Sahabat

Sahabat
Bab 55


__ADS_3

Perjalanan kali ini memakan waktu yang cukup lama, macet di jalan dan kondisi sedang hujan.


"Kita sampai rumah bisa malam hari ini," ucap Nisa.


"Nanti aku antar sampai rumah, Nisa," sahut Arkan.


"Harus dong, Kak. Biar besok Nisa temani lagi kalau mau pergi," kata Nisa.


Nisa kemudian menawari makanan buat Riri, tetapi Riri menolak karena dirinya memang sedang tidak lapar.


"Kak, bisa ke pom bensin sebentar?" tanya Nisa.


"Ada apa, Nisa?" tanya Riri, melihat ke arah Nisa yang memegang perutnya.


"Perut aku sakit," ucap Nisa dengan pelan.


"Sebentar, kamu tahan dulu!" kata Arkan, beruntung saja dekat dengan pom bensin. Arkan kemudian membelokkan mobilnya ke pom bensin itu.


Nisa kemudian turun dari mobil dan berlari menuju ke toilet yang ada di pom.


"Tumben Nisa sakit perut, biasanya makan banyak juga tidak bermasalah," kata Dira.


"Dia habis lima bungkus kripik pedas, Dira. Ini sampahnya masih ada," kata Riri, menunjukkan bukus makanan itu.


"Astaghfirullah, Nisa!" kaget Dira.

__ADS_1


"Kenapa kamu kaget? biasanya juga di kantin makan bareng kamu," ucap Arkan.


"Tapi, dia makan gak pedas juga," kata Dira.


"Lucu sekali teman kamu itu, Dira," ucap Riri, sembari memunguti sampah hasil karya Nisa.


Beruntung Arkan sangat sabar menunggu Nisa, karena sudah hampir satu jam Nisa tak kunjung balik ke mobil. Dira dan Riri kemudian menyusul Nisa ke toilet, dia takut terjadi lagi kejadian di toilet kampus.


Ternyata Nisa sedang berbincang-bincang dengan seseorang.


"Nisa, kita dari tadi nungguin kamu," ucap Dira, sembari memegang tangan Nisa.


"Aku lupa, Dira," kata Nisa, kemudian dia berpamitan dengan orang itu lalu mengajak Dira untuk kembali ke dalam mobilnya.


"Lebih baik kita makan dulu, yuk!" ajak Arkan.


"Aku tidak lapar," kata Riri.


"Dari tadi dong, Kak," sahut Dira.


"Aku mau makan takut sakit perut lagi," kata Nisa.


"Ayo! pokoknya semua harus makan!" ucap Arkan, memberhentikan mobilnya di depan restauran.


Arkan menyuruh mereka untuk memilih menu yang mereka suka.

__ADS_1


"Nisa, jangan pesan makan pedas!" larang Arkan, mengingat perjalanan masih lumayan jauh.


"Iya, biar Dira yang memilihkan," kata Nisa.


"Kok aku! aku mau pesan ini," kata Dira, menunjuk menu yang rasanya pedas.


"Aku aja yang pilih buat Nisa," sahut Riri, memilihkan menu sup daging untuk Nisa.


Mereka bercerita sambil menunggu pesanan makanan datang, Riri menjadi semakin akrab dengan Dira dan Nisa. Dia juga merasa ada yang peduli dengannya walaupun baru saja kenal.


Setelah selesai makan mereka melanjutkan perjalanan, Arkan mengantarkan Riri ke tempat yang telah disediakan oleh Dion.


"Terimakasih semua, kalian sudah mengantarkan aku," ucap Riri.


"Riri, nanti Dion akan ke sini. Kamu tunggu saja," kata Arkan. Dia akan menjelaskan soal pekerjaan," Lanjutnya.


"Iya, aku akan tunggu dia," kata Riri.


"Kak Riri, besok main ke rumah Nisa," sahut Nisa.


Riri tersenyum ke arah Nisa dan Dira, tidak pernah dia punya teman yang sebaik Dira dan Nisa.


"Kita pulang dulu!" pamit Dira, sembari melambaikan tangan pada Riri.


Lanjut untuk mengantarkan Nisa, setelah itu baru Dira. Dira selalu di antar paling akhir karena rumah yang berdekatan.

__ADS_1


__ADS_2