malu? harusnya dikembangkan El," kata bunda Sinta.


"Pokoknya Elang gak mau bikin lagi kalau sampai Dira tau," ucapnya sembari membereskan meja dapur.


Bunda Sinta tidak menggubris ucapan Elang, yang dia tau anak gantengnya bisa membuat kue.


Dira sore ini sedang menyiram bunga di depan rumah, karena mamah Meri dan Vio belum juga pulang.


"Dira, ini tante baru saja buat kue," ucap bunda Sinta, memberikan kue buatan Elang ke Dira.


"Terimakasih, tante! ayo masuk ke rumah dulu!" ajak Dira.


"Mamah kamu sudah pulang belum?" tanya bunda Sinta.


"Belum, mungkin sebentar lagi tante," jawab Dira dengan lembut.


"Tante pulang dulu, besok saja kalau jeng Meri di rumah tante masuk ke dalam," ucap bunda Sinta. Padahal bunda Sinta ingin berbagi kebahagiaan dengan mamah Meri, soal keberhasilan Elang membuat kue.


Dira membawa kue tadi masuk ke dalam rumah, lalu mencuci tangan dan mencicipi kue pemberian bunda Sinta tadi. "Enak juga ternyata kue buatan tante Sinta, warnanya juga cantik," ucap Dira.


Terdengar suara mobil mamahnya sudah datang, Dira segera membuka pintu.


"Papah," ucap Dira lalu berlari memeluk papahnya. Dira begitu manja kepada papahnya.


"Mamah kok gak bilang kalau jemput papah?" tanya Dira.


"Papah kamu saja tidak bilang kalau mau pulang," ucap Mamah Meri.

__ADS_1


"Vio tadi dibelikan papah oleh-oleh, kak," ucap Vio, sengaja memamerkan pada Dira.


"Sudah, ayo kita masuk rumah dulu!" ajak papahnya, menggandeng kedua putrinya masuk ke dalam rumah.


Keluarga itu berkumpul di ruang tengah, Dira membuatkan minum untuk Mamah dan Papahnya.


"Pa, mah, ini ada kue dari tante Sinta," ucap Dira, meletakkan kue itu di atas meja.


Mamah dan Papahnya memuji kue buatan bunda Sinta enak, teksturnya juga lembut tidak bikin tersedak.


"Pa, kita jadi gak liburan keluarga?" tanya Dira, menagih janji papahnya.


"Sayang, papah libur sehari. Bagaimana kalau bulan depan?" tanya Papahnya.


"Pa, anak-anak juga membutuhkan waktu dari papa. Apa salahnya nambah libur lagi," sahut mamah Meri.


"Tidak bisa, mah! pekerjaan papah masih numpuk," ucap papah Dira.


"Papah udah gak sayang lagi sama kita?" tanya Dira dengan mata berkaca-kaca, papahnya belum menjawab pertanyaan Dira sudah lari ke kamar dan mengunci pintunya dari dalam.


Papah Dira tersenyum ke arah mamah Meri, melihat tingkah putrinya yang sudah duduk di bangku kuliah masih seperti anak kecil.


"Pa, jangan ngerjain Dira," ucap mamah Meri.


"Biar mah, Dira tidak berubah masih seperti dulu," kata papahnya.


"Kakak kalah kan pa, sama Vio," ucap Vio.


"Sekarang Vio mandi dulu ya sayang, sudah sore," ucap papahnya dengan penuh kasih sayang.


Mamah Meri lalu ke dapur untuk memasak, buat makan malam mereka nanti.


Dira di dalam kamar masih menangis, dia merasa tidak di sayang lagi oleh papahnya. Padahal papahnya hanya pura-pura, saat ini papahnya mengambil cuti selama satu minggu dan sudah merencanakan liburan bersama keluarga.


Keluarga itu berencana berlibur ke luar kota di sebuah pantai. Dira dan Vio sangat suka dengan pantai.


Bersambung...


Terimakasih buat yang sudah membaca dan mendukung karya ini, semoga berkah & sehat selalu buat semuanya di manapun berada


Aamiin 🤲


Jangan lupa


Like


Komen


Favorit

__ADS_1


Rate


Terimakasih semuanya 🥰🥰❤❤❤❤


__ADS_2