
Hai semua 🤗🤗
Terimakasih atas dukungan dan semangatnya❤
Happy Reading đź“–
Tanpa di sengaja saat keluar dari kampus, Dira bertemu kembali dengan Sisil dan Leo. Sisil langsung menuju ke arah Dira.
"Sisil!" teriak Leo, saat Sisil menuju di tempat Dira sedang duduk menunggu angkutan umum.
"Sini, Leo!" ajak Sisil, Leo lalu mendekat ke arah Sisil dan Dira.
"Ada apa Sisil?" tanya Dira.
"Aku mau minta maaf, atas kejadian tadi pagi," ucap Sisil, Leo tersenyum melihat Sisil yang telah meminta maaf pada Dira.
"Iya, aku udah maafin," kata Dira.
"Nah, ini baru cantik," puji Leo.
"Kita pulang duluan, Dira," pamit Sisil.
"Oke, aku masih menunggu angkot," ucap Dira.
"Ayo kita pulang, Leo!" ajak Sisil.
Akhirnya Sisil dan Leo pergi meninggalkan Dira yang masih menunggu angkutan umum.
"Dira, Luna dan Nisa mana?" tanya Elang, yang tiba-tiba datang.
"Mereka pergi ke kantin tadi," jawab Dira.
"Kamu gak ikut?" tanya Elang lagi.
"Gak El, aku mau makan di rumah," jawab Dira.
"Ayo pulang bareng!" ajak Elang.
"Tapi langsung ke rumah, ya?" ucap Dira.
"Iya, aku antar ke rumah," kata Elang.
Elang mengantarkan Dira sampai di depan rumah, dia tidak bercanda seperti biasanya. Dira mengajak Elang untuk mampir ke rumah tetapi Elang menolak, karena tidak enak di rumah hanya berdua dengan Dira.
Setelah masuk ke dalam rumah Dira menuju ke dalam kamarnya, dia merebahkan tubuhnya yang lelah.
***
Pagi ini hujan begitu deras membuat Dira menunda aktivitasnya untuk bangun pagi. Mamah Meri terpaksa membangunkan Dira.
"Dira, bangun dulu, nak!" ucap mamah Meri.
"Bentar lagi mah, Dira masih ngantuk," kata Dira, menarik selimut ke atas untuk menutupi wajahnya.
"Nanti terlambat masuk kampus, Dira," ucap mamah Meri, mengoyak tubuh Dira agar terbangun.
"Dira libur aja, mah," ucap Dira.
"Kenapa? nanti ketinggalan materi kamu," kata mamah Meri.
Dira langsung terbangun dari tidurnya dan menuju kamar mandi, sedangkan mamah Meri kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
__ADS_1
Elang sudah berada di depan rumah Dira, dia turun dari mobilnya dan mengetuk pintu rumah Dira. Mamah Meri membukakan pintu lalu menyuruh Elang untuk menunggu di dalam rumah. Dira segera menemui Elang, kedatangan Elang ke rumah Dira karena menjemput Dira.
Elang mengajak ke rumah Luna terlebih dahulu dan ke rumah Nisa karena hujan belum juga berhenti. Setelah menjemput mereka Elang baru melajukan mobilnya menuju ke kampus.
"Kakak ganteng, besok jemput lagi, ya?" ucap Nisa.
"Nisa, mulai deh," ucap Luna.
"Lumayan hujan-hujan ada yang jemput," sahut Dira.
"Besok kalian berangkat sendiri," ucap Elang.
"Siapa juga Elang, yang minta di jemput," kata Luna.
"Aku kasihan sama kalian, kalau harus hujan-hujan jalan kaki pakai payung," kata Elang.
Kasihan juga Elang sudah menjemput mereka, tetapi tidak ada yang mengucapkan terimakasih. Mereka malah ngelunjak ada yang minta di jemput lagi.
"Ayo kita ke kantin dulu!" ajak Nisa.
"Aku tidak ikut, kalian bertiga saja," ucap Elang.
"Kenapa kakak ganteng? biar Nisa yang bayar nanti," kata Nisa.
"Aku masuk kelas dulu," pamit Elang.
Setelah Elang pergi mereka bertiga pergi ke kantin untuk sarapan pagi. Di kantin ada Keke teman Sisil yang jahat itu. Keke mendatangi meja dimana Dira dan kedua sahabatnya sedang duduk.
