
Pagi ini Luna dan Bisa sudah berada di tempat magang, tetapi Dira belum juga datang. Kebiasaan Dira akhir-akhir ini selalu datang terlambat.
"Dira, kebiasaan banget sekarang! ditunggu gak datang-datang," ucap Luna.
"Bisa jadi belum bangun tidur," kata Nisa.
"Kalian seenaknya ngomongin aku," sahut Dira yang tiba-tiba datang.
"Eh... Dira datang," ucap Nisa menoleh ke belakang.
"Dira! kenapa kamu datang terlambat," ucap Luna mencubit pipi Dira.
"Sakit, Luna!" teriak Dira.
Mereka bertiga lalu masuk ke dalam ruangan yang telah disediakan, tak hanya mereka ada beberapa anak magang lain.
Sisil tidak terima saat mengetahui Dira dan teman-temannya pindah tempat magang, ia berencana ingin membuat perhitungan dengan Dira. Saat ini Sisil menuju ke kantor Arkan, untuk menemui Leo dan protes pada Arkan.
"Leo, ini makan siang buat kamu," ucap Sisil seraya menyerahkan kotak makanan pada Leo.
"Apaan Sil, ini masih jam kerja! lagian aku juga gak minta," tolak Leo tidak mau menerima.
Tanpa rasa malu Sisil masuk begitu saja, ke dalam ruangan di mana Leo sedang kerja.
"Jangan berisik dong!" ucap karyawan Arkan.
"Kalian gak tau siapa aku? tanya bos kalian!" ucap Sisil.
"Pergi! jangan ganggu kita kerja, merusak suasana saja," kata Leo sedikit keras.
"Leo, kamu gak hargai pemberian ku malah ngusir!" kata Sisil lalu pergi ke ruang kerja Arkan.
Saat akan masuk ke ruangan Arkan, tangannya di cekal oleh Laura. Ia melarang Sisil untuk masuk, karena Arkan sedang sibuk.
"Mau kemana? masuk ruangan orang tanpa permisi!" kata Laura.
"Laura, kamu lupa sama aku? biasanya juga gak ada larangan," kata Sisil.
"Pak Arkan sedang sibuk, beliau tidak mau menerima tamu," terang Laura.
"Ini penting! kamu diam dan kembali kerja saja, oke!" kata Sisil.
Laura tetap melarang Sisil hingga terjadi perdebatan dengan keduanya, Arkan menghentikan pekerjaannya karena mendengar suara orang ribut dari luar.
"Kalian ngapain?" tanya Arkan yang baru saja keluar dari ruang kerja.
"Kak, boleh bicara sebentar?" tanya Sisil.
"Tadi Sisil mau masuk ke ruangan, Bapak," sahut Laura.
"Laura, kalau dia bandel panggil satpam!" ucap Arkan. Sisil, aku lagi sibuk gak ada waktu untuk membicarakan hal yang tidak penting," Lanjutnya.
__ADS_1
"Tuh dengerin, Sisil!" ucap Laura lalu kembali ke meja kerjanya.
Arkan kemudian kembali masuk ke dalam ruang kerja dan mengunci pintu dari dalam. Sisil kesal dengan Arkan dan Laura, dia lalu kembali ke kantornya sendiri.
"Leo, wanita itu tadi siapa? perhatian sekali sama kamu," ucap Hana salah satu karyawan Arkan.
"Teman kuliah, Kak," kata Leo masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Masa? hanya teman?" tanya Hana masih ragu dengan jawaban Leo.
"Masa kamu lupa sama Sisil, Hana! dia yang maksa Pak Arkan jadi tunangannya dulu," sahut Aldi.
"Jadi Sisil itu! aku baru tau, Al," ucap Hana.
"Cantik tunangan Pak Arkan yang sekarang, aku aja mau kalau dia mau," kata Aldi.
"Ngarep kamu, Al," kata Hana sembari melempar gulungan kertas ke Aldi.
"Pak Arkan sudah tunangan, ya?" tanya Leo yang tidak tau apa-apa soal Arkan.
"Yes! tunangannya itu mahasiswa di kampus tempat beliau ngajar," ujar Hana.
"Kalian ini mau kerja apa ghibah?" tanya Laura yang tiba-tiba berdiri di pintu.
"Bu Laura, sini gabung!" ajak Aldi.
