Sahabat

Sahabat
Bab 99


__ADS_3

"Dira bagaimana keadaanmu?" tanya Luna saat di rumah Dira.


"Aku baik-baik saja, Luna," jawab Dira.


"Kita khawatir sama kamu Dira," ucap Nisa.


"Apakah Arkan masih marah sama kamu?" tanya Luna merasa tidak enak.


"Kak Arkan diam saja. Aku nggak tahu, dari tadi dia gak bilang apa-apa," terang Dira.


"Dira, sebenarnya aku ke sini mau minta maaf," ucap Luna.


"Maaf kenapa, Luna?" tanya Dira.


"Aku yang bilang ke Kak Arkan, soal kamu berantem sama Sisil," jelas Luna.


"Oh... soal itu! nggak apa-apa, Luna," kata Dira.


"Aku juga minta maaf, Dira. aku yang kasih tau Luna," kata Nisa.


Dira tidak menyalahkan teman-temannya, karena mereka juga melakukan itu kebaikan Dira juga teman-temannya sangat peduli dengannya.Hanya saja mereka merasa tidak enak telah membuat Dira dimarahi. Maka dari itu mereka datang ke rumah untuk meminta maaf.


Setelah dari kampus Arkan datang lagi ke rumah Dira, ia merasa tidak tega mau mendiamkan Dira.

__ADS_1


"Kalian kapan ke sini?" tanya Arkan pada Luna dan Nisa saat melihat mereka di rumah Dira.


"Kita baru saja datang, Kak," jawab Nisa.


"Kakak marah sama aku?" tanya Dira merasa kalau dari tadi didiamkan.


"Aku sudah pernah bilang dari dulu, jangan meladeni Sisil! kamu tidak pernah mau mendengar," jelas Arkan.


Dira kemudian menjelaskan dari awal sampai akhir, kenapa mereka bisa berantem di gedung kosong sebelah kampus.


"Kamu harusnya tidak menanggapi mereka," kata Arkan.


Nisa juga ikut menjelaskan kejadian tadi, karena dia yang dari tadi bersama Dira dan mengetahui kejadian sebenarnya.


Karena sudah sore Luna dan Nisa kemudian berpamitan untuk pulang, mereka takut tidak mendapat angkutan umum. Mereka berdua hanya ingin memastikan keadaan Dira, yang Nisa takutkan Dira menjadi geprek.


"Lain kali jangan di ulangi lagi! kamu dengar nggak?" ucap Arkan.


"Iya kak, aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Dira.


Arkan melihat ada sedikit goresan luka di kening Dira, seperti bekas kena kuku. Lalu Arkan bertanya pada Dira sudah di obati belum, Dira belum sempat mengobati lukanya karena kebetulan Luna dan Nisa tadi datang.


Luka itu tertutup rambut jadi tidak terlihat dengan jelas, saat ini Dira mengikat rambutnya sehingga bisa terlihat dengan jelas. Arkan lalu mengambil kotak obat di rumah Dira, yang mengobati luka Dira.

__ADS_1


"Pelan-pelan Kak, sakit!" ucap Dira lukanya terasa perih.


"Ini juga sudah pelan," kata Arkan


"Tapi sakit," kata Dira sembari menatap wajah Arkan.


Tatapan Dira membuat Arkan menghentikan mengobati kening Dira, ia membalas tatapan Dira lalu mencium pipi Dira.


"Maaf, aku gak bisa tahan kalau melihat mu," ucap Arkan dengan tersenyum.


"Besok lagi jangan gitu, Kak! Dira malu," kata Dira.


"Malu apa mau?" tanya Arkan menggoda Dira.


"Apaan sih, Kak," ucap Dira malu-malu kucing.


Arkan meminta Dira agar tidak malu lagi ketika bersamanya, lagian sebentar lagi meraka mau menikah.


"Kak, kalau sudah menikah nanti Dira boleh kerja tidak?" tanya Dira berharap Arkan memperbolehkan.


"Kerja sama aku bolehnya, kalau di perusahaan lain tidak boleh," terang Arkan.


"Gak bisa gitu dong, Kak!" kata Dira.

__ADS_1


Sebenarnya Arkan tidak akan pernah mengizinkan Dira untuk berkerja.


__ADS_2