
Keesokan harinya Arkan menyuruh mereka untuk mengumpulkan tugas yang kemarin dikerjakan. Tetapi ada yang tidak beres, dia heran kenapa bisa mengerjakan padahal salah satu dari mereka tidak ada yang meminjam buku di perpustakaan.
"Dira, kalian pinjam buku di mana?" tanya Arkan.
"Yang penting kita sudah mengerjakan, Pak. Dari mana itu tidak penting," jawab Dira.
"Kalian kerjakan ulang!" suruh Arkan.
"Aku tidak mau! kita sudah susah payah mencari buku itu," ucap Dira lagi.
Kali ini Dira benar-benar menguji kesabaran Arkan, takut terpancing emosi akhirnya Arkan pergi meninggalkan kelas Dira dan teman-temannya.
"Kamu keterlaluan sekali, Dira," ucap Luna.
"Dari pada kita di suruh mengerjakan tugas lagi," kata Dira.
Luna di panggil oleh Arkan untuk ke ruangannya, ada yang ingin Arkan bicarakan dengan Luna.
"Luna, kalian sudah dewasa. Kenapa masih bertingkah seperti anak kecil?" tanya Arkan. Sebentar lagi kalian lulus, kalau nilai jelek gimana?" Lanjutnya.
"Pak, kita tidak ada maksud begitu. Kita mengerjakan tugas pinjam buku di perpustakaan kota," jelas Luna.
"Siapa yang menyuruh ke sana? di perpustakaan kita saja ada," kata Arkan.
__ADS_1
Luna menjelaskan semua pada Arkan, beruntung Arkan mau mengerti dan memaklumi. Karena benar adanya Dira dan Nisa tidak diperbolehkan lagi ke perpustakaan kampus.
Arkan menyuruh Luna untuk memangilkan Dira dan Nisa secara bergantian.
Dira masuk lebih dulu ke ruangan Arkan, dia memberanikan diri walaupun tau dia salah.
"Iya, ada apa Pak?" tanya Dira.
Berbagai nasehat diberikan oleh Arkan, agar Dira mau berubah tidak seperti anak kecil. Apalagi hubungan keluarga mereka sangat dekat, jadi Arkan berani menghukum Dira.
"Tunjukkan ke orang tua kamu kalau kamu bisa lulus dengan nilai yang baik, buat mereka bangga!" kata Arkan.
"Iya, nanti Dira di rumah juga belajar sama Elang," kata Dira.
"Belajar apa saja, yang penting nilai Dira bagus," kata Dira.
"Elang masih labil, saat ini mungkin yang dipikirkan soal perasaan," kata Arkan. Di rumah saja dia jarang belajar bagaimana mau belajar dengan kamu," jelas Arkan.
"Setidaknya dia bisa membantu," ucap Dira lagi.
"Dira! jangan bikin kesal, sekarang lebih baik kamu kembali ke kelas," kata Arkan.
"Oke," jawab Dira, singkat.
__ADS_1
Dira kemudian memanggilkan Nisa, untuk masuk ke ruangan Arkan.
"Gimana tadi di dalam, Dira?" tanya Luna.
"Kita harus belajar, sebentar lagi ujian. Kita harus tunjukkan ke Pak Arkan kalau bisa," ucap Dira.
"Seandainya kalian tidak berebut buku, pasti kita tidak akan seperti ini," ucap Luna.
"Maaf, aku kira tidak akan seperti ini. Ternyata Pak Arkan serius," ucap Dira.
"Nyesel sekarang? makanya di pikir dulu kalau mau bercanda," kata Luna.
Nisa yang baru keluar dari ruangan Arkan langsung mengajak teman-temannya ke kantin, dia ingin mentraktir Dira dan Luna. Dia bukannya sedih tapi malah senang di nasehati Arkan, kata Nisa ada yang peduli dengannya.
Dira dan Luna sampai heran dengan Nisa, baru ini Nisa mau mentraktir mereka.
"Kakak ganteng mana ya? kok tidak kelihatan," ucap Nisa.
"Ada di kelas dia," jawab Dira.
"Kok Dira tau?" tanya Nisa.
"Nisa, kita tadi lewat kelas dia," ucap Luna.
__ADS_1
Nisa tidak jadi mentraktir mereka, karena tidak ada Elang alasannya. Padahal Elang tinggal panggil pasti datang.