
"Kak, kenapa lama sekali?" tanya Dira.
"Tadi macet di jalan, ayo kita pulang!" ajak Arkan.
"Kak, Luna sama Nisa boleh ikut tidak?" tanya Dira merasa kasihan dengan temannya kalau naik angkot.
"Boleh, sayang," kata Arkan.
Luna dan Nisa ikut masuk ke dalam mobil Arkan, mereka di antar sampai rumah masing-masing. Arkan membawa Dira ke kantor setelah mengantarkan Luna dan Nisa.
"Kak, kenapa ke kantor?" tanya Dira.
"Nanti kamu juga tau, Ayo ke dalam!" ajak Arkan.
"Aku tunggu di mobil saja, Kak," kata Dira tidak mau masuk ke kantor.
"Beneran gak mau? kalau gitu aku masuk dulu," ucap Arkan kemudian dia masuk ke dalam kantor.
Dira yang berada di dalam mobil khawatir kalau Arkan berduaan dengan Laura, ia kemudian berlari menyusul Arkan ke dalam.
"Kak, tunggu!" teriak Dira sambil berlari.
Arkan menghentikan langkahnya. "Katanya tadi gak mau ikut," ucapnya.
Mereka melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan Arkan, Arkan menunjukkan beberapa berkas ke Dira.
"Ini buat belajar," ucap Arkan seraya memberikan berkas itu.
"Dira gak mau pusing," tolak Dira.
"Selesai kuliah nanti mau kerja gak?" tanya Arkan.
"Emang boleh? ya udah mana, Dira belajar," ucapnya seraya merebut berkas itu dari tangan Arkan.
Arkan lalu menyuruh Dira untuk menunggu sebentar di ruangannya, karena ia ada meeting dengan karyawan kantor.
***
"Sudah lama Dira tidak datang kesini," ucap Ibu panti.
"Mungkin Dira sedang sibuk, Bu. Nanti kalau Elin ketemu pasti Elin sampaikan," kata Elin.
"Ibu hanya ingin berterimakasih karena Dira sudah banyak membantu kita," ucap Ibu panti.
"Ibu tenang saja, nanti kalau bertemu Elin bawa Dira kesini," terang Elin.
"Elin, kamu temui Nak Dion dulu," ucap Ibu panti.
"Oh... iya, Bu. Elin sampai lupa ada Dion di depan," kata Elin lalu meninggalkan Ibu panti.
Elin menemui Dion yang sejak tadi menunggunya, saat ini Elin dan Dion semakin dekat. Bahkan mereka sering berangkat kerja bareng, Dion juga sering membantu Ibu panti.
__ADS_1
"Dion, bisa bantu aku tidak?" tanya Elin.
"Bantu apa? tidak biasanya kamu minta bantuan?" tanya Dion seraya mencubit pipi Elin.
"Antar aku ke rumah Dira," kata Elin.
"Itu aja? Dira? gak salah nama, sepertinya pernah ketemu sama orang yang namanya Dira," kata Dion.
"Serius? di mana ketemu Dira?" tanya Elin penuh antusias.
Dion kemudian menceritakan soal Dira yang pernah dia temui, Elin mengira kalau itu bukan Dira yang dia temui.
"Sepertinya bukan Dira yang aku maksud," ucap Elin.
"Jangan dipikirkan lagi, kalau nanti ketemu Dira teman kamu ajak kesini. Atau kita kerumahnya saja, kamu tau alamatnya kan?" kata Dion.
"Rumah Dira sangat mewah, aku takut masuk ke dalam rumahnya," kata Elin.
"Nanti bisa di atur, jangan takut! ada aku yang akan selalu ada buat kamu," ucap Dion mengacak rambut Elin.
Dion lalu mengajak Elin untuk menemui Arkan di sebuah restoran, jalanan macet yang membuat mereka lama sampai di tempat.
Arkan selesai meeting mengajak Dira ke restoran depan kantor, karena ingin bertemu dengan temanya. Dira tidak mau ikut karena belum mandi, Arkan terus memaksa Dira.
"Kak, nanti Mamah nyari Dira," alasan Dira yang tidak masuk akal.
"Gak bakalan, aku calon suami kamu! masa pergi sama calon suaminya gak boleh," terang Arkan.