Laura pergi sambil marah-marah, karena di panggil Ibu oleh Aldi. Mereka bertiga lalu tertawa setelah Laura tidak kelihatan. Aldi dan Hana memang sering mengoda Laura, karena Laura sering ngomel gak jelas.
"Laura, mana berkasnya?" tanya Arkan yang datang ke meja kerja Laura.
"Maaf, lupa. Aku ambil dulu, Pak," kata Laura. Membuat Arkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Laura jalan dengan tergesa-gesa, tak sengaja menabrak Dira yang baru saja datang bersama Luna dan Nisa.
Brakk...
Suara tumpukan buku yang di bawa Dira jatuh ke lantai, Dira segera memungut buku itu. Dengan sengaja Laura menginjak salah satu buku.
"Jalan pakai mata dong!" bentak Laura.
"Pakai kaki kalau jalan, melihat baru tuh pakai mata!" kataDira seraya memungut bukunya yang jatuh di lantai.
"Kasih jalan! aku mau lewat!" kata Laura.
Dira bangkit dari jogkoknya lalu menatap Laura. "Jalan masih lebar," ucapnya sembari menunjukkan jalan pada Laura.
"Dimana-mana ada saja orang jahat," sahut Nisa melotot ke arah Laura.
"Apa kamu pakai melotot lagi!" kata Laura.
"Ayo kita jalan lagi! gak usah ribut," kata Luna mengajak Dira dan Nisa.
__ADS_1
Laura baru ingat kalau di suruh untuk mengambil berkas, dia lalu bergegas ke ruangan yang di tempati oleh Leo, Aldi dan Hana.
"Ibu datang lagi! ada yang bisa kita bantu?" kata Aldi sembari tersenyum.
"Berkas yang saya minta tadi mana?" tanya Laura.
"Bukanya tadi saya sudah letakkan di meja, Ibu," jawab Aldi.
Laura mengingat-ingat keberadaan berkas tadi, dia lupa menaruhnya. Seingat dia Aldi belum memberikan padanya.
Arkan melihat berkas itu di meja Laura, lalu dia ambil dan membacanya ternyata benar itu yang di cari. Saat akan membawa ke ruangannya tiba-tiba Dira datang.
"Kakak!" teriak Dira.
"Sudah pulang kalian? kenapa sudah sampai sini?" tanya Arkan.
"Kita pulang jam tiga, Kak. Bisa main dulu," ucap Nisa.
"Langsung ke sini kok tadi," ucap Dira.
"Nisa, kalau ngomong," sahut Luna.
"Bisa-bisa kerjaan ku gak kelar ini, kalau ladenin mereka bertiga," ucap Arkan dalam hati.
"Aku lapar, makan dulu yuk!" ajak Nisa.
Kebetulan Laura datang dan memberitahu, kalau berkasnya ternyata ada di mejanya. Arkan memujuk kalau sudah di ambil, lalu menyuruh Laura untuk memesankan makanan.
Arkan mengajak Dira dan teman-temannya untuk masuk ke dalam ruangannya, dia akan melanjutkan pekerjaannya.
"Kalian jangan berisik! aku lanjut kerja sebentar," kata Arkan lalu kembali fokus dengan berkas yang dibawanya tadi.
Dira, Luna dan Nisa duduk di sofa ruangan itu, tak lama kemudian Laura datang memberikan makanan dengan wajah kesalnya.
"Makasih, Tante," ucap Nisa.
Laura bertambah kesal dengan Nisa, lalu dia kembali ke meja kerjanya.
Nisa dan Luna fokus dengan makanan karena mereka lapar, sedangkan Dira menatap wajah Arkan yang sedang fokus berkerja. Ternyata Arkan sadar di tatap oleh Dira, dia lalu menghentikan pekerjaannya.
"Tatapannya membuat aku tidak bisa berkonsentrasi, benar-benar minta di hukum lagi," ucap Arkan dalam hatinya.
"Dira, kenapa gak ikut makan?" tanya Arkan.
"Nungguin, Kakak," ucap Dira.
"Sebentar lagi selesai! tapi kamu jangan melihat ku seperti itu," kata Arkan.
"Enggak Dira cuma...
"Jangan banyak alasan! nanti aku hukum lagi," kata Arkan.
__ADS_1
Dira kemudian tidak menatap Arkan lagi, ia fokus dengan ponsel yang di pegang.