
Dira mengajak Arkan untuk pergi ke panti asuhan, Luna dan Nisa juga ingin ikut setelah mendengar cerita dari Dira.
"Kak, pulang kerja kita mampir panti bentar yuk!" ajak Dira.
"Boleh, tapi jangan melihat ku terus!" kata Arkan tanpa menoleh ke arah Dira, ia fokus dengan pekerjaannya.
"Panti mana, Dira?" tanya Luna.
"Itu yang aku pernah cerita," jawab Dira.
"Kita ikut saja, Luna. Mumpung masih sore," sahut Nisa.
"Habiskan dulu makanan kalian!" kata Dira.
Selesai juga pekerjaan Arkan, mereka lalu berangkat pergi ke panti. Dira sudah lama tidak ke sana, karena kesibukannya. Ibu panti juga sangat mengharapkan kehadiran Dira, mereka merasa berhutang budi dengan Dira.
"Dira, kamu sudah lama mengenal orang di panti asuhan itu?" tanya Luna yang tidak menyangka kalau Dira sering ke panti.
"Sejak kerja di cafe Kak Dhimas," jawab Dira.
"Terus sekarang kamu mau ngapain ke sana, Dira?" tanya Nisa.
"Mau silaturahmi sama minta restu sama Ibu panti," jawab Dira.
"Kok udah minta restu! kapan kamu nikah?" tanya Nisa lagi.
"Tanya aja sama Kak Arkan, maunya dia kapan. Kalau aku nurut aja," jawab Dira.
"Beneran nurut? kalau aku maunya besok gimana?" sahut Arkan.
"Jangan secepat itu juga, Kak!" kata Dira.
Arkan hanya tersenyum, sembari melirik Dira yang ada di sebelahnya.
"Aku juga pingin nikah, tapi gak ada jodohnya," ucap Nisa.
"Dijodohkan mau gak, Nisa?" tanya Arkan.
"Sama Kakak ganteng? mau banget, pasti aku tidak akan kelaparan," kata Nisa asal ngomong.
"Elang?" tanya Luna.
"Bukan! sama saudaranya Dira," kata Arkan asal ngomong juga.
"Saudara aku siapa? Kakak, ngawur aja!" ucap Dira.
Tak terasa mereka sudah sampai di panti asuhan, Ibu panti sangat senang kedatangan Dira dan teman-temannya. Apalagi anak-anak panti yang kenal dengan Dira, mereka langsung berlari memeluk Dira.
__ADS_1
Dira juga mengenalkan Luna dan Nisa pada anak panti dan Ibu panti. Sayang sekali saat Dira datang Elin masih kerja.
Dira, Luna dan Nisa asyik bermain dengan anak panti, sedangkan Arkan berbicara dengan Ibu panti.
"Bu, kita sebentar lagi mau menikah," ucap Arkan.
"Kapan, Nak? semoga acaranya berjalan lancar, Ibu turut bahagia mendengar kabar ini," ujar Ibu panti.
"Nunggu Dira siap, Bu. Mungkin setelah selesai kuliah," kata Arkan.
"Sebentar lagi itu, Nak," ucap Ibu panti.
"Ibu harus datang! ajak anak-anak panti juga, Bu," kata Arkan.
Ibu panti akan mengusahakan kedatangannya, ke acara pernikahan Dira dan Arkan nanti. Arkan kemudian mengajak Dira, Luna dan Nisa pulang, karena waktu sudah hampir petang. Dira juga berjanji akan datang lagi kalau ada waktu.
"Luna, Nisa kalian pulang sendiri ya? aku mau berduaan sama Dira," ucap Arkan bercanda.
"Yah... kok gitu! nasib jomblo ya begini," kata Luna.
"Ayo Luna, kita turun lagi! semoga masih ada angkot," ucap Nisa pasrah.
"Kak Arkan bercanda! kalau kalian turun aku juga ikut," ujar Dira.
"Ternyata aku masih kalah sama kalian, Dira pilih ikut kalian," kata Arkan.
"Sampai kapan pun kita bertiga akan tetap jadi sahabat, siapa yang kesulitan harus di bantu," kata Dira.
"Aku yang tidak bisa seperti kalian," kata Luna dengan wajah sedihnya.