Mereka lalu bergandengan tangan untuk menyebrang jalan. Sampai di restoran Arkan belum melihat Dion berada di sana, ia lalu mengambil ponselnya dan menelepon Dion.
"Jangan cemberut gitu dong, sayang! nanti cantiknya hilang," ucap Arkan.
"Kak, jangan lama-lama Dira malu," kata Dira.
"Malu kenapa?" tanya Arkan menatap wajah cantik Dira.
"Dira belum mandi, masih bau," kata Dira.
"Malu sama siapa? kamu gak mandi aja aku tetap sayang, kok," kata Arkan tersenyum.
"Sejak kapan Kakak jadi genit? Dira jadi geli dengernya," ucap Dira.
Arkan hanya tersenyum mendengar ucapan Dira, semakin semangat Arkan mengoda Dira.
"Teman Kakak lama sekali, kita di sini hampir satu jam, Kak," kata Dira lagi.
"Sabar dong! dia lagi kena macet, sebentar lagi pasti datang," kata Arkan.
Tak lama kemudian Dion datang dengan Elin, Dira sangat terkejut melihat Elin. Sudah lama mereka tidak bertemu, karena kesibukan masing-masing.
"Dira!" ucap Elin kaget.
__ADS_1
"Elin!" Ucapnya lalu memeluk Elin.
"Jadi Dira ini teman yang kamu ceritakan tadi? sama kalau gitu," sahut Dion.
"Maksudnya? kalian ngomongin aku?" tanya Dira seraya melepaskan pelukan dari Elin.
"Tadi kita ngomongin kamu, Dira kamu belum mandi?" tanya Elin.
Dira melirik ke arah Arkan yang sedang tersenyum, dia kesal Arkan meledeknya dari tadi.
"Kalian gak bisa duduk kalau bicara?" tanya Arkan.
"Dari tadi kamu kenapa gak nyuruh?" tanya Dion bukanya menjawab pertanyaan dari Arkan.
Mereka berempat ngobrol sambil menunggu hidangan yang mereka pesan. Elin juga sudah menyampaikan pesan Ibu panti pada Dira, Dira belum bisa datang ke panti karena sibuk.
"Dira, kapan kamu bisa datang ke panti?" tanya Elin.
"Ngikut sopir yang antar, Elin," jawab Dira.
"Mana sopir kamu? biasanya juga sendiri kalau tidak bareng sama Kak Arkan," ucap Elin.
"Sekarang aku di anggap sopir, ya?" sahut Arkan.
"Hehehe... engga kok, Kak," kata Dira seraya mengacungkan dua jarinya.
"Nanti aku hukum, kamu!" kata Arkan.
Dira dan Arkan mereka malah berdebat soal hukuman, Elin sampai menutup kedua telinganya. Sedangkan Dion hanya diam sambil meminum kopi yang dia pesan.
"Kalian berisik sekali," ucap Elin.
Arkan lalu meminta maaf kepada Elin, karena sudah mengganggu kenyamanannya. Apa yang dibicarakan Dion dan Arkan sudah selesai, mereka lalu pulang. Kali ini Arkan dan Dira pulang larut malam.
"Kak, ayo masuk dulu ke rumah!" ajak Dira setelah sampai di depan rumahnya.
"Tidak, aku mau hukum kamu saja," tolak Arkan.
"Iya, nanti aku kerjakan di dalam. turun dulu sekarang," kata Dira.
"Gak enak sama tetangga, ini sudah malam," kata Arkan.
Dira hendak turun dari mobil, tetapi tangan Arkan mencekal lengan Dira.
"Apa...
Ciuman di pipi Dira menghentikan ucapan Dira, lalu Arkan berucap kalau itu tadi sebagai hukuman karena telah bilang kalau dia sopir Dira.
"Turun sana! jangan mandi nanti bekasnya hilang," ucap Arkan lalu tersenyum.
Dira malu-malu kucing menatap wajah Arkan, dia lalu keluar dari mobil sedang Arkan melajukan mobilnya ke rumah.
__ADS_1
Dira langsung masuk ke dalam kamar, karena semua penghuni rumah sudah tidur semua. Ia lalu merebahkan tubuhnya, mau beranjak mandi tetapi malas. Akhirnya terlelap sampai pagi hari.