Sahabat

Sahabat
Bab 98


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, Dira, Luna dan Nisa sudah selesai magang. Hari ini mereka kembali masuk kuliah. Dira berangkat ke kampus bareng dengan Arkan, karena sebentar lagi mereka akan menikah.


"Kak, terimakasih udah bolehin Dira nebeng," ucap Dira dengan tersenyum.


"Nanti pulang bareng gak?" tanya Arkan.


Dira tidak mau pulang bareng Arkan, karena Arkan pasti akan pulang sore. Biasanya Arkan akan ke kantor lebih dulu. Arkan berpesan pada Dira agar tidak pulang terlalu petang, dia harus istirahat cukup dan belajar. Sebentar lagi Dira akan ujian di kampus, dia harus mendapat nilai bagus.


Arkan selalu memberinya waktu untuk belajar. Mereka tidak seperti pasangan pada umumnya, karena jarang keluar. Dira yang terbilang masih seperti anak kecil, Arkan harus banyak bersabar untuk menghadapinya.


Dira kemudian menemui teman-temanya yang saat ini berada di taman kampus.


"Laporan magang kamu mana, Dira?" tanya Luna yang bertugas sebagai ketua kelompok mereka bertiga.


"Aku lupa taruh," ucap Dira seraya membuka tasnya mencari laporan itu.


"Ketinggalan entar, Dira," kata Nisa.


"Nah, ini ada," ucap Dira memberikannya ke Luna, karena akan segera di berikan pada Dosen.


"Aku ke ruang dosen dulu!" pamit Luna meninggalkan temanya di taman.


Tak lama kemudian Sisil dan Keke datang, mereka tidak terima saat Dira, Luna dan Nisa berpindah tempat magang.


"Dira, kamu pengecut juga ternyata!" ucap Keke.


"Maksud kamu apa, Keke?" tanya Dira dengan lembut.


"Kamu pengecut! magang di kantor Sisil aja menyerah," kata Keke.


"Oh... itu! aku pindah karena tidak sesuai peraturannya," ucap Dira dengan santai.


"Kamu saja yang gak patuh," sahut Sisil.


"Mana ada orang magang di suruh bersihin rumput!" kata Nisa.


"Tuh, dengarkan kata Nisa!" kata Dira sembari melihat Nisa yang sedang makan camilan.


"Tukang makan, gak usah belain teman kamu! sini kalau berani," kata Keke.


Nisa hendak berdiri, tapi Dira melarangnya. Dia teringat ucapan Arkan lebih baik menghindari Sisil. Dira juga tidak ingin membuat malu Arkan. Dira mengajak Nisa menyusul Luna, untuk menghindari Sisil. Saat Dira dan Luna hendak melangkahkan kaki, Keke menghadang mereka.


"Minggir!" ketus Nisa.

__ADS_1


"Pengecut kalian!" kata Keke.


Dira terpancing emosinya, dia sudah bersabar dan mencoba menghindari tetapi mereka masih tetap saja menganggu.


"Mau kalian apa?" tanya Dira sudah tidak bisa lagi menahan kesabaran.


Sisil dan Keke berniat membuat perhitungan dengan Dira, mereka berdua sudah hilang akal. Tidak memperdulikan teman sendiri. Dira kemudian mengajak mereka untuk keluar kampus, Sisil dan Keke menyetujuinya. Nisa ikut dengan Dira karena khawatir kalau dibiarkan sendiri.


Mereka berempat pergi ke gedung kosong sebelah kampus, kebetulan gedung itu tidak ada orang sama sekali. Nisa badannya mulai gemetaran, dia takut gedung itu angker atau gimana. Dia berinisiatif untuk mengirimkan pesan pada Luna.


"Kamu mau tau mau kita apa, Dira?" tanya Sisil.


"Iya! cepat katakan!" ucap Dira.


Tiba-tiba Sisil langsung menampar Dira, "Aku mau membalas semua perlakuan kamu," ujar Sisil tak menghiraukan Nisa yang teriak untuk menghentikan tamparannya.


Dira juga tidak tinggal diam, ia membalas Sisil. Karena di luar kampus Dira melakukan apa yang Sisil lakukan. Keke ikut mengeroyok Dira. Nisa bingung mau berbuat apa, ingin membantu Dira tapi, dia tidak punya nyali. Yang Nisa lakukan adalah mengirimkan pesan singkat pada Luna, agar segera datang untuk melerai mereka bertiga.


