
Dira merasa khawatir dengan teman-temanya, dia pura-pura ikut Arkan kembali ke kantornya. Saat Arkan sedang meeting Dira pergi ke perusahaan Sisil.
Di sana Dira mencari keberadaan Luna dan Nisa, Dira melihat Sisil sedang menyuruh Nisa dan Luna membereskan buku. Dira langsung masuk begitu saja ke ruangan itu, tanpa meminta izin kepada Sisil.
"Dira, ngapain kamu ke sini?" tanya Sisil.
"Ini sudah waktunya pulang! jangan main perintah seenaknya," ucap Dira.
"Gak usah ikut campur, kamu," kata Sisil.
"Luna, Nisa ayo kita pulang!" ajak Dira saking kesalnya dengan Sisil.
"Silahkan ikut dia, kalau mau nilai kalian jelek," kata Sisil.
"Gak usah takut kalian, besok kita magang di tempat yang baru," ucap Dira.
"Beneran, Dira?" tanya Nisa, sangat senang akhirnya bisa bebas dari Sisil.
"Iya, ayo pulang!" kata Dira lagi.
Mereka bertiga akhirnya keluar dari kantor Sisil, mereka menuju ke cafe. Dira mentraktir mereka, karena kasihan dan nampak kelelahan.
Arkan di kantornya bingung mencari Dira, di saat dia tadi meeting Dira di suruh menunggu di ruangannya tetapi tidak ada.
"Laura, kamu tau di mana Dira?" tanya Arkan dengan wajah paniknya.
__ADS_1
"Boro-boro mau ngawasin tunangan Bapak, ini aja kerjaan banyak," jawab Laura.
"Aku tanya, Laura! bukan nyuruh ngawasin," kata Arkan kemudian pergi ke luar kantor.
Arkan mengirimkan pesan ke pada Dira, menanyakan keberadaannya. Setelah mendapat balasan dari Dira, dia menyusul Dira.
"Ternyata begini calon istri yang baik, pergi gak pamit," ucap Arkan.
"Maaf, tadi Dira lupa soalnya buru-buru," ucap Dira.
"Besok lagi di ulangi, ya," kata Arkan seraya mengelus kepala Dira.
"Kakak, mau makan apa? Dira bayar sekalian," kata Dira.
"Samain aja!" kata Arkan.
"Kemarin waktu habis tunangan di kasih sama calon mertua," ucap Dira sembari melirik Arkan yang sibuk memainkan gadgetnya.
"Kalau ada Elang pasti ngomel, Dira," sahut Luna.
"Elang gak tau, Luna," kata Dira.
"Ayah yang kasih kamu? kenapa aku gak di kasih, gak bener ini," kata Arkan.
"Kakak, udah bisa cari duit sendiri," ucap Dira.
__ADS_1
Mereka ngobrol di cafe sampai malam hari, sebelum pulang ke rumah Arkan dan Dira mengantar Nisa dan Luna.
Dira minta di antar pulang ke rumahnya dulu, tetapi Arkan tidak mau.
"Kak, aku turun depan rumah saja," ucap Dira.
"Pulang ke rumah ku dulu!" kata Arkan.
"Tadi udah ke rumah Kakak, berhenti!" kata Dira saat melewati rumahnya. Arkan tidak memberhentikan mobilnya, dia justru melewati rumah Dira.
"Kakak!" teriak Dira.
"Makanya kalau dibilangin nurut," ucap Arkan.
"Perasaan dari tadi Dira nurut lho, Kakak aja yang gak nurut," ucap Dira.
Arkan membawa Dira ke rumahnya dulu, untuk mengambil kue yang dia buat tadi. Lalu mengantarkan Dira pulang ke rumahnya.
"Gak di suruh masuk dulu nih?" tanya Arkan.
"Sudah malam, Kak. Gak enak di lihat tetangga," ucap Dira.
"Alasan aja kamu!" kata Arkan, lalu hendak pulang ke rumah tetapi Dira memanggilnya lagi.
Karena Mamah Meri belum pulang dan di rumah gak ada orang, Dira meminta Arkan untuk menemaninya sampai Mamah Meri datang.
__ADS_1
Benar kata Elang kalau Dira masih sangat polos, seperti anak kecil dan belum paham soal percintaan. Arkan justru senang, dia malah semakin semangat menggoda Dira.