
Malam ini adalah acara pertunangan Arkan dan Dira, semua keluarga sudah berangkat menuju di gedung yang sudah di siapkan. Acara pertunangan ini sangat mewah dan banyak tamu yang di undang. Seluruh teman-teman Arkan dan Dira juga di undang. Sisil juga turut hadir, karena anak teman Ayah Arkan.
Sebelum acara di mulai Arkan dan Dira mempersiapkan diri, mereka masih canggung.
"Dira, kamu yakin dengan acara ini?" tanya Arkan, sembari menatap wajah Dira.
"Iya, Kak. Dira sudah siap," ucap Dira, tersenyum ke arah Arkan.
Arkan merasa lega, berarti tidak ada paksaan walaupun keduanya di jodohkan.
"Kak, boleh tidak Dira bicara dengan Elang," kata Dira.
"Boleh, sebentar aku panggil Elang dulu," ucap Arkan, lalu memanggil Elang.
Arkan lalu memanggil Elang yang berada di luar bersama keluarga lainnya.
"Ada apa kamu mencari ku, Dira?" tanya Elang, melihat Dira yang begitu cantik saat menggunakan gaun desain Mamahnya.
"Elang, aku mau minta maaf! sudah mengecewakan kamu," kata Dira.
Elang tersenyum, saat ini bagi Elang yang terpenting adalah kebahagiaan keduanya. Karena Dira sudah di anggap sebagai saudara, sedangkan Arkan kakaknya.
"Aku sudah ikhlas, yang terpenting adalah kebahagiaan kalian berdua. Jangan pernah kecewakan Kakak," ucap Elang.
"Dira, acaranya sudah mau di mulai," kata Bunda Sinta, yang sedang mencari Dira.
"Iya, Tante," ucap Dira.
"Elang, ngapain kamu di sini?" tanya Bunda Sinta.
"Tadi Dira ingin bicara dengan Elang," jawab Elang.
Di depan tamu undangan sudah datang semuanya, mereka hendak menyaksikan acara pertunangan yang meriah ini.
"Luna, kita terlambat ini," ucap Nisa.
"Gara-gara kamu dandan kelamaan," kata Luna.
Luna dan Nisa sibuk berdebat, mereka berdua sudah sampai di depan gedung tempat acara dilangsungkan. Tadi Elang berencana untuk menjemput mereka, tetapi di tolak oleh Luna. Luna tidak mau merepotkan Elang, ia memilih untuk naik angkot.
Pulangnya nanti mereka berdua berencana untuk n
jalan kaki, karena malam hari pasti angkot sudah tidak ada yang lewat.
"Luna, lihatlah! Dira cantik sekali," kata Nisa, sambil menunjukkan keberadaan Dira pada Luna.
"Jadi pingin juga tunangan," ucap Luna.
"Luna, ayo kita ambil makanan! pasti enak- enak ini," kata Nisa, hendak melangkah ke meja yang ada makanan.
__ADS_1
Berbagai jenis makanan tertata rapi di atas meja, membuat Nisa lapar. Luna mencekal tangan Nisa, mereka baru datang belum bertemu dengan yang punya acara.
"Nisa, jangan bikin malu kenapa! ayo kita bertemu Dira dulu," ajak Luna.
"Tapi aku sudah lapar, Luna! tidak bisa di tahan lagi," ucap Nisa.
Saat akan menemui Dira, mereka bertemu dengan Sisil.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Nisa pada Sisil.
"Aku juga di undang sama orang tua Pak Arkan, kalian yang ngapain di sini?" ucap Sisil, melihat penampilan Luna dan Nisa dari atas sampai bawah.
"Lihatin apa kamu?" tanya Luna.
"Norak sekali gaun kalian," ucap Sisil, dia menggunakan gaun kurang bahan dan terlalu terbuka.
"Tau gak, Sil. Ini gaun yang beliin Kakak ganteng, lho," sahut Nisa, kesal di bilang norak oleh Sisil.
"Gak usah pamer!" kata Sisil, lalu pergi meninggalkan Luna dan Nisa.
"Sisil di mana-mana selalu julit sama kita, salah kita apa coba?" tanya Luna.
