
Sisil dan Leo tiba-tiba datang ke rumah Arkan dan Dira, mereka hendak menanyakan pekerjaan pada Arkan. Leo yang dulu pernah magang di tempat Arkan, mempunyai bakat yang bagus maka dari itu Arkan menjanjikan pekerjaan untuknya.
Arkan kebetulan juga berada di rumah saat ini, ia tidak pergi ke kantor.
"Sisil, Leo! ayo masuk dulu," ajak Dira.
Mereka bertiga kemudian duduk di ruang tamu, sembari menunggu Arkan yang sedang mandi.
"Dira, aku mau bertemu Pak Arkan," ucap Leo. Aku tadi sudah janjian," Lanjutnya.
"Tunggu sebentar, Kakak masih mandi," ucap Dira.
Dira kemudian memanggilkan Arkan, lalu membuatkan minuman untuk Sisil dan Leo. Setelah selesai ia kembali duduk menemui mereka, seraya membawa minuman dan makanan ringan.
"Dira, besok hari terakhir kita di kampus. Besok gimana kalau kita berantem lagi?" tanya Sisil bercanda.
"Boleh, aku ingin rasanya jambak kamu lagi," kata Dira lalu tersenyum ke arah Sisil.
"Pas kalian berantem ada pengumuman, Dira dan Sisil tidak lulus dan tidak jadi wisuda," sahut Leo.
__ADS_1
"Rencana apa lagi? kalian semua emang gak lulus," kata Arkan yang tiba-tiba datang.
"Kakak, gak malu?" tanya Dira.
"Tidak!" jawab Arkan singkat.
Dira kemudian mengajak Sisil ke dalam, karena Leo dan Arkan hendak membicarakan soal pekerjaan.
"Gimana apa kamu menerima tawaran ku, Leo?" tanya Arkan sembari memperlihatkan berkas yang di bawa dari kantor.
"Tujuan saya juga untuk menanyakan pekerjaan, Pak. Tetapi saya belum sepenuhnya bisa," kata Leo.
Arkan kemudian menjelaskan pada Leo, soal pekerjaan bisa belajar bersama. Selama magang di kantor Arkan, Leo memang sangat rajin dan cekatan dalam berkerja. Hal itu yang membuat Arkan tertarik.
"Sisil, kamu besok langsung kerja atau gimana?" tanya Dira ingin tau rencana seorang Sisil.
"Sebenarnya Papah menyuruh ku berkerja di perusahaannya, tapi aku belum siap," jawab Sisil yang memang masih ragu.
Kalau bisa dan diperbolehkan Sisil akan keluar kota, karena di sana gajinya lebih banyak. Tetapi orang tuanya tidak memperbolehkan, dengan alasan Sisil anak perempuan.
__ADS_1
"Aku juga ingin kerja, sepertinya tidak diperbolehkan juga," kata Dira.
"Dira, aku nyesel sekarang pernah jahat sama kamu," kata Sisil dengan wajah penuh penyesalan.
Dira memeluk Sisil dengan penuh kasih sayang, dia tau kalau temannya pernah salah. Tetapi Dira tidak egois, ia selalu memaafkan. Sebenarnya Sisil juga ada sisi baiknya, terkadang ia menuruti apa perkataan temannya.
"Sisil, kita masih bisa berteman dengan baik. Kamu jangan sedih, kalau ada waktu main ke sini," ucap Dira.
"Makasih, Dira. Ternyata kamu baik sekali," kata Sisil.
Arkan dan Leo kemudian menyusul ke ruang keluarga, karena yang mereka bahas sudah selesai.
"Sisil, kenapa waktu magang kamu suruh Dira cabut rumput di taman?" tanya Dira baru ada kesempatan bertanya.
"Semua itu ide Keke, Kak," kata Sisil dengan malu.
"Dia selalu nurut sama Keke si tukang kompor," sahut Leo yang tidak suka dengan Keke.
"Untung saja kamu gak di tuntut pihak kampus, bisa tutup perusahaan Papah mu," ucap Arkan.
__ADS_1
"Sudah, Kak. Sisil sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya," ucap Dira membela Sisil.
Maksud Arkan biar Sisil tidak mengulangi kesalahannya lagi, dia ingin Sisil menjadi orang baik.