"Hentikan!" teriak seseorang dari kejauhan.


Nisa merasa sedikit lebih tenang, ternyata ada orang yang melihat kejadian itu. Orang itu adalah Leo, kebetulan tadi sekilas melihat mereka memasuki gedung kosong itu.


"Jangan ikut campur!" bentak Sisil.


"Leo, tunggu!" teriak Sisil.


"Mumpung ada kesempatan, jangan hiraukan Leo," ujar Keke mempengaruhi Sisil agar berantem dengan Dira.


Mereka bertiga rambutnya menjadi acak-acakan, baju juga pada sobek karena tarik menarik. Sisil masih sempat mengancam Dira lalu mengejar Leo, sedangkan Keke mengikuti Sisil.


"Dira, kamu pulang saja! masa calon istri dosen kaya gini," ucap Nisa sembari mengacak rambut Dira.


"Ayo kita ke depan cari angkot!" ajak Dira.


Mereka berdua kemudian keluar dari gedung itu, lalu menuju ke pinggir jalan. Saat mereka menunggu angkot Luna datang dengan Arkan. Tanpa banyak bicara Arkan langsung menarik tangan Dira, dia ajak masuk ke dalam mobil lalu membawanya pergi. Sementara Nisa dan Luna masih mematung di pinggir jalan seraya saling bertatapan.


"Kenapa kamu aja Pak Arkan?" tanya Nisa.


"Semua salah ku, tadi Pak Arkan aku ajak takut gak bisa melerai mereka," jelas Luna.


Dira dan Arkan saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah Dira. Arkan dari tadi hanya diam membisu, melihat penampilan Dira yang acak-acakan habis berantem membuatnya kesal.


"Kak...

__ADS_1


Dira memanggil Arkan tetapi tidak ada jawaban. Arkan fokus mengendarai mobilnya.


"Kak, maafkan Dira," ucap Dira.


Arkan masih diam, menjawab pun tidak. Sampai di rumah Dira langsung turun dari mobil. Dia mengajak Arkan masuk ke dalam rumah, tetapi Arkan masih diam. Tak lupa Dira mengucapkan terimakasih, karena tidak ada jawaban juga Dira langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Dira!" teriak Mamah meri saat melihat anaknya pulang dengan keadaan acak-acakan.


"Iya, Mah," sahut Dira.


"Kamu habis ngapain? kenapa pulang-pulang kaya orang habis berantem," ucap Mamah Meri sembari menggelengkan kepalanya.


Dira kemudian masuk ke dalam kamar, dia hendak membersihkan tubuhnya dan berganti baju.


Mamah Meri melihat Arkan masih di depan, lalu menghampirinya. Ia mengajak Arkan masuk ke dalam rumah dan bertanya pada Arkan apa sebenarnya yang sudah terjadi.


"Arkan, kenapa Dira seperti itu?" tanya Mamah Meri.


"Biasa Tante, mau jadi jagoan," jawab Arkan.


"Memalukan saja itu anak!" kesal Mamah Meri.


"Jangan di marahi, Tante. Biarkan saja dulu, maaf kalau Arkan pura-pura marah sama Dira," ujar Arkan.


"Tante ikhlas kamu marahi Dira, biar tidak mengulangi lagi," ucap Mamah Meri.


Mamah Meri tidak membela Dira sama sekali, dia justru senang Arkan memberi pelajaran Dira karena semua demi kebaikannya.


Arkan kemudian kembali ke kampus lagi, karena masih ada jam mengajar.


Di kampus Nisa masih kesal dengan Luna, karena memberitahu Arkan soal Dira.


"Lain kali jangan bilang, Luna! mungkin sekarang Dira sudah jadi ayam geprek ala Mamah Meri," ujar Nisa.


"Iya, nanti aku ke rumah Dira minta maaf," ucap Luna penuh dengan penyesalan. Kenapa tadi bisa berantem lagi?" Lanjutnya.


Nisa menjelaskan kepada Luna, soal kejadian tadi.


"Menurutku Dira tidak bersalah, sudah berusaha menghindari tapi Sisil masih ngejar terus," ucap Luna.


"Itu si Keke yang jadi kompor," sahut Nisa.


Luna dan Nisa kemudian pergi ke rumah Dira, karena Luna hendak meminta maaf pada Dira.

__ADS_1


__ADS_2