"Dira, lama kita tidak ketemu," ucap Keke.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Luna, pada keke.
"Kangen berantem sama Dira," jawab Keke.
"Tukang makan diem, kamu! gak usah ikut-ikutan!" bentak Keke.
"Keke, mau kamu apa?" tanya Dira.
"Keke," panggil Leo.
"Iya, Leo," jawab Keke, menoleh ke arah Leo.
"Kamu lihat Sisil tidak?" tanya Leo.
"Tidak, dia gak berangkat sepertinya," jawab Keke.
"Dira, temani aku ke perpustakaan yuk!" ajak Leo.
"Maaf, aku tidak bisa," tolak Dira.
Leo lalu pergi karena kesal dengan penolakan Dira, dia mencari Sisil.
"Dira, urusan kita belum selesai," ucap Keke, lalu pergi mengikuti Leo.
"Dira, kenapa kamu tolak? Leo tidak kalah ganteng sama pak Arkan," ucap Nisa.
"Emang aku apaan di ajak langsung ikut," kata Dira.
"Cakep juga pak Arkan, Nisa," sahut Luna.
"Kalau aku pilih kakak ganteng, dia selalu ada di saat kita butuh," ucap Nisa.
__ADS_1
"Kalian rebutan apa?" tanya Dira.
Makanan yang mereka pesan akhirnya datang, membuat mereka menghentikan percakapannya.
Di tempat lain Leo sedang bersama Sisil dan Keke, kebetulan tadi Sisil memang belum datang saat Leo mencarinya.
"Sisil, kamu bisa bantu aku tidak?" tanya Leo.
"Bantu apa?" tanya Sisil.
"Deketin aku sama Dira," ucap Leo.
"What? deketin kamu sama Dira?" tanya Keke.
"Iya, kalian mau bantu tidak?" ucap Elang.
"Misalnya di antara kita berdua ada yang suka sama kamu gimana?" tanya Sisil.
"Aku menganggap kalian teman, jadi buang jauh-jauh rasa itu," jelas Leo.
"Kamu gak peka, Leo," ucap Sisil, kemudian pergi meninggalkan Keke dan Leo.
"Sisil kenapa?" tanya Leo, benar-benar tidak peka.
"Dia suka sama kamu, bodoh!" ucap Keke.
"Tolong bantu jelasin ke Sisil, Keke," kata Leo.
"Ogah!" ucap Keke, mengikuti Sisil pergi meninggalkan Leo.
Leo heran dengan kedua gadis itu, kenapa dia malah di tinggalkan. Sisil memang terlihat suka dengan Leo sejak mereka bertemu, tetapi Leo selalu bersikap baik pada semua orang.
"Sisil, kamu kenapa?" tanya Keke.
"Kesal sama Leo, kok bisa dia suka sama Dira," jawab Sisil.
"Kita kerjain aja Dira, gimana?" ucap Keke.
"Boleh juga, bagaimana kalau nanti pulang kampus," ucap Sisil, dengan senyum liciknya.
"Oke, kamu punya ide apa?" tanya Keke.
"Tapi bagaimana dengan kedua temanya itu?" ucap Sisil.
Sisil dan Keke sedang menyusun rencana untuk mengerjai Dira. Mereka berdua memang sangat licik, tidak ada jera.
Kebetulan Dira pulang dari kampus sendirian, Luna dan Nisa sudah pulang terlebih dahulu. Seperti biasanya Dira menunggu angkutan umum di depan kampus.
Tak lama kemudian Dira naik angkot menuju rumahnya, di dalam angkot itu memang sepi tidak ada penumpang lainnya.
"Pak, kok sepi? biasanya penuh?" tanya Dira.
"Iya, neng," jawab sopir angkot.
Perasaan Dira tidak enak, dia baru sadar kalau angkutan umum yang dia tumpangi bukan yang biasanya dia tumpangi.
"Pak, ini bukan jalan ke rumah saya," ucap Dira.
"Nanti juga sampai, diam!" bentak sopir itu.
"Saya berhenti di sini saja, pak," ucap Dira, dia sudah ketakutan.
__ADS_1
Sopir angkot itu tidak mau berhenti, dia justru melajukan kendaraannya dengan kencang, Dira berteriak minta tolong tetapi tidak ada satupun orang yang mendengar, jalan yang di lewati semakin sepi percuma Dira berteriak tidak akan ada yang mendengar.
Bersambung..... 🤗🤗