Sahabat

Sahabat
Bab 102


__ADS_3

Sampai di rumah Arkan mereka langsung mendapat sambutan makan bersama, Dira dan Bunda Sinta kebetulan sudah selesai memasak. Beruntung sekali buat Nisa, gak dapat traktiran dari Elang tapi dapat makanan dari Dira dan Bunda Sinta.


"Dira, ini kamu yang masak?" tanya Luna.


"Bukan, Tante Sinta yang masak," jawab Dira.


"Untung saja bukan Dira yang masak," sahut Elang.


Elang sengaja berucap seperti itu, agar Dira kesal dengannya.


"Masakan Dira, enak tau!" kata Bunda Sinta.


Elang belum jadi makan karena ponselnya berbunyi, ia mendapat telepon dari Mamah Meri. Mamah Meri meminta tolong pada Elang agar menjemput Vio di butik.


Kebetulan tadi pulang sekolah Vio di jemput Mamah Meri dan di bawa ke butik. Vio tidak betah di sana, dari tadi merengek minta di antar pulang. Mamah Meri sangat sibuk jadi meminta Elang untuk menjemput Vio.


"Siapa El, yang telepon?" tanya Bunda Sinta.


"Tante Meri," jawab Elang singkat.


"Mamah? kenapa kamu yang di telepon, Elang," ucap Dira mengerucutkan bibirnya.


"Gak usah ngiri! lagian mana mau kamu jemput Vio," kata Elang.


"Dira sama Kakak ganteng dari kemarin ribut terus," ucap Nisa.

__ADS_1


Arkan kemudian mengajak mereka semua untuk makan, karena kalau tidak Dira dan Elang akan terus berdebat.


Elang kemudian berpamitan hendak menjemput Vio, Luna dan Nisa masih berada di rumah Arkan.


"Luna, kita nanti pulang sendiri aja! gak enak sama Kakak ganteng," ucap Nisa setelah Elang pergi.


"Gak papa, Nisa," ucap Bunda Sinta. Lagian Elang juga tidak sibuk," Lanjutnya.


"Kalian gak usah bingung, nanti aku antar," sahut Dira.


"Biar Dira aja yang antar kita, sekali-kali," ucap Luna.


Arkan yang sedang minum sampai tersedak saat mendengar ucapan Luna, ia tidak akan pernah mengizinkan Dira bawa mobil lagi.


"Emang Dira mau antar kalian naik apa?" tanya Arkan pada Luna dan Nisa.


"Pinjam mobil Kakak," kata Dira kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Gak boleh!" kata Arkan.


"Kak Arkan, jangan pelit kenapa," ucap Nisa.


Arkan kemudian menceritakan pengalaman saat naik mobil bersama Dira, membuat Luna, Nisa dan Bunda Sinta takut.


"Gak jadi kalau gitu," kata Nisa.

__ADS_1


"Maksud Dira kan baik, biar cepat sampai tujuan," kata Dira.


"Gagal dong! diantar calon mantu pergi belanja," sahut Bunda Sinta.


"Menantunya bar-bar, Tante," kata Luna.


"Tega semua, padahal Dira alim gak pernah bikin masalah," terang Dira.


Karena sudah petang Dira meminta di antar pulang, sekalian mengantar Luna dan Nisa. Sampai saat ini Elang juga belum balik, dia pasti sedang mengajak Vio jalan-jalan.


Bunda Sinta kebetulan tidak ikut pulang, dia mau tidur di rumah Arkan.


"Tante, Dira pulang dulu!" pamit Dira seraya menjabat tangan Bunda Sinta.


"Iya, kalian semua hati-hati," ucap Bunda Sinta dengan tersenyum.


Luna meminta di antar pulang lebih dulu, ia ada keperluan soalnya. Nisa selalu mengalah dan pasrah, baginya di antar pulang saja sudah sangat berterimakasih.


Di rumah Dira tidak ada orang, Arkan hendak pulang tidak tega.


"Dira, kamu berani di rumah sendiri?" tanya Arkan.


"Beranilah! emang ada apa kok takut?" ucap Dira.


Arkan hanya tidak tega saja meninggalkan Dira sendiri, itung-itung kesempatan untuk berduaan juga.

__ADS_1


__ADS_2