"Mungkin dia iri dengan pesona Nisa yang cantik ini," ucap Nisa, dengan percaya diri.
Acara telah di mulai, pembawa acara sudah meminta untuk menyematkan cincin ke jari Arkan dan Dira. Semua tamu undangan bersorak gembira, karena acara telah berlangsung dengan mulus tanpa kendala.
Elang yang tadinya ragu dan tidak setuju, saat ini sudah bisa menerima dengan ikhlas.
Ayah Arkan dan Papah Dira juga sangat bahagia, karena anak-anak mereka bertunangan dengan orang yang tepat.
Elang mengucapkan selamat pada Arkan dan Dira, begitu juga dengan Luna dan Nisa.
"Kak, apa Kakak bahagia?" tanya Dira, pada Arkan.
"Sangat bahagia, kamu?" jawab Arkan.
"Iya, Dira sangat bahagia," kata Dira.
"Kamu cantik sekali malam ini," ucap Arkan.
"Gak usah ngeledek Kak," kata Dira.
"Di kira gak ada orang apa?" sahut Elang, yang berada di dekat Dira.
Arkan kemudian mengajak untuk makan bersama, semua tamu undangan sudah dipersilahkan untuk makan makanan yang dihidangkan.
Nisa sangat senang ketika di suruh untuk makan, dia mengambil makanan sangat banyak.
"Luna, kenapa belum ambil?" tanya Nisa.
__ADS_1
"Aku seketika kenyang lihat kamu ambil makanan sebanyak itu," jawab Luna.
"Luna, Nisa!" panggil Elang.
"Eh... Kakak ganteng. Makan bareng yuk!" ajak Nisa.
"Aku sudah makan tadi," tolak Elang.
Elang, Luna dan Nisa kemudian duduk bersama, mereka saling bertukar cerita. Sedangkan Arkan dan Dira masih sibuk menyambut tamu.
"Kak, aku capek! teman Kakak banyak sekali," ucap Dira.
"Sebentar lagi, nanti kita pulang," kata Arkan.
Ini belum acara pernikahan tamunya sangat banyak, padahal hanya kerabat terdekat dan teman-teman kedua keluarga.
Malam sudah mulai larut, para tamu undangan satu per satu sudah meninggalkan pesta. Orang tua Dira dan Arkan sudah pulang juga. Yang berada di tempat itu tinggal Elang, Luna, Nisa, Arkan dan Dira.
Tak terasa mereka bercerita hingga larut malam, kalau tidak ada yang mengingatkan mungkin bisa sampai pagi.
Elang mengantarkan Luna dan Nisa pulang, karena sudah tidak ada kendaraan umum yang lewat. Arkan mengantarkan Dira terlebih dahulu.
Sampai di rumah Dira membersihkan bekas riasan yang melekat di wajahnya, tak lupa dia juga berganti baju. Setelah selesai ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tetapi belum juga memejamkan mata.
Dira masih tidak menyangka bisa bertunangan dengan Arkan, rasa bahagia pun menyelimuti nya.
"Kenapa aku tidak bisa tidur," gerutu Dira, yang masih membayangkan acara tadi.
Keesokan harinya Arkan pagi-pagi sudah datang untuk menjemput Dira, tetapi Dira belum juga bangun.
"Tante, Dira sudah siap belum?" tanya Arkan.
"Dira masih tidur, bangunkan saja!" jawab Mamah Meri, lalu menyuruh Arkan membangunkan Dira.
Arkan kaget saat membuka kamar Dira, tubuh Dira masih berbalut selimut padahal matahari sudah menampakkan diri.
"Dira, bagun," ucap Arkan, membangunkan Dira dengan pelan.
Perlahan Dira mulai membuka matanya, masih samar-samar ia tak melihat siapa yang membangunkannya.
"Mah, ini masih pagi! Dira mau bolos saja," kata Dira.
"Boleh bolos, tapi jangan salahkan kalau tidak dapat tempat magang," ucap Arkan.
"Kak Arkan!" kaget Dira.
"Sana mandi dulu! aku tunggu di depan!" kata Arkan, lalu menunggu Dira di ruang keluarga.
Papah Dira mengajak Arkan untuk sarapan bareng, sembari menunggu Dira.
__ADS_1