"Harta bisa di cari, Luna. tapi persahabatan itu yang susah di cari, pasti kedua teman kamu ini tidak akan tinggal diam," terang Arkan.
Luna jadi teringat biaya rumah sakit Ibunya saat sedang di rawat, sampai saat ini ia belum mengetahui siapa yang sudah membayarnya.
"Luna... Luna, jangan melamun," kata Nisa seraya mengoyak tubuh Luna yang ada di sampingnya.
"Aku teringat sesuatu, pada saat Ibu sakit ada yang membayar biaya rumah sakit. Sampai sekarang aku tidak tau siapa," ujar Luna. Aku ingin mencari tau," Lanjutnya.
"Mungkin saudara kamu, Luna," sahut Nisa.
"Kak, aku lapar," ucap Dira sembari menatap Arkan.
Arkan akhirnya mencari restoran untuk mereka makan, tadi memang Dira tidak ikut makan saat berada di kantor.
***
Elang saat ini berada di rumah Dira bersama Bunda Sinta, mereka belajar membuat kue lagi. Elang dan Vio ikut membantu Bunda dan Mamahnya.
__ADS_1
"Elang, kamu aduk tepung aja! jangan pecahin telur nanti salah tempat," kata Bunda Sinta.
"Iya Bunda, Elang makan aja nanti," ucap Elang.
"Kalau gak ikut buat gak boleh makan," sahut Vio yang sedang minum susu.
"Anak kecil gak usah ikut-ikut," kata Elang.
"Biarin," kata Vio lalu menjulurkan lidah ke arah Elang.
"Vio, gak boleh gitu sama Kak Elang," kata Mamah Meri.
Kadang kelakuan Elang dan Vio sering seperti itu, saling meledek. Tetapi mereka tetap baik, Elang juga nurut kalau di ajak belajar Vio.
"Jeng, kalau pernikahan Arkan sama Dira dipercepat gimana?" tanya Bunda Sinta.
"Aku setuju banget, Jeng! biar Dira mandiri kalau ada suami," kata Mamah Meri.
"Kak Arkan kenyang makan masakan gosong, kalau Dira yang masak," sahut Elang.
"Kok kamu tau, El? Dira kalau masak sering gosong?" tanya Mamah Meri.
"Waktu buat kue sama Bunda gosong, di tinggal pacaran sih," ujar Elang.
"Ngiri ya, Kak? makanya segera cari jodoh juga," kata Vio.
"Tidak! Elang belum kerja Vio, nanti istrinya kenyang makan angin," kata Bunda Sinta.
Mereka semua tertawa mendengar ucapan Bunda Sinta, padahal Elang sendiri sering kerja juga.
***
Setelah mengantarkan Nisa, Arkan dan Dira mampir dulu di rumah Luna. Mereka menemui Ibu Luna karena sudah lama tidak bertemu. Kebetulan Ibu Luna membuat kue tradisional dan diberikan Dira untuk oleh-oleh.
"Ibu, Dira boleh tidak besok mengajak Luna menginap di rumah Kak Arkan?" tanya Dira mereka ingin berkumpul di rumah baru Arkan.
"Menginap di sana, Dira?" tanya Ibu Luna.
"Iya, Bu. Ada Nisa juga," jawab Dira.
"Ibu perbolehkan asal kalian bisa jaga diri, jangan berbuat yang tidak semestinya," ujar Ibu Luna.
"Tenang Bu, Dira jago berantem," sahut Luna.
"Ibu jangan khawatir mereka tidak akan berani macam-macam, nanti ada Bunda juga," kata Arkan.
Ibu Luna merasa tenang, kalau ada orang tua yang mengawasi mereka. Karena pergaulan anak zaman sekarang butuh pengawasan, apalagi mengingat kondisi Ibu Luna yang lemah dan mudah sakit.
__ADS_1
Luna juga sangat berhati-hati, ia tidak ingin mengecewakan Ibunya yang telah membesarkan dirinya seorang diri.
Arkan dan Dira kemudian berpamitan untuk pulang. Mereka berdua sudah lelah, Dira minta di antar ke rumah lebih dulu. Biasanya Arkan akan membawanya ke rumah, tetapi melihat wajah Dira yang kelihatan lelah dia mengantarkan